Loading
BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar … —————————————— Saat mengalami peristiwa Isra Mi’raj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. Namun, mungkin tidak banyak umat Islam saat ini yang mengetahui sosok atau bentuk tunggangan tersebut, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi. ———————- Buraq berasal dari kata /barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya. ———————– Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surah al-Baqarah ayat 20 yang artinya,Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]). ——————— Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99). ———- Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat. …………….. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”……………. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki. Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya……………. | Islam dan Sains-Edy

BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar … —————————————— Saat mengalami peristiwa Isra Mi’raj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. Namun, mungkin tidak banyak umat Islam saat ini yang mengetahui sosok atau bentuk tunggangan tersebut, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi. ———————- Buraq berasal dari kata /barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya. ———————– Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surah al-Baqarah ayat 20 yang artinya,Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]). ——————— Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99). ———- Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat. …………….. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”……………. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki. Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya…………….

BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar …

——————————————

Saat mengalami peristiwa Isra Mi’raj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. Namun, mungkin tidak banyak umat Islam saat ini yang mengetahui sosok atau bentuk tunggangan tersebut, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi.
———————-

Berdasarkan beberapa hadis dan literatur, telah banyak yang menggambarkan makhluk tersebut. Namun, yang paling menakjubkan mengenai makhluk tunggangan Nabi SAW tersebut adalah kecepatannya yang seperti kilat. Kecepatannya bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal, sehingga buraq termasuk salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
—————–
buraq kendaraan nabi

Buraq berasal dari kata /barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya.
———————–

Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surah al-Baqarah ayat 20 yang artinya,Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]).
———————

Melihat penamaan makhluk tersebut, Nabi Muhammad SAW seakan hendak menyampaikan kepada kita bahwa kendaraannya tersebut memang memiliki kecepatan di atas sinar. Suatu kendaraan dengan kecepatan yang sangat jauh meninggalkan teknologi yang ada hingga sampai saat ini.

———————–
Para sarjana telah melakukan penyelidikan atau penelitian. Mereka berkesimpulan bahwa kilat atau sinar dapat bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 kilometer per detik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralaks, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil, dan dilintasi oleh sinar dalam waktu delapan menit.

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal di bumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja oleh buraq. Karena untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 miliar tahun cahaya melalui galaksi-galaksi atau fosil-fosil jagad raya. Namun, kendati di luar nalar peristiwa tersebut tetap harus diimani oleh umat Islam.

Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99).

buraq 2 78

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat. ……………..

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”…………….

Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki. Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya…………….

Terlepas dari kecepatan dan bentuk buraq tersebut, peristiwa Isra Mi’raj telah menunjukkan kebesaran Allah SWT kepada hamba-Nya. Hal ini seperti dijelaskan dalam surah al-Isra’ ayat 1 yang artinya, “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”.

——————————–
Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim disebutkan,”…kemudian aku diberikan seekor binatang yang bukan begal (peranakan kuda dengan keledai, pen) namun melebihi keledai putih.” Al Jaruud mengatakan kepadanya,”Itu adalah buraq wahai Abu Hamzah.” Anas mengatakan,”Betul. Dia (binatang) itu meletakkan langkahnya sejauh pandangan mata…”

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa “bukan begal dan melebihi keledai putih” demikianlah disebutkan dikarenakan ia adalah binatang tunggangan atau dengan melihat lafazh “buraq”. Hikmah pensifatan itu adalah sebagai isyarat bahwa orang yang menungganginya adalah dalam keadaan nyaman bukan dalam keadaan perang atau ketakutan. Atau pula untuk menampakkan mu’jizat yang terjadi karena kecepatannya yang sangat cepat dengan menunggangi seekor binatang yang tidak pernah disifatkan dengan sifat seperti itu jika menurut keadaan normal. (Fathul Bari …

Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Hudzaifah bin al Yaman mengatakan bahwa Rasulullah saw telah diberikan seekor binatang yang punggungnya panjang dan langkahnya adalah sepanjang mata memandang. Mereka berdua (Rasulullah saw dan Jibril as, pen) tidaklah terpisahkan diatas punggung buraq sehingga mereka meyaksikan surga dan neraka … kemudian mereka berdua kembali pulang ke tempat semula (ketika berangkat)…” (Abu Isa mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)

kilat masjid 1

Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ahli bahasa mengatakan,”Buraq adalah nama binatang yang ditunggangi Rasulullah saw di malam isro.” Az Zubaidiy didalam “al Mukhtashar al ‘Ain” dan pemilik kitab “at Tahrir” mengatakan,”Buraq adalah binatang yang ditunggangi oleh para Nabi as.” Yang dikatakan oleh kedua orang itu dengan menyertakan semua nabi didalam hal ini membutuhkan dalil yang shahih.

Ibnu Duraid mengatakan bahwa “buraq” berasal dari kata al barqi (kilat) insya Allah ta’ala karena kecepatannya. Ada yang mengatakan,”Dinamakan buraq dikarenakan terlalu bersih, mengkilat dan sangat cepatnya.” Ada yang mengatakan,”Karena warna putihnya.” Al Qodhi mengatakan,”Kemungkinan dinamakan buraq karena dia memiliki dua warna, dikatakan ‘syaatun barqoo’ (kambing kilat) apabila disela-sela bulunya yang berwarna putih terdapat bercak-bercak hitam” Dia berkata,”didalam hadits itu disifatkan bahwa buraq itu berwarna putih. Bisa jadi ia dari jenis kambing kilat dan dia terbatasi dengan warna putih.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi al israa bi rosulillah …)

Dengan demikian bagaimana hakekat dari bintang buraq itu? seperti apakah dia? Apakah dia memiliki sayap? Berapakah kecepatannya sekali dia melangkah? Bagaimana mungkin mereka bisa selamat melintasi atmosfer bumi? Maka itu semua adalah termasuk didalam perkara-perkara ghaib yang kita tidak bisa mengatakannya melebihi dari nash-nash shahih yang telah menceritakan tentang hal itu. Kita tidak dituntut untuk mena’wilkannya namun dituntut untuk mengimaninya saja. Dan apabila hal-hal itu ada manfaatnya bagi kehidupan manusia pastilah Rasulullah saw menjelaskannya kepada kita.

Dengan Badan atau Ruhnya Saat Rasul saw Isro Mi’raj

Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa telah terjadi perselisihan diantara manusia : Apakah isra’ itu dengan badan Rasulullah saw dan ruhnya ? atau ruhnya saja? Maka ada dua pendapat : kebanyakan ulama berpendapat bahwa isra dilakukan dengan badan dan ruhnya saw dalam keadaan terjaga tidak tidur, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Rasul saw melihat itu semua sebelumnya didalam mimpi lalu dia melihatnya setelah terjaga karena beliau saw tidaklah melihat didalam mimpi kecuali seperti fajar menyingsing. Dalil dari itu adalah firman Allah swt :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.” (QS. Al Isra : 1)

Tasbih itu dilakukan terhadap perkara-perkara besar, seandainya beliau saw dalam keadaan tidur maka didalam hal itu tidaklah ada sesuatu yang besar dan bukan perkara yang minta dibesarkan…. Hal lainnya juga adalah sesungguhnya kata “abdun” (hamba adalah ungkapan yang menggabungkan ruh dan jasad, sebagaimana firman-Nya :

الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

Artinya : “yang telah memperjalankan hamba-Nya.” (QS. Al Isra : 1)

Allah swt berfirman :

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلاَّ فِتْنَةً لِّلنَّاسِ

Artinya : “Dan kami tidak menjadikan mimpi yang telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.” (QS. Al israa : 60)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ia adalah penglihatan yang disaksikan oleh mata yang telah diperlihatkan kepada Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori,”Beliau saw telah diisrokan, dan pohon yang terlaknat adalah pohon zaqqum.”

Allahs wt berfirman :

Artinya : “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. Al Isra : 17)

Al Bashor (penglihatan) adalah alat secara fisik bukan ruh. Begitu juga bahwa beliau menunggang buraq, binatang putih bersinar dan mengkilat, sesungguhnya hal itu untuk badan bukan untuk ruh…. Wallahu A’lam

kilat ayat 1

Sementara yang lain berpendapat bahwa Rasulullah saw diisrokan dengan ruhnya saja tidak dengan jasadnya. Muhammad bin ishaq bin Yasar didalam “Siroh” nya mengatakan,”Ya’qub bin Utaibah bin al Mughiroh telah bercerita kepadaku bahwa Muawiyah bin Abi Sofyan pernah ditanya tentang isronya Rasulullah saw?’ dia menjawab,”mimpi dari Allah itu benar.”

Sebagian dari keluaga Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Aisyah berkata,”Jasadnya Rasul tidaklah menyertai akan tetapi beliau saw diisrokan dengan ruhnya.”

Rasulullah saw bersabda,”Kedua mataku tidur sedangkan hatiku terjaga.” Allah Maha Mengetahui apa yang terjadi. Jika Allah ingin memperlihatkan dengan mata maka Dia akan perlihatkannya dengan mata dalam keadaan apa pun baik tidur maupun terjaga, semua itu benar, demikianlah perkataan Ibnu Ishaq. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz V hal 43 – 44)

Wallahu A’lam

Views All Time
Views All Time
2277
Views Today
Views Today
2
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

3 Comments on BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar … —————————————— Saat mengalami peristiwa Isra Mi’raj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. Namun, mungkin tidak banyak umat Islam saat ini yang mengetahui sosok atau bentuk tunggangan tersebut, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi. ———————- Buraq berasal dari kata /barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya. ———————– Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surah al-Baqarah ayat 20 yang artinya,Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]). ——————— Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99). ———- Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat. …………….. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”……………. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki. Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya…………….

  1. Al Bashor (penglihatan) adalah alat secara fisik bukan ruh. Begitu juga bahwa beliau menunggang buraq, binatang putih bersinar dan mengkilat, sesungguhnya hal itu untuk badan bukan untuk ruh…. Wallahu A’lam

  2. Dengan Badan atau Ruhnya Saat Rasul saw Isro Mi’raj

    Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa telah terjadi perselisihan diantara manusia : Apakah isra’ itu dengan badan Rasulullah saw dan ruhnya ? atau ruhnya saja? Maka ada dua pendapat : kebanyakan ulama berpendapat bahwa isra dilakukan dengan badan dan ruhnya saw dalam keadaan terjaga tidak tidur, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Rasul saw melihat itu semua sebelumnya didalam mimpi lalu dia melihatnya setelah terjaga karena beliau saw tidaklah melihat didalam mimpi kecuali seperti fajar menyingsing. Dalil dari itu adalah firman Allah swt :

    سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

    Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.” (QS. Al Isra : 1)

    Tasbih itu dilakukan terhadap perkara-perkara besar, seandainya beliau saw dalam keadaan tidur maka didalam hal itu tidaklah ada sesuatu yang besar dan bukan perkara yang minta dibesarkan…. Hal lainnya juga adalah sesungguhnya kata “abdun” (hamba adalah ungkapan yang menggabungkan ruh dan jasad, sebagaimana firman-Nya :

    الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

    Artinya : “yang telah memperjalankan hamba-Nya.” (QS. Al Isra : 1)

    Allah swt berfirman :

    وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلاَّ فِتْنَةً لِّلنَّاسِ

    Artinya : “Dan kami tidak menjadikan mimpi yang telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.” (QS. Al israa : 60)

    Ibnu Abbas mengatakan bahwa ia adalah penglihatan yang disaksikan oleh mata yang telah diperlihatkan kepada Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori,”Beliau saw telah diisrokan, dan pohon yang terlaknat adalah pohon zaqqum.”

    Allahs wt berfirman :

    Artinya : “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. Al Isra : 17)

  3. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim disebutkan,”…kemudian aku diberikan seekor binatang yang bukan begal (peranakan kuda dengan keledai, pen) namun melebihi keledai putih.” Al Jaruud mengatakan kepadanya,”Itu adalah buraq wahai Abu Hamzah.” Anas mengatakan,”Betul. Dia (binatang) itu meletakkan langkahnya sejauh pandangan mata…”

    Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa “bukan begal dan melebihi keledai putih” demikianlah disebutkan dikarenakan ia adalah binatang tunggangan atau dengan melihat lafazh “buraq”. Hikmah pensifatan itu adalah sebagai isyarat bahwa orang yang menungganginya adalah dalam keadaan nyaman bukan dalam keadaan perang atau ketakutan. Atau pula untuk menampakkan mu’jizat yang terjadi karena kecepatannya yang sangat cepat dengan menunggangi seekor binatang yang tidak pernah disifatkan dengan sifat seperti itu jika menurut keadaan normal. (Fathul Bari …

    Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Hudzaifah bin al Yaman mengatakan bahwa Rasulullah saw telah diberikan seekor binatang yang punggungnya panjang dan langkahnya adalah sepanjang mata memandang. Mereka berdua (Rasulullah saw dan Jibril as, pen) tidaklah terpisahkan diatas punggung buraq sehingga mereka meyaksikan surga dan neraka … kemudian mereka berdua kembali pulang ke tempat semula (ketika berangkat)…” (Abu Isa mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih)

Leave a Reply