Loading
{jangan} seperti … “KELEDAI”…. MEMBAWA KITAB —————- {berKACAlah …. diriku/dirimu sendiri} …….. Sebelum al Qur-an diturunkan kepada umat Islam, Allah Ta’ala terlebih dahulu telah menurunkan kitab Taurat kepada orang orang ahli kitab dan memerintahkan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tapi tidaklah mereka mengamalkannya. Diantara mereka ada yang mentakwil menurut akalnya bahkan ada yang pula yang merubah rubahnya. ——————– Dengan sebab yang demikian, maka Allah Ta’ala mempermisalkan mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab besar. Allah berfirman : “Matsalul ladziina hummilut tauraat tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaraa, bi’sa matsalul qaumil ladziina kadzdzabuu bi aayaatillahi, wallahu laa yahdil qaumazh zhaalimiin”. Perumpamaan orang orang yang di beri tugas membawa Taurat, kemudiaan mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim. (Q.S al Jumu’ah 5). ————————- Imam Ibnu Katsir berkata : Allah berfirman mencela orang orang Yahudi yang diberikan kepada mereka Taurat dan dipikulkan kepada mereka untuk diamalkan namun mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab tebal. Maksudnya ia hanya sebatas membawanya dan tidak mengetahui kitab apa yang dipikulnya. Demikian pula dengan kenyataan yang terjadi pada diri mereka ketika memikul al Kitab yang diberikan kepada mereka. Mereka hanya membacanya, namun tidak memahami dan mengamalkan konsekwensinya bahkan mereka mentakwil dan merubah rubahnya. ————————- Oleh karena itu sebenarnya mereka lebih buruk daripada keledai karena keledai (memang) tidak mempunyai pemahaman sedangkan mereka mempunyai pemahaman namun tidak digunakan dengan semestinya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir). ———————— Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa orang orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang diperintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. ——– Sungguh kepada umat Islam telah dipikulkan pula kitab suci yaitu al Qur-an. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memikulnya dengan sungguh sungguh yaitu dengan cara mempelajari, memahami mengamalkan dan mengajarkannya. Dengan demikian maka Allah Ta’ala tidaklah menyamakan kita dengan ahli kitab dan tidak pula seperti perumpamaan keledai yang memikul kitab kitab tebal. Insya Allah. | Islam dan Sains-Edy

{jangan} seperti … “KELEDAI”…. MEMBAWA KITAB —————- {berKACAlah …. diriku/dirimu sendiri} …….. Sebelum al Qur-an diturunkan kepada umat Islam, Allah Ta’ala terlebih dahulu telah menurunkan kitab Taurat kepada orang orang ahli kitab dan memerintahkan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tapi tidaklah mereka mengamalkannya. Diantara mereka ada yang mentakwil menurut akalnya bahkan ada yang pula yang merubah rubahnya. ——————– Dengan sebab yang demikian, maka Allah Ta’ala mempermisalkan mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab besar. Allah berfirman : “Matsalul ladziina hummilut tauraat tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaraa, bi’sa matsalul qaumil ladziina kadzdzabuu bi aayaatillahi, wallahu laa yahdil qaumazh zhaalimiin”. Perumpamaan orang orang yang di beri tugas membawa Taurat, kemudiaan mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim. (Q.S al Jumu’ah 5). ————————- Imam Ibnu Katsir berkata : Allah berfirman mencela orang orang Yahudi yang diberikan kepada mereka Taurat dan dipikulkan kepada mereka untuk diamalkan namun mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab tebal. Maksudnya ia hanya sebatas membawanya dan tidak mengetahui kitab apa yang dipikulnya. Demikian pula dengan kenyataan yang terjadi pada diri mereka ketika memikul al Kitab yang diberikan kepada mereka. Mereka hanya membacanya, namun tidak memahami dan mengamalkan konsekwensinya bahkan mereka mentakwil dan merubah rubahnya. ————————- Oleh karena itu sebenarnya mereka lebih buruk daripada keledai karena keledai (memang) tidak mempunyai pemahaman sedangkan mereka mempunyai pemahaman namun tidak digunakan dengan semestinya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir). ———————— Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa orang orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang diperintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. ——– Sungguh kepada umat Islam telah dipikulkan pula kitab suci yaitu al Qur-an. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memikulnya dengan sungguh sungguh yaitu dengan cara mempelajari, memahami mengamalkan dan mengajarkannya. Dengan demikian maka Allah Ta’ala tidaklah menyamakan kita dengan ahli kitab dan tidak pula seperti perumpamaan keledai yang memikul kitab kitab tebal. Insya Allah.

{jangan} seperti … “KELEDAI”…. MEMBAWA KITAB

—————-{berKACAlah …. diriku/dirimu sendiri} ————
Sebelum al Qur-an diturunkan kepada umat Islam, Allah Ta’ala  terlebih dahulu telah menurunkan kitab Taurat kepada orang orang ahli kitab dan memerintahkan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tapi tidaklah mereka mengamalkannya. Diantara mereka ada yang mentakwil menurut akalnya bahkan ada yang pula yang merubah rubahnya.

——————–

Dengan sebab yang demikian, maka Allah Ta’ala mempermisalkan mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab besar. Allah berfirman : “Matsalul ladziina hummilut tauraat tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaraa, bi’sa matsalul qaumil ladziina kadzdzabuu bi aayaatillahi, wallahu laa yahdil qaumazh zhaalimiin”. Perumpamaan orang orang yang di beri tugas membawa Taurat, kemudiaan mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim. (Q.S al Jumu’ah 5).

————————-

Imam Ibnu Katsir berkata : Allah berfirman  mencela orang orang Yahudi yang diberikan kepada mereka Taurat dan dipikulkan kepada mereka untuk diamalkan namun mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab tebal. Maksudnya ia hanya sebatas membawanya dan tidak mengetahui kitab apa yang dipikulnya. Demikian pula dengan kenyataan yang terjadi pada diri mereka ketika memikul al Kitab yang diberikan kepada mereka. Mereka hanya membacanya, namun tidak memahami dan mengamalkan konsekwensinya bahkan mereka mentakwil dan merubah rubahnya.
————————-
keledai  keldai

Oleh karena itu sebenarnya mereka lebih buruk daripada keledai karena keledai (memang)  tidak mempunyai pemahaman sedangkan mereka mempunyai pemahaman namun tidak digunakan dengan semestinya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).
————————

Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa orang orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang diperintahkan. Dengan demikian mereka   tidak memiliki keutamaan.

———————-

Mereka tidak ubahnya seperti keledai yang membawa barang berupa kitab kitab ilmu di atas punggungnya. Bisakah keledai memanfaatkan kitab kitab yang dibawa diatas punggungnya itu ?. Apakah karena sebab itu mereka berhak mendapatkan keutamaan ?. Ataukah jatah mereka hanya sekedar membawa saja. Inilah perumpamaan ulama ahli kitab. Mereka adalah  orang orang yang mengajarkan isi Taurat, yang diantara perintah terbesar dan teragungnya adalah mengikuti Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam, serta kabar gembira bagi orang yang beriman dengan al Qur-an yang dibawanya.

—————————-

Orang yang seperti ini tidak bisa memanfaatkan Taurat melainkan hanya kerugian  dan tegaknya hujjah atas diri mereka sendiri. Perumpamaan ini persis seperti diri mereka : “Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat ayat Allah itu”  Yang menunjukkan atas kebenaran Rasul kita dan kebenaran yang dibawanya. “Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim”.  Maksudnya, tidak menunjukkan mereka pada mashlahat mashlahat mereka selama kezhaliman dan pembangkangan masih lekat sebagai sifat mereka. (Tafsir Karimir Rahman).  

 

Sungguh kepada umat Islam telah dipikulkan pula kitab suci yaitu al Qur-an. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memikulnya dengan sungguh sungguh yaitu dengan cara mempelajari, memahami mengamalkan dan mengajarkannya. Dengan demikian maka Allah Ta’ala tidaklah menyamakan kita dengan ahli kitab dan tidak pula seperti perumpamaan keledai yang memikul kitab kitab tebal. Insya Allah.

———–

Views All Time
Views All Time
1448
Views Today
Views Today
2
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

2 Comments on {jangan} seperti … “KELEDAI”…. MEMBAWA KITAB —————- {berKACAlah …. diriku/dirimu sendiri} …….. Sebelum al Qur-an diturunkan kepada umat Islam, Allah Ta’ala terlebih dahulu telah menurunkan kitab Taurat kepada orang orang ahli kitab dan memerintahkan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tapi tidaklah mereka mengamalkannya. Diantara mereka ada yang mentakwil menurut akalnya bahkan ada yang pula yang merubah rubahnya. ——————– Dengan sebab yang demikian, maka Allah Ta’ala mempermisalkan mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab besar. Allah berfirman : “Matsalul ladziina hummilut tauraat tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaraa, bi’sa matsalul qaumil ladziina kadzdzabuu bi aayaatillahi, wallahu laa yahdil qaumazh zhaalimiin”. Perumpamaan orang orang yang di beri tugas membawa Taurat, kemudiaan mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim. (Q.S al Jumu’ah 5). ————————- Imam Ibnu Katsir berkata : Allah berfirman mencela orang orang Yahudi yang diberikan kepada mereka Taurat dan dipikulkan kepada mereka untuk diamalkan namun mereka seperti keledai yang membawa kitab kitab tebal. Maksudnya ia hanya sebatas membawanya dan tidak mengetahui kitab apa yang dipikulnya. Demikian pula dengan kenyataan yang terjadi pada diri mereka ketika memikul al Kitab yang diberikan kepada mereka. Mereka hanya membacanya, namun tidak memahami dan mengamalkan konsekwensinya bahkan mereka mentakwil dan merubah rubahnya. ————————- Oleh karena itu sebenarnya mereka lebih buruk daripada keledai karena keledai (memang) tidak mempunyai pemahaman sedangkan mereka mempunyai pemahaman namun tidak digunakan dengan semestinya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir). ———————— Tentang ayat ini pula, Syaikh as Sa’di berkata : Selanjutnya Allah menyebutkan bahwa orang orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang diperintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. ——– Sungguh kepada umat Islam telah dipikulkan pula kitab suci yaitu al Qur-an. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memikulnya dengan sungguh sungguh yaitu dengan cara mempelajari, memahami mengamalkan dan mengajarkannya. Dengan demikian maka Allah Ta’ala tidaklah menyamakan kita dengan ahli kitab dan tidak pula seperti perumpamaan keledai yang memikul kitab kitab tebal. Insya Allah.

  1. Sungguh kepada umat Islam telah dipikulkan pula kitab suci yaitu al Qur-an. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memikulnya dengan sungguh sungguh yaitu dengan cara mempelajari, memahami mengamalkan dan mengajarkannya. Dengan demikian maka Allah Ta’ala tidaklah menyamakan kita dengan ahli kitab dan tidak pula seperti perumpamaan keledai yang memikul kitab kitab tebal. Insya Allah.

  2. Di dalam al-Qur’an, Allah swt. menyebutkan satu jenis binatang bernama keledai yang menjadi simbol kebodohan. Allah swt. menyebutkannya, agar manusia mengambil pelajaran daripadanya dan tidak memiliki sikap hidup seperti yang dicontohkan seekor keledai. Adapun sikap bodoh keledai itu adalah;

    Pertama, seekor keledai selalu menjadi tunggangan dan pemikul beban manusia. Hal itu seperti disebutkan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 8
    وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Artinya: “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”

    Seekor keledai dengan senang dan bangga mengantarkan manusia dari suatu tempat ke tempat lain dengan memikulnya di atas punggung, atau memikul beban manusia ke sutau tempat yang diinginkan manusia itu. Namun, setelah manusia sampai ke tujuannya atau setelah beban manusia sampai ke tempat dimaksud, keledai yang dengan susah payah menanggung beban tidak lagi disebut jasanya, bahkan nyaris dilupakan begitu saja.
    ———————————
    Begitulah suatu bentuk kebodohan yang dicontohkan keledai. Memang, orang bodoh biasanya selalu menjadi tunggangan dan kendaraan bagi yang lain untuk mencapai maksudnya. Namun, ketika mereka telah sampai kepada maksud atau apa yang diinginkanya, manusia yang sebelumnya ditunggangi dan dijadikan kendaraan tidak lagi disebut dan dengan mudah dilupakan. Bahkan, yang lebih ironis mereka terkadang menjadi korban kesusuksesan manusia lain. Lihatlah dalam percaturan politik atau sebuah pergerakan, para politisi dan penguasa menjadikan kelompok masyarakat tertentu sebagai kendaraan mereka, agar bisa sampai ke puncak kekuasaan. Setelah mereka memperoleh kekuasaan, kelompok yang mereka tunggangi dan telah berjuang dengan darah dan keringat mereka, dengan mudah dilupakan dan tidak mendapatkan apa-apa selain penderitaan. Tentu saja kelompok yang mau ditunggangi sepeerti itu adalah kelompok yang “bodoh” seperti keledai.

    Kedua, seekor keledai kadang kala memikul sesuatu yang sangat berharga, namun ia tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang berada di pundaknya itu. Begitulah yang disebutkan Allah swt. dalam surat al-Jumu’ah [62]: 5
    مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

    Adalah sebuah kebodohan, jika kita tinggal di negeri yang subur dan kaya raya, namun kita hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Begitu juga, teramat bodoh jika kita tinggal di lingkungan orang-orang pintar dan berilmu, sementara kita tetap berada dalam kebodohan dan keterbelakangan. Jika ada seorang manusia atau sekelompoik orang dalam keadaan seperti perumpamaan di atas, mereka adalah seperti keledai atau bahkan lebih bodoh dari keledai. Sebab, keledai begitu karena tidak memiliki akal, sementara manusia dilengkapi akal yang bisa digunakan untuk berfikir dan mengembangkan diri.

    Ketiga, keledai adalah binatang yang berbadan kecil bila dibandingkan binatang sejenisnya seperti kuda dan baghal. Begitu juga, keledai adalah binatang yang bodoh seperti yang telah disebutkan. Akan tetapi, keledai memiliki suara dan ringkikan yang lebih kuat dan nyaring bila dibandingkan dengan suara kuda, baghal atau gajah sekalipun. Seperti yang disebutkan Allah dalam surat Luqman[ 31]: 19
    وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
    Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
    Begitulah gambaran manusia yang paling bodoh. Mereka tidak memiliki ilmu dan wawasan, berfikiran kerdil, sempit dan picik, akan tetapi memiliki “bualan/ota” yang besar. Mereka adalah orang yang bodoh, namun berlagak lebih hebat dari orang pintar. Mereka adalah orang yang tidak tahu apa-apa, namun tidak sadar dengan ketidaktahuannya. Inilah kelompok manusia yang paling berbahaya, “Orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu”. Begitulah salah satu ungkapan filsafat tentang pembagian manusia.

    Keempat, keledai adalah binatang yang selalu “nyengir” menampakan giginya dalam kondisi dan situasi apapun. Ketika memikul beban atau sedang istirahat sekalipun, seekor keledai akan tetap “nyengir”. Ketika dibelai atau dimarahi bahkan dipukul sekalipun, seekor keledai akan tetap “nyengir”.
    Begitulah gambaran manusia yang bodoh. Mereka tidak bisa membedakan antara pujian dan amarah. Tidak bisa membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Mereka selalu tertawa dalam setiap keadaan termasuk ketika dimarahi sekalipun.
    Manusia yang cerdas adalah mansuai yang mengerti situsi dan kondisi serta mampu menempatkan diri, menjaga sikap dan ucapan sesuai keadaan yang dihadapi. Bahkan, mereka mengerti dan memahami sesuatu dari orang lain, sekalipun dalam bentuk isyarat atau kedipan mata. Dalam ungkapan filosofi masyarakat Minangkabau disebutkan, bahwa manusia yang pintar adalah “Alun takilek alah kalam, takilek ikan di laut alah tau jantan batinonyo”. Maksudnya, manusia yang pintar adalah manusia yang mengerti sesuatau, sebelum orang lain mengatakannya dengan bahasa tegas atau kasar. Bahkan, isyrat berupa kedipan mata orang lain, dia sudah mengetahui maksudnya. Saking bijaksananya, seekor ikan di laut yang melintas secepat kilat di hadapannya, sudah dia ketahui jenis kelaminnya.

Leave a Reply