Loading
AL QURAN yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalamagama Yahudi dan Kristen. ——————– “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30] ————– Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini. —————— Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an. ——————– Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. —————— “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33) ———————- Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38) ——————- Langit yang mengembang (Expanding Universe) ——————- Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini: ——————- “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47) ————– Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. —————– Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup. ——- | Islam dan Sains-Edy

AL QURAN yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalamagama Yahudi dan Kristen. ——————– “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30] ————– Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini. —————— Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an. ——————– Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. —————— “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33) ———————- Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38) ——————- Langit yang mengembang (Expanding Universe) ——————- Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini: ——————- “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47) ————– Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. —————– Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup. ——-

AL QURAN yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalamagama Yahudi dan Kristen. -------------------- “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30] --------------   Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini. ------------------   Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an. --------------------   Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. ------------------   “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33) ----------------------   Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:  “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38) -------------------   Langit yang mengembang (Expanding Universe) -------------------  Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini: -------------------   “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47) --------------   Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. -----------------   Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup. -------

Download0
Stock
File Size1.23 MB
Create DateAugust 17, 2016
Download

AL QURAN yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam
pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalamagama Yahudi dan Kristen.
--------------------

Tetapi adalah salah jika orang mengira bahwa dalam sejarah
Islam, beberapa orang Islam mempunyai sikap yang berlainan
terhadap Sains. Memang terjadi bahwa pada suatu waktu,
kewajiban untuk belajar dan mengajar orang lain itu disalah
fahamkan, dan orang pernah berusaha memberhentikan
perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa
pada zaman kejayaan Islam, antara abad VIII dan abad XII M.
pada waktu orang membatasi perkembangan ilmu pengetahuan
dipersempit di negara-negara Kristen, banyak sekali
penyelidikan dan penemuan yang dilakukan orang di
Universitas-universitas Islam. Pada waktu itulah kita
dapatkan kebudayaan yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah)
perpustakaan Khalifah memuat 400.000 buku; Ibnu Rusyd
mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa
datang ke Qurtubah untuk belajar, seperti pada waktu ini
banyak orang belajar ke Amerika Serikat. Banyak
manuskrip-manuskrip lama sampai kepada kita dengan
perantaraan orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan kepada
negeri-negeri yang ditaklukkan. Banyak hutang kami
(orang-orang Barat) kepada pengetahuan Arab dalam matematika
(kata al jabar adalah kata Arab), astronomi, fisika dan
optik, geologi, ilmu tumbuh-tumbuhan (botanik), ilmu
kedokteran (Ibnu Sina) dan lain-lain. Untuk pertama kali
Sains mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam
pada abad pertengahan. Pada waktu itu manusia lebih
mempunyai jiwa keagamaan daripada sekarang, akan tetapi
dalam Dunia Islam hal tersebut tidak menghalangi seseorang
untuk menjadi orang yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains
adalah saudara kembar daripada agama, dan akan tetap begitu.

Dalam negara-negara Kristen, abad pertengahan adalah abad
stagnasi dan conformisme mutlak. Penyelidikan ilmiah
dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen, akan tetapi
oleh mereka yang mengaku mengabdi kepada agama-agama
tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi yang wajar daripada
ahli ilmu pengetahuan adalah untuk membalas dendam kepada
musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu berlangsung
sampai sekarang. Pada waktu ini, di negeri Barat, untuk
bicara tentang Tuhan di kalangan ilmuwan adalah janggal.
Sikap semacam ini juga terdapat dalam otak-otak yang muda
yang menerima pengetahuan dari universitas-universitas
Barat, termasuk otak-otak muda Islam.

Hal tersebut di atas adalah wajar karena ahli-ahli
pengetahuan Barat yang terkemuka selalu-mengambil sikap yang
ekstrim. Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu
kedokteran pada tahun-tahun akhir ini telah menulis dalam
satu buku tebal untuk awam, bahwa materi hidup itu tercipta
sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur elementer. Dan
bertitik tolak dari materi hidup yang sederhana itu, dengan
pengaruh bermacam-macan faktor luar, terbentuklah benda
hidup yang teratur dan secara berangsur-angsur akhirnya
menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia.

Tetapi orang yang memikirkan secara mendalam hasil-hasil
yang mengagumkan daripada Sains masa kini dalam bidang
"kehidupan" akan sampai kepada natijah (konklusi) yang
sebaliknya. Pertumbuhan yang terjadi sebelum munculnya
"kehidupan" serta pemeliharaan "kehidupan" itu akan nampak
sangat berbelit-belit (complicated). Lebih banyak kita
mengetahui perincian-perinciannya, lebih banyak pula kita
merasa heran dan takjub. Sesungguhnya jika kita mengetahui
perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih condong untuk
mengurangi unsur: "kebetulan" dalam fenomena "kehidupan."
Lebih banyak kita memiliki ilmu pengetahuan, khususnya
mengenai hal-hal yang sangat kecil, lebih menonjollah
argumentasi tentang adanya zat "pencipta." Tetapi manusia
bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan
ia menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan ide
tentang Tuhan dan ia menganggap remeh segala sesuatu yang
menghalangi kemauannya untuk kenikmatan dan kelezatan.
Itulah masyarakat materialis yang sekarang ini berkembang di
Barat.

Kekuatan spirituil manakah yang dapat menghadapi polusi
pemikiran para ahli pengetahuan modern sekarang?

Agama Kristen dan agama Yahudi telah menunjukkan
ketidak-mampuannya untuk membendung banjir materialisme
serta ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam
keadaan kacau balau, dan dari tahun ke tahun telah
menunjukkan daya tahan yang berkurang terhadap aliran yang
akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya dapat
melihat dalam agama Kristen klasik, suatu agama yang
diciptakan oleh manusia 2000 tahun yang lalu untuk
menegakkan kekuasaan sekelompok kecil manusia terhadap
manusia-manusia lain. Ia tidak dapat melihat dalam kitab
suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan
bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab suci Yahudi
Kristen memuat hal-hal yang keliru, yang kontradiksi dan
yang tidak sesuai dengan penemuan-penemuan ilmiah modern,
sehingga ia tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang oleh
kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua
sebagai keseluruhan.

Bagaimana kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang
Islam? Ia akan tertawa lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak
banyak mengetahui tentang agama. Sebagai kebanyakan kaum
terpelajar dari bermacam-macam agama, ia mempunyai
gambaran-gambaran yang salah tentang Islam.

Dalam hal ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama,
dengan mengecualikan sikap-sikap baru dari tingkatan
tertinggi daripada Gereja Katolik yang mulai menunjukkan
hormat kepada Islam. Islam di negara-negara Barat selalu
menjadi objek daripada "diffamation seculaire" (cemoohan
penganut-penganut secularisme). Semua orang, Barat yang
mempunyai pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa
sejarahnya, dogmanya dan tujuannya sudah jauh dibelokkan
orang. Kedua, dokumen-dokumen dalam bahasa-bahasa Barat
mengenai Islam yang sudah diterbitkan, tidak mempermudah
usaha seorang yang ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini
kita dapat mengecualikan beberapa penyelidikan-penyelidikan
yang sangat khusus.

Dalam hal mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam
Islam adalah sangat pokok (fundamental). Tetapi
bagian-bagian daripada Qur-an khususnya yang ada hubungannya
dengan hasil-hasil perkembangan Sains sering diterjemahkan
secara keliru atau ditafsirkan sedemikian rupa sehingga
seorang ahli Sains akan melancarkan kritik yang tidak tepat
terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar.

Ada satu hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang
tidak tepat dan penafsiran yang keliru (keduanya biasanya
terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau
dua abad yang lalu, pada waktu sekarang mengejutkan ahli
Sains yang menolak untuk mempertimbangkan secara serius,
suatu kata-kata yang diterjemahkan secara salah sehingga
memberi keterangan yang tak dapat diterima menurut
perkembangan Sains sekarang. Dalam bab tentang terjadinya
janin manusia, kita akan melihat contoh kekeliruan seperti
itu.

Mengapa terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an? Hal
ini terjadi oleh karena penterjemah-penterjemah modern
sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di
zaman dahulu, tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman
dahulu itu dapat dimaafkan jika mereka memilih satu daripada
beberapa arti kata bahasa Arab, oleh karena mereka tidak
mengerti arti yang benar daripada kata atau kalimat itu,
yaitu arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung
kemajuan pengetahuan kita tentang Sains. Dengan kata lain,
perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap terjemahan atau
tafsiran-tafsiran yang tak dapat dilaksanakan secara baik
pada suatu masa, karena sekarang kita sudah memiliki arti
kata-kata yang sebenarnya. Persoalan penterjemahan seperti
tersebut tidak timbul dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu
hanya khusus mengenai Qur-an.

Aspek-aspek ilmiah yang khusus untuk Qur-an itu sangat
mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa
dalam teks yang disusun semenjak lebih dari 13 abad, aku
dapat menemukan keterangan-keterangan tentang hal-hal yang
bermacam, yang sangat cocok dengan pengetahuan ilmiah
modern. Pada permulaannya aku sama sekali tidak percaya
dengan Islam. Aku mulai menyelidiki teks Qur-an dengan
pikiran yang bebas dari segala prasangka, dan dengan pikiran
obyektif. Jika ada faktor yang mempengaruhi aku, faktor itu
adalah pendidikan yang aku terima ketika aku masih muda,
pada waktu orang menamakan orang Islam dengan nama
"Mohametans" untuk memberi kesan bahwa Islam adalah agama
yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama
itu tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai kebanyakan
orang Barat, aku terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang
salah tentang Islam, dan aku merasa heran jika aku bertemu
dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman, di
luar kalangan para ahli (spesialis). Oleh karena itu aku
mengaku terus terang bahwa sebelum mempunyai gambaran
tentang Islam yang berlainan dengan gambaran orang Barat,
aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam, jika akhirnya
aku mengetahui bahwa penilaian Barat tentang Islam itu
salah, hal itu adalah karena kejadian-kejadian yang
istimewa. Di Saudi Arabialah aku menemukan bahan-bahan
apresiasi yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat
orang-orang Barat tentang Islam.

Aku berhutang budi besar kepada almarhum Sri Baginda Raja
Faisal yang aku hormati. Aku dapat mendengar daripadanya
keterangan-keterangan tentang Islam, dan aku dapat
membicarakan soal-soal penafsiran Qur-an mengenai Sains
modern. Semua itu tak akan dapat aku lupakan. Sesungguhnya
aku merasa mendapat kehormatan yang luar biasa dapat
menerima keterangan-keterangan dari Sri Baginda dan para
pengikut-pengikutnya.

Setelah aku dapat mengukur jurang yang memisahkan hakekat
Islam daripada image yang dimiliki oleh orang-orang Barat,
aku merasa ingin belajar bahasa Arab yang aku belum
mengerti, agar dapat membantu aku mempelajari agama yang
sangat tidak dikenal. Tujuanku yang pertama adalah untuk
membaca Qur-an, menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat,
dengan bantuan bermacam kitab tafsir yang sangat diperlukan
untuk penyelidikan yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan
memperhatikan keterangan-keterangan Qur-an tentang fenomena
alam. Ketepatan keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya,
yaitu hal yang hanya dapat ditemukan dalam teks original,
telah menarik perhatianku karena cocok dengan
konsepsi-konsepsi zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup
pada zaman Nabi Muhammad tidak dapat mempunyai ide
sedikitpun tentang hal tersebut. Kemudian aku membaca
beberapa buku karangan orang-orang Islam mengenai aspek
ilmiah daripada teks Qur-an. Buku-buku tersebut memuat
pengetahuan-pengetahuan yang sangat berfaedah, akan tetapi
aku belum pernah melihat di negara-negara Barat, suatu
penyelidikan yang menyeluruh tentang hal ini.
==========================

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]
--------------
Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.
------------------
Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.
--------------------
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
------------------
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
----------------------
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)
-------------------
Langit yang mengembang (Expanding Universe)
-------------------

Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
-------------------
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
--------------
Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
-----------------
Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
-------
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Ada lagi tafsir yang menyatakan bahwa bumi bergerak laksana awan itu adalah bumi kita bergerak. Tidak diam sebagaimana sangkaan orang dulu dan juga kita saat ini sebelum kita dapat pencerahan oleh guru-guru kita. Ternyata bumi bergerak. Baik karena berputar di porosnya (Rotasi) dan juga karena mengelilingi Matahari (Revolusi). Bersama-sama Matahari, bumi juga bergerak mengelilingi jagad raya ini.

Angin yang Mengawinkan Tumbuhan
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

Konsep Angin mengawinkan tumbuh-tumbuhan dengan menyebar serbuk sari belum dikenal orang-orang pada abat ke 7 Masehi. Baru diketahui abad-abad terakhir ini saja. Meski demikian, Allah telah menjelaskan itu lewat Al Qur’an!

Nubuwat Kemenangan Romawi atas Persia
“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]

Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II Dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.  Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.

Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817.Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.

Tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari keajaiban Al Qur’an yang ada dan ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Bagi yang ingin tahu lebih banyak silahkan baca buku referensi di bawah.

Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.

”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An Nisaa’:82]

Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.

About Edy Methek 211 Articles
sampaikanlah ... ayat-ayat Allah

Be the first to comment

Leave a Reply