Loading
UMUR kita .. diHABISkan untuk APA ?? …… perhitungan nya —————————————- hadits dari sahabat Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, …………………… لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أُنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فَيَا أَبْلَاهُ “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya. Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. ————————————- Umur atau masa hidup kita merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan ditanyakan di hari kiamat kelak. Umur yang panjang tentu perlu direnungkan dan disyukuri. Apakah kita menghabiskannya pada hal yang bermanfaat atau tidak. ——————————— Allah Ta’ala berfirman: أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ. “…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fathir: 37). ———————————- Telah kita ketahui bersama bahwa umur kita sebagai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sekitar 60 – 70 tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) ————————- Saya pribadi jujur saja sejak belajar agama dan mempelajari hadits-hadits tersebut, saya sangat menyesal akan kekhilafan yang dulu saya terbenam di dalamnya. Betapa banyak waktu yang saya sia-siakan. Terlalu banyak sendau gurau, bersantai dan bermain daripada berfikir merenungi hakikat hidup dan belajar ilmu agama. Terlalu banyak waktu urusan dunia dihabiskan daripada urusan ukhrawi. Terlalu banyak waktu dilewati dengan berbuat dosa daripada mengumpul bekal amalan shalih. Sungguh betapa naifnya saya dulu, tiap tahun memperingati hari ulang tahun tetapi jarang bahkan tidak pernah mengingat hari akhir saya bagaimana keadaannya, baik atau buruk, beruntung atau sengsara. Yaa, Allah yang Maha Pengampun. Ampuni saya yang lalai ini. …………………… | Islam dan Sains-Edy

UMUR kita .. diHABISkan untuk APA ?? …… perhitungan nya —————————————- hadits dari sahabat Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, …………………… لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أُنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فَيَا أَبْلَاهُ “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya. Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. ————————————- Umur atau masa hidup kita merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan ditanyakan di hari kiamat kelak. Umur yang panjang tentu perlu direnungkan dan disyukuri. Apakah kita menghabiskannya pada hal yang bermanfaat atau tidak. ——————————— Allah Ta’ala berfirman: أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ. “…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fathir: 37). ———————————- Telah kita ketahui bersama bahwa umur kita sebagai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sekitar 60 – 70 tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) ————————- Saya pribadi jujur saja sejak belajar agama dan mempelajari hadits-hadits tersebut, saya sangat menyesal akan kekhilafan yang dulu saya terbenam di dalamnya. Betapa banyak waktu yang saya sia-siakan. Terlalu banyak sendau gurau, bersantai dan bermain daripada berfikir merenungi hakikat hidup dan belajar ilmu agama. Terlalu banyak waktu urusan dunia dihabiskan daripada urusan ukhrawi. Terlalu banyak waktu dilewati dengan berbuat dosa daripada mengumpul bekal amalan shalih. Sungguh betapa naifnya saya dulu, tiap tahun memperingati hari ulang tahun tetapi jarang bahkan tidak pernah mengingat hari akhir saya bagaimana keadaannya, baik atau buruk, beruntung atau sengsara. Yaa, Allah yang Maha Pengampun. Ampuni saya yang lalai ini. ……………………

UMUR kita .. diHABISkan untuk APA ?? …… perhitungan nya
—————————————-

hadits dari sahabat Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ……………………

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أُنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فَيَا أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya. Lafazh hadits milik Al-Baihaqy.
————————————-
umur kurang 1

Umur atau masa hidup kita merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan ditanyakan di hari kiamat kelak. Umur yang panjang tentu perlu direnungkan dan disyukuri. Apakah kita menghabiskannya pada hal yang bermanfaat atau tidak.
———————————

Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ.

“…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fathir: 37).
———————————-

Telah kita ketahui bersama bahwa umur kita sebagai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sekitar 60 – 70 tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassallam berkata:

“Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
————————-

Saya pribadi jujur saja sejak belajar agama dan mempelajari hadits-hadits tersebut, saya sangat menyesal akan kekhilafan yang dulu saya terbenam di dalamnya. Betapa banyak waktu yang saya sia-siakan. Terlalu banyak sendau gurau, bersantai dan bermain daripada berfikir merenungi hakikat hidup dan belajar ilmu agama. Terlalu banyak waktu urusan dunia dihabiskan daripada urusan ukhrawi. Terlalu banyak waktu dilewati dengan berbuat dosa daripada mengumpul bekal amalan shalih. Sungguh betapa naifnya saya dulu, tiap tahun memperingati hari ulang tahun tetapi jarang bahkan tidak pernah mengingat hari akhir saya bagaimana keadaannya, baik atau buruk, beruntung atau sengsara. Yaa, Allah yang Maha Pengampun. Ampuni saya yang lalai ini.

Saya bersyukur kepada Allah yang memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjalankan ketaatan  beribadah kepada Allah. Sebagaimana maksud penciptaan manusia memang hanya untuk beribadah kepada Allah, Dia berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzaariyat:56)

waktu dihabiskan untuk

Setelah memahami betapa pentingnya mengisi waktu kita untuk beribadah kepada Allah dan menghabiskannya pada hal yang bermanfaat. Maka berikut ini saya ingin memberikan gambaran kepada Anda, sebuah perhitungan matematis pada hal apa saja kita menghabiskan umur kita di dunia ini.

1 hari = 24 jam = 1.440 menit = 86.400 detik
1 tahun = 12 Bulan = 52 Minggu = 365 Hari = 8,760 Jam = 525,600 Menit = 31,536,000 Detik

Saya berasumsi bahwa umur saya adalah rata-rata umur manusia meninggal yaitu > 60 tahun dan < 70 tahun. Antara umur 60 – 70 tahun. Untuk lebih mudahnya saya asumsikan 65 tahun saja.

Berikut rincian apa saja hal yang saya habiskan selama umur 65 tahun dibandingkan kesempatan waktu untuk beribadah kepada Allah :

Waktu baligh 15 tahun

Anggaplah usia ini adalah usia seorang muslim yang telah diberikan beban syariat, waktu dimulainya pencatatan amalan baik buruknya. Jadi dari masa hidup saya yang 65 tahun harus dikurangi dengan masa kanak-kanak saya hingga berumur 15 tahun.

65 – 15 = 50 tahun.

Sisa 50 tahun, kesempatan waktu untuk beribadah kepada Allah.

Waktu tidur, beraktivitas, dan bersantai

50 tahun = 18,250 hari= 458,000 jam

Secara umum rata-rata waktu tidur adalah ± 8 jam/hari. Dalam 50 tahun waktu yang habis digunakan untuk tidur adalah selama 18,250 hari x 8 jam= 146,000 jam= 16 tahun 7 bulan atau 17 tahun. Jadi, dari 50 tahun, saya menghabiskan waktu saya hanya untuk tidur selama 17 tahun.

1 hari = 24 jam, satu hari satu malam = 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari

Waktu beraktivitas di siang hari sampai malam pada umumnya rata-rata 12 jam. Karena selain bekerja 8 jam juga masih ada waktu lainnya yang dihabiskan. Dalam 50 tahun, waktu yang digunakan untuk aktivitas tersebut adalah 18,250 hari x 12 jam= 219,000 jam = 25 tahun.

Sedangkan waktu untuk bersantai dan menghayal adalah sekitar 4 jam/hari. Jadi jika dalam 50 tahun, maka waktu yang dihabiskan untuk bersantai adalah 18,250 hari x 4 jam= 73,000 jam = 8 tahun

Waktu tidur = 17 tahun

Waktu beraktivitas = 25 tahun

Waktu bersantai = 8 thaun

Total waktu yang dihabiskan adalah = 50 tahun

Lalu kapan beribadahnya ?

Jika kita berasumsi bahwa amalan yang paling utama adalah shalat karena itu amalan yang pertama kali dihisab dan dia juga penentu baik buruknya amalan kita yang lainnya. Mari kita coba menghitung berapa kali kita shalat selama hidup kita yang 50 tahun tersebut:

Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk sekali shalat wajib adalah 10 menit. Jika dalam 1 hari kita shalat 5 kali, maka total waktu kita shalat dalam sehari adalah 50 menit atau 1 jam. Bagaimana lagi jika shalat pake jurus patuk ayam yang bisa kelar dalam waktu kurang 2 menit. Dan bagaimana lagi jika shalatnya cuma sekali dalam sehari atau sekali dalam seminggu atau sekali dalam setahun? hitung sendiri yah, sesuai fakta di lapangan. hehe

Jika rata-rata shalat dalam 1 hari = 1 jam, maka dalam waktu 50 tahun waktu shalat yang dihabiskan adalah = 18,250 hari x 1 jam =18,250 jam= 2 tahun

Jadi selama 2 tahun saja kita habiskan waktu untuk shalat dibanding umur yang 50 tahun yang semuanya habis dipakai untuk tidur, beraktivitas dan bersantai. Syukur jika masih ada amalan lainnya yang dilakukan seperti puasa, zakat, sedekah, dll. Tapi itu tetap lagi belum memastikan semua amalan kita diterima. Kalaupun jika amalan shalat yang 2 tahun ini diterima, masih belum bisa dibandingkan dengan perbuatan dosa dan kelalaian selama hidup 50 tahun.

Sungguh terlalu banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya bagi kita. Namun demikian, tidak ada kata terlambat untuk mengejar ketertinggalan beramal shalih mulai hari ini. Karena Allah Maha Melihat hati dan jiwa yang ikhlas mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya.
=================================
pahal dosa timbang

Nilai Amal Ibadah

Ibadah berasal dari akar kata   عبد  يعبد      عبا د ةyang berari “doa, mengabdi, tunduk atau patuh kepada Allah.” Secara istilah, ibadah adalah “segala aktivitas yang dilakukan dengan tujuan/motivasi (niat) untuk memperoleh redha Allah (pahala).” Atau “segala kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai rida Allah atau dengan mengharapkan pahala-Nya di akherat.”

Dengan demikian ibadah tidak hanya terbatas kepada aktivitas yang telah ditentukan oleh syariat sebagai kewajiban atau anjuran (sunnat) akan tetapi ibadah memiliki cakupan yang sangat luas. Kebanyakan umat Islam membatasi ibadah hanya pada ibadah salat, puasa, zakat, haji serta beberapa ibadah lainnya. Sedangkan aktivitas seperti menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah bukan dikategorikan sebagai ibadah, melainkan hanya aktivitas keduniaan semata. Padahal menurut Islam semua aktivitas manusia bisa diarahkan kepada ibadah dan memang seharusnya semua tindakan manusia harus bernilai kebaikan.

Ibadah dapat dibagi berdasarkan:

  1. Tata cara pelaksanaannya, ibadah terbagi dua macam:
  2. Ibadah Mahdah (ibadah khusus), yaitu ibadah yang tata cara pelaksanaannya telah diatur secara jelas dan rinci (khusus) oleh syara, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nikah, dsb.

Ibadah mahdah disebut juga ibadah ritual karena harus dilakukan sesuai dengan ritual (tata upacara) yang telah ditentukan dan orientasi utamanya untuk menjalin hubungan dengan Allah. Dalam ibadah ini tidak boleh diubah tata caranya berbeda dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam bidang ibadah mahdah dikenal bid’ah, yakni amalan ibadah mahdah yang ditambah atau dikurangi dari apa yang dicontohkan oleh Nabi saw atau sahabatnya, apalagi amal ibadah yang diada-adakan.

  1. Ibadah ghairu mahdah (ibadah umum/universal), yaitu ibadah yang tata cara pe-laksanaannya tidak diatur secara jelas dan rinci oleh syara, seperti menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, menutup aurat, dsb.

Disebut ibadah umum/universal karena eksistensinya sebagai ibadah bersifat universal (umum) tetapi tata cara pelaksanaannya diserahkan kepada adat istiadat (hasil kreasi, inovasi) manusia.

Dalam ibadah ini syariat hanya menegaskan bahwa menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, menutup aurat wajib hukumnya (ibadah) namun tata caranya tidak ditentukan oleh syariat tetapi diserahkan kepada kreativitas dan inovasi manusia. Yang terpenting ilmu yang dituntut itu bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan, bukan ilmu sihir atau ilmu yang membahayakan manusia.

Misalnya:

Menutup aurat (kewajiban memakai jilbab) termasuk ibadah ghairu mahdah karena yang dijelaskan al-Qur’an dan hadis hanya ketentuan wajib menutup aurat tetapi ketentuan mengenai mode, kualitas kain dan sebagainya diserahkan kepada hasil kreasi manusia. Dalam hal ini yang terpenting jilbab tersebut memenuhi syarat pakaian yang menutup aurat yakni tidak ketat, tidak transparan serta tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya (tidak merangsang).

Dalam bekerja mencari harta syariat hanya mengatur agar harta diperoleh dengan cara-cara yang benar serta dimanfaatkan untuk kebaikan. Namun tidak diberikan rincian mengenai jenis usaha yang akan digeluti dan teknik pelaksanaannya. Hal itu mengandung hikmah agar umat manusia termasuk umat Islam memiliki kebebasan dalam mencari jenis usaha dan bagaimana mewujudkannya. Yang terpenting dan harus diperhatikan adalah usaha yang digeluti itu bukan jenis usaha yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qur’an dan hadis, seperti riba, melakukan jual beli barang haram, atau mengandung penipuan dan sejenisnya.

Menuntut ilmu juga adalah ibadah umum karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qur’an dan hadis namun tata caranya tidak ditentukan secara khusus oleh syara. Hal itu mengandung makna bahwa semua ilmu adalah berasal dari Allah dan karena itu mengandung kebaikan untuk manusia dan kemanusiaan serta alam semesta. Ilmu yang dilarang dipelajari hanya ilmu sihir atau black magic, yang memang tidak bermanfaat dan bahkan dapat mendatangkan bahaya bagi manusia.

  1. Berdasarkan manfaatnya, ibadah terbagi dua macam:
  2. Ibadah Syakhsiyah (ibadah individual), yaitu ibadah yang berupa hubungan individu dengan Tuhannya serta manfaat (pahala)nya hanya diperoleh/dinikmati individu yang bersangkutan, seperti shalat, puasa, dsb. Jadi, manfaatnya hanya bersifat pribadi. Ibadah syakhsiyah hanya memberikan pahala dan manfaat bagi pelakunya.
  3. Ibadah ijtima’iyah (ibadah sosial), yaitu ibadah yang berupa hubungan antar sesama manusia serta dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain, seperti zakat, sedekah, infaq, berkurban, menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, dsb.

Disebut ibadah sosial karena dalam pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut selain menjalin komunikasi dan hubungan dengan Allah juga dapat terjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia (penerima zakat, sedekah, infaq, hewan kurban, murid yang menerima ilmu, orang lain dapat memenuhi nafkahnya) dsb.

Memberi zakat, sedekah, infaq disebut ibadah sosial sebab diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dan manfaatnya dapat dirasakan oleh orang yang menerima zakat, sedekah dan infaq tersebut. Demikian juga menuntut ilmu adalah ibadah sosial dan manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang jika ilmunya diajarkan kepada orang lain. Karena itulah meski orang berilmu telah tiada namun pahalanya akan terus mengalir berbanding lurus dengan jumlah orang yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.

Meskipun demikian perlu diketahui kriteria suatu amalan bisa dikategorikan sebagai ibadah (bernilai kebaikan dan berpahala) atau justru menjadi dosa. Banyak orang mengira suatu perbuatan bisa bernilai ibadah (kebaikan dan berpahala) jika diniatkan untuk kebaikan, tanpa memperhatikan cara atau prosesnya. Sehingga dalam realitas menimbulkan berbagai penyimpangan tanpa merasa bersalah bahkan merasa telah melakukan kebaikan (ibadah) dengan bangga. Seolah-olah segala bentuk perbuatan manusia akan langsung dinilai ibadah hanya berdasarkan pada niat baiknya. Hal itu merupakan kesalahpahaman terhadap hadis niat, bahwa innamal a’malu bin niyyat.

Padahal suatu perbuatan baru bisa dikategorikan sebagai ibadah jika memenuhi minimal dua syarat secara kumulatif, yakni cara harus benar dan niatnya juga harus benar menurut syara. Hal itu bisa digunakan pendekatan perkalian dalam matematika, yang bisa diilustrasikan dengan rumus berikut ini.

   Ibadah: caranya benar (+) x niatnya benar (+) = + (pahala/diredai Allah).

   Misalnya: shalat dilakukan sesuai syarat dan rukunnya serta niatnya karena Allah.

Tata cara dan niat yang benar disimbolkan dengan tanda positif (+). Menurut logika matematika perkalian positif (+) dengan positif (+) selamanya akan menghasilkan positif (+) pula. Tidak pernah terjadi (mustahil) perkalian positif (+) dengan positif (+) akan menghasilkan negatif (-).

Amalan tersebut harus dilakukan secara benar sesuai syariat dan diniatkan karena Allah. Dalam shalat, harus dilakukan dengan tata cara yang benar seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, baik syarat maupun rukun serta menghindari hal-hal yang membatalkannya. Proses pelaksanaan shalat yang benar itu baru akan dinilai sebagai ibadah di sisi Allah jika shalat yang didirikan itu diniatkan karena Allah.

Sebaliknya, menurut ajaran Islam suatu amalan tak akan dinilai ibadah di sisi Allah jika niatnya salah (-), bukan karena Allah meskipun tata cara pelaksanaan amalan tersebut telah benar (+), sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Hal itu bisa dibuktikan dengan amalan yang diniatkan karena pamer (riya) yang dalam Islam justru dikategorikan sebagai salah satu perbuatan dosa (-). Jadi, jika salah satu atau kedua syarat amalan tersebut bernilai negatif (-) maka amalan itu akan bernilai dosa (-). Ilustrasinya seperti di bawah ini.

* Bukan ibadah: caranya benar (+) x niatnya salah (-) = – (dosa/dimurkai Allah).

Misalnya: shalat, zakat, sedekah dilakukan sesuai syarat dan rukunnya tetapi niatnya karena riya. Begitu juga menikah dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukunnya tetapi niatnya untuk menyakiti istri/suami.

* Bukan ibadah: caranya salah (-) x niatnya benar (+) = – (dosa/dimurkai Allah).

   Misalnya: mencuri dengan niat untuk menolong orang miskin dengan uang curian itu.

Memberi jawaban ujian kepada teman dengan niat menolong sesama teman.

Tata cara atau niat yang salah disimbolkan dengan tanda negatif (-). Menurut logika matematika perkalian negatif (-) dengan positif (+) atau sebaliknya selamanya akan menghasilkan nilai negatif (-) pula. Tidak pernah terjadi (mustahil) perkalian negatif (-) dengan positif (+) akan menghasilkan positif (-).

Berdasarkan rumus di atas shalat, nikah, yang dilakukan bisa saja tata caranya benar sesuai syariat namun karena niatnya tidak benar (karena ingin dipuji, riya) maka nilai shalat dan nikah tersebut bukan ibadah melainkan dosa (-). Demikian pula pemberian bantuan kepada fakir miskin atau orang-orang yang membutuhkannya, bisa jadi dari harta yang halal namun jika bantuan itu diberikan dengan niat agar dianggap dermawan apalagi agar dipilih dalam Pemilu/Pemilukada, maka bantuan itu tidak akan bernilai ibadah (+) melainkan dosa (-). Sehingga sedekah/zakat yang disebut-sebut untuk riya tak akan bernilai pahala, seperti diungkapkan dalam QS al-Baqarah: 264

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.’

Rumus itu berlaku juga dalam amalan yang dilakukan dengan niat yang baik, karena mencari reda Allah (+) namun dilakukan dengan cara yang salah, bertentangan dengan syariat (-), maka tak akan menjadi ibadah (+) melainkan dosa (-). Misalnya, memberikan bantuan untuk panti asuhan, pembangunan masjid, madrasah dan fasilitas sosial lainnya dari uang korupsi. Maka meskipun diniatkan karena Allah namun karena uang sumbangan diperoleh dari cara yang salah maka nilai amalannya bernilai dosa (-). Dalam kaitan ini dosa korupsi tidak bisa dicuci dengan sedekah sebab yang disedekah/disumbangkan bukan haknya melainkan hak rakyat. Hal itu dapat diibaratkan dengan mandi, tujuan utamanya adalah untuk membersihkan badan dari kotoran/keringat. Namun tujuan dari mandi tadi tak akan terwujud jika dia mandi menggunakan air kotor.

Di samping itu dalam perbuatan zina yang terkadang mengakibatkan kehamilan digunakan rumus:

* Bukan ibadah: caranya salah (-) x niatnya salah (-) = + (dosa/dimurkai Allah).

Karena berzina merupakan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan perkawinan (cara yang salah) dan niatnya juga tentu bukan untuk hamil, namun biasanya mudah hamil (+). Dalam tes kehamilan secara medis, peristiwa kehamilan lebih dikenal dengan istilah positif, tidak hamil dikenal dengan negatif.

Karena itu dalam melakukan kebaikan hendaklah senantiasa memperhatikan dua aspek yakni tata caranya harus benar dan diniatkan untuk Allah. Tidak bisa hanya memperhatikan aspek tata cara dengan mengabaikan aspek niat. Begitu pula sebaliknya.

wallahua’lam

berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
1144
Views Today
Views Today
2
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

2 Comments on UMUR kita .. diHABISkan untuk APA ?? …… perhitungan nya —————————————- hadits dari sahabat Abu Barzah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, …………………… لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أُنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فَيَا أَبْلَاهُ “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, pada hal apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, bagimana dia beramal dengannya, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada hal apa dia belanjakan (4) dan tentang jasadnya pada hal apa dia usangkan.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ad-Darimy, Abu Ya’lâ, Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal dan selainnya. Lafazh hadits milik Al-Baihaqy. ————————————- Umur atau masa hidup kita merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan ditanyakan di hari kiamat kelak. Umur yang panjang tentu perlu direnungkan dan disyukuri. Apakah kita menghabiskannya pada hal yang bermanfaat atau tidak. ——————————— Allah Ta’ala berfirman: أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ. “…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fathir: 37). ———————————- Telah kita ketahui bersama bahwa umur kita sebagai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sekitar 60 – 70 tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) ————————- Saya pribadi jujur saja sejak belajar agama dan mempelajari hadits-hadits tersebut, saya sangat menyesal akan kekhilafan yang dulu saya terbenam di dalamnya. Betapa banyak waktu yang saya sia-siakan. Terlalu banyak sendau gurau, bersantai dan bermain daripada berfikir merenungi hakikat hidup dan belajar ilmu agama. Terlalu banyak waktu urusan dunia dihabiskan daripada urusan ukhrawi. Terlalu banyak waktu dilewati dengan berbuat dosa daripada mengumpul bekal amalan shalih. Sungguh betapa naifnya saya dulu, tiap tahun memperingati hari ulang tahun tetapi jarang bahkan tidak pernah mengingat hari akhir saya bagaimana keadaannya, baik atau buruk, beruntung atau sengsara. Yaa, Allah yang Maha Pengampun. Ampuni saya yang lalai ini. ……………………

  1. Allah Ta’ala berfirman:

    أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ, فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ نَصِيْرٍ.

    “…Dan apakah tidak cukup Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?, maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. (Q.S. Fathir: 37).

Leave a Reply