Loading
DAGING dari HEWAN yang HALAL di MAKAN, juga SIFAT, MANFAAT dan BAHAYA-nya ————————- Allah SWT berfirman : “Dan kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (QS. Ath-Thuur : 22)————- Allah juga berfirman : “Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waaqi’ah : 21)————- Ibnu Majah dalam sunan-nya meriwayatkan dari hadits Abu Darda bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk surga adalah daging.” Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan penduduk Surga adalah daging.”—————- Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan akhirat adalah daging.” Dalam shahih diriwayatkan, “Keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua makanan lainnya.” Tsarid adalah roti dan daging. Seorang penyair menyatakan : Saat kita menyantap roti dengan daging, Maka itu adalah amanah dari Allah, itulah tsarid.———— Zuhri menyatakan, “Memakan daging dapat meningkatkan stamina sampai tujuh puluh kali lipat.” Muhammad bin Wasi’ menandaskan, “Daging meningkatkan daya penglihatan.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Makanlah daging, karena daging dapat mencerahkan warna kulit, mengecilkan perut dan memperindah tubuh.”———– Nafi berkata, “Jika bulan Ramadhan tiba, Ibnu ‘Umar tidak pernah meninggalkan daging. Jika bepergian, ia tidak pernah lupa membawa daging.” Diriwayatkan juga dari Ali bahwa berliau berkata, “Barangsiapa meninggalkan makan daging selama empat puluh hari, akhlaknya akan menjadi buruk.”— Adapun hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ menyebutkan, “Janganlah memotong daging dengan pisau, karena itu adalah kebiasaan orang-orang ‘Ajam. Gigit saja, itu lebih enak dan lebih memuaskan.”———– Imam Ahmad menyanggah riwayat ini dengan sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau juga memotong daging dengan pisau, yaitu dalam dua hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.————- Daging sendiri bermacam-macam. Masing-masing dibedakan berdasarkan asal dan karakternya. Kami akan menjelaskan hukum masing-masing jenis, sifat, manfaat dan bahayanya. — | Islam dan Sains-Edy

DAGING dari HEWAN yang HALAL di MAKAN, juga SIFAT, MANFAAT dan BAHAYA-nya ————————- Allah SWT berfirman : “Dan kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (QS. Ath-Thuur : 22)————- Allah juga berfirman : “Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waaqi’ah : 21)————- Ibnu Majah dalam sunan-nya meriwayatkan dari hadits Abu Darda bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk surga adalah daging.” Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan penduduk Surga adalah daging.”—————- Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan akhirat adalah daging.” Dalam shahih diriwayatkan, “Keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua makanan lainnya.” Tsarid adalah roti dan daging. Seorang penyair menyatakan : Saat kita menyantap roti dengan daging, Maka itu adalah amanah dari Allah, itulah tsarid.———— Zuhri menyatakan, “Memakan daging dapat meningkatkan stamina sampai tujuh puluh kali lipat.” Muhammad bin Wasi’ menandaskan, “Daging meningkatkan daya penglihatan.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Makanlah daging, karena daging dapat mencerahkan warna kulit, mengecilkan perut dan memperindah tubuh.”———– Nafi berkata, “Jika bulan Ramadhan tiba, Ibnu ‘Umar tidak pernah meninggalkan daging. Jika bepergian, ia tidak pernah lupa membawa daging.” Diriwayatkan juga dari Ali bahwa berliau berkata, “Barangsiapa meninggalkan makan daging selama empat puluh hari, akhlaknya akan menjadi buruk.”— Adapun hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ menyebutkan, “Janganlah memotong daging dengan pisau, karena itu adalah kebiasaan orang-orang ‘Ajam. Gigit saja, itu lebih enak dan lebih memuaskan.”———– Imam Ahmad menyanggah riwayat ini dengan sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau juga memotong daging dengan pisau, yaitu dalam dua hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.————- Daging sendiri bermacam-macam. Masing-masing dibedakan berdasarkan asal dan karakternya. Kami akan menjelaskan hukum masing-masing jenis, sifat, manfaat dan bahayanya. —

DAGING dari HEWAN yang HALAL di MAKAN, juga SIFAT, MANFAAT dan BAHAYA-nya
————————-
Allah SWT berfirman :

“Dan kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (QS. Ath-Thuur : 22)————-

Allah juga berfirman :

“Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waaqi’ah : 21)————-

                Ibnu Majah dalam sunan-nya meriwayatkan dari hadits Abu Darda bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk surga adalah daging.”

                Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan penduduk Surga adalah daging.”—————-

                Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan akhirat adalah daging.” Dalam shahih diriwayatkan, “Keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua makanan lainnya.”

                Tsarid adalah roti dan daging. Seorang penyair menyatakan :

                                Saat kita menyantap roti dengan daging,

                Maka itu adalah amanah dari Allah, itulah tsarid.————

Zuhri menyatakan, “Memakan daging dapat meningkatkan stamina sampai tujuh puluh kali lipat.” Muhammad bin Wasi’ menandaskan, “Daging meningkatkan daya penglihatan.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Makanlah daging, karena daging dapat mencerahkan warna kulit, mengecilkan perut dan memperindah tubuh.”———–

                Nafi berkata, “Jika bulan Ramadhan tiba, Ibnu ‘Umar tidak pernah meninggalkan daging. Jika bepergian, ia tidak pernah lupa membawa daging.” Diriwayatkan juga dari Ali bahwa berliau berkata, “Barangsiapa meninggalkan makan daging selama empat puluh hari, akhlaknya akan menjadi buruk.”—

                Adapun hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ menyebutkan, “Janganlah memotong daging dengan pisau, karena itu adalah kebiasaan orang-orang ‘Ajam. Gigit saja, itu lebih enak dan lebih memuaskan.”———–

                Imam Ahmad menyanggah riwayat ini dengan sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau juga memotong daging dengan pisau, yaitu dalam dua hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.————-

                Daging sendiri bermacam-macam. Masing-masing dibedakan berdasarkan asal dan karakternya. Kami akan menjelaskan hukum masing-masing jenis, sifat, manfaat dan bahayanya. —

  1. Daging Domba

Sifatnya panas pada tingkatan kedua, namun basah pada tingkatan pertama. Yang terbaik adalah daging domba yang sudah berusia satu tahun. Berkhasiat menambah darah bersih yang memperkuat tubuh bagi orang yang pencernaannya baik, memperbaiki metabolisme dingin dan stabil, baik bagi penggemar olah raga berat di berbagai tempat dan di berbagai musim yang dingin. Juga berkhasiat bagi mereka yang kelebihan enxim serta menguatkan daya ingat. Namun daging domba yang sudah tua dan lemah tidak sehat, demikian juga daging domba betina.

Yang paling baik adalah daging domba jantan berwarna hitam. Lebih ringan, tetapi lebih lezat dan lebih berkhasiat. Daging domba yang sudah dikebiri lebih baik lagi. Yang berwarna merah dan gemuk lebih ringan di perut serta lebih bergizi. Daging kambing biasa lebih sedikit gizinya dan mengapung dalam perut.

Daging yang paling baik adalah yang paling jauh dari tulang. Bagian kanan lebih lunak dan lebih baik kualitasnya untuk lambung daripada bagian kiri. Bagian depan lebih baik daripada bagian belakang. Bagian kambing yang paling disukai oleh Rasulullah adalah bagian depan, juga semua bagian atas selain kepala, karena sifatnya lebih ringan dan lebih baik kualitasnya daripada bagian bawah. Al-Farzdaq pernah memberikan daging kepada seorang lelaki yang membeli daging, “Ambil bagian depannya dan jauhi bagian kepala serta perut, karena penyakit ada pada kedua bagian itu.”

Daging leher juga lezat dan baik, mudah dicerna dan cukup ringan. Daging lengan lebih ringan dan lebih lezat, lebih lembut, lebih bersih dan paling cepat dicerna. Dalam shahih Bukhari Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat suka dengan daging paha.

Daging punggung sangat bergizi, dapat menambah darah bersih. Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan secara marfu’, “Daging terbaik adalah daging punggung.”

Daging kambing bandot kurang panas dan agak kering. Tetelannya tidak baik dan kurang baik untuk pencernaan, gizinya rendah. Daging kambing betina jelek, sangat kering, sulit dicerna dan dapat menghasilkan tetelan kehitaman.

Al-Jahizh menyatakan bahwa salah seorang dokter terkemuka berkata kepadaku, “Hai Abu Utsman, hendaknya engkau berhati-hati memakan daging kambing jantan. Karena daging itu dapat menyebabkan kemurungan, mempergolak unsur hitam, menimbulkan penyakit lupa, merusak darah dan –demi Allah- merusak keturunan.”

Sebagian kalangan medis menyatakan, “Yang tidak baik dari jenis kambing jantan adalah yang sudah berumur, terutama yang sudah lebih dari dua tahun. Namun tidak berbahaya bagi yang biasa memakannya.” Galineus menganggap kambing berumur satu tahun sebagai makanan yang stabil dan mampu menstabilkan enzim dalam perut yang baik untuk pencernaan. Daging kambing betina lebih baik daripada daging kambing jantan. Nasa’i meriwayatkan dalam sunan-nya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersada, “Rawatlah kambing jantan baik-baik dan jauhkan ia dari gangguan binatang lain, karena kambing jantan adalah hewan surga.”

Namun, keshahihah hadits ini masih dipertanyakan.

Ahli kesehatan membenarkan bahwa kambing jenis itu termasuk berbahaya. Namun justifikasi itu bersifat khusus, tidak bersifat umum, yakni hanya untuk lambung yang lemah dan pencernaan yang kurang baik, juga bagi yang belum terbiasa mengkonsumsi makanan berserat. Mereka adalah penduduk perkotaan yang borjuis, yang tentu saja minoritas dari masyarakat yang ada.

  1. Daging kambing muda

Sifatnya nyaris stabil, terutama jika masih menyusu, tapi bukan yang baru lahir. Dagingnya mudah dicerna karena mengandung energi susu, mengencerkan kotoran, sangat cocok bagi kebanyakan orang pada kondisi secara umum lebih lembut daripada daging unta. Darah yang dihasilkan oleh daging inipun bersifat netral.

  1. Daging sapi

Sifatnya dingin dan kering, sulit dicerna, sangat sulit turun ke lambung, menambah darah hitam, tetapi hanya baik bagi orang yang kelelahan. Terlalu banyak mengkonsumsi daging sapi dapat menimbulkan penyakit karena unsur hitam seperti panu, kudis, gatal-gatal bahkan lepra, penyakit gajah, kanker dan was-was, demam serta berbagai pembengkakan. Itu berlaku bagi orang yang belum terbiasa atau tidak dapat mengantisipasi bahayanya, misalnya dengan merica atau dengan bawang putih, jahe dan sejenisnya. Daging sapi jantan lebih dingin, sementara yang betina lebih kering.

Daging anak sapi, terutama yang gemuk, termasuk daging paling bergizi, paling baik, paling lezat dan paling berkhasiat. Sifatnya panas dan lembab. Jika dicerna dengan baik, dapat memberi masukan gizi yang baik sekali.

  1. Daging kuda

Dalam shahih Bukhari Muslim diriwayatkan sebuah hadits shahih dari Asma radhiallahu ‘anha bahwa ia menceritakan, “Pada masa hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kami pernah menyembelih seekor kuda lalu memakannya.” Diriwayatkan juga dengan shahih bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membolehkan makan daging kuda, tapi melarang daging keledai. Ada hadits tidak shahih dari Miqdan bin Ma’diyakrib bahwa rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang makan daging kuda. Ini diriwayatkan Abu Dawud dan yang lainnya dari kalangan ahli hadits.

Disebutkan daging kuda secara bersamaan dengan daging bighal, keledai, bukan berarti hukum dagingnya sama dalam segala sisi. Hukumnya berkaitan dengan pembagian dalam harta rampasan yang juga tidak sama. Allah sering menyebutkan secara bersamaan beberapa hal yang bertentangan . firman Allah: “… agar kalian mengendarainya tidak berarti daging hewan itu tidak boleh dimakan.” Ayat itu juga tidak melarang kuda untuk digunakan selain untuk dikendarai, asalkan dimanfaatkan untuk keperluan lain. Ayat itu menegaskan fungsi kuda yang paling pokok, yakni untuk dikendarai. Dua hadits yang menegaskan halalnya daging kuda adalah shahih. Tidak ada hadits yang bertentangan dengan kedua hadits tersebut.

Daging kuda bersifat panas dan kering, tebal dan agak hitam, berbahaya dan tidak cocok untuk badan yang halus.

  1. Daging unta

Perbedaan antara Syi’ah dan Ahlu Sunnah sebagaimana perbedaan antara kaum yahudi dengan kaum Muslimin adalah bahwa baik yahudi maupun rafidhah sama-sama mencela unta dan tidak mau memakan dagingnya padahal sudah jelas dalam agama Islam bahwa unta itu halal. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau pernah memakannya baik pada saat bepergian maupun ketika tidak sedang bepergian.

Daging anak unta termasuk daging paling enak dan paling berkhasiat, bahkan paling banyak gizinya, tentunya bagi yang sudah terbiasa memakannya. Sama halnya dengan daging domba, sama sekali tidak berbahaya dan tidak menyebabkan penyakit. Namun para ahli kesehatan menganggapnya tidak baik bagi mereka yang tidak terbiasa makan daging unta karena daging unta mengandung unsur kering dan panas, dapat menambah darah hitam dan agak sulit dicerna.

Daging unta mengandung energi yang kurang baik. Karena itu Rasulullah menyuruh kita berwudhu setelah makan daging unta. Tidak benar jika berwudhu di situ diartikan dengan membasuh tangan karena hal itu bertentangan dengan istilah baku tentang wudhu menurut sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri membedakan antara daging unta dengan daging kambing. Setelah makan daging kambing, orang berwudhu atau tidak berwudhu. Tetapi setelah makan daging unta orang wajib berwudhu. Jika berwudhu di sini ditafsirkan membasuh tangan, maka tentu demikian juga tafsir atas sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.”

Memakan daging unta, tidak selalu menggunakan tangan, misalnya ketika orang disuapi. Jika ini masih juga dituntut untuk membasuh tangan, tentunya itu suatu kesia-siaan, sama halnya menafsirkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menurut pengertiannya yang wajar.

Tidak tepat jika kedua hadits di atas dipertentangkan dengan hadits, “Akhir dari dua kebiasaan Rasulullah adalah tidak berwudhu lagi setelah makan daging yang dimasak dengan api.” Hal itu berdasarkan beberapa hal.

Pertama: karena hadits ini bersifat umum, sedangkan perintah untuk wudhu setelah makan daging unta bersifat khusus.

Kedua: sasarannya memang berbeda. Perintah berwudhu berkaitan dengan makan daging unta, baik yang mentah maupun yang dimasak atau yang sudah dibuat dendeng sekalipun. Kenyataan bahwa daging yang sudah tersentuh api tidak membawa pengaruh apa-apa. Adapun tidak berwudhu setelah menyantap daging yang sudah dimasak dengan api mengandung penjelasan bahwa sentuhan api bukanlah faktor yang mengharuskan berwudhu. Maka mana hubungan antara keduanya ? kasus pertama mengandung faktor yang mengharuskan berwudhu, yakni memakan daging unta, sedangkan kasus kedua meniadakan faktor penyebab wudhu, yakni keberadaan daging yang sudah dimasak dengan api. Di antara keduanya tidak ada kontradiksi pada sisi manapun.

Ketiga : Hadits itu tidak memuat pembicaraan dengan lafal umum dari Allah yang menetukan syariat, melainkan hanya memberitakan kejadian dua macam perbuatan, yang pertama dilakukan mendahului yang lain, sebagaimana sudah dijelaskan dalam hadits itu sendiri: “Mereka menghidangkan kembali daging itu kepada Rasulullah, lalu beliau memakannya. Setelah itu beliau shalat tanpa wudhu lagi setelah memakan daging yang sudah dimasak dengan api.”

Demikianlah disebutkan dalam hadits, namun perawi hadits menyebutkan secara ringkas, untuk mengambil bagiannya sebagai dalil saja. Maka bagaimana mungkin hadits ini dijadikan sebagai dalil yang me-mansukh-kan perintah berwudhu? Seandainya dalil itu merupakan dalil umum dan terakhir kali diriwayatkan, tetap tidak sah dijadikan sebagai dalil yang memansukh-kan. Dalil yang bersifat khusus harus didahulukan.

  1. Daging biawak padang pasir

Sebelumnya telah disebutkan hadits yang menghalalkan daging biawak. Daging biawak ini bersifat panas dan kering, dapat meningkatkan gairah seks.

  1. Daging kijang

Kijang adalah binatang buruan yang terbaik, paling enak dagingnya, sifatnya panas dan kering. Ada yang mengatakan sifatnya sangat netral, berkhasiat bagi tubuh yang stabil dan sehat. Daging anak kijang adalah yang terbaik dari jenis binatang ini.

  1. Daging rusa

Sifat daging ini panas dan kering pada tingkatan pertama, mengeringkan tubuh, sangat cocok untuk tubuh yang cenderung basah. Penulis Al-Qaanuun menandaskan, “Di antara binatang liar yang paling baik dagingnya adalah rusa, meskipun cenderung kehitaman.

  1. Daging Kelinci

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari Muslim dari Anas bin Malik yang menceritakan : “Kami pernah kehilangan kelinci. Akhirnya kami kirim orang untuk mencarinya kembali sampai berhasil kami tangkap. Abu Thalhah mengirimkan bagian pinggul kelinci itu yang telah dimasak, lalu beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam menerimanya.”

Daging kelinci cenderung panas dan kering. Bagian yang terbaik adalah bagian pinggul. Lebih baik lagi jika dipanggang. Daging ini dapat memperkuat otot perut, melancarkan buang air kecil dan menghancurkan batu ginjal. Kepalanya, jika dimakan, dapat membantu mengatasi kedinginan.

  1. Daging keledai liar

Diriwayatkan dengan Shahih dalam Shahih Bukhari Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa mereka pernah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, berburu keledai liar, lalu beliau memerintahkan mereka memakannya, padahal mereka sedang berihram. Abu Qatadah sendiri tidak sedang berihram.”

Ibnu Majah dalam sunan-nya meriwayatkan dari Jarir bahwa ia menceritakan, “Kami pernah makan kuda dan keledai liar dalam perang Khaibar.” Dagingnya bersifat kering dan panas, sangat bergizi, dapat menambah darah kental dan merah. Lemaknya, jika dicampur dengan minyak kayu cendana, juga berkhasiat mengobati sakit gigi, angin duduk serta angin yang mengganggu ginjal. Lemaknya, jika dilumurkan, baik untuk mengobati penyakit kulit. Secara umum, daging binatang liar dapat menambah darah. Yang terbaik adalah daging kijang, baru kemudian daging kelinci.

  1. Daging janin ternak

Daging ini tidak bagus, karena ada banyak darah mengendap di dalamnya. Hukumnya tidak haram, karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sembelihan janin sudah termasuk dalam sembelihan induknya.”

Penduduk Iraq menolak makan daging ini, kecuali jika mereka mendapatkannya dalam keadaan hidup lalu menyembelihnya terlebih dahulu. Mereka menafsirkan hadits di atas dengan ‘menyembelihnya sebagaimana sembelihan yang dilakukan terhadap ibunya’. Mereka berkata bahwa hadits di atas merupakan hujjah atas keharamannya.

Alasan itu tidak tepat karena hadits itu muncul ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah ! kami menyembelih seekor kambing, tiba-tiba kami mendapatkan janin di perutnya, apakah kami boleh memakan daging janin itu?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawaba, “Makanlah kalau kalian mau karena sembelihan janin sudah termasuk dalam sembelihan induknya.”

Metode qiyas juga membawa konsekuensi bahwa janin itu halal, selama ia ada dalam kandungan, karena ia adalah bagian dari tubuh induknya. Sebagaimana sembelihan sang induk berlaku untuk seluruh organ tubuhnya. Itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya, “… sembelihan janin sudah termasuk sembelihan induknya.” Seandainya tidak ada hadits yang tegas pun, qiyas yang shahih sudah cukup untuk menetapkan kehalalannya. Semoga Allah memberikan taufik-Nya.

  1. Daging dendeng

Dalam sunan disebutkan hadits Bilal bahwa ia menceritakan “Dalam suatu perjalanan kami pernah menyembelih seekor binatang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata, ‘Awetkan dagingnya.’ Aku terus saja makan daging tersebut hingga sampai di Madinah.”

Dendeng termasuk makanan awetan terbaik, berkhasiat menguatkan tubuh tapi juga dapat menimbulkan gatal. Abazir yang dingin dan lembab dapat mengatasi efek sampingnya. Dendeng dapat memperbaiki sistem metabolisme yang panas. Makanan awetan memang bersifat panas, kering dan dingin. Berbahaya jika dicampur dengan minyak samin karena dapat menimbulkan mencret, namun dapat diatasi dengan cara memasaknya bersama susu dan minyak. Dendeng juga berkhasiat memperbaiki sistem metabolisme panas dan lembab.

  1. Daging burung

Allah SWT berfirman :

“Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah : 21)

Dalam kitab Musnad Bazzar disebutkan secara marfu’, “Nanti di surga kalian akan melihat burung lalu timbullah selera kalian. Saat itu juga burung itu akan menukik ke bawah dan terhidang dalam keadaan sudah dipanggang di hadapan kalian.”

Daging burung ada yang halal juga ada yang haram. Yang haram adalah daging burung yang memiliki cakar penyambar mangsa seperti elang, garuda, rajawali dan sejenisnya. Demikian juga daging burung yang memakan bangkai, seperti nasar, heriang, bangau, burung magpie, gagak hitam dan sejenisnya. Demikian juga burung yang dilarang membunuh seperti burung hud-hud dan suradi. Juga daging burung yang harus dibunuh, seperti burung bangkai dan burung gagak.

Burung yang halal dagingnya bermacam-macam di antaranya ayam. Dalam shahih Bukhari Muslim diriwayatkan dari hadits Abu Musa radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memakan daging ayam betina.

Sifat daging unggas atau burung panas dan basah pada tingkatan pertama, ringan di lambung, mudah dicerna, baik. Pencernaan, menambah sumsum dan hormon, menjernihkan suara, mencerahkan warna kulit, memperkuat otak dan menambah segar. Sifatnya cenderung basah. Ada pendapat keliru bahwa mengkonsumsi ayam dapat menyebabkan encok.

Daging ayam jantan lebih panas komposisinya, namun agak kurang basah. Yang lebih tua umurnya berkhasiat mengobati mencret, asma, angin duduk, jika dimasak dengan bunga saf (safflover), kayu manis dan pellicle. Daging ayam jantan, yang sudah di kebiri sangat tinggi gizinya dan mudah dicerna. Daging ayam broiler lebih mudah dicerna dan dapat memperlunak kotoran. Darah yang dihasilkan daging ini juga sangat lembut dan baik.

  1. Daging Durraj

Sifatnya panas dan kering pada tingkatan kedua, sangat ringan, mudah dicerna dan menghasilkan darah netral. Terlalu banyak megkonsumsi daging ini bisa melemahkan penglihatan.

  1. Daging puyuh

Daging ini mudah dicerna berkhasiat menambah darah.

  1. Daging angsa

Bersifat panas dan kering, kurang gizi, tidak baik kecuali yang sudah terbiasa, tapi tidak banyak ampasnya.

  1. Daging bebek

Sifatnya panas dan kering, sedikit gizinya dan berserat. Karena sulit dicerna, ia tidak baik untuk lambung.

  1. Daging kalkun

Dalam sunan diriwayatkan dari hadits Burayah bin Umar bin Safinah, dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia menceritakan, “Aku pernah memakan daging kalkun bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Sifatnya panas dan kering, sulit dicerna namun berkhasiat untuk penggemar olahraga dan orang yang kelelahan.

  1. Daging camar

Sifatnya kering dan ringan. Ada perbedaan pendapat mengenai sifat atau dinginnya. Dapat menambah darah hitam, cocok untuk orang yang kelelahan atau pekerja berat. Setelah disembelih, sebaiknya dibiarkan hingga satu atau dua hari, baru kemudian dimakan.

  1. Daging anak burung bluefish/ikan biru

Nasa’i meriwayatkan dalam sunan-nya dari hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang membunuh meski hanya seekor anak burung atau yang lebih kecil dari itu tanpa hak, maka ia pasti akan ditanya oleh Allah.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa haknya?” beliau menjawab, “Haknya adalah hendaklah kalian menyembelihnya lalu memakannya. Jangan kalian sembelih, lalu kalian buang.” (yakni dimakan sebagai makanan biasa atau sebagai obat).

Dalam kitab yang sama juga disebutkan juga dari Amru bin Syuraid, dari ayahnya bahwa ia menceritakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa membunuh anak burung untuk bermain-main saja, maka sang burung akan menghadap Allah dan berkata, “Sesungguhnya si Fulan membunuh saya untu bermain-main saja, bukan untuk keperluan tertentu.”

Dagingnya kering dan panas, dapat mengeraskan kotoran dan menambah stamina. Kuahnya dapat melunakkan kotoran dan berkhasiat memperkuat sendi tulang. Jika dimakan bersama jahe dan bawang merah, dapat memperkuat gairah seks. Namun tetelannya tidak baik.

  1. Daging merpati

Sifatnya panas dan basah. Merpati liar lebih sedikit tingkat kebasahannya. Namun anak burung merpati justru lebih basah terutama yang dipelihara dalam kandang. Burung merpati yang sedang berkembang (agak besar) lebih ringan dagingnya dan lebih bergizi. Daging merpati jantan mengandung obat untuk mengatasi Anestesi, stroke dan kedinginan. Demikian juga, sekadar menghirup napas burung ini sudah berkhasiat. Anak burung merpati juga. Berkhasiat untuk kaum wanita, baik untuk ginjal dan menambah darah.

Berkenaan dengan masalah yang sama, ada sebuah hadits palsu bahwa seorang lelaki datang mengadu kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam karena dia kesepian. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cari saja sepasang merpati.” Hadits terbaik dalam masalah ini adalah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang lelaki mengikuti seekor burung merpati. Beliau bersabda, ‘setan laki-laki mengikuti setan perempuan.’

Utsman bin Affan dalam khutbahnya pernah memerintahkan membunuh sekawanan anjing dan menyembelih burung merpati.

  1. Daging burung sriti

Sifatnya panas dan kering dapat menghasilkan unsur hitam pada darah dan mempersulit buang air besar. Daging ini termasuk yang paling rendah gizinya, tapi berkhasiat mengobati penyakit busung lapar.

  1. Daging Sumana (sejenis ayam kalkun)

Sifatnya panas dan kering memperbaiki persendian, namun berbahaya bagi lever panas. Cuka buah ketumbar (yakni sejenis tumbuhan dalam bahasa arabnya, “Kuzbarah”. Termasuk jenis bumbu kering) dapat dikonsumsi untuk mengatasi bahayanya. Unggas dari daerah lumpur atau tempat-tempat jorok sebainya dihindari.

Daging unggas lebih mudah dicerna daripada daging binatang lain. Namun makin mudah dicerna suatu bagian, makin sedikit kandungan gizinya, misalnya bagian leher dan sayap. Otak unggas lebih baik daripada otak binatang ternak lainnya.

  1. Daging belalang

Dalam Sahih Bukhari Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Aufa bahwa ia menceritakan, “Kami pernah berperang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam tujuh kali peperangan, di mana kami makan daging belalang.”

Sementara Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang mengatakan:

“Dihalalkan dua macam bangkai dan dua macam darah kepada kami. Yaitu, bangkai ikan dan bangkai belalang, hati dan limpa.”

Sifat daging belalang kering, panas dan kurang bergizi. Terlalu banyak makan daging belalang membuat badan kurus. Jika dibakar untuk pengharum ruangan, dapat mempermudah dan menuntaskan buang air kecil, terutama bagi kaum wanita. Juga dapat digunakan untuk mengobati ambien. Belalang gemuk dan tidak bersayap jika dibakar dan dimakan berkhasiat mengobati luka sengatan kalajengking. Namun daging binatang ini sangat berbahaya untuk penderita sawan (epilepsi) atau orang yang pencernaannya kurang baik.

Ada dua pendapat berkenaan dengan dimubahkannya bangkai belalang jika mati tanpa sebab tertentu. Sebagian besar ulama menghalalkannya, namun Imam Malik mengharamkannya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai dibolehkannya belalang yang mati karena sebab tertentu, misalnya karena terjepit, terbakar dan sejenisnya.

Sebaiknya seseorang tidak terus menerus makan daging karena dapat menyebabkan darah tinggi, kegemukan atau demam berat. Umar bin Khatab  berpesan, “Hati-hatilah memakan daging. Daging bisa berbahaya sebagaimana minuman keras. Allah tidak menyukai penghuni rumah yang penuh dengan daging.”

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’. Hipokrates menyebutkan, “Jangan biarkan perut kalian menjadi kuburan binatang.”

 

Sumber : Thibbun Nabawi. Penulis : Ibnul Qayyim Al-Jauziyah.

Views All Time
Views All Time
991
Views Today
Views Today
1
About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

1 Comment on DAGING dari HEWAN yang HALAL di MAKAN, juga SIFAT, MANFAAT dan BAHAYA-nya ————————- Allah SWT berfirman : “Dan kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (QS. Ath-Thuur : 22)————- Allah juga berfirman : “Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waaqi’ah : 21)————- Ibnu Majah dalam sunan-nya meriwayatkan dari hadits Abu Darda bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rajanya makanan penduduk dunia dan penduduk surga adalah daging.” Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan penduduk Surga adalah daging.”—————- Dalam hadits (marfu’) Buraidah disebutkan, “Sebaik-baik lauk di dunia dan akhirat adalah daging.” Dalam shahih diriwayatkan, “Keutamaan ‘Aisyah atas semua wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua makanan lainnya.” Tsarid adalah roti dan daging. Seorang penyair menyatakan : Saat kita menyantap roti dengan daging, Maka itu adalah amanah dari Allah, itulah tsarid.———— Zuhri menyatakan, “Memakan daging dapat meningkatkan stamina sampai tujuh puluh kali lipat.” Muhammad bin Wasi’ menandaskan, “Daging meningkatkan daya penglihatan.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Makanlah daging, karena daging dapat mencerahkan warna kulit, mengecilkan perut dan memperindah tubuh.”———– Nafi berkata, “Jika bulan Ramadhan tiba, Ibnu ‘Umar tidak pernah meninggalkan daging. Jika bepergian, ia tidak pernah lupa membawa daging.” Diriwayatkan juga dari Ali bahwa berliau berkata, “Barangsiapa meninggalkan makan daging selama empat puluh hari, akhlaknya akan menjadi buruk.”— Adapun hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu’ menyebutkan, “Janganlah memotong daging dengan pisau, karena itu adalah kebiasaan orang-orang ‘Ajam. Gigit saja, itu lebih enak dan lebih memuaskan.”———– Imam Ahmad menyanggah riwayat ini dengan sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau juga memotong daging dengan pisau, yaitu dalam dua hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.————- Daging sendiri bermacam-macam. Masing-masing dibedakan berdasarkan asal dan karakternya. Kami akan menjelaskan hukum masing-masing jenis, sifat, manfaat dan bahayanya. —

Leave a Reply