Loading
ISRA’ MI’RAJ Nabi Muhammad SAW ————————– * Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya adalah Al-Quran kitab suci kita. ————————- * Kisah Mi’raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita sebab dalam agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu bukan akal yang dieksprimen dulu, wahyu lebih tinggi dari logika. ————————————- * Kebenaran isra’ dan mi’raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi keatas langit ke 7 sampai Sidratul Muntaha tidak menjadi kewajiban mengetahuinya, yang penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara yang ril dan sebenarnya wallahua’lam sebab banyak pendapat dalam hal ini. —————————————— * Logikanya Isra’ itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika anda punya HP lalu anda taruh di lantai dan mau anda pindahkan ke saku, ke lemari, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena HP itu adalah milik anda. Coba kalau teman anda yang punya? Tidak bisa anda taruh sesuka hati anda. ————————– WALLAHUA’LAM ….. hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI yang SEBENAR-BENARnya ——————————————————– “… Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau! Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Anda telah mengajari kami. Engkau adalah Mahatahu, Maha Bijaksana “. (QS. Al Baqarah, 32) ————— | Islam dan Sains-Edy

ISRA’ MI’RAJ Nabi Muhammad SAW ————————– * Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya adalah Al-Quran kitab suci kita. ————————- * Kisah Mi’raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita sebab dalam agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu bukan akal yang dieksprimen dulu, wahyu lebih tinggi dari logika. ————————————- * Kebenaran isra’ dan mi’raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi keatas langit ke 7 sampai Sidratul Muntaha tidak menjadi kewajiban mengetahuinya, yang penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara yang ril dan sebenarnya wallahua’lam sebab banyak pendapat dalam hal ini. —————————————— * Logikanya Isra’ itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika anda punya HP lalu anda taruh di lantai dan mau anda pindahkan ke saku, ke lemari, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena HP itu adalah milik anda. Coba kalau teman anda yang punya? Tidak bisa anda taruh sesuka hati anda. ————————– WALLAHUA’LAM ….. hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI yang SEBENAR-BENARnya ——————————————————– “… Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau! Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Anda telah mengajari kami. Engkau adalah Mahatahu, Maha Bijaksana “. (QS. Al Baqarah, 32) —————

ISRA’ MI’RAJ Nabi Muhammad SAW
————————–
  * Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya

    adalah Al-Quran kitab suci kita.

————————-

* Kisah Mi’raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita

sebab dalam agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu

bukan akal yang dieksprimen dulu, wahyu lebih tinggi dari logika.

————————————-

* Kebenaran isra’ dan mi’raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya

Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi keatas langit ke 7

sampai Sidratul Muntaha tidak menjadi kewajiban mengetahuinya, yang

penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara yang ril dan

sebenarnya wallahua’lam sebab banyak pendapat dalam hal ini.

——————————————

* Logikanya Isra’ itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik

Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini

Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika

anda punya HP lalu anda taruh di lantai dan mau anda pindahkan ke

saku, ke lemari, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena HP itu

adalah milik anda. Coba kalau teman anda yang punya? Tidak bisa anda

taruh sesuka hati anda.

————————–

WALLAHUA’LAM ….. hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI yang SEBENAR-BENARnya ——————————————————– “… Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau! Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Anda telah mengajari kami. Engkau adalah Maha tahu, Maha Bijaksana “. (QS. Al Baqarah, 32) —————
————

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

……………

Isra Mi’raj merupakan dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh

Muhammad SAW. dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah

satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi

Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan

shalat lima waktu sehari semalam.

isra miraj 1

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut

al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama

sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah

al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10

kenabian, dan inilah yang populer.

 

Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam

Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh

Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj

Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang

merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung

dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu.

 

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga,

karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi

lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.

Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal

yang membuat Rasullullah SAW sedih.

 

 

Peristiwa tersebut hanya dianugerahkan Allah kepada baginda, Nabi Besar

Muhammad saw. Tentunya dalam perjalanan itu banyak sekali pelajaran dan

hikmah yang dapat kita petik.

 

Jika dalam perjalanan keluar kota saja kita dapat memetik banyak

pelajaran, bagaimana kiranya dalam perjalanan menjelajah alam semesta

yang tujuan utamanya adalah untuk bertemu dengan Allah?

Isra Miraj

isa miraj 2

*

*BERIKUT INILAH RINGKASAAN SEJARAH KISAH ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD

SAW : *

*

 

Pada suatu malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka’bah

al Musyarrofah, saat itu beliau berbaring diantara paman beliau,

Sayyiduna Hamzah dan sepupu beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib,

tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil menghampiri beliau lalu

membawa beliau ke arah sumur zamzam, setibanya di sana kemudian mereka

merebahkan tubuh Rasulullah yang kemudian Jibril as membelah dada beliau

yang mulya sampai di bawah perut beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail:

 

“Datangkan kepadaku nampan dengan air zam-zam agar aku bersihkan hatinya

dan aku lapangkan dadanya”.

 

Pembedahan menjelang Isra ini merupakan pembedahan keempat kalinya; yang

pertama ketika beliau masih menyusu pada Siti Halimah Sa’diyah, yang

kedua ketika usia baligh, yang ketiga ketika diangkat menjadi utusan

(rasul), dan keempat ketika akan diisrakan.

 

Kemudian Jibril AS mengeluarkan hati beliau yang mulya lalu menyucinya

tiga kali, kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan

keimanan, kemudian dituangkan ke dalam hati beliau, maka penuhlah hati

itu dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah,

lalu ditutup kembali oleh Jibril AS.

 

Dan perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor,

tidak, justru Nabi sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling

suci dan mulya, hal ini tidak lain untuk menambah kebersihan diatas

kebersihan, kesucian diatas kesucian, dan untuk lebih memantapkan dan

menguatkan hati beliau, karena akan melakukan suatu perjalanan maha

dahsyat dan penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan

Allah SWT. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi mengatakan di dalam kitab

Simtudduror:

 

Mereka membaringkannya dengan hati-hati

Lalu membelah dadanya dengan lemah lembut

Dan mengeluarkan apa yang mereka keluarkan

Lalu menyimpankan rahasia ilmu dan hikmah ke

dalamnya

“Tiada suatu kotoran menganggu

yang dikeluarkan malaikat dari hatinya,

Tapi mereka hanya menambahkan

Kesucian di atas kesucian…”

 

Dalam syarahannya mengenai hadis Isra dan Mi’raj pada kitab At-Taajul

Jaami’lil ushuul fi ahaadiitsir rasuul, Syeikh Manshur Ali Nashif

menulis: Sesudah itu mereka (para malaikat) mendatangkan kepada

Rasululah seekor hewan putih lebih kecil dari baghal tetapi lebih besar

dari keledai, yaitu hewan buraq.

 

Buroq tersebut dahulunya sering dinaiki oleh para nabi sebelum Nabi

Muhammad saw. Buroq adalah hewan yang besarnya lebih tinggi dari keledai

tetapi lebih rendah dari baghal; warna kulitnya putih dan mempunyai dua

sayap yang ada di sebelah kanan dan kirinya.

isra miraj 3

Sekali lompat dapat mencapai sejauh matanya memandang; apabila turun

kedua kaki depannya memanjang, dan apabila naik kedua kaki belakangnya

memanjang, sehingga punggungnya tetap stabil. Nabi saw menaikinya lalu

terbang dengan diiringi oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail.

 

 

Mereka terus melaju, mengarungi alam ciptaan Allah SWT yang penuh

keajaiban dan hikmah dengan Inayah dan Rahmat-Nya.

Saudaraku, jika kita perhatikan dengan baik Isra Mi’raj Nabi Muhammad

saw, maka tampaklah sebuah kenyataan bahwa perjalanan itu merupakan

perjalanan menuju tempat-tempat yang berkah, menemui manusia-manusia

yang berkah dan kemudian bertemu dengan sumber segala keberkahan, yaitu

Allah yang Maha Kuasa. Secara jelas Allah mewahyukan:

Allah berfirman:

 

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْـرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْــجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصى

الَّــذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ .

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu

malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami

BERKAHI sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari

tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar

lagi Maha Melihat. (Al-Isra, 17:1)

 

 

Nabi saw berangkat dari Mekah, kota yang penuh berkah, menuju Masjidil

Aqsha yang penuh berkah dan sebelumnya juga singgah di tempat-tempat

yang berkah. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i,

Rasulullah saw bersabda:

 

“Aku diberi seekor hewan yang lebih tinggi dari keledai dan lebih

rendah dari baghal. Langkah hewan itu sejauh pandangannya. Aku

menungganginya, dan Jibril Alaihissalam mendampingiku. Aku pun

pergi. Di sebuah tempat Jibril berkata, “Turunlah, shalatlah di

sini.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata,

“Tahukah di mana engkau tadi shalat?” Engkau tadi shalat di Thaibah

(Madinah), di sanalah tempat hijrahmu.” (Setelah melanjutkan

perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan shalatlah.” Aku

pun melaksanakan permintaannya. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah

di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Thursina, di mana Allah

‘Azza wa Jalla berbicara kepada Musa ‘Alaihissalam.” (Setelah

melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan

shalatlah.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata,

“Tahukah di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Bethlehem,

tempat kelahiran Isa Alaihissalam.” Setelah itu aku memasuki Baitul

Maqdis, di sana semua Nabi ‘Alaihissalam dikumpulkan untuk (bertemu

dengan)ku. Jibril kemudian membawaku ke depan (untuk menjadi imam).

Aku pun lalu mengimami mereka…” (HR Nasa’i)

 

Coba anda perhatikan, ternyata Nabi saw diajak untuk singgah di

tempat-tempat yang penuh berkah. Beliau saw singgah di Madinah, dan

shalat di sana, singgah di bukit Thursina, tempat di mana Nabi Musa as

diangkat menjadi Rasul, dan beliau shalat di sana. Kemudian beliau

singgah di Bethlehem, tempat kelahiran Nabi Isa as, dan shalat di sana.

Perjalanan ini berawal dari Makkah di mana terdapat Kabah yang DIBERKAHI

dan merupakan pusat ibadah umat islam.

 

Ia merupakan rumah pertama yang dibangun di muka bumi. Usia kabah setara

dengan usia bumi ini. Allah mewahyukan:

 

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah)

manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang DIBERKAHI dan

menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali Imran, 3:96)

 

 

Siapapun yang berkunjung ke sana akan mendapatkan banyak manfaat, ia

akan bertemu manusia dari segala bangsa, mendapat percikan cahaya iman

mereka, dapat pula memperoleh keuntungan duniawi, memberikan rasa aman

(3:97), dan pahala ibadah yang kita lakukan di sekitar kabah berlipat

ganda dibandingkan di tempat lain.

 

Persinggahan Isra’ Rasulullah diantaranya adalah Thaibah yakni Kota

Madinah yang memiliki banyak keberkahan. Kota inilah pelabuhan hijrah

Nabi Muhammad saw beserta para sahabat. Dari kota inilah cahaya Islam

menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dari sekian banyak keberkahan,

keberkahan terbesar Madinah adalah bersemayamnya Nabi Muhammad saw di sana.

 

Tidak ada tanah yang lebih mulia dari tanah yang di dalamnya terdapat

tubuh manusai yang paling bertakwa, yang paling mulia, yang paling

dicintai Allah yaitu baginda Rasulullah saw. Ingatkah Anda ketika pemuda

Anshar kurang puas dengan pembagian hasil perang, di mana Nabi saw lebih

banyak memberi warga Mekah yang baru memeluk Islam untuk menarik hati

mereka?

 

Apa sabda Nabi saw kepada Anshar, warga Madinah, coba Anda simak:

 

“Tidak senangkah kalian, jika mereka pulang ke rumahnya membawa

harta rampasan perang, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah

saw ke rumah-rumah kalian? Andaikata kaum anshar melewati sebuah

lembah atau lereng, maka aku akan melewati lembah atau lereng yang

dilewati Anshar.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

 

Dalam kesempatan lain baginda Muhammad saw bersabda:

“Barangsiapa mampu untuk meninggal dunia di kota Madinah, maka

hendaknya dia lakukan hal itu, sebab aku akan memberikan syafaat

kepada orang yang meninggal di Madinah. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah

dan Ahmad)

 

 

Karena itulah para ulama dan segenap umat Islam dari zaman ke zaman

memuliakan kota Madinah dan mengharapkan keberkahannya. Imam Syafi’i

bercerita: Didepan pintu rumah Imam Malik kulihat tertambat seekor kuda

Mesir yang sangat indah. Aku belum pernah melihat kuda sebaik itu.

“Betapa indah kuda itu,” ucapku kepada beliau. “Wahai Abu Abdillah,

kuhadiahkan kuda itu kepadamu.”

“Simpanlah seekor hewan sebagai tungganganmu,” ujarku.

“Aku malu kepada Allah untuk menginjak tanah yang di dalamnya terdapat

Nabi Muhammad saw dengan kaki hewan tungganganku,” jawab imam Malik ra.

Kemudian beliau saw singgah di bukit Thursina ini yang mana

keberkahannya tertulis di dalam Al Quran, Allah mewahyukan:

 

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari

(arah) pinggir LEMBAH YANG DIBERKAHI, dari sebatang pohon kayu,

yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

(Al-Qashash, 28: 30)

 

Kemudian persinggahan Isra berikutny adalah Bethlehem tempat dimana

Nabiyallah Isa as dilahirkan. Dimana pun Nabi Isa as berada, senantiasa

membawa keberkahan bagi penduduk sekitarnya. Nabi Isa sendiri telah

menyatakan bahwa diri beliau diberkati, Allah mewahyukan:

 

“Dan DIA menjadikan Aku seorang yang DIBERKATI di mana pun aku

berada.” (Maryam, 19:31)

 

Ketika menjelaskan ayat ini, Syeikh Abdulqadir Al-Jailani ra berkata: Di

antara keberkahan Nabi Isa as adalah berbuahnya pohon kurma untuk ibu

beliau Ash-Shiddiqiyyah Maryam as. Kemudian, munculnya air dari bawah

pohon kurma itu. Kejadian ini tiada lain adalah di Bethlehem tempat di

mana Nabi Isa as dilahirkan.

 

*Allah Azza Wa jalla mewahyukan:*

 

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu

bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di

bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya

pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka

makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (Maryam, 19:24-26)

 

Setelah singgah di tempat-tempat yang berkah, barulah Nabi saw berangkat

menuju Masjidil Aqsha yang disekelilingnya diberkati Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa daerah sekitar masjidil Aqsha dikatakan

berkah karena dua hal, pertama adalah karena tanahnya subur dan kaya

akan hasil bumi. Kedua, karena begitu banyak Nabi dan orang-orang saleh

yang dimakamkan di sana.

 

Saudaraku, kita semua tahu, bahwa inti Isra Mi’raj adalah pertemuan Nabi

Muhammad dengan Allah. Pertanyaannya, mengapa sebelum pertemuan itu

Allah memerintahkan Nabi saw untuk singgah di tempat-tempat yang

bersejarah tersebut? Semua itu tiada lain adalah sebuah bentuk

pembelajaran.

 

Allah ingin memberitahukan kepada kita bahwa napak tilas para Nabi,

rasul dan kaum sholihin adalah tempat-tempat yang mulia, kita tidak

boleh melupakannya begitu saja. Di sana terdapat banyak keberkahan yang

dapat kita peroleh. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam

Isra Mi’raj di atas, maka seyogyanya kita juga melakukan perjalanan

ibadah ke tempat-tempat bersejarah Islam, napak tilas para Nabi dan kaum

sholihin. Semoga sunnah Nabi saw ini dapat kita amalkan dalam kehidupan

sehari-hari.

 

Demikianlah perjalanan ditempuh oleh beliau SAW dengan ditemani Jibril

dan Mikail, begitu banyak keajaiban dan hikmah yang beliau temui dalam

perjalanan itu sampai akhirnya beliau berhenti di Baitul Maqdis (Masjid

al Aqsho). Beliau turun dari Buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi

pintu masjid, yakni tempat dimana biasanya Para Nabi mengikat buraq di

sana.

 

Kemudian beliau masuk ke dalam masjid bersama Jibril AS, masing-masing

sholat dua rakaat. Setelah itu sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh

dengan sekelompok manusia, ternyata mereka adalah para Nabi yang diutus

oleh Allah SWT.

 

Diantara jamaah para nabi tersebut Nabi saw melihat Nabi Musa as sedang

shalat, yang ternyata ia berbadan kurus dan berambut keriting,

seakan-akan seseorang dari kalangan Bani Syanu’ah. Beliau pun melihat

Nabi Isa Ibnu Maryam as sedang shalat, orang yang paling mirip dengannya

ialah ‘Urwah ibnu Mas’ud Ats-Tsaqafi.

 

Beliau juga melihat Nabi Ibrahim as sedang shalat dan orang yang paling

mirip dengannya ialah beliau sendiri. Kemudian dikumandangkan adzan dan

iqamah, lantas mereka berdiri bershof-shof menunggu siapakah yang akan

mengimami mereka, kemudian Jibril AS memegang tangan Rasulullah SAW lalu

menyuruh beliau untuk maju, kemudian mereka semua sholat dua rakaat

dengan Rasulullah sebagai imam. Hal ini mengisyaratkan bahwa Nabi

Muhammad saw lebih utama dan lebih mulia daripada mereka di sisi Allah.

Beliaulah Imam (Pemimpin) para Anbiya’ dan Mursalin. Ketika beliau saw

selesai dari shalat, tiba-tiba ada seseorang mengatakan, “Hai Muhammad,

ini adalah Malaikat malik penjaga pintu neraka, ucapkanlah salam

kepadanya”. Aku menoleh dan ternyata dialah yang memulai bersalam kepadaku.

 

Kemudian setelah beliau menyempurnakan segalanya, — Syeikh Manshur

menjelaskan – lalu dipasang untuk beliau Mi’raj, yaitu berupa tangga

yang memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan jumlah lapisan langit.

Barangsiapa yang menaiki satu derajat dari Mi’raj itu, maka Mi’raj akan

membawanya naik ke tingkatan yang selanjutnya lebih cepat dari sekejap

mata sampai akhirnya beliau SAW berjumpa dengan Allah dan berbicara

dengan Nya, yang intinya adalah beliau dan umat ini mendapat perintah

sholat lima waktu.

 

Sungguh merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di

mana Allah SWT memanggil Nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan

menentukan perintah ibadah yang sangat mulya ini. Cukup kiranya hal ini

sebagai kemulyaan ibadah sholat. Sebab ibadah lainnya diperintah hanya

dengan turunnya wahyu kepada beliau, namun tidak dengan ibadah sholat,

Allah memanggil Hamba yang paling dicintainya yakni Nabi Muhammad SAW ke

hadirat Nya untuk menerima perintah ini.

 

Ketika beliau dan Jibril sampai di depan pintu langit dunia (langit

pertama), ternyata disana berdiri malaikat yang bernama Ismail, malaikat

ini tidak pernah naik ke langit atasnya dan tidak pernah pula turun ke

bumi kecuali disaat wafatnya Rasulullah SAW, dia memimpin 70 ribu

tentara dari malaikat, yang masing-masing malaikat ini membawahi 70 ribu

malaikat pula.

 

Jibril meminta izin agar pintu langit pertama dibuka, maka malaikat yang

menjaga bertanya:

“Siapakah ini?”

Jibril menjawab: “Aku Jibril.”

Malaikat itu bertanya lagi: “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab: “Muhammad saw.”

Malaikat bertanya lagi: “Apakah beliau telah diutus (diperintah)?”

Jibril menjawab: “Benar”.

Setelah mengetahui kedatangan Rasulullah malaikat yang bermukim disana

menyambut dan memuji beliau dengan berkata:

“Selamat datang, semoga keselamatan menyertai anda wahai saudara dan

pemimpin, andalah sebaik-baik saudara dan pemimpin serta paling utamanya

makhluk yang datang”.

Fahamlah kita dari ucapan ini, tidak ada satupun makhluk yang lebih

mulia menginjak langit pertama melebihi Sayyidina Muahmmad shallallahu

‘alaihi wasallam

Maka dibukalah pintu langit dunia ini”.

Setelah memasukinya beliau bertemu Nabi Adam dengan bentuk dan postur

sebagaimana pertama kali Allah menciptakannya. Nabi saw bersalam

kepadanya, Nabi Adam menjawab salam beliau seraya berkata:

“Selamat datang wahai anakku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.

Di kedua sisi Nabi Adam terdapat dua kelompok, jika melihat ke arah

kanannya, beliau tersenyum dan berseri-seri, tapi jika memandang

kelompok di sebelah kirinya, beliau menangis dan bersedih.

 

Kemudian Jibril AS menjelaskan kepada Rasulullah, bahwa kelompok

disebelah kanan Nabi Adam adalah anak cucunya yang bakal menjadi

penghuni surga sedang yang di kirinya adalah calon penghuni neraka.

Kemudian beliau naik ke langit kedua, seperti sebelumnya malaikat

penjaga bertanya seperti pertanyaan di langit pertama.

 

Akhirnya disambut kedatangan beliau SAW dan Jibril AS seperti sambutan

sebelumnya. Di langit ini beliau berjumpa Nabi Isa bin Maryam dan Nabi

Yahya bin Zakariya, keduanya hampir serupa baju dan gaya rambutnya.

Nabi saw menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih

kemerah-merahan warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru

keluar dari hammam, karena kebersihan tubuhnya.

Nabi bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai

sambutan: “Selamat datang wahai saudaraku yang sholeh dan nabi yang

sholeh”.

 

Kemudian tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga, setelah

disambut baik oleh para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin

Ya’kub. Beliau bersalam kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama

seperti salamnya Nabi Isa.

 

Nabi berkomentar: “Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan”.

Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Dialah paling indahnya manusia

yang diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain

ibarat cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang”.

 

Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS. Kembali

beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti Nabi-Nabi

sebelumnya.

Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin ‘Imran AS, separuh

janggutnya hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan

panjang.

 

Pada tahapan langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS,

seorang nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit

beliau. Nabi saw bersalam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai

dengan doa. Setelah itu Nabi Musa berkata: “Manusia mengaku bahwa aku

adalah paling mulyanya manusia di sisi Allah, padahal dia (Rasulullah

saw) lebih mulya di sisi Allah daripada aku”.

Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya

akan hal tersebut. Beliau menjawab: “Aku menangis karena seorang pemuda

yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga

daripada umatku”.

 

Kemudian Rasulullah saw memasuki langit ketujuh, di sana beliau berjumpa

Nabi Ibrahim AS sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga

sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur.

 

Setelah Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta

sambutan yang baik, Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah umatmu untuk

banyak menanam tanaman surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat

luas”. Rasulullah bertanya: “Apakah tanaman surga itu?”, Nabi Ibrahim

menjawab: “(Dzikir) Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil

‘adziim”.

 

Dalam riwayat lain beliau berkata:

“Sampaikan salamku kepada umatmu, beritakanlah kepada mereka bahwa surga

sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah

Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”.

 

lantas Rasul berkata setelah itu aku di naikkan ke Baitul Ma’mur yang

tempatnya tepat berada diatas Ka’bah, lantas aku berkata pada Jibril,

“apa ini wahai Jibril?”

Jibril berkata :

“ini Baitul Ma’mur, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya dan keluar

dari Baitul Ma’mur 70 ribu dan tidak pernah kembali lagi terus keluar 70

ribu tepat diatas ka’bah al Musyarrafah tempatnya”

 

Hadirin hadirat lantas Rasul saw dinaikan lagi sampai mendengar lauhul

mahfud (ketentuan takdir) sampai ia mendengar yaitu keputusan-keputusan

Allah swt lantas setelah itu diperintah untuk menghadap langsung kepada

Allah swt, Jibril berhenti tidak meneruskan menemani lagi, karena dalam

riwayat yang lainya Jibril berkata: “aku tidak mampu terus menghadap

kepada Allah karena tidak diizinkan untuk menghadap, hanya engkau yang

diizinkan untuk menghadap, kalau aku naik aku akan hancur terbakar

dengan cahaya hijab, dari hijabnya Allah swt, cahaya dari 70 ribu tabir

cahaya yang menutupi makhluk dengan Al Khaliq, jika sampai aku ke hijab

itu aku akan terbakar” kata Jibril.

 

70 ribu tabir terbuka untuk Sayyidina Muhammad saw, saat itulah beliau

berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, dan Allah subhanahu wata’ala

telah berfirman :

“Saat itu sangat dekat dia dengan Allah subhanahu wata’ala” (QS Annajm 8-9)

 

Diantara sekian banyak rahasia didalam mi’raj diantaranya adalah ucapan

para penyair bahwa ketika Nabi Musa a.s menghadap Allah Swt di Bukit

Tursina, maka disaat itu diperintahkan kepada Musa:

“lepas kedua sandal mu wahai Musa kau berada di lembah yang suci” (QS

Thaahaa 12)

 

Maka disaat Rasulullah saw Mi’raj naik ke hadhratullah tidak diperintah

membuka kedua sandalnya, maka berkata para penyair dalam syairnya

manakah yang lebih mulia sandal atau Jibril as, jibril tidak bisa naik

kehadhratullah tapi sandalnya Rasulullah naik ke hadhratullah swt, tentu

jibril as lebih mulia dari sandal, sandal hanya terbuat dari kulit

kambing tapi karena sandal terikat dengan kaki Sayyidina Muhammad saw

walaupun terbuat dari kulit kambing karena terikat dengan kaki

Rasulullah saw, demikian pakaian Rasulullah saw naik ke hadirat Allah

swt, tidak diperintah membuka kedua sandalnya sebagai tanda bahwa

orang-orang yang terikat hatinya dengan Rasulullah saw sangat dekat

dengan Allah swt, Allah tidak perintahkan semua yang bersama Rasul untuk

berpisah, bahkan sandalnya pun tidak diperintahkan dibuka menunjukkan

lebih lagi hatinya yang terikat cinta pada Sayyidina Muhammad saw,

mereka mendapatkan rahasia kemuliaan isra’ wal mi’raj, seluruh ummat

beliau buktinya, saat kita shalat kita mengulang kembali kalimat

percakapan Allah dengan Nabi Muhammad saw: yaitu : attahiyyatul

Mubaarakaatu….dst.

 

kalimat itu kalimat percakapan antara Allah dan Nabi Muhammad saw, kau

ucapkan didalam shalat, setiap shalat kita mengucapkannya, rahasia

kemuliyaan isra’ wal mi’raj tumpah pada kita 5 kali setiap harinya,

ingin lebih lakukan lagi, ada shalat dhuha, ada shalat witir, ada shalat

tahajjud, ada shalat shalat lainnya.

Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad rah.

bahwa di saat itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan :

“Saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat

gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah

aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu dan bentuk seperti itu

dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di

keringkan, minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan

berlian dan juga mutiara dan kemudian aku sampai ketika menembus

Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk) tidak lagi kudengar

satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni

dan saat itu akupun mendengar satu suara:

 

“mendekat mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu

wahai Muhammad”

maka beliau pun bersujud lalu berkata: Attahiyyatul

Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“

(Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan

untuk Allah subhanahu wata’ala)

 

Maka aku mendengar jawaban ucapan Rasul : Assalaamu alaika

ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”, (Salam sejahtera wahai Nabi

dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya)

Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin”

(Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg

shalih (yaitu para nabi dan malaikat)

 

Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri,

tapi ingin menyertakan Ummat Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan

ucapan :

“salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang Shaleh yaitu para

malaikat dan para Rasul dan Nabi”

Demikian sebagian ulama menjelaskan.

Saudaraku, maka di wajibkannya 50 waktu shalat, lantas beliau turun

berjumpa dengan Nabiyallah Musa As,

“apa yang dikatakan Tuhanmu?”

“aku di berikan hadiah untuk membawa shalat 50 waktu”

“baliklah..!, bani Israil tidak mampu melakukan 50 waktu apalagi

ummatmu, Ummatmu lebih pendek usianya, lebih lemah, lebih tidak berdaya,

balik lagi minta kekurangan”

Maka Rasulullah saw kembali, ketika meminta kekurangan seraya berkata :

“Wahai Allah sungguh Ummatku sudah sangat lemah dibanding ummat-ummat

sebelumnya” Maka Allah subhanahu wata’ala menguranginya 10 menjadi 40 waktu,

Dia turun pada Nabiyallah Musa, Musa a.s berkata :

“apa yang kau dapat, di kurangi berapa?”

Rasul saw menjawab : “sepuluh”

“kembalilah lagi, 40 waktu tidak mampu ummatmu, minta dikurangi lagi,

minta keringanan”

Maka Nabi saw balik lagi pada Allah, dikurangkan lagi 10 hingga demikian

sampai 5 waktu yaitu beliau bulak balik demi minta keringanan.

 

Didalam salah satu riwayat Nabiyallah Musa a.s itu ketika beliau a.s

mendengar firman Allah Swt di bukit Tursina, setelahnya ia turun dari

bukit tersebut sambil menutup telingannya dari semua suara benda dan

hewan karena ia tidak tahan mendengar buruknya suara benda dan hewan

karena ia telah mendengar suara yang sangat begitu lembut dan indah

mewakili firmannya Allah Swt hingga ia tidak kuat mendengar suara air,

suara burung, suara manusia, suara hewan yang semuanya menyakiti telinga

Musa a.s. Hal itu terjadi pada Nabiyallah Musa a.s di dunia. cahaya

terang pun terlihat diwajah Nabiyallah Musa yang dilihat oleh istri dan

anak-anaknya hingga mereka berkata, “Demikian terang benderang wajahmu.”

Nabiyallah Musa As berkata : “Aku tadi mendapat firman Allah Swt.” maka

ketika di malam isra’ wal mi’raj Nabi Musa a.s melihat wajah Rasulullah

Saw sesaat setelah kembali dari hadapan Allah Swt dengan wajah yang

terang benderang bias dari cahaya Rabbul’alamin swt, Nabiyallah Musa a.s

bahkan mencari alasan supaya Muhammad kembali lagi ke atas supaya bisa

balik lagi, jumpa lagi, melihat lagi cahaya keindahan Allah, wajah

Beliau bagaikan cermin yang mencerminkan cahaya keagungan Ilahi, balik

lagi keatas, balik lagi hingga berkali kali Nabi Musa a. bisa menikmati

bias dari cahaya keindahan Rabbul’alamin yang terlihat di wajah

Sayyidina Muhammad Saw dan setelah itu Nabiyallah Musa pun ketika Rasul

berkata :

“sudah cukup 5 waktu tadi sudah di beri pahala 50 waktu oleh Allah

subhanahu wata’ala”

”Kembali lagi”

Rasul berkata : “aku sudah malu, karna Allah Swt sudah berfirman : “ Aku

sudah lewatkan dan sudah jalankan fardhu Ku untuk hamba-hamba Ku”(Shahih

Bukhari)

 

Yaitu Allah Swt telah menentukannya dan tidak lagi merubahnya 5 waktu,

Allah Maha tahu shalat itu 5 waktu bukan 50 waktu, namun Allah ingin

memberi isyarat kepada sang Nabi dan kepada ummat beliau yaitu kita

berapa besarnya rindu kita kepada Allah Swt, berapa besarnya rindu Allah

pada kita, Allah meminta 50 kali kita menghadap, kita 5 kali saja ada

yang masih malas dan keberatan, berapa cinta Allah kepada kita, berapa

cinta kita kepada Allah, Allah minta 50 kali, karena kita lemah kita

diberi 5 kali tapi sama dengan 50 waktu seakan akan 50 kali menghadap

Allah, inilah cinta nya Rabbul’alamin kepada hamba-Nya.

 

Rasul saw kembali membawakan kepada kita hadiah Ilahiyah berupa 5 waktu

yang mulya, 5 waktu suci untuk menghadap Ilahi, jiwa dengan jiwa, ruh

dengan ruh.

 

Walaupun jasad kita di bumi tapi ruh dan jiwa kita dan sanubari kita

saat mulai takbiratul ihram hingga salam saat itu terbuka hijab antara

hamba dengan Allah swt, sebagaimana hadits Rasul saw: “Barang siapa yang

melakukan shalat sungguh ia sedang berbicara dan bercakap cakap dan

menghadap Allah subhanahu wata’ala

 

 

*Mendapat Mandat Shalat 5 waktu*

 

Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’

Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi? Jawaban pertanyaan ini

sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk

menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang

menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.

 

Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan antara seorang hamba

dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan

tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. Makanya

tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian,

sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari

tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah

menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu

diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang

pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora

yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap

jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun,

Al–Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan

dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga

tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

 

 

Hikmah Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW

 

Perintah sholat dalam perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW,

kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki

keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya.

Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif

rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering

inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).

 

Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376

Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini,

berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan

hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta

telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran

dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang

menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.

 

Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan

begitu detail dan mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di

balik peristiwa luar biasa ini, termasuk mengenai mengapa mikraj di

malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah berada di atas?

Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia

semacam wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani?

 

Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana

dengan mikraj kita sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan

kita? Semua dibahas secara gamblang dalam buku ini.

 

Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan

sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini

menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari

kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku ”In the

Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti

pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu

dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW,

selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya,

benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan

dunia spiritual.

 

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi

permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang

menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj

menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta

(al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani

(insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah

perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

 

Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf.

Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari

peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW “berjumpa” dengan

Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul

mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan,

kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun

berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”.

 

Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua

kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan

ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.

 

Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’

(1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW

saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan

umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya

orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada

beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

 

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan

kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah

berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat

menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan

merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat

indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar

dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu

sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu)

orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa

mereka akan kembali kepada-Nya.”

 

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini

setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup

lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat

mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian

kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah

Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini

merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya

menuju Allah.

 

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan

niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari

segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa

jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin,

atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas

kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang

hamba menuju kesempurnaan ruhani.

 

 

*Peristiwa Isra’ Mi’raj sangat fenomenal dari segi sejarah,*

 

karena sebelumnya tak pernah terjadi pada manusia. Sebelum Nabi Muhammad

memang pernah terjadi pada benda. Benda tersebut bisa berpindah tempat

dari satu tempat ke tempat yang jauh dalam orde sepersekian detik saja.

Itulah peristiwa berpindahnya singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba

ke Kerajaan Nabi Sulaiman. Waktu itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para

stafnya yang ketika itu memang sengaja dikumpulkan olehnya. Nabi

Sulaiman mengatakan kepada para stafnya untuk melakukan suatu kejutan

terhadap Ratu Balqis yang ketika itu sedang menuju ke kerajaan Nabi

Sulaiman. Ternyata Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu

Balqis ke kerajaannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya siapa

yang bisa melakukan hal tersebut.

 

Yang mengajukan diri pertama kali adalah Jin Ifrit. Ditanya oleh Nabi

Sulaiman berapa lama ia bisa memindahkannya. Dijawab oleh Jin Ifrit

bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat

duduknya dijamin singgasana itu sudah sampai di hadapannya. Tentunya hal

ini sangat cepat, tapi ternyata Nabi Sulaiman belum puas akan hal tersebut.

 

Kemudian Nabi Sulaiman bertanya lagi kepada para stafnya siapa yang bisa

lebih cepat melakukan hal tersebut. Yang mengajukan diri kemudian

ternyata adalah seorang manusia, yaitu manusia yang menguasai ilmu dari

al-Kitab. Orang itu kemudian ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia

bisa melakukannya. Dijawab oleh orang itu bahwa ia bisa melakukannya

sebelum Nabi Sulaiman berkedip lagi. Ternyata memang benar adanya,

sebelum Nabi Sulaiman berkedip, singgasana Ratu Balqis sudah berada di

hadapannya. Satu kedipan mata berarti waktunya kurang dari satu detik.

Berkaitan dengan Isra’ Mi’raj, ternyata perjalanan Nabi Muhammad

tersebut terjadi dalam waktu tidak sampai satu kedipan mata pun.

 

 

Dan Isra’ Mi’raj juga fenomenal dari segi sains. Untuk menjelaskan Isra’

Mi’raj, ternyata kita harus menggali ilmu-ilmu mutakhir. Kalau ilmu-ilmu

lama mungkin tak cukup untuk menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj.

Sehingga di zaman itu orang memersepsikan bahwa Nabi Muhammad melakukan

perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai Buraq. Buraq itu kemudian ada

yang menggambarkan bentuknya seperti kuda yang bersayap, ada juga yang

menggambarkan bahwa kepala buraq itu menyerupai manusia, bahkan ada juga

yang menggambarkan kepala buraq itu berupa wanita cantik. Pemikiran

seperti ini tentunya khas abad pertengahan, karena perjalanan tercepat

ketika itu adalah dengan mengendarai kuda. Tapi kuda pun tak bisa

secepat itu. Karena itu digambarkanlah kuda itu bersayap.

 

Dengan pendekatan secara saintifik dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya

perpindahan Rasulullah dari satu tempat ke tempat lain pada peristiwa

Isra’ Mi’raj itu terjadi secara cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini

tentunya kontroversial hampir 1500 tahun di kalangan agamawan maupun

para saintis karena memang sulit menjelaskannya. Selalu ada yang tidak

percaya, ragu-ragu, dan ada juga yang meyakininya sejak masa hidupnya

Rasulullah hingga kini. Yang ragu-ragu sampai sekarang tentunya masih

ada, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Ketika ditanya apakah

perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Palestina itu dengan badannya

atau bukan. Ada yang mengatakan bahwa itu hanya penglihatan saja. Ada

juga yang mengatakan bahwa itu hanya ruh saja. Ada yang mengatakan itu

hanya mimpi. Dan ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu memang dialami

Nabi Muhammad dengan badannya.

 

Yang meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj itu dialami Nabi Muhammad

dengan badannya adalah mengacu kepada Abu Bakar Shiddiq. Ketika itu Abu

Bakar ditanya apakah dia meyakini peristiwa tersebut. Lalu ditanyakan

oleh Abu Bakar kepada yang bertanya itu siapa yang menceritakan hal

tersebut. Dijawab oleh yang bertanya kepada Abu Bakar itu bahwa yang

menceritakan hal tersebut adalah Nabi Muhammad. Dikatakan oleh Abu

Bakar, bahwa kalau Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia

meyakininya, karena Nabi Muhammad tak pernah berbohong.

 

Cara Abu Bakar memersepsi mengenai Isra’ Mi’raj ini oleh sebagian

kalangan dinyatakan bahwa beragama itu tak perlu berpikir. Padahal jika

dicermati bahwa sebenarnya ketika itu Abu Bakar berpikir dahulu, karena

ia menanyakan bahwa siapakah yang menceritakan hal tersebut. Kalau

memang Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia meyakini kebenaran

yang diceritakan oleh Nabi Muhammad itu. Tapi kalau yang menceritakannya

bukan Nabi Muhammad tentunya Abu Bakar takkan langsung meyakini

kebenaran cerita tersebut. Jadi dalam beragama memang kita harus

berpikir, janganlah ikut-ikutan saja. Perintahnya sangat jelas di dalam

al-Quran: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai

pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,

semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 36)

 

 

*Logika Keputusasaan tentang Isra’ mi’raj *

 

Selama ini dalam menceritakan Isra’ Mi’raj kalau kita sudah buntu, maka

kita katakanlah bahwa kalau Allah menghendaki, maka semuanya bisa saja

terjadi. Kita takkan mendapatkan pelajaran apa-apa dengan cara berpikir

seperti ini. Padahal peristiwa apapun yang diturunkan oleh Allah, maka

di dalamnya selalu ada pelajaran untuk kita. Allah berfirman:

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya

malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

(Q.S. Ali ’Imrân [3]: 190)

 

Kita diperintahkan untuk menjadi ulil albab, yaitu orang yang

menggunakan akalnya memahami segala peristiwa, sehingga ada pelajaran

dari setiap peristiwa tersebut.

 

 

*Skenario Isra Mi’raj dan Tafsir Fisik *

 

Perjalanan Isra’ Mi’raj itu terdiri dari dua etape: satu etape mendatar

(horizontal), sedangkan satunya lagi adalah etape vertikal ke langit

ketujuh. Etape mendatarnya diceritakan di dalam surah al-Isrâ’ ayat

pertama:

 

Maha Suci Allah, yang telah memerjalankan hamba-Nya pada suatu malam

dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi

sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda

(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha

Melihat. (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 1)

 

Dalam tinjauan Agus Mustofa (2006:11), setidak-tidaknya ada delapan kata

kunci yang menjadi catatan penting dan menuntut pemahaman kita menembus

batas-batas langit untuk menafsir perjalanan kontroversial ini. Baiklah,

jika kita mencoba untuk menguraikan makna kata-kata tersebut, maka akan

menjadi seperti ini:

 

*Pertama*, ayat ini dimulai dengan kata “subhânalladzî”. Kata

“subhânallâh” diajarkan kepada kita untuk diucapkan pada saat kita

menemui peristiwa yang menakjubkan, yang memesona, yang hebat, yang luar

biasa. Artinya, dengan memulai cerita itu menggunakan kata

“subhânalladzî” sebenarnya Allah menginformasikan bahwa cerita yang akan

diceritakan tersebut bukanlah cerita yang biasa, melainkan cerita

tersebut adalah cerita yang luar biasa dan menakjubkan.

 

*Kedua*, yaitu kata “asrâ”. Penggunaan kata “asrâ” memiliki beberapa

makna. Yang pertama bahwa itu adalah perjalanan berpindah tempat. Jadi

penggunaan kata ini mengcounter pemahaman ataupun kesimpulan yang

menyatakan bahwa pada perjalanan tersebut Rasulullah tidak berpindah

tempat. Yang kedua maknanya bahwa pada perjalanan itu Rasulullah

diperjalankan, bukanlah berjalan sendiri, dan bukan juga atas kehendak

sendiri, karena peristiwa ini terlalu dahsyat untuk bisa dilakukan

sendiri oleh Rasulullah.

 

*Ketiga,* yaitu kata “’abdihi” yang artinya adalah hamba Allah. Hamba

terhadap majikan adalah seorang yang tak berani membantah, taat, seluruh

hidupnya diabdikan untuk majikannya, untuk Tuhannya. Yang bisa mengalami

perjalanan hebat ini bukanlah manusia yang kualitasnya sembarangan,

melainkan manusia yang kualitasnya sudah mencapai tingkatan hamba Allah,

yaitu manusia seperti Nabi Muhammad. Karena itulah, kita mungkin tidak

bisa menerima ketika Nabi Muhammad digambarkan mendapat perintah salat

50 waktu, kemudian beliau menawar perintah tersebut kepada Allah.

Anjuran tawar-menawar itu datangnya dari Nabi Musa. Digambarkan bahwa

tawar-menawar itu terjadi hingga sembilan kali Nabi Muhammad bolak-balik

menemui Allah, yang akhirnya perintah salat fardu yang diterima Nabi

Muhammad menjadi lima waktu saja sehari semalam.

 

Kita mungkin tak sampai hati membayangkan Nabi Muhammad yang begitu taat

kepada Allah yang tak pernah membantah kalau mendapat wahyu dan perintah

dari Allah yang dalam cerita versi ini digambarkan sampai sembilan kali

tawar-menawar dengan Allah untuk mengurangi jumlah salat fardu yang

diperintah-Nya. Digambarkan pada cerita versi ini bahwa Nabi Musa lebih

superior dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad dipingpong

oleh Nabi Musa bolak-balik menemui Allah memohon agar jumlah salat fardu

yang diperintahkan Allah itu dikurangi. Tentunya patut pula kita ingat

bahwa Nabi Musa adalah nabinya bani Israil (sebetulnya juga nabinya umat

Islam/umat Nabi Muhammad), tetapi orang-orang bani Israil tidak mau

menerima Nabi Muhammad. Bagi bani Israil, Nabi Musa lebih hebat

dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga dalam cerita versi ini Nabi

Muhammad dipingpong saja. Jadi ini indikasinya adalah hadis Israiliyat.

 

*Keempat *, yaitu kata “laylan” yang artinya adalah perjalanan malam di

waktu malam. Hal ini menunjukkan sebagai penegasan bahwa perjalanan

malam itu tidak sepanjang malam, melainkan cuma sebagian kecil dari

malam. Sehingga diriwayatkan di beberapa hadis, bahwa ketika Rasulullah

berangkat dari rumah meninggalkan pembaringan, kemudian menuju ke

Masjidil Haram, dan kemudian terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

Ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, ternyata pembaringannya

masih hangat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu beliau tidak lama

meninggalkan rumahnya. Di hadis yang lain juga diceritakan, bahwa ketika

Rasulullah meninggalkan rumahnya, beliau menyenggol tempat minumnya

kemudian tumpah, dan ternyata ketika Rasulullah kembali lagi ke

rumahnya, air dari tempat minum yang disenggolnya itu masih menetes. Hal

ini menunjukkan bahwa sebetulnya Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah

itu berlangsung dalam waktu yang sebentar dan cepat.

 

Bayangkanlah, perjalanan semalam saja masih sulit diterima, apalagi

perjalanan yang hanya sekejap yang itu mungkin hanya beberapa menit,

atau mungkin hanya beberapa detik.

 

*Kelima,* minal masjidil harâmi ilal masjidil aqsha (dari Masjidil Haram

ke Masjidil Aqsa). Mengapa perjalanan Rasulullah ini dari masjid ke

masjid? Mengapa pula tidak dari rumahnya atau dari Gua Hira ke tujuan

lain yang bukan masjid (dari tempat yang bukan masjid ke tempat lain

yang bukan masjid juga)?

 

Patut diketahui, bahwa masjid adalah tempat yang menyimpan energi

positif sangat besar. Dengan kamera aura yang bisa memfoto dan

memvideokan sesuatu, jika ada orang yang sedang berzikir ataupun membaca

al-Quran, ternyata orang tersebut memancarkan cahaya yang terang

benderang. Berbeda halnya dengan orang yang sedang marah, depresi,

ataupun stress, maka orang tersebut akan memancarkan cahaya berwarna

merah. Warna aura ini bertingkat, yaitu dari merah, jingga, kuning,

hijau, biru, nila, ungu, sampai warna putih. Setiap kita memancarkan

energi. Akan terpancar energi dari setiap aktivitas yang kita lakukan,

dan energi itu menancap di tempat kita berada ketika itu. Energi itu

membekas, sehingga seluruh aktifitas kita akan terekam. Allah berfirman:

 

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya

malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qâf: 18)

 

Raqib dan Atid kemudian dijadikan sebagai nama malaikat yang mencatat

amal kebaikan dan keburukan. Rekaman tersebut di ruang tiga dimensi, dan

suatu ketika akan diputar lagi. Allah berfirman:

 

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami

singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu

pada hari itu amattajam. (Q.S. Qâf: 22)

 

Di pengadilan akhirat itu, manusia akan bisa melihat seluruh perbuatan

yang dilakukannya di dunia.

 

Masjid mengandung energi positif sangat besar, terutama masjid yang

sering digunakan sebagai tempat beribadah. Semakin sering, semakin

banyak, dan semakin khusyuk, maka energinya akan semakin besar.

Rasulullah berangkat dari masjid menuju ke masjid. Terminal

keberangkatannya di masjid.

 

*Keenam,* bâraknâ hawlahu (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Allah

memberkati sepanjang perjalanan itu, hal ini karena perjalanan itu

memang membahayakan. Dengan keberkahan Allah kondisi Nabi tetap membaik.

 

*Ketujuh,* linuriyahû min âyâtinâ (agar Kami perlihatkan kepadanya

sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami). Dalam perjalanan isra’

mi’raj ketika itu Rasulullah ditunjukkan berbagai peristiwa. Mengapakah

bisa seperti itu, sedangkan itu adalah waktu yang sangat singkat. Itulah

yang disebut sebagai relativitas waktu, yaitu ada perbedaan waktu antara

orang yang berkecepatan tinggi dengan orang yang berkecepatan rendah.

Kita mengetahui, bahwa antara orang yang tidur dengan orang yang sadar

(terjaga) itu waktunya berbeda. Misalnya, ada yang tiba-tiba terlelap

tidur yang itu hanya sebentar (mungkin hanya beberapa detik), lalu yang

tertidur itu dibangunkan. Yang tertidur itu pun terbangun, lalu ia

bercerita baru saja ia bermimpi. Ceritanya itu begitu panjang,

seakan-akan mimpinya itu sangat lama, padahal ia hanya tertidur beberapa

detik saja. Begitupun dengan Rasulullah, meskipun perjalanan yang

dialaminya itu hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi beliau

ditampakkan berbagai macam peristiwa oleh Allah. Hal ini karena yang

memberjalankan Rasulullah adalah Allah yang tak lain adalah zat Yang

Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kemahamendengaran dan kemahamelihatan

Allah itu ditularkan kepada Nabi Muhammad, sehingga kemampuan Rasulullah

untuk melihat dan mendengar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Dan kata kunci yang terakhir ( kedelapan ) adalah innahu huwas samii’ul

bashir, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah

proses penegasan informasi kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat

ini, seakan-akan Alalh ingin memberikan jaminan kepada kita bahwa apa

yang telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa?

Karena berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha

Melihat. Maka tak perlu ada keraguan tentang kisah fenomenal ini

(Mustofa, 2006:41).

 

Selanjutnya mengenai Mi’raj diceritakan pada surah an-Najm 14-18:

 

(14) (yaitu) di Sidratil Muntaha. (15) Di dekatnya ada surga tempat

tinggal, (16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi

oleh sesuatu yang meliputinya. (17) Penglihatannya (Muhammad) tidak

berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (18)

Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)

Tuhannya yang paling besar. (Q.S. an-Najm: 14-18)

 

Di dekat Sidratil Muntaha, Rasulullah menyaksikan surga. Tentunya tidak

sembarangan orang yang bisa menyaksikan surga, karena sudut padangnya

harus tertinggi di alam semesta ini. Dari dunia tidak kelihatan,

kalaupun kelihatan hanya sebagian. Jadi, kalau kita merasakan

kebahagiaan, maka hal itu mungkin kita telah mendapatkan kebahagiaan

surga, namun hanya sedikit sekali perbandingannya, mungkin bagaikan

setetes air dibandingkan dengan samudera, itu pun setetes airnya dibagi

lagi tak berhingga. Sebaliknya kalau kita menderita, maka itu adalah

penderitaan neraka, namun skalanya tak berhingga.

 

Lantas ke manakah Rasulullah melanglang buana? Menyeberangi langit

ataukah beliau langsung masuk ke Sidratil Muntaha yang kita tidak tahu

di mana letaknya.

 

Betapa besarnya langit angkasa semesta. Apakah langit? Langit adalah

seluruh ruangan alam semesta ini. Matahari dikelilingi oleh

planet-planet, bumi tempat kita tinggal adalah termasuk salah satu

planet yang mengitari matahari. Matahari yang tadinya kelihatan besar,

semakin jauh kita lihat maka semakin kecil. Ketika matahari yang kita

terlihat itu semakin kecil, maka biasanya kita tidak lagi menyebutnya

matahari, melainkan kita menyebutnya bintang.

 

Matahari itu ternyata demikian banyaknya, seluruh bintang-bintang itu

sebenarnya adalah matahari. Diperkirakan jumlahnya trilyunan.

Matahari-matahari (bintang-bintang) itu bergerombol membentuk galaksi.

Galaksi adalah gerombolan matahari (bintang), di tengahnya ada matahari

yang lebih besar, dan di sekitarnya ada sekitar 100 milyar matahari

(bintang).

 

Bintang-bintang itu bergerombol mengitari pusatnya membentuk suatu

galaksi. Galaksi tempat bumi dan matahari kita berada adalah galaksi

Bimasakti. Di sebelah galaksi Bimasakti ada galaksi Andromeda yang

isinya diperkirakan juga 100 milyar matahari. Galaksi-galaksi itu

diperkirakan trilyunan jumlahnya. Para ahli astronomi bahkan sampai

kehabisan nama untuk menyebut galaksi karena saking banyaknya.

 

Galaksi-galaksi itu ternyata bergerombol-gerombol lagi membentuk

gerombolan yang lebih besar yang dinamakan sebagai supercluster. Isinya

diperkirakan 100 milyar galaksi. Apakah supercluster adalah benda

terbesar dan terjauh di alam semesta, hingga kini belum ada yang

mengetahuinya.

 

Jarak bumi ke matahari adalah 150 juta kilometer. Kalau dilewati cahaya

maka dibutuhkan waktu 8 menit. Jadi, kalau kita melihat matahari terbit

yang sinarnya sampai ke mata kita, maka cahaya yang sampai ke mata kita

itu sebetulnya bukanlah matahari sekarang, melainkan matahari 8 menit

yang lalu. Cahaya matahari itu berjalan selama 8 menit barulah sampai ke

mata kita. Sementara bintang kembar (Alpha Century) jaraknya dari bumi

adalah 4 tahun perjalanan cahaya. Kalau kita melihat bintang kembar pada

malam hari, maka sebetulnya itu bukanlah cahaya bintang kembar saat itu,

melainkan bintang 4 tahun yang lalu. Di belakangnya lagi ada bintang

yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkanlah kalau kita mau

menuju bintang berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat tercepat

yang dimiliki manusia, misalnya menggunakan pesawat ulang alik yang

kecepatannya 20 ribu kilometer per jam. Apakah yang kemudian terjadi?

Ternyata dibutuhkan waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang tersebut.

 

Ternyata bumi kita ini bukanlah benda besar di alam semesta, melainkan

benda yang sangat kecil. Di belakang bintang berjarak 10 tahun cahaya

ada bintang berjarak 100 tahun cahaya, di belakangnya lagi ada yang

berjarak 1000 tahun cahaya, yang berjarak 1 juta tahun cahaya, dan juga

yang berjarak 1 milyar tahun cahaya. Yang terjauh diketahui oleh ilmuwan

Jepang yaitu yang berjarak 10 milyar tahun cahaya. Jadi, bumi kita ini

hanyalah sebutir debu di padang pasir alam semesta raya.

 

Jadi, manusia adalah debunya bumi, bumi debunya tata surya, tata surya

debunya galaksi Bimasakti, galaksi Bimasakti debunya supercluster,

supercluster debunya langit pertama, karena langit itu ada tujuh (sab’a

samawâti). Ilmu astronomi hanya mengetahui langit itu satu, tapi

al-Quran mengatakan langit itu ada tujuh, karena menurut al-Quran bahwa

langit yang kita kenal itu yang banyak bintang-bintangnya barulah langit

dunia (langit pertama). Allah berfirman:Sesungguhnya Kami telah menghias

langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, (Q.S.

ash-Shâffât: 6)

 

Sudah sedemikian besarnya langit pertama, ternyata langit pertama adalah

debunya langit kedua, karena langit kedua itu besarnya tak berhingga

kali dibandingkan langit pertama. Langit ketiga besarnya tak berhingga

kali dibandingkan langit kedua. Begitu seterusnya setiap naik ke langit

selanjutnya selalu tak berhingga kali besarnya dibandingkan langit

sebelumnya, hingga langit ketujuh tak berhingga kali dibandingkan langit

keenam, serta tak berhingga pangkat tujuh dibandingkan langit pertama.

 

Jadi, langit pertama adalah debunya langit kedua, langit kedua debunya

langit ketiga, seterusnya hingga langit ketujuh, dan seluruh langit yang

tujuh beserta seluruh isinya hanyalah debu atau lebih kecil lagi di

dalam kebesaran Allah. Beginilah cara al-Quran menggiring pemahaman kita

tentang makna Allahu Akbar. Semestinya menurut al-Quran, bahwa belajar

mengenal Allah itu adalah dari seluruh ciptaan-Nya. Dengan begitu kita

akan mengetahui betapa Maha Besarnya Dia, betapa Maha Menyayangi, Maha

Teliti, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, tak cukup hanya dari lafaznya,

karena kita takkan mendapatkan rasa yang sesungguhnya.

 

Bayangkanlah betapa Rasulullah melakukan perjalanan menuju langit

ketujuh. Sebetulnya Rasulullah berjalan ke langit ketujuh itu apakah

melintasi ruang angkasa atau tidak?

 

Kalaupun badan Rasulullah diubah menjadi cahaya, maka dari bumi menuju

bintang Alpha Century yang berjarak 4 tahun cahaya, maka Rasulullah

membutuhkan waktu 4 tahun untuk sampai ke bintang Alpha Century, untuk

menempuh yang berjarak 10 tahun cahaya dibutuhkan waktu 10 tahun, untuk

menempuh yang berjarak 10 milyar tahun cahaya dibutuhkan 10 milyar

tahun. Sepertinya Rasulullah tidak melewati ruang angkasa, melainkan ada

ruangan langsung yang tidak ke sana (tidak ke ruang angkasa) tetapi

memahami semua itu. Di manakah itu?

 

Ternyata langit kedua terhadap langit pertama tidak bertumpuk seperti

kue lapis (dalam konteks Mi’rajnya Rasulullah). Sering kita berpendapat

dari cerita-cerita klasik bahwa Nabi Muhammad dan malaikat Jibril menuju

ke langit ketujuh dengan cara naik menggunakan tangga, kemudian bertemu

langit yang digambarkan seperti langit-langit, kemudian di situ ada

pintunya dan ada penjaganya. Lalu Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad

ditanya mau ke mana oleh si penjaga langit. Dijawab oleh Malaikat Jibril

dan Nabi Muhammad bahwa akan bertemu dengan Allah. Kalau begitu, berarti

Allah itu jauh sekali. Padahal di dalam al-Quran digambarkan bahwa Allah

itu dekat, dan Nabi Muhammad mengetahui itu. Allah berfirman: Dan

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang

dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat

lehernya, (Q.S. Qâf: 16)

 

Bahkan dinyatakan juga di dalam al-Quran: Dan kepunyaan Allah-lah timur

dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S.

al-Baqarah [2]: 115)

 

Timur dan Barat milik Allah. Ke manapun kita menghadap, maka kita

berhadapan dengan Allah, karena Allah sedang meliputi kita. Dan

Rasulullah tahu persis akan hal itu. Jadi untuk bertemu Allah tak perlu

ke Sidratil Muntaha. Dan memang Rasulullah ke Sidratil Muntaha bukanlah

untuk menemui Allah, karena Allah sudah meliputi Rasulullah, juga

meliputi kita semua di manaun kita berada.

 

 

*Tujuan isra’ mi’raj *

 

Isra’ Mi’raj itu sebetulnya bertujuan membawa Rasulullah ke satu posisi

yang paling tinggi untuk memahami betapa dahsyatnya ciptaan Allah. Untuk

apakah semuanya itu? Yaitu untuk memotivasi Rasulullah. Mengapakah

demikian? Karena sebelum Isra’ Mi’raj, Rasulullah sedang berada pada

titik terendah perjuangannya yang paling sulit, yaitu ketika dijepit

oleh orang kafir dan diembargo secara ekonomi. Di saat-saat itu justru

Allah mewafatkan paman Rasulullah (Abi Thalib) dan mewafatkan istri

Rasulullah (Khadijah). Hal ini bukannya tidak sengaja, melainkan

disengaja oleh Allah, karena memang tak ada yang kebetulan di dalam

kehidupan ini.

 

Semuanya itu justru terjadi pada saat Rasulullah berada pada titik nadir

perjuangannya. Beliau berharap memindahkan front syi’arnya ke luar kota

(yaitu ke Tha’if). Beliau berharap disambut baik oleh penduduk Tha’if,

tapi malah yang terjadi beliau dilempari batu sampai berdarah-darah.

Maka kemudian Allah memompa kembali semangat beliau, yaitu dengan cara

Isra’ Mi’raj. “Muhammad, engkau adalah utusan Allah,” mungkin seperti

itulah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj

tersebut.

 

Ketika Rasulullah kembali dari Isra’ Mi’raj, maka setahun kemudian

terjadilah titik balik perjuangannya, yaitu beliau bersama pengikutnya

hijrah ke Madinah, kemudian dari Madinah bisa menaklukkan kota Mekkah.

 

*kesimpulan : *

 

* Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya

adalah Al-Quran kitab suci kita.

 

* Kisah Mi’raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita

sebab dalam agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu

bukan akal yang dieksprimen dulu, wahyu lebih tinggi dari logika.

 

* Kebenaran isra’ dan mi’raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya

Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi keatas langit ke 7

sampai Sidratul Muntaha tidak menjadi kewajiban mengetahuinya, yang

penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara yang ril dan

sebenarnya wallahua’lam sebab banyak pendapat dalam hal ini.

 

* Logikanya Isra’ itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik

Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini

Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika

anda punya HP lalu anda taruh di lantai dan mau anda pindahkan ke

saku, ke lemari, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena HP itu

adalah milik anda. Coba kalau teman anda yang punya? Tidak bisa anda

taruh sesuka hati anda.

wallahua’lam
berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
926
Views Today
Views Today
1
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

3 Comments on ISRA’ MI’RAJ Nabi Muhammad SAW ————————– * Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi adalah benar karena yang memberitakannya adalah Al-Quran kitab suci kita. ————————- * Kisah Mi’raj Nabi adalah benar walau tidak kasat oleh logika kita sebab dalam agama kebenaran yang dipakai adalah kebenaran wahyu bukan akal yang dieksprimen dulu, wahyu lebih tinggi dari logika. ————————————- * Kebenaran isra’ dan mi’raj nabi wajib di yakini dan adapun caranya Nabi muhammad dan bagaimana atau kaifiyyat Nabi keatas langit ke 7 sampai Sidratul Muntaha tidak menjadi kewajiban mengetahuinya, yang penting percaya dan yakin didalam hati adapun cara yang ril dan sebenarnya wallahua’lam sebab banyak pendapat dalam hal ini. —————————————— * Logikanya Isra’ itu benar dan logis. Jika Nabi Muhammad adalah milik Allah dan langit serta alam ini milik Allah dan dalam kondisi ini Allah yang menghendaki, apa susahnya? Sederhananya seperti ini. Jika anda punya HP lalu anda taruh di lantai dan mau anda pindahkan ke saku, ke lemari, ke atas rak buku, tidak susah bukan? Karena HP itu adalah milik anda. Coba kalau teman anda yang punya? Tidak bisa anda taruh sesuka hati anda. ————————– WALLAHUA’LAM ….. hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI yang SEBENAR-BENARnya ——————————————————– “… Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau! Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Anda telah mengajari kami. Engkau adalah Mahatahu, Maha Bijaksana “. (QS. Al Baqarah, 32) —————

  1. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i,

    Rasulullah saw bersabda:

    “Aku diberi seekor hewan yang lebih tinggi dari keledai dan lebih

    rendah dari baghal. Langkah hewan itu sejauh pandangannya. Aku

    menungganginya, dan Jibril Alaihissalam mendampingiku. Aku pun

    pergi. Di sebuah tempat Jibril berkata, “Turunlah, shalatlah di

    sini.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata,

    “Tahukah di mana engkau tadi shalat?” Engkau tadi shalat di Thaibah

    (Madinah), di sanalah tempat hijrahmu.” (Setelah melanjutkan

    perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan shalatlah.” Aku

    pun melaksanakan permintaannya. Setelah itu Jibril berkata, “Tahukah

    di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Thursina, di mana Allah

    ‘Azza wa Jalla berbicara kepada Musa ‘Alaihissalam.” (Setelah

    melanjutkan perjalanan) Jibril berkata, “Turunlah di sini dan

    shalatlah.” Aku pun turun dan shalat. Setelah itu Jibril berkata,

    “Tahukah di mana engkau tadi shalat? Engkau shalat di Bethlehem,

    tempat kelahiran Isa Alaihissalam.” Setelah itu aku memasuki Baitul

    Maqdis, di sana semua Nabi ‘Alaihissalam dikumpulkan untuk (bertemu

    dengan)ku. Jibril kemudian membawaku ke depan (untuk menjadi imam).

    Aku pun lalu mengimami mereka…” (HR Nasa’i)

  2. Allah yang Maha Kuasa. Secara jelas Allah mewahyukan:

    Allah berfirman:

    سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْـرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْــجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصى

    الَّــذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ .

    Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu

    malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami

    BERKAHI sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari

    tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar

    lagi Maha Melihat. (Al-Isra, 17:1)

  3. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

    Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Leave a Reply