Loading
Allah Mencela Orang-Orang BODOH … Terhadap KeBENARan Al-Qur’an … sebagai BINATANG TERNAK —————————————- Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang bodoh terhadap kebenaran dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ——————————— ”Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mu’jizat dari Rabb-nya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 37) ————————– ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 111) ————————- ”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak).” (QS. AL-Furqon: 44) ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak saja menyerupakan orang-orang bodoh dengan binatang ternak, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ————————– ”Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22) —————————- Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang bodoh lebih buruk daripada makhluk yang paling buruk di sisi-Nya yaitu keledai, binatang-binatang buas, anjing, belalang dan binatang-binatang yang lain. Ya, orang-orang bodoh lebih buruk daripada hewan-hewan tersebut. Tidak ada orang yang lebih membahayakan dalam agama para Rasul selain orang-orang bodoh, bahkan mereka adalah musuh-musuh utama agama para Rasul. Karena orang bodoh menghendaki jalan Allah yang lurus supaya bengkok dan kebenaran menjadi kabur dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang ada pada dirinya. ——————————– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang telah Allah lindungi dari kebodohan, yang artinya: ”Dan jika penolakan mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu’jizat kepada mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 35) ———————————— “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116] | Islam dan Sains-Edy

Allah Mencela Orang-Orang BODOH … Terhadap KeBENARan Al-Qur’an … sebagai BINATANG TERNAK —————————————- Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang bodoh terhadap kebenaran dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ——————————— ”Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mu’jizat dari Rabb-nya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 37) ————————– ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 111) ————————- ”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak).” (QS. AL-Furqon: 44) ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak saja menyerupakan orang-orang bodoh dengan binatang ternak, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ————————– ”Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22) —————————- Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang bodoh lebih buruk daripada makhluk yang paling buruk di sisi-Nya yaitu keledai, binatang-binatang buas, anjing, belalang dan binatang-binatang yang lain. Ya, orang-orang bodoh lebih buruk daripada hewan-hewan tersebut. Tidak ada orang yang lebih membahayakan dalam agama para Rasul selain orang-orang bodoh, bahkan mereka adalah musuh-musuh utama agama para Rasul. Karena orang bodoh menghendaki jalan Allah yang lurus supaya bengkok dan kebenaran menjadi kabur dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang ada pada dirinya. ——————————– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang telah Allah lindungi dari kebodohan, yang artinya: ”Dan jika penolakan mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu’jizat kepada mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 35) ———————————— “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116]

Allah Mencela Orang-Orang BODOH … Terhadap KeBENARan Al-Qur’an … sebagai  BINATANG TERNAK
—————————————-

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang bodoh terhadap kebenaran dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

———————————

”Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mu’jizat dari Rabb-nya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 37)

————————–
bodoh taklid golongan 1

”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 111)

————————-

”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak).” (QS. AL-Furqon: 44)

———————————

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak saja menyerupakan orang-orang bodoh dengan binatang ternak, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

————————–

”Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22)

—————————-

Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang bodoh lebih buruk daripada makhluk yang paling buruk di sisi-Nya yaitu keledai, binatang-binatang buas, anjing, belalang dan binatang-binatang yang lain. Ya, orang-orang bodoh lebih buruk daripada hewan-hewan tersebut. Tidak ada orang yang lebih membahayakan dalam agama para Rasul selain orang-orang bodoh, bahkan mereka adalah musuh-musuh utama agama para Rasul. Karena orang bodoh menghendaki jalan Allah yang lurus supaya bengkok dan kebenaran menjadi kabur dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang ada pada dirinya.

——————————–

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang telah Allah lindungi dari kebodohan, yang artinya:

”Dan jika penolakan mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu’jizat kepada mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 35)

————————————
fikir bodoh

Nabi Musa ’alaihi salam telah berkata yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

 

”Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan ?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar aku tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil (bodoh).” (QS. Al-Baqarah: 67)

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya yang pertama:

 

”Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan (bodoh).” (QS. Huud: 46)

 

Inilah kedudukan hina orang-orang bodoh di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedudukan mulia bagi orang-orang yang berilmu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hukuman-Nya kepada musuh-musuh-Nya bahwa Allah menghalangi mereka dari mengetahui Kitab-Nya, mengenalinya dan memahami Kitab-Nya dengan benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

 

”Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Rabb-mu saja dalam Al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (QS. Al- Isra’: 45 ~ 46)

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya berpaling dari orang-orang yang bodoh. Allah berfirman yang artinya:

 

”Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanjung hamba-hambaNya karena mereka menjauhi dari orang-orang yang bodoh dan tidak mau bergaul dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

 

”Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu dan kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil (bodoh)”. (QS. Al-Qashash: 55)

 

”Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka (orang berilmu) mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqon: 63)

 

Semua ayat di atas menunjukkan sisi negatif kebodohan, kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kebodohan dan orang-orang bodoh. Selain itu, kebodohan juga dibenci manusia, buktinya semua orang berlepas-diri dari kebodohan dan orang-orang bodoh.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyamakan orang bodoh dengan orang buta, padahal ia dapat melihat sesuatu di sekelilingnya. Orang bodoh (orang buta) pada hakekatnya bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang buta untuk dapat melihat sebuah kebenaran! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

 

”Adakah orang yang mengetahui (berilmu) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Ar-Ra’du: 19)

 

Jadi manusia itu hanya ada dua jenis yakni orang yang berilmu dan orang yang bodoh (orang buta).

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa pada hakikatnya orang-orang bodoh itu adalah orang-orang yang tuli, bisu dan buta akan kebenaran yang datang dari Allah dan banyak sekali disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
———————————–
=====================================

“Jangan Mengikuti kebanyakan manusia yang menuruti hawa nafsunya”
————————————
ikut bodoh 2

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

[QS.al-An’am/6: 116]



Hanya karena kedangkalan ilmu agama maka manusia banyak tertipu oleh kelompok mayoritas, padahal jika manusia mengetahui tabiat manusia yang jelek pasti mereka menyesal mengikuti mereka. Barangsiapa ingin selamat dari makar mereka, simaklah pembahasan berikut:

Makna Ayat Secara Umum
Imam Abu Ja’far ath-Thobari rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla menjelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Muhammad, janganlah kamu taat kepada orang yang berpaling dari agama Allah, karena mereka mengajak kamu mengikuti sesembahan mereka. Jangan kamu taati mereka ketika mengajak kamu agar makan sesembelihan yang disajikan untuk tuhan-tuhan mereka, dan yang disembelih dengan menyebut nama tuhan mereka, dan jangan kamu taati perbuatan mereka yang tersesat. Jika kamu taat kepada umumnya manusia di permukaan bumi ini, pasti mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah yang benar dan menghalangi kamu dari yang benar juga, karena pada saat itu mereka kufur dan tersesat. Dan jika kamu menaati mereka kamu akan seperti mereka, karena mereka tidak mengajak kamu kepada petunjuk, bahkan mereka telah jatuh kepada kesesatan karena mereka hanya mengikuti dugaan dan kira-kira belaka. Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melarang kamu yang demikian itu karena Allah lebih tahu tentang mereka daripada kamu. Wahai Muhammad, ikutilah yang Aku perintahkan kepadamu dan tinggalkan apa yang Aku larang kepadamu dan jangan kamu menaati mereka, dan jangan kamu tinggalkan larangan mereka, karena Aku lebih tahu siapa yang mendapat petunjuk dan siapa yang tersesat.” [Tafsir ath-Thobari: 12/65]

Komentar Ulama Sunnah Tentang Mayoritas Umat
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Kamu jangan merasa rendah diri karena menempuh jalan yang benar walaupun sedikit orang yang menempuhnya, dan kamu jangan tertipu dengan yang bathil walaupun banyak orang yang mengamalkannya.” [Minhajul Taksis wat Taqdis fi Kasfi Syubuhat, Dawud bin Jarjis: 1/84]

Imam Baidhowi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu.” [Tafsir al-Baidhowi: 2/199]

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Orang yang berakal sehat jangan tertipu dengan kebanyakan manusia, karena kebenaran tidak ditentukan karena banyak orang yang berbuat, akan tetapi kebenaran adalah syariat Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolat Ibnu Baz: 1/231]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Sebagian menusia jika dilarang dari perbuatannya yang menyimpang dari ajaran syariat Islam atau menyimpang dari adab Islam berargumen umumnya manusia mengerjakannya. Jika demikian, bagaimana kita menjawabnya? Mayoritas bukanlah dasar kebenaran, karena Allah azza wa jalla berfirman (Baca QS.al-An’am/6:116 dan QS.Yusuf/12:103]. Sedangkan tolak ukur kebenaran jika Allah azza wa jalla berfirman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, atau ulama salafush sholih yang berfatwa.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Ibnu Utsaimin: 3/103]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kada kala tersesat seperti ayat diatas (QS.al-An’am/6:116). Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina. Kamu jangan berkata: Semua manusia berbuat demikian, mengapa kami sendiri yang tidak? Kamu jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga kamu hancur bersama mereka, dan janganlah kamu tertipu dengan orang yang sukses, sehingga kamu termasuk orang yang sombong, sehingga kamu tinggalkan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.” [al-Qoulul Mufid ala Kitabut Tauhid: 1/7]

Tabiat Dasar Manusia Menurut Al-Qur’an
Pada saat manusia lahir, dia suci dari dosa, karena akal dan indra mereka belum bekerja dengan sempurna. Setelah mereka dewasa dan mengenal lingkungan, terkadang mereka dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga dirinya menjadi hina. Berikut ini tabiat dasar manusia menurut al-Qur’an.

Tabiat-tabiat ini merupakan bukti bahwa sifat dasar manusia adalah menyimpang maka hendaknya kita mengikuti syariat Allah, bukan mengikuti mayoritas manusia.

1. Berbuat zalim
إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS.Ibrahim/14:34]

2. Putus asa dari rahmat Allah azza wa jalla dan berbuat kufur
إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ
“Pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” [QS.Hud/11 :9]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla mengabarkan tabiat manusia, dia itu bodoh lagi menganiaya diri sendiri, tatkala Allah azza wa jalla merasakan kepada mereka kesehatan, rezeki dan punya anak, lalu Allah azza wa jalla mencabutnya, tiba-triba mereka putus asa dan tidak berharap pahalanya.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/278]

3. Tergesa-gesa mencari yang baik dan yang buruk
وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا
“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” [QS.al-Isro’:17: 11]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Mereka terburu-buru mencari kenikmatan dunia walaupun hanya dapat sedikit, dan lamban mencari akhirat padahal pahalanya cukup besar.” [Tafsir al-Qurthubi/10: 226]

4. Bakhil dalam beramal dan berinfak
وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا
“Dan adalah manusia itu sangat kikir.” [QS.al-Isro’/17: 100]

5. Suka membantah ajaran Islam
وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا
“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” [QS.al-Kahfi/18: 54]

Ibnu Zaid rahimahullah berkata: “Manusia banyak membantah nabinya dan menolak risalah yang dibawanya.” [Tafsir ad-Durul Mansur: 6/376]

6. Sangat bodoh
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [QS.al-Ahzab/33: 72]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Manusia itu menganiaya dirinya sendiri dan sangat bodoh dengan perintah Allah dan bodoh membawa amanat.” [Tafsir al-Baghowi: 6/380]

7. Berkeluh kesah
إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [QS.al-Ma’arij/70:19]

Berkata Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah: “Mereka mengeluh ketika ditimpa musibah dan enggan beramal ketika ditimpa kesenangan.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/887]

8. Sangat suka berbuat maksiat
بَلْ يُرِيدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.” [QS.al-Qiyamah/75:5]

Ibnu Anbari rahimahullah berkata: “Manusia lebih suka berbuat jahat sepanjang umurnya dan tidak ingin bertobat dari perbuatan dosanya.” [Tafsir Fathul Qodir: 7/362]

9. Melampaui batas dari yang wajib, yang haram dan yang mubah
كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” [QS.al-‘Alaq/96:6]

Al Qurthubi rahimahullah berkata: “Manusia melampaui batas berbuat aniaya dan keluar dari ketentuan Allah azza wa jalla.” [Tafsir al-Qurthubi: 6/245]

10. Sedikit bersyukur
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.” [QS.Saba’/34:13]

11. Memiliki sifat lemah jiwa, mudah tergoda
وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [QS.an-Nisa’/4:28]

Imam Mujahid rahimahullah berkata: “Manusia lemah jiwa dan semangatnya.” Berkata Thowus rahimahullah: “Mereka lemah menghadapi godaan wanita.” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/267]

Semua sifat mereka yang jelek ini dan apa yang dikatakan oleh Allah azza wa jalla memang benar menurut kenyataan, lalu bagaimana manusia menyandarkan kebenaran kepada kenyataan yang hina, dan jika sifat yang hina ini dijadikan pegangan hidup manusia tanpa disadari dinul Islam, tentu semua manusia sesat didunia dan diakhiratnya. Firman-Nya azza wa jalla:
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS.Ali Imron/3:164]

Allah azza wa jalla mengingatkan peristiwa keadaan sahabat yang mulanya kafir sebelum masuk Islam, dengan akal dan hawa nafsunya mereka bertengkar satu sama lain, bunuh membunuh, tindas menindas, menghina kedudukan wanita, yang kuat yang menang. Inilah asal tabiat manusia bila dikendalikan oleh hawa nafsunya. Allah azza wa jalla berfirman:
وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [QS.Ali Imron/3:103]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Makna ‘karena nikmat Allah’ kamu menjadi bersaudara didalam agama yaitu nikmat dinul Islam.” [Tafsir al-Qurthubi: 4/164]

Jika demikian keberadaan pribadi manusia yang jelek sebab mengikuti hawa nafsunya, maka bagaimana manusia bersandar kepada umumnya? Sungguh amat hina hidupnya.

Tabiat Mayoritas Manusia Menurut Al-Qur’an
Setelah kita mengetahui tabiat pribadi manusia menurut al-Qur’an, mari kita melihat keberadaan umumnya manusia sebelum menerima ajaran Islam, bagaimana kehidupan mereka?

1. Umumnya tidak beriman
إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya (al Qur’an) itu benar-benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” [QS.Hud/11: 17]

2. Umumnya menolak ajaran Islam
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” [QS.al-Isro’/17: 89]

3. Umumnya mereka membenci ajaran Islam
وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
“Dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” [QS.al-Mukminun/23: 70]

4. Umumnya berbuat curang
وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih; dan amal sedikit lah mereka ini.” [QS.Shod/38: 24]

Allah azza wa jalla mengabarkan bahwa orang yang benar itu jumlahnya sedikit, akan tetapi sedikit itu tidak membahayakan dirinya.

5. Prinsipnya hanya dugaan belaka
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya  persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [QS.Yunus/10: 36]

6. Umumnya manusia bodoh, tidak tahu Islam
وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ
“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [QS.al-An’am/6: 111]

Inilah umumnya sifat manusia, jika mereka mengikuti umumnya pasti akan rusak agama dan akhlaknya, dan pasti hina hidupnya di dunia dan di akhirat.

Mayoritas Umat Menurut as Sunnah
As-Sunnah atau hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian daripada wahyu Allah azza wa jalla yang juga memiliki kedudukan sama seperti al-Qur’an dalam hal wajibnya kita berpegang teguh dan beramal, sekalipun beda defisini antara keduanya. Karena Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berbicara masalah urusan ad-Din melainkan berdasarkan wahyu. [Baca QS.an-Najm/53:3-4]

Mayoritas menurut penilaian as-Sunnah pun tidaklah menunjukkan bukti suatu kebenaran, oleh karena itu beliau diutus untuk menghukumi mereka dan bukan sebaliknya. [Baca QS.an-Nisa’/4:105]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kamu jumpai manusia seperti seratus unta, tidaklah seorang itu menjumpai untanya yang dapat ditungganginya.” [HR.Muslim: 7/192]

Maksudnya yaitu manusia itu jumlahnya banyak, akan tetapi yang diridhoi Allah azza wa jalla hanya sedikit. Seperti seratus ekor unta akan tetapi hanya satu yang bisa ditunggangi. Hadits ini menunjukkan abad yang hina pada akhir zaman. [Syarah Ibnu Bathol: 19/274, ad-Dibaj alal Muslim: 5/491]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku diperlihatkan neraka, tiba-tiba penghuninya mayoritas wanita yang kufur, lalu ada yang bertanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri kebaikan keluarga dan mengingkari kebaikan suami, seandainya kamu berbuat baik kepada salah satu di antara mereka selama satu tahun, lalu dia melihat kamu sedikit perkara yang dibenci, dia berkata: “Saya tidak pernah melihat kebaikan dirimu sedikitpun.” [HR.al-Bukhari: 1/59]

Hadits ini menunjukkan mayoritas wanita kurang baik agama dan akhlaknya. Maka bagaimana jika suami mengikuti wanita?
Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut, tetapi dengan mewafatkan ulama, sehingga tidak lagi tersisa seorang alim, maka orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpinnya yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan.” [HR.al-Bukhari: 1/44 dan lainnya]

Hadits ini menunjukkan bahwa pemimpin umat atau pengikutnya banyak yang bodoh, tidak tahu ajaran Islam yang benar.

Umumnya umat Islam banyak yang masuk neraka kecuali satu golongan sebagaimana hadits yang tertera berikutnya. Umumnya orang Islam taklid atau mengikuti orang yang tersesat, maka bagaimana dengan orang selain muslim? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kamu sekalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga  walaupun  mereka masuk ke dalam sarang biawak kamu sekalian pun akan mengikuti mereka. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Beliau menjawab: Lalu siapa lagi selain mereka?” [HR.al-Bukhari: 3/1274]

Inilah sebagian dalil yang menerangkan mayoritas manusia yang jelek perangainya menurut Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahaya Mengikuti Masyarakat Umum
Dengan bukti dalil di atas yang menjelaskan berbagai macam tabiat manusia yang buruk, dan kenyataan masyarakat pada umumnya, maka orang yang mengikuti umumnya manusia yang dasarnya hanya perkiraan dan hawa nafsu, pasti berbahaya di dunia dan di akhirat. Adapun di antara bahayanya:

1. Manusia pasti dijauhkan dari ajaran Islam
Karena hawa nafsu pasti tidak menerima ajaran Islam. Silahkan baca QS.al-An’am/6: 116 di atas.

2. Hidup manusia pasti dilanda kesedihan dan kehancuran
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ
“Dan ketahuilah oleh bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan.” [QS.al-Hujuroot/49: 7]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuruti kemauan kalian sebelum jelas perkaranya, kalian pasti memperoleh kesulitan, kehancuran dan berlumuran dengan dosa.” [Tafsir al-Qurthubi: 16/314 dan al-Baghowi: 7/339]

3. Penyebab datang musibah dan kebinasaan
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” [QS.al-Mukminun/23: 71]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hendaklah kalian waspada kepada perkata yang dikerjakan oleh sebagian manusia, karena mereka membangun akidah atau amalnya berpijak kepada pendapat orang tertentu. Apabila mereka mengetahui dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menyelisihi pendapatnya, mereka memalingkan makna nash tersebut sesuai dengan hawa nafsunya, mereka memaksakan al-Qur’an dan as-Sunnah agar mengikuti kehendaknya, padahal mestinya merekalah yang harus mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka menjadikan selainnya keduanya sebagai imam panutan. Inilah jalannya penyembah hawa nafsu, mereka tidak mengikuti kebenaran, maka Allah mencela mereka dengan QS.al-Mukminun/23:71 (diatas).” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Ibnu Utsaimin: 3/259]

4. Mereka menjadi budak orang yang berkuasa
Orang yang mengikuti umumnya manusia kebanyakan mereka bodoh, tidak mengenal ajaran Islam, sehingga sandaran mereka berpijak kepada tokoh yang berwibawa, padahal dasar bertindak dari tokoh ini ialah hawa nafsu dan dugaan belaka, sedangkan hawa nafsu selalu berubah, pagi hari lain dengan sore hari, maka dengan kekuasaannya mereka mengajak umat bagaikan bola yang ditendang kesana kemari. Lihat kehidupan orang yang fanatik kepada golongan. Baca QS.as-Saba’/34: 33 Tentang penyesalan mereka pada hari kiamat.

5. Hidup mereka pasti berpecah belah
Setiap manusia memiliki pikiran dan keinginan yang berbeda, sedangkan mereka tidak memiliki pemersatunya. Adapun Islam sebagai satu-satunya pemersatu umat mereka membenci dan menolaknya, mereka hanya bangga dengan hawa nafsu dan golongannya. [Baca QS.ar-Rum/30: 31-32]

6. Mereka pencela Islam dan mengolok-ngolok pengikutnya
وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون
“Dan tidak datang seorang rosul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” [QS.al-Hijr/15: 11]

Perhatikan orang yang mengandalkan hawa nafsunya, pasti mengolok-ngolok orang yang menyampaikan ajaran Islam dan yang mengamalkannya, dan mendiamkan orang yang berbuat maksiat, bid’ah dan syirik.

7. Hidupnya bagaikan hewan yang dikendalikan oleh hawa nafsunya
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebihsesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [QS.al-Furqon/25: 44]

8. Umumnya mereka ahli neraka
Inilah bahaya yang paling berat bagi orang yang mengikuti umumnya manusia hendaknya mereka waspada bahwa manusia akan dihisab amalnya.
إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Robbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [QS.Hud/11: 119]

10. Mereka pasti menyesal
Selagi akal manusia masih sehat, dia pasti menyesal karena mengikuti umumnya manusia, yaitu mereka banyak menipu orang lain untuk kepentingan pribadi dan hawa nafsunya.
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” [QS.asy-Syu’aro’/26: 102]

Jangan Biarkan Dirimu Menyesal Di Kemudian Hari
Orang yang mengikuti mayoritas pasti menyesal di kemudian hari. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla:
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” [QS.al-Baqoroh/2: 16]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Para pengikut berkata: “Seandainya kami dikembalikan ke dunia maka kami beramal sholih dan kami berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka membiarkan kita ketika datang siksa ini.” [Tafsir al-Qurthubi: 2/206]

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. [QS.al-Mulk/67: 10]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Mereka kembali dalam keadaan mengeluh dan menyesal.” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/119]

Dan masih banyak ayat lain yang menjelaskan penyesalan mereka pada hari Kiamat, silahkan baca QS.al-Mukminun/23: 106, QS.al-An’am/6: 27-29, QS.az-Zukhruf/43: 67, QS.Fushshilat/41: 29 dan surat lainnya.

Golongan Yang Selamat Dan Yang Benar
Golongan yang selamat dan benar umumnya hanya sedikit. Firman Allah azza wa jalla:

بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلا يُؤْمِنُونَ إِلا قَلِيلا
“Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.” [QS.an-Nisa’/4: 155]

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa jumlah umatnya yang di atas sunnah pun hanya sedikit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Islam itu mulanya aneh dan akan kembali aneh seperti mulanya.” [HR.Muslim 1/90, bersumber dari Ibnu Umar]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa umatnya pada akhir zaman lebih banyak mengikuti hawa nafsu daripada mengikuti sunnah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dan akan terpecah belah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah. Lalu ada yang bertanya: Siapakah yang satu itu? Beliau menjawab: Orang yang mengikuti saya pada hari ini dan mengikuti sahabatku.” [HR.Tirmidzi: 6/141 dan lainnya, dihasankan oleh al-Albani, al-Miskat: 171]

Hadits ini menjelaskan kepada kita umat Islam bahwa golongan yang selamat dari api neraka dan golongan yang haq hanyalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnya.

Syaikh Muhammad al-Mubarokfuri rahimahullah berkata: “Golongan yang selamat adalah ahli Sunnah yang jernih pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jernih.” [Tuhfatul Ahwadzi: 6/440]

Imam al-Munawi rahimahullah berkata: “Sedangkan sumber golongan yang tersesat dari umat ini ada enam: Khawarij, Qodariyyah, Jahmiyyah, Murjiah, Rofidhoh, dan Jabriyah, masing-masing berpecah belah menjadi dua belas golongan, sehingga jumlah keseluruhan tujuh pula dua.” [Faidhul Qodir: 2/27]

Berkata Syaikh Sholih Fauzan hafizhahullah: “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang yang mengikuti sunnahku hari ini dan sahabatku, mereka adalah golongan yang selamat seperti yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla di dalam QS.at-Taubah/9: 100. [Maqolat oleh Syaikh Sholih Fauzan: 2/23]

Golongan yang selamat ini, tidak boleh bersedih dan berkecil hati. Walaupun jumlahnya hanya sedikit akan tetapi tetap menang bila melawan orang ahli bid’ah dan kelompok yang tersesat. Allah azza wa jalla berfirman:

مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS.al-Baqoroh/2: 249]

Allah azza wa jalla akan menghinakan kelompok umat yang tersesat, walaupun jumlah mereka banyak, karena orang yang tersesat mereka mengikuti hawa nafsu dan mencari keuntungan dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bahkan jumlahmu pada hari itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih seperti kotoran buih yang di atas air.” [HR.Abu Dawud: 2/514. Dishohihkan oleh al-ALbani, Silsilah Shohihah: 2/647]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Senantiasa golongan dari umatku ini membela kebenaran [mereka menang] tidak lah membahayakan bagi mereka orang yang menyelesihinya sampai datang ketentuan Allah, sedangkan dia tetap menang.” [HR.Muslim: 6/52, bersumber dari Shohabat Tsauban]

Imam al-Bukhari rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini adalah orang yang mengilmui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR.al-Bukhari: 6/2666]

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini jika bukan ahli hadits saya tidak tahu siapa mereka?” [Tausiril Azizil Hamid: 1/330]

Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan ‘golongan’ di dalam hadits ini: Orang yang berani berperang membela agama Allah, sebagian mereka ahli fiqih, sebagian mereka ahli hadits, sebagian mereka ahli zuhud dan memerintahkan yang ma’ruf dan nahi mungkar, dan sebagian  mereka golongan  yang baik yang lain, mereka tidak harus bersatu di dalam satu tempat, boleh jadi penyebar di semua penjuru bumi.” [Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim: 6/400]

Semua keterangan di atas memberi kabar gembira kepada orang yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pasti menang di dalam berhujjah dan di bela oleh Allah azza wa jalla sekalipun jumlahnya hanya sedikit. Firman Allah azza wa jalla:

قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu…” [QS.al-Maidah/5: 100]

Selanjutnya agar kita tidak tertipu oleh musuh-musuh Allah azza wa jalla yang berselimut di dalam wadah dan kelompok, maka kita wajib menuntut ilmu syar’i kepada orang-orang yang membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnya, mereka adalah ahli hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan menuntut ilmu kita akan mengetahui orang yang tersesat dan mnyesatkan dan mengetahui orang yang menuntun kita kepada petunjuk Allah azza wa jalla dan Sunnah Rasul-Nya.

Hendaknya kita menjauhi orang yang berpegang kepada rasio atau hawa nafsunya, karena mereka pasti memusuhi ajaran Islam dan memusuhi orang yang beriman.

Imam Habbatullah bin Hasan al-Lalikay rahimahullah berkata: “Tanda orang ahli bid’ah dia mencaci ahli atsar ahli hadits.” [I’tiqodi Ahlis Sunnah: 1/179]

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Janganlah kamu berteman kepada ahli bid’ah, karena dia akan menyakitkan hatimu.” [I’tishom: 1/172]

Sebagai umat Islam hendaknya kita bersabar tatkala ditimpa fitnah yang datang dari ahli bid’ah dan hendaknya istiqomah di atas yang haq, karena para pendahulu kita dimenangkan oleh Allah azza wa jalla karena keistiqomahan mereka di atas dua perkata ini.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami.” [QS.as-Sajdah/32: 24]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Maka dengan bersabar akan ditinggalkan syahwat dan dengan yakin di atas yang haq akan tergusur kerancuan atau syubhat.” [Iqtidho’ Sirothol Mustaqim li Mukholafatil Ashabil Jahim: 1/120]

Upaya lain agar kita tidak menjadi ajang bagi musuh-musuh Islam, hendaknya kita tidak ambisi dunia, karena di antara yang menjadi sebab jauhnya dari dinul Islam adalah karena cinta dunia. Allah azza wa jalla mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama  dengan orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [QS.al-Kahfi/18: 28]

Akhirnya kita mohon kepada Allah azza wa jalla semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan dijauhkan dari menyembah hawa nafsu dan pemikiran orang.

 

Wallahu a’lam bishawab

Views All Time
Views All Time
1241
Views Today
Views Today
3
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

1 Comment on Allah Mencela Orang-Orang BODOH … Terhadap KeBENARan Al-Qur’an … sebagai BINATANG TERNAK —————————————- Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang bodoh terhadap kebenaran dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ——————————— ”Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mu’jizat dari Rabb-nya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 37) ————————– ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 111) ————————- ”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak).” (QS. AL-Furqon: 44) ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak saja menyerupakan orang-orang bodoh dengan binatang ternak, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: ————————– ”Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22) —————————- Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang bodoh lebih buruk daripada makhluk yang paling buruk di sisi-Nya yaitu keledai, binatang-binatang buas, anjing, belalang dan binatang-binatang yang lain. Ya, orang-orang bodoh lebih buruk daripada hewan-hewan tersebut. Tidak ada orang yang lebih membahayakan dalam agama para Rasul selain orang-orang bodoh, bahkan mereka adalah musuh-musuh utama agama para Rasul. Karena orang bodoh menghendaki jalan Allah yang lurus supaya bengkok dan kebenaran menjadi kabur dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang ada pada dirinya. ——————————– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang telah Allah lindungi dari kebodohan, yang artinya: ”Dan jika penolakan mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu’jizat kepada mereka. Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil (bodoh).” (QS. Al-An’aam: 35) ———————————— “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am/6: 116]

  1. Fanatik/TAKLID Buta Kepada Kyai atau Habib atau Imam dan ….. Dampak Negatifnya
    ————————————–
    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membacakan firman Allah berikut ini; “Mereka menjadikan para pendeta, dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah…(QS. At Taubah : 31), Adi bin Hatim berkata: “Kami dulu orang-orang Nasrani tidak menyembah mereka [para pendeta dan pemuka agama Nasrani]. Kemudian Rasulullah berkata : “Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengikutinya ? Jawab Adi bin Hatim : “Ya, benar. Kata Nabi : “Itulah bentuk penyembahan [kalian] terhadap mereka” . (HR. Tirmidzi dari Adi bin Hatim). *Adi bin Hatim sebelum masuk Islam, beliau dahulunya beragama Nasrani.
    —————————————
    Fanatik terhadap kyai, Habib, ulama, atau ustadz memang telah mendarah daging dalam tubuh umat ini. Yang jadi masalah bukanlah sekedar mengikuti pendapat orang yang berilmu. Namun yang menjadi masalah adalah ketika pendapat para ulama tersebut jelas-jelas menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian. Yang penting kata mereka ‘ sami’na wa atho’na’ (apa yang dikatakan oleh kyai kami, tetap kami dengar dan kami taat). Entah pendapat kyai tersebut merupakan perbuatan syirik atau bid’ah, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru kami.
    ————————————
    Fenomena Fanatik Buta
    ——————————————
    Fanatik -dalam bahasa Arab disebut ta’ashub- adalah sikap mengikuti seseorang tanpa mengetahui dalilnya, selalu menganggapnya benar, dan membelanya secara membabi buta. Fanatik terhadap kyai, ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi sejak dahulu seperti yang terjadi di kalangan para pengikut madzhab (ada 4 madzhab yang terkenal yaitu Hanafi, Hanbali, Maliki, dan Syafi’i). Di mana para pengikut madzhab tersebut mengklaim bahwa kebenaran hanya pada pihak mereka sendiri, sedangkan kebathilan adalah pada pihak (madzhab) yang lain.

    Banyak contoh yang dapat diambil dari para pengikut madzhab tersebut. Di antara contoh perkataan bathil di antara mereka adalah ucapan Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di kalangan Hanafiyyah). Beliau mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut madzhab kami (Hanafiyyah), maka harus diselewengkan maknanya atau dihapus hukumnya.”

    Syaikh Al Albani rahimahullah juga mengisahkan, bahwa ada seorang bermadzhab Hanafiyah mengharamkan pria dari kalangan mereka menikah dengan wanita bermadzhab Syafi’iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli kitab dianalogikan dengan wanita Yahudi dan Nasrani!! Hal ini masih terjadi hingga sekarang. Seperti ada seorang bermadzhab Hanafi dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani Umayyah di Damaskus, dia mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’i, niscaya aku akan nikahkan dia dengan anak perempuanku!”

    Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid Abdullah selama 60 puluh tahun lamanya. Beliau bermadzhab Syafi’i dan melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam sholat diambil alih oleh seseorang yang bermadzhab Maliki dan tidak melakukan qunut shubuh. Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan imam yang tidak melakukan qunut shubuh ini, seraya berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”.

    Inilah contoh yang terjadi di kalangan pengikut madzhab. Begitu juga yang terjadi pada umat Islam sekarang ini, banyak sekali di antara mereka membela secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru mereka (seperti membela kesyirikan, kebid’ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan guru-guru tersebut), padahal jelas-jelas bertentangan dengan ayat dan hadits yang shohih.

    Mempertentangkan Perkataan Allah dan Rasul-Nya dengan Perkataan Kyai/Ulama.

    Banyak dari umat Islam saat ini, apabila dikatakan kepada mereka, “Allah telah berfirman” atau kita sampaikan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda …”, mereka malah menjawab, “Namun, kyai/ustadz kami berkata demikian …”. Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya” (Al Hujurat : 1) Yaitu janganlah kalian mendahulukan perkataan siapapun dari perkataan Allah dan Rasul-Nya.
    Dan perhatikan pula ayat selanjutnya dari surat ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al Hujurot : 2).

    Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam I’lamul Muwaqi’in mengatakan,

    “Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara Rasul saja dapat menyebabkan terhapusnya amalan mereka. Lantas bagaimana kiranya dengan mendahulukan pendapat, akal, perasaan, politik, dan pengetahuan di atas ajaran rasul. Bukankah ini lebih layak sebagai penghapus amalan mereka “

    Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma mengatakan,

    “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari langit. Aku ,‘Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian.’ “(Shohih. HR. Ahmad).

    Dari perkataan ini, wajib bagi seorang muslim jika dia mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia paham maksudnya/penjelasannya dari ahli ilmu, tidaklah boleh bagi dia menolak hadits tersebut karena perkataan seorang pun. Tidak boleh dia menentangnya karena perkataan Abu Bakar dan Umar -radiyallahu ‘anhuma- (yang telah kita ketahui bersama kedudukan mereka berdua), atau sahabat Nabi yang lain, atau orang-orang di bawah mereka, apalagi dengan perkataan seorang kyai atau ustadz. Dan para ulama juga telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah mendapatkan penjelasan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh baginya meninggalkan hadits tersebut dikarenakan perkataan seorang pun, siapa pun dia. Dan perkataan seperti ini selaras dengan perkataan Imam Syafi’i -semoga Alloh merahmati beliau-. Beliau rahimahullah mengatakan;

    “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul Kutub Al ‘Arobi. Lihat juga Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil ‘Aqoid wal Ahkam, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy Syamilah)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya Musa hadir di tengah kalian dan kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang lurus. Sekiranya Musa hidup kembali dan menjumpai kenabianku, dia pasti mengikutiku.” (Hasan, HR. Ad Darimi dan Ahmad).

    Maksudnya apabila kita meninggalkan sunnah Nabi dan mengikuti Musa, seorang Nabi yang mulia yang pernah diajak bicara oleh Allah, maka kita akan tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat saudara sekalian, apabila kita meninggalkan sunnah Nabi dan mengikuti para kyai, habib, tokoh agama, ustadz, mubaligh, cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila dibandingkan Nabi Musa ‘alaihis salaam??! Renungkanlah hal ini.

    Dampak Fanatik Buta

    Fanatik memunculkan berbagai dampak negatif yang sangat berbahaya bagi pribadi secara khusus dan masyarakat secara umum. Berikut ini kami paparkan beberapa dampak yang terjadi karena fanatik buta.

    [1] Memejamkan mata dari dalil yang kuat dan berpegang dengan dalil yang rapuh

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong.”

    [2] Merubah dalil untuk membela pendapatnya

    Contohnya adalah atsar tentang qunut shubuh yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya. Dari Malik Al Asyja’i radiyallahu ‘anhu berkata, “Saya pernah bertanya kepada ayahku,’Wahai ayahku! Sesungguhnya engkau pernah sholat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali di sini -di Kufah-. Apakah mereka melakukan qunut shubuh?’ Jawab beliau,’Wahai anakku, itu merupakan perkara muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam agama -pen)’ “.

    Tetapi seorang tokoh bermadzhab Syafi’i di Mesir malah mengganti hadits tersebut dengan lafadz yang artinya, ‘Wahai anakku, ceritakanlah (kata muhdats diganti dengan fahaddits yang berarti ceritakanlah-pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga mengatakan, “Sholatnya orang yang meninggalkan qunut shubuh secara sengaja, maka sholatnya batal yaitu tidak sah.”

    Sungguh perbuatan tokoh ini dikarenakan sikap fanatik beliau pada madzhabnya yang mengakar kuat pada dirinya. Tetapi lihatlah perbedaan yang sangat menonjol dengan orang yang mengikuti kebenaran, walaupun madzhabnya sama dengan tokoh fanatik di atas. Beliau -Abul Hasan Al Kurjiy Asy Syafi’i- tidak pernah melakukan qunut shubuh dan beliau pernah berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu (yaitu qunut shubuh,-pen).”

    [3] Sering memalsukan hadits

    Di antara hadits palsu hasil rekayasa orang-orang yang fanatik madzhab untuk membela madzhabnya, yaitu dari Ahmad bin Abdilllah bin Mi’dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang pada umatku seorang yang bernama Muhammad bin Idris (yakni Imam Syafi’i-pen), dia lebih berbahaya bagi umatku daripada Iblis. Dan akan datang pada umatku seorang bernama Abu Hanifah, dia adalah pelita umatku”.
    Hadits ini selain palsu, juga bertentangan dengan nash yang menyatakan bahwa pelita umat ini adalah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 46.

    [4] Menfatwakan bahwa taqlid hukumnya wajib

    Para fanatisme madzhab atau kelompok akan menyerukan kepada pengikutnya tentang kewajiban taqlid yaitu mengambil pendapat seseorang tanpa mengetahui dalilnya.
    Hal ini sebagaimana yang diwajibkan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Salah seorang tokoh organisasi tersebut mengatakan, “Sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang sebagian besar umat Islam di seluruh dunia yang termasuk dalam golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi orang yang tidak memenuhi syarat untuk berijtihad …”
    Ini adalah ucapan yang bathil. Tidak pernah ada kewajiban seperti ini dari Allah, Rasulullah, sampai-sampai imam madzhab sekalipun. Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala benar dan kadangkala juga salah. Seringkali para imam madzhab berpegang pada suatu pendapat dan beliau meralat pendapatnya tersebut. Dan para imam itu sendiri melarang untuk taqlid kepadanya, sebagaimana Imam Syafi’i rahimahullah (imam madzhab yang organisasi ini ikuti) mengatakan;

    “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”.

    Janganlah Menolak Kebenaran

    Sesungguhnya Allah telah mengutus para rasul untuk segenap manusia. Allah mengutus para rasul untuk mendakwahi manusia agar mereka beribadah dan menyembah kepada Allah semata. Akan tetapi kebanyakan mereka mendustakan rasul-rasul utusan Alloh itu; mereka tolak kebenaran yang dibawanya, yaitu ketauhidan. Akhirnya mereka pun menemui kebinasaan.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi.” Kemudian beliau melanjutkan hadits ini dengan berkata, “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)

    Berdasarkan hadits di atas, tidak diperbolehkan bagi seorang mukmin menolak kebenaran atau nasehat yang disampaikan kepadanya. Karena jika demikian berarti mereka telah menyerupai orang-orang kafir dan telah menjerumuskan dirinya ke dalam sifat sombong yang bisa menghalanginya masuk surga. Maka, sikap hikmah (yaitu sikap menerima kebenaran dan tidak meremehkan siapapun yang menyampaikannya -pen) menjadi senjata yang ampuh bagi seorang mukmin yang selalu siap digunakan. Maka dari itu, kita wajib menerima kebenaran dari siapapun datangnya, bahkan dari setan sekalipun.

    Ya Allah, tunjukilah -dengan izin-Mu- bagi kami pada kebenaran dalam perkara yang kami perselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.

    [Disarikan oleh Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal dari Majalah Al Furqon ed.11/Th.II, At Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhid-Syaikh Sholeh Alu Syaikh, al Firqotun Najiyah-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu]

Leave a Reply