Loading
July, 2016 | Islam dan Sains-Edy ...>> SURGA tidak semudah aku/kamu kira … menjadi seorang MUKMIN sangat berat, … ujian dari Allah juga makin berat jika IMAN bertambah !!... tidak ada UJIAN ISTIDRAJ BAGI MUKMIN !! ..wallahua’lam << - Part 3

berHATI-HATIlah … lihat diri kita sendiri…. kita sekarang “BERAMAL . pendudk NERAKA” …atau … berAMAL “penduduk SURGA”/ Jalan Allah {sesuai perintah dan larangan Allah} ???? ——————————————————- “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” (HR. Muslim } —————————————– “Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja,” adalah seseorang yang menurut pandangan mata manusia mengerjakan amalan surga dan ketika sudah mendekati ajalnya mengerjakan amalan penduduk neraka, kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka. Jadi yang dimaksud ‘jaraknya dengan surga atau neraka tinggal sehasta‘ bukan tingkatan dan kedekatannya dengan surga, namun waktu antara hidupnya dengan ajalnya tinggal sebentar, seperti sehasta. —————— Yang patut kita pahami dari hadits ini, bukan berarti ketika kita sudah berusaha melakukan kebaikan dan amalan ibadah maka Allah akan menyia-nyiakan amalan kita. Karena hadits di atas diperjelas dengan hadits lainnya, yaitu, —————————— “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” (HR. Muslim no. 112 dengan sedikit perbedaan lafazh dari yang tercantum) ————————- Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan – “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq) ———————————– Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surga yang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksud dengan ‘tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta’ adalah begitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.” ————————- Sedangkan maksud hadits, “Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka,” artinya, kemudian orang tersebut meninggalkan – kebiasaan – amalan ahli surga yang sebelumnya dia amalkan. Hal itu disebabkan adanya sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya – semoga Allah melindungi kita dari hal ini – yang menjerumuskan orang tersebut ke dalam neraka. ————————– Hal ini perlu diperjelas agar tidak ada prasangka buruk terhadap Allah ta’ala. Karena seorang hamba yang melaksanakan amalan ahli surga dan ia melakukannya dengan jujur dan penuh keikhlasan, maka Allah tidak akan menelantarkannya. Allah pasti memuliakan orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Namun bencana dalam hati bukan merupakan suatu perkara yang mustahil – semoga Allah melindungi kita dari hal ini -. —————————

July 23, 2016 Edy Methek 2

berHATI-HATIlah … lihat diri kita sendiri…. kita sekarang “BERAMAL . […]

JANGAN memberi CONTOH BURUK/menyesatkan …… bisa menjadi DOSA JARIYAH ….. karena contoh BURUK/menyesatkan … yg diIKUTi orang BANYAK …………………… ———————————————————- jangan menCONTOH manusia dg STATUS BUIH ….. status AL WAHN ….. apa kamu/aku TIDAK takut ? akan diikuti manusia lain yg BUAT status BUIH ….. kamu/aku malah MENYESATkan manusia lain ??!!! —————————–pakai pakaian TAKWA mu …. bukan hanya di BAJU ….. tapi ….. amal PERBUATAN ….. KATA-kata .. omongan … BICARA …… jauh dari TAKWA …… —————————- DOSA JARIYAH: yaitu DOSA suatu perbuatan yg terus mengalir dosanya… walau sudah MATI ————————————- AMAL JARIYAH, PAHALA amal yg terus mengalirkan pahala…. walau sudah MATI —————————————————- Dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang merintis perbuatan (sunnah) baik yang kemudian diikuti (orang- orang), maka dia memperoleh pahalanya sendiri dan pahala (orang-orang) yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. ———————— Dan barangsiapa memelopori perbuatan buruk yang kemudian diikuti (orang- orang), maka ia mendapat dosanya sendiri dan dosa (orang-orang) yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”{ HR Ibnu Majah (203), ————————— *Apa sajakah dosa-dosa jariyah itu* ——————————— * *1. Orang yang mempelopori perbuatan maksiat* ———————— Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam sebuah hadits dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim). ————————————— Pemikul dosa jariyah ini tak menyuruh orang untuk mencontohnya,tapi dengan ia terang-terangan melakukan kemaksiatan itu diantara keramaian manusia sudah membuka pintu dosa itu mengenai dirinya. ———————————- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا “Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan yang lainnya). ————————————— Maka termasuk siapapun manusia yang dalam catatan kehidupanya ia memperlihatkan dari contoh-contoh dosa kepada masyarakat sekelilingnya atau kepada karib kerabatnya maka ia akan ditimpa dengan dosa dari orang-orang yang akan mencontoh perbuatan itu. ——————————- Sebagai contoh kasus blog atau website dan media-media yang memperlihatkan program-program kemaksiatan,lalu kemaksiatan itu ditiru oleh setiap mata yang memandang dan dicontoh oleh mereka, maka aliran dosanya akan mengalir kepada penulis atau pengunggah yang mempertotonkan kemaksiatan tersebut. ———————– Iklan-iklan tv, sinetron yang mengumbar aurat, adegan pacaran yang dilarang serta seremonila mewah yang sarat akan dosa, maka aliran dosanya tidak akan berhenti yang mencontoh kemaksiatan itu tapi juga mengalir kepada yang memproduksi acara kemaksiatan itu. —————————– *2. Yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat dan kekufuran* ——————— مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim) ————————- Dari untaian hadits diatas kita mengetahui secara jelas bahwa siapapun manusia yang menyeru kepada setiap kesesatan, kekufuran dan deretan perilaku menyimpang maka penyeru atas semua itu mendapatkan limpahan dosa dari yang mengikuti itu semua. ——————————- Maka semakin menyebar pemikiran sesat itu diantara manusia,maka semakin pula membanjiri dosa kepada penyerunya, Sungguh tidak ada beban yang paling menyiksa di akherat kecuali adalah beban dosa ketika manusia kelak dihisab oleh Allah SWT, maka sangat tragis seorang manusia yang tak hanya membawa dosa ia sendiri tapi juga memikul dosa dari orang lain disebabkan dosa jariyah yang ia cetuskan. ————————– Berdasarkan dengan dalil-dalil diatas, Maka kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk tidak mengupload konten-konten yang tidak senonoh di blog maupun di media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lain sebagainya. Karena kita tidak hanya dikenai dosa uploadnya saja, namun dosa dari orang yang menikmatinya juga akan mengalir seperti yang sudah saya jelaskan diatas. ———————————- Pikirkan, jika 1 orang menikmati konten Anda, kemudian mendownload dan menyebarkan. Ada yang membuat menjadi bacaan / CD film porno dan mungkin ada juga yang menyebarkan secara gratis lewat situs ataupun sosial media. ——————————— Bagaimana jika yang menikmati ada 100 orang? maka setiap konten terlarang itu”dinikmati” oleh orang lain maka dosa akan tetap mengalir kepada Anda dari 100 orang tersebut. ————————— Oh tidak hanya sampai disitu, diantara 100 orang tadi ternyata ada 10 orang diantara mereka memerkosa anak gadis orang sehabis membaca / menonton konten yang diupload atau ditulis oleh Anda. —————————– Entah mengalir selama setahun atau entah meski besok ajal menjemput,dosa itupun akan tetap terus mengalir. ————————

July 23, 2016 Edy Methek 2

JANGAN memberi CONTOH BURUK/menyesatkan …… bisa menjadi DOSA JARIYAH ….. […]

AL-QUR’AN DITURUNKAN ….. BUKAN HANYA UNTUK DIBACA HURUF-HURUFNYA…… tapi dipahami/dipelajari .. lalu . diAMALkan/diPRAKTEKkan ………………………… Al-Qur’an Allah turunkan kepada Nabi Muhammad untuk diajarkan kepada umat manusia bukan hanya supaya umat manusia bisa membaca huruf-hurufnya. Akan tetapi lebih dari itu Al-Qur’an diturunkan supaya dipelajari isinya kemudian diamalkan; —————————— Dari Buraidah beliau berkata, “Nabi bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya serta mempraktekkannya {=mengamalkan}; dipakaikan kepada kedua orang tuanya kelak di hari kiamat mahkota dari cahaya, sinarnya seperti cahaya matahari, dan dipakaikan untuk kedua orang tuanya dua jubbah yang dunia tidak bisa menyamainya. Lalu kedua orang tuanya itu berkata, ‘Karena apa kami diberi pakaian seperti ini?’ Maka dikatakan kepada keduanya, ‘Karena anak kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.’” [HR. Al-Hakim, beliau menilai hadist ini shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim (At-Targhib Wat-Tarhib no. 2085)] ————————— Nabi tidak hanya mengatakan ‘siapa yang membaca’, akan tetapi juga mengatakan ‘siapa yang mempelajari’ bahkan mengatakan ‘siapa yang mengamalkannya (mempraktikkannya)’. Ini adalah isyarat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca huruf-hurufnya akan tetapi juga dipelajari isinya dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. ————————————- Ayat-ayat yang berkenaan dengan khabar-khabar dibenarkan tanpa ragu sedikitpun. Ayat-ayat yang berkenaan dengan larangan-larangan diimani kemudian larangan yang disebutkan ditinggalkan. Begitu juga ayat-ayat yang berkenaan dengan perintah-perintah diimani kemudian perintah yang disebutkan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan. —————————— Diantara bukti yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca huruf-hurufnya adalah firman Allah berikut ini, ………………. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabut, 45] —————————– Pada ayat ini Allah tidak hanya memerintah untuk membaca Al-Qur’an akan tetapi juga memerintah untuk mendirikan shalat. —————————— Ini bukti yang paling jelas bahwa tugas kita sebagai muslim bukan hanya membaca huruf-huruf Al-Qur’an akan tetapi juga mempraktikkan isi Al-Qur’an. Dan shalat adalah salah satu perintah diantara banyak perintah yang ada di Al-Qur’an. Maka dari itu Allah memerintah untuk membaca Al-Qur’an sekaligus memerintah untuk shalat, sebagai salah satu contoh bentuk praktik (amal) terhadap isi Al-Qur’an. ————————— Oleh karena itu ketika Allah memuji orang-orang yang pantas dipuji karena kebaikan mereka, Allah tidak menyebutkan bahwa mereka ini terpuji hanya karena membaca huruf-huruf Al-Qur’an akan tetapi Allah juga menyebutkan bahwa mereka yang berhak mendapatkan pujian ini selain membaca huruf-hurufnya juga mempraktikkan isi Al-Qur’an. ————————– Diantara contohnya adalah firman Allah, “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).” [Ali-‘Imran, 113] ————————– Perhatikan dengan baik ternyata Allah tidak hanya menyebutkan bahwa mereka membaca ayat-ayat Allah akan tetapi juga menyebutkan bahwa mereka mempraktikkan ayat-ayat Allah yaitu dengan melakukan ibadah. ————————– Begitu juga firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” [Faathir, 29] —————————- Sekali lagi Allah tidak hanya menyebutkan ‘membaca kitab Allah’ akan tetapi juga menyebutkan bahwa mereka mendirikan shalat dan mengeluarkan shadaqah. —————————- Sehingga tugas kita sebagai hamba yang dianugerahi karunia yang sangat besar seperti Al-Qur’an adalah menjadikannya pedoman hidup, mengimani apa yang dikhabarkan Allah, menjauhi semua yang dilarang Allah dan melaksanakan apa yang diperintah Allah sesuai kemampuan. —————————— Celaan Bagi Yang Tidak Mempraktikkan Isi Al-Qur’an ——————————– Jika orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup terpuji di hadapan Allah maka orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup tercela di hadapan Nya. ————————- Allah berfirman, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” [Al-Jum’ah, 5] ——————————— Tentang ayat ini Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya berkata, “Allah Ta’ala berfirman (melalui ayat ini) dalam rangka mencela orang-orang yahudi yang diberi kitab Taurat dan dipikulkan kepada mereka supaya diamalkan (dijadikan pedoman hidup), mereka justru tidak mengamalkannya.—————— Permisalan mereka (yahudi) dalam hal ini adalah seperti keledai yang membawa ‘kitab-kitab tebal’ yaitu seperti keledai ketika membawa satu kitab dia tidak mengetahui apa yang ada di dalam kitab tersebut, dia hanya membawanya secara lahiriah, tidak mengetahui apa yang ada di atasnya. Begitu juga mereka (yahudi) yang memikul kitab yang diberikan kepada mereka, mereka menghafal lafadz-lafadznya akan tetapi tidak memahaminya, dan tidak mempraktikkan isinya, bahkan mereka merubah makna ayat-ayat Taurat, menyelewengkannya, dan menggantinya, mereka ini keadaannya lebih jelek dari keledai; karena keledai tidak memilliki akal sama sekali (untuk memahami), sedangkan mereka (yahudi) mereka memiliki akal-akal akan tetapi tidak menggunakannya; olehkarena itu Allah berfirman di ayat yang lain,————— “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al-A’raaf, 179] ————————— Dan di sini (yaitu surat Al-Jum’ah) Allah berfirman, “Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” [Al-Jum’ah, 5].” ——————- Jika tidak ingin tercela seperti orang-orang yahudi jangan ikuti kesalahan mereka yaitu tidak menjadikan kitab suci yang Allah beri sebagai pedoman hidup. ———————— Sehingga benarlah bahwa tugas seorang muslim terhadap Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai pedoman hidup, bukan hanya puas dengan membaca huruf-hurufnya atau hanya menghafal saja.

July 23, 2016 Edy Methek 1

AL-QUR’AN DITURUNKAN ….. BUKAN HANYA UNTUK DIBACA HURUF-HURUFNYA…… tapi dipahami/dipelajari […]

JANGAN sampai diCAP/dianggap .. ALLAH sebagai ORANG CELAKA …. ………………………………………………… >> membaca Al qur’an HANYA ….. sampai di KERONGKONGANnya saja …. tidak MEMAHAMI/merenungkan ISI … dari yang diBACA = orang CELAKA ——————————— >> orang CELAKA = manusia/orang yg dilempar Allah ke NERAKA JAHANAM ———————— <<<<< kita diperintah untuk MEMBACA al qur’an ,,, lalu .. memahami al qur’an dg qalbu kita .. lalu .. mengamalkan al qur’an >>>>>>>>> ………………………………… Dari Buraidah beliau berkata, “Nabi bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya serta mempraktekkannya {=mengamalkan}; dipakaikan kepada kedua orang tuanya kelak di hari kiamat mahkota dari cahaya, sinarnya seperti cahaya matahari, dan dipakaikan untuk kedua orang tuanya dua jubbah yang dunia tidak bisa menyamainya. Lalu kedua orang tuanya itu berkata, ‘Karena apa kami diberi pakaian seperti ini?’ Maka dikatakan kepada keduanya, ‘Karena anak kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.’” [HR. Al-Hakim, beliau menilai hadist ini shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim (At-Targhib Wat-Tarhib no. 2085)] —————————- Nabi tidak hanya mengatakan ‘siapa yang membaca’, akan tetapi juga mengatakan ‘siapa yang mempelajari’ bahkan mengatakan ‘siapa yang mengamalkannya (mempraktikkannya)’. Ini adalah isyarat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca huruf-hurufnya akan tetapi juga dipelajari isinya dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. ……………………………………………………. Rasulullah SAW bersabda: “Akan ada sebagian orang diantara kalian yang shalatnya mengalahkan shalatmu, dan yang puasanya mengalahkan puasamu, dan ibadahnya mengalahkan ibadahmu. Mereka akan memBACA AL-QUR’AN tetapi tidak melebihi KERONGKONGAN mereka. Mereka akan meninggalkan Islam seperti anak panah dari busurnya…’ (Al Bukhari, Kitab Fadilah Al-Qur’an Bab 3g Hadits no 5058) …………………………………………………………………. <<< celaka bagi orang yang memBACA AL-QUR’AN tapi tidak merenungkan kandungannya … TIDAK memahami ISI dan perintah Al qur’an” >> ……………………………………………………………… Ubaid bin Umar berkata kepada sayyidah Aisyah ra, “Kabarilah kami , apa yang paling mengagumkan bagimu dari Rasulullah saw?’ Aisyah ra terdiam, lalu berkata”Pada suartu malam Rasulullah berkata padaku, wahai Aisyah biarkanlah aku beribadah pada Tuhanku pada malam ini” Aku (Aisyah) berkata “Demi Allah, aku lebih suka berada disampingmu, dan aku lebih suka membahagiakanmu”. Kemudian Rasulullah saw berdiri dan berwudhu lalu mengerjakan shalat . Aisyah berkata, “Rasulullah saw menangis sepanjang shalatnya, hingga pipinya yang mulia basah karenanya. Aisyah berkata, “Rasulullah duduk sambil menangis hingga janggutnya yang lembut basah “ . Aisyah berkata”Kemudian Rasulullah saw menangis , hingga air mata beliau memmabasahi tanah”. Bilal datang untuk mengumandangkan azan. Ketika melihat Rasulullah saw sedang menangis, Bilal bertanya,”Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”. ———————————– Rasulullah saw berkata”Tidakkah aku menjhadi seorang hamba yang bersyukur, aku telah menerima wahyu dari Allah pada malam ini, CELAKA bagi orang yang membacanya tapi tidak merenungkan kandungannya” …………………………………………………………………… oleh Allah .. mereka diCAP = sebagai orang CELAKA… artinya apa?… = dilempar ke NERAKA …………………………………………………………… ﴾ Huud:106 ﴿ Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُوا۟ فَفِى ٱلنَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ ﴿هود:١۰٦﴾

July 23, 2016 Edy Methek 2

JANGAN sampai diCAP/dianggap .. ALLAH sebagai ORANG CELAKA …. ……………………..……………………..….. […]

>>> AL QUR’AN … bukan SYAIR … atau tulisan saja (bukan seperti Koran/majalah) …. yang begitu mudah dan cepat DIBACA lalu paham….. bukan PUISI … bukan SYAIR lagu ——————————— >JANGAN sampai diCAP/dianggap .. ALLAH sebagai ORANG CELAKA ….>> membaca Al qur’an HANYA ….. sampai di KERONGKONGANnya saja …. tidak MEMAHAMI/merenungkan ISI … dari yang diBACA = orang CELAKA ———————————– > JANGAN seperti golongan MUNAFIK/fasik yg memBACA Al Qur’an ———————————————– tahu perintah Allah TETAPI .. TIDAK dikerjakan tahu larangan Allah TETAPI … MALAH dikerjaka ============================= Anas ibn Malik berkata : Abu Musa al-Asy’ari berkata : Perumpamaan orang mu’min yang membaca al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak dan baunya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak berbau. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak berbau. Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4632) dan Muslim (hadis no. 1328) ——————————- >AL QUR’AN = utk PELAJARAN dan PENERANGAAN bagi HIDUP manusia…. Yaa Siin:69 ——————————– >janganlah kamu “”TERGESA-GESA”” (perlahan-lahan saja) membaca Al qur’an ….. MENGAPA ????? why????…. ————————————– > HIKMAH /kepahaman al qur’an dan sunnah Allah …. hanya untuk orang BeRAKAL (menggunakan akalnya) …. Al Baqarah:269 ————————————– ﴾ Yaa Siin:69 ﴿ Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. ————– HIKMAH /kepahaman al qur’an dan sunnah Allah …. hanya untuk orang BeRAKAL (menggunakan akalnya) —————- ﴾ Al Baqarah:269 ﴿ Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). ————————– janganlah kamu “”TERGESA-GESA”” (perlahan-lahan saja) membaca Al qur’an ….. MENGAPA ????? why????…. …………………………………….. ………………………… ﴾ Thaahaa:114 ﴿ Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. ———————— tidak SEMUDAH membalik tangan dan HANYA membaca …. akan PAHAM Al Qur’an (butuh ilmu yang sangat BANYAK) —————— HIKMAH /kepahaman al qur’an dan sunnah Allah …. hanya untuk orang BeRAKAL (menggunakan akalnya) ———————— ﴾ Al Baqarah:269 ﴿ Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

July 23, 2016 Edy Methek 2

>>> AL QUR’AN … bukan SYAIR … atau tulisan saja […]

1 2 3 4 5 9