Loading
hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan …. selama berPUASA (SHAUM) ———————————– LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA ——————– من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai) ———————- Faedah Pembahasan : Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah. ———————- Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda: “Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim) ——————- Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan. ———————— LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I ———————– Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.” ————- Faedah Pembahasan : Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya. —————————- Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan ——————— Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa. ———————– Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali. ——————————- Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa ——————– Syarat wajib Puasa ——————- Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 : Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan . Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}. ———— Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk. ———————– | Islam dan Sains-Edy

hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan …. selama berPUASA (SHAUM) ———————————– LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA ——————– من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai) ———————- Faedah Pembahasan : Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah. ———————- Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda: “Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim) ——————- Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan. ———————— LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I ———————– Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.” ————- Faedah Pembahasan : Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya. —————————- Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan ——————— Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa. ———————– Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali. ——————————- Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa ——————– Syarat wajib Puasa ——————- Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 : Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan . Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}. ———— Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk. ———————–

hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan ….   selama berPUASA (SHAUM)

———————————–
LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA
——————–

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له.

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai)
———————-

Faedah Pembahasan :

  1. Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa.
  2. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah.

———————-
Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda:

“Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim)
——————-

  1. Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab.
  2. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan.
    ————————
    LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I
    ———————–

Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.”
————-

Faedah Pembahasan :

  1. Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i.
  2. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya.

—————————-

Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan

 ———————

Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa.
———————–

Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali.
——————————-

Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa
——————–

Syarat wajib Puasa
——————-

Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 :

  1. Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan.
  2. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan .
  3. Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa.
  4. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}.

————
Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk.

———————–
Rukun puasa Ramadhan

Rukun puasa adalah teknis yang harus dilaksanakan bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan tidak boleh ditinggal sama sekali.

  1. Niat pada waktu malam hari. Sekali lagi, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan pada malam hari. Kalau meninggalkan niat pada malam hari entah karena lupa atau sengaja maka puasanya tidak dibilang sah dan wajib mengulangnya setelah Ramadhan usai.
  2. Imsak yaitu menahan diri dan meninggalkan hal-hal yang bisa membatalkan puasa dari mulai waktu fajar hingga terbenamnya matahari atau Maghrib.

 

Larangan atau hal yang membatalkan puasa

Disamping syarat dan rukun harus dipenuhi, ada hal-hal yang harus ditinggalkan bagi orang yang berpuasa, karena bila dilakukan, maka puasanya menjadi batal. Dan larangan ini berlaku juga untuk puasa – puasa selain puasa Ramadhan

  1. Makan dan minum dengan sengaja walaupun sedikit. Kalau makan dan minumnya dalam keadaan lupa maka puasanya tetap sah dengan syarat begitu teringat bahwa dia sedang puasa dia tidak meneruskan makan atau minum.
  2. Melakukan hubungan suami istri dengan sengaja. Kalau melakukannya dalam keadaan lupa maka tidak membatalkan puasa dengan syarat begitu teringat bahwa dia sedang puasa dia tidak meneruskan lagi. Mungkinkah melakukan hubungan suami istri dalam keadaan lupa…?
  3. Muntah-muntah dengan sengaja. Termasuk kategori sengaja yaitu ceroboh. Contoh: sudah jadi kebiasaan kalau naik bis pasti mabuk dan muntah. Kok kemudian dia naik bis dan akhirnya muntah maka puasanya batal.
  4. Memasukkan suatu benda kedalam bagian tubuh yang berlubang secara sengaja seperti hidung, kedua telinga, mulut, qubul dan dubur pria maupun wanita, lubang pembuangan atau dubur. Termasuk kategori sengaja yaitu ceroboh. Contoh: sudah menjadi kebiasaan kalau berenang pasti ada air yang masuk ke telinga atau hidung atau mulut. Kok kemudian dia berenang dan telinga, hidung atau mulutnya benar – benar kemasukan air maka puasanya menjadi batal.
  1. Memasukkan obat melalui dubur.
  2. Mengeluarkan sperma atau air mani dengan sengaja seperti onani dan masturbasi. Kalau keluarnya sperma dikarenakan mimpi basah maka tidak membatalkan puasa karena tidak ada unsur kesengajaan.
  3. Keluar darah haid atau nifas bagi wanita.
  4. Hilang akal karena gila, epilepsi.
  5. Murtad yaitu keluar dari agama Islam baik secara ucapan, tindakan ataupun batin.

Itulah keterangan ringkas tentang hal-hal teknis yang wajib dipenuhi dan dipatuhi bagi orang yang menjalankan puasa khususnya puasa bulan Ramadhan.
=======================
tambahan …. seputar  PUASA
—————

Mencium istri adalah bagian dari kasih sayang, cinta, dan perhatian seorang suami. Kebiasan mencium istri pada saat-saat tertentu, terutama saat akan meninggalkannya untuk keperluan apa saja, termasuk pergi kerja pada dasarnya hukumnya adalah ibahah (boleh), bahkan sangat dianjurkan untuk merawat dan memupuk rasa cinta. Perbuatan itu malah bernilai ibadah jika diniatkan untuk memenuhi ketentuan Allah:

“Dan pergaulilah isteri-isterimu dengan ma’ruf (dengan baik).” (an-Nisa’ [4]: 17).

Salah satu cara melakukan mu’asyarah bil ma’ruf adalah mencium. Karenanya, kebiasaan Anda mencium istri tidak salah dan dibenarkan syariah, bahkan bisa mendatangkan dua keuntungan sekaligus, yaitu kenikmatan dunia dan pahala akhirat.

Kebiasaan mencium istri juga dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), bahkan di bulan Ramadhan. Dalam hal ini, istri beliau sendiri, ‘Aisyah yang menjelaskan: “Rasulullah SAW mencium dan menyentuhnya dalam keadaan puasa.” (Riwayat Muslim). Dalam riwayat yang lain disebutkan,“Beliau menciumnya pada bulan Ramadhan dan beliau sedang berpuasa.”

Dari istri yang lain, Umi Salamah RA meriwayatkan: “Nabi SAW mencium istrinya dalam keadaan berpuasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Umar bin Abi Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW, bolehkah orang yang sedang berpuasa mencium? “Tanya saja pada orang ini (sambil menunjuk Umi Salamah),” jawab Rasulullah SAW. Kemudian Umi Salamah memberitahu bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Lalu Umar bin Abi Salamah berkata: “Dosamu telah diampuni, baik yang lalu maupun yang akan datang.” Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, akulah orang yang paling bertakwa dan takut kepada-Nya.” (Riwayat Muslim).

Atas dasar beberapa Hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa mencium istri di siang hari di bulan Ramadhan itu boleh dan tidak ada halangan untuk melakukannya. Tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa jika mencium itu dilakukan dengan disertai syahwat, maka hukumnya menjadi makruh karena esensi puasa itu salah satunya adalah menahan syahwat.

Ulama yang kedua itu menguatkan pendapatnya, bahwa Nabi ketika mencium istrinya di bulan Ramadhan tidak disertai syahwat. Bukankah Nabi adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya? Yang demikian itu sulit dilakukan manusia biasa, seperti kita.

Dari penjelasan di atas, kami menyarankan kepada Anda untuk menahan diri agar tidak mencium istri di bulan Ramadhan, karena dikhawatirkan ketika mencium dapat merangsang syahwat dan menimbulkan keinginan untuk melakukan hubungan suami istri yang sangat dilarang dilakukan pada siang hari di bulan Ramadhan. Apalagi Anda termasuk pasangan baru yang kemungkinan terjadinya hal tersebut sangat besar.
========================

Hubungan Intim Selama Puasa

Hubungan Intim Selama Bulan Puasa – Sebelum kita bahas hal apa yang boleh maupun tidak boleh yang dilakukan pasutri selama bulan ramadhan ada baiknya kita pahami terlebih dahulu dasar hukumnya hubungan Intim selama bulan puasa raamadhan, karena yang akan kita bahas berkaitan erat dengan masalah ibadah yang diwajibkan untuk ummat Islam yang telah balig dan tidak ada halangan padanya:

Dasar Hukum, Firman ALLOH SWT dalam Al Quran: surah al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. (QS:al-Baqarah ayat 187).

Dari penjelasan di atas sudah jelas tidak ada pantangan bagi pasangan suami isteri untuk tetap melakukan ritual hubungan intim selama bulan puasa ramadhan, namun hal yang patut untuk dipahami hanyalah kapan waktu yang tepat ritual hubungan intim itu dilakukan.

Tips waktu yang tepat hubungan intim selama bulan puasa

Hubungan intim adalah bagian dari nafsu syahwat manusia yang tetap wajib untuk disalurkan dan tetap halal dilakukan selama bulan puasa mengikuti aturan waktu layaknya kita menahan makan dan minum yang diawali saat imsyak dan berbuka pada saat memasuki waktu magrib. Hanya masalah waktu saja yang membedakan saat hubungan intim boleh dilakukan. Bagi anda pasangan suami isteri yang dalam rutinitas keseharian memiliki waktu khusus yang telah menjadi kesepakan bersama dalam hal hubungan intim yang pada rentang waktu larangan selama ibadah bulan puasa ramadhan tentu wajib hukumnya untuk merubah kebiasaan tersebut, misalnya ada kebiasaan make love pada pagi hari, siang hari atau sore hari tentunya harus menggeser waktu kebiasaan make love tersebut selama bulan puasa ramadhan menjadi waktu yang dibolehkan atau dihalalkan yaitu lepas magrib hingga waktu sahur.

Menahan nafsu syahwat selama bulan puasa ramadhan dengan tidak melakukan hubungan intim sama sekali justru merupakan hal yang tidak bijak dan akan memperberat ibadah puasa yang anda lakukan, dan bukan tidak mungkin kualitas puasa yang kita lakukan menjadi terganggu oleh pikiran dan dorongan nafsu biologis yang tidak bisa anda salurkan.

Ditinjau dari sisi kesehatan hubungan intim memerlukan energi yang cukup dan sebaiknya minimal 1-2 setelah makan dimana metabolisme tubuh sudah bisa menghasilkan energi dari asupan makanan yang diserap oleh tubuh. Bila berkaitan dengan waktu selama bulan puasa sebaiknya anda atur 2-3 jam setelah berbuka atau selepas tarawih.

Hubungan intim selama bulan puasa ramadhan dengan pilihan waktu yang tepat dan dihalalkan justru akan menambah khusuk ibadah puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh.

berbagai sumber
wallahua’lam

Views All Time
Views All Time
903
Views Today
Views Today
6
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

1 Comment on hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan …. selama berPUASA (SHAUM) ———————————– LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA ——————– من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai) ———————- Faedah Pembahasan : Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah. ———————- Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda: “Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim) ——————- Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan. ———————— LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I ———————– Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.” ————- Faedah Pembahasan : Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya. —————————- Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan ——————— Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa. ———————– Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali. ——————————- Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa ——————– Syarat wajib Puasa ——————- Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 : Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan . Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}. ———— Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk. ———————–

  1. “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. (QS:al-Baqarah ayat 187).

Leave a Reply