Loading
Apapun | Islam dan Sains-Edy - Part 3

Ajaran sekuler… Ajaran PLURALISME .. mengaku MILLAH IBRAHIM ? pemBODOHan masyarakat AWAM …. ——————– Millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang. —————- Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. — شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ “Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13) ———— Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman. ————- Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran. ———— Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130. وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———– Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129. ———— Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41. ———– Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya. ———— Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——- 1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126) “Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. — Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman. ————— 2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—– Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural. ———- 3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128) ————- 4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128) ———– Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna. ——- 5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129) ——— 6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36) ——- 7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37) —— 8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37) ——– 9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) —— Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”. ———– 10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41) ———– Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia). ———- Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim, ——— sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut: وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———— Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya. وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124) ——— Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka. ————— Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”. ———- Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——– إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin) Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123) ———– Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya. ——— Dan pantas pulalah bahwa Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad untuk mengikuti Millah Ibrahim, dan memerintahkan agar Millah Ibrahim tersebut dijadikan sebagai arah perjuangan (Jihad) Ummat Muslimin, yang sebenar-benarnya Jihad di pihak Allah. وَجَـٰهِدُواْ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ‌ۚ هُوَ ٱجۡتَبَٮٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ۬‌ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۚ Dan berjihadlah (berjuanglah) kamu di pihak Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah menyeleksi kamu dan Dia sekali-kali tidak membebankan atas kamu sesuatupun kesempitan dalam agama ini. (perjuangkanlah) cita-cita leluhurmu Ibrahim …. (Al Hajj : 78)

August 29, 2016 Edy Methek 1

Ajaran sekuler… Ajaran PLURALISME .. mengaku MILLAH IBRAHIM ? pemBODOHan […]

seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss yang didalangi industry Holocaust. ———————– Mengungkap Kebohongan Peristiwa Holocaust Lewat Buku “The Holocaust Industry” ————————- Sebuah Resensi Buku dengan judul “The Holocaust Industry” karya Norman G. Finkelstein ——– Buku The Holocaust Industry menjadi buku laris di Eropa, Timur Tengah, Asia dan Amerika, dan sudah diterjemahkan kedalam 26 (dua puluh enam) bahasa di dunia. Buku ini mengungkap Penipuan dan Pemerasan Atas Nama Pembantaian Bangsa Yahudi. The Holocaust Industry oleh surat kabar Guardian, London dinobatkan sebagai ”buku paling heboh dan laris sepanjang tahun”. Dalam buku ini, Norman G Finkelstein, seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss yang didalangi industry Holocaust. Norman G Finkelstein adalah seorang Yahudi mengoyak-oyak pembenaran yang berpengaruh atas industry Holocaust. ———– Norman G Finkelstein saat ini mengajar ilmu politik di DePaul University di Chicago. Buku lain yang telah diterbitkan; “Image and Reality of Israel-Pelestine Conflict” dan (bersama Ruth Bettina Birn) ”A Nation on Trial” yang dinobatkan sebagai buku popular tahun 1998 oleh New York Times Book Review. ———— Bagi kaum Yahudi, Holocaust berarti penghancuran besar terhadap kehidupan, khususnya pembantaian massal dan keji terhadap kaum Yahudi oleh NAZI Jerman dibawah Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II.———— Holocaust telah menjadi sesuatu yang sakral bagi Barat, bahkan lebih suci dari Kristen ataupun Yesus, sebab orang bisa menghina agama dan Tuhan mereka tanpa resiko atau sanksi apapun. Tapi menolak Holocaust bisa dipandang sebagai sikap tidak bermoral dan anti-semit yang patut mendapat ganjaran. Germar Rodef, ahli kimia asal Jerman, misalnya, harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku ”Dissection Holocaust” (Pembedahan Holocaust). Profesor Robber Fridson harus diadili, karena melakukan wawancara dengan stasiun TV Iran. Riva Dalsters bunuh diri karena tekanan kaum Yahudi.———- Dalam pengantarnya, Smith Alhadar, Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) menyetir pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang menyatakan bahwa Holocaust itu hanya sebuah mitos. Dalam pernyataan lainnya, presiden Iran yang sederhana ini menegaskan regim Zionis harus dihapuskan dari peta dunia. Namun mengapa Barat bereaksi sangat negatif dan menyebut Ahmadinejad sebagai Hitler?————– Rupanya tidak hanya Ahmadinejad yang meragukan tentang kebenaran peristiwa Holocaust. Manfred Rouder, Fred Louchter, Fredrick Toben dan Bruno Gelish adalah segelincir nama yang mempertanyakan kebanaran Holocaust meskipun akhirnya mereka terkena hukuman. Rouder dikenai 10 bulan penjara; Louchter, seorang ahli gas, diberhentikan dari pekerjaannya; Toben, warga Australia asal Jerman, dilarang masuk kembali ke Jerman; Gelish, anggota Uni Eropa kini berada di penjara.—————— Buku yang menarik untuk dibaca ini, terutama bagi yang menginginkan informasi mendalam tentang bagaimana sebenarnya peristiwa Holocaust. Finkelstein, sang penulis yang kebetulan keturunan Yahudi, memaparkan informasi Holocaust dengan alur dan data yang setidaknya dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, peristiwa Holocaust telah menguntungkan secara ekonomis oleh sekelompok orang Yahudi.———– Berbagai kalangan memberikan tanggapan atas buku ini, diantaranya The Times, yang menyebutkan: “Jaringan penipuan ini perlu dibongkar, dan Finkelstein yakin kalau dialah yang harus melakukannya. Dalam buku ini, Norman benar-benar menyikap akal bulus mereka. Jika tuduhannya itu terbukti benar, haruslah ada tuntutan, pemberangusan, dan protes atas mereka. Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras”.——————— ”Dia patut didengar..dia membuat beberapa poin penting yang diam-diam berusaha dibantah oleh banyak cendekiawan muda Yahudi yang suaranya telah dibungkam oleh kemapanan, apalagi yang ada di AS.” – Evening Standard.—————-

August 27, 2016 Edy Methek 0

seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss […]

Allah Subhanahu wa Ta’ala TIDAK membagikan HARTA itu MERATA kepada setiap orang. ——————————- Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya kelembah nista yang berujung derita. ——————- Jika kita semua sudah mengetahui dan menyadari bahwa rezeki telah diatur oleh Allâh Azza wa Jalla , semua telah dibagi oleh Allâh Azza wa Jalla , lalu apa yang harus kita lakukan ? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit ? Buat apa kita iri dengan orang lain ? Buat apa merasa hina ? Apakah harta bisa menjamin pemiliknya akan masuk surga ? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ? ——————– Kepada orang-orang yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan, kita katakan, ‘Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian ? Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ …وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita [HR. al-Bukhâri dan Muslim] ————————- Hadits yang mulia ini adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Dengan sangat jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa penghuni surga kebanyakan berasal dari orang-orang miskin. Lalu bagaimana dengan orang-orang kaya ? Oleh karena itu, kita memperhatikan harta-harta kita dengan lebih seksama lagi, dari mana diperoleh dan bagaimana penggunaannya ? ———————– Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). [HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan] —————————- Suatu ketika, sesaat setelah membaca ayat : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [At-Takâtsur/102:1] ———————— Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : يَقُولُ ابْنُ آدَمَ : مَالِى مَالِى – قَالَ – : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allâh pun) berfirman, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang serta apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan ———————– Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. ———————- Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula ? Tidak ! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini ? ———————– Apakah ketenaran ? Apakah pujian ? Apakah kedudukan di dunia ? ———————- Subhânallâh! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut. —————- Bersedekahlah! Ber-infaq-lah di jalan Allâh! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . —————- Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . ——————– Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم Demi Allâh! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi yang saya takutkan pada kalian adalah dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, Sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka. [HR. al-Bukhâri dan Muslim] ————————– Dengan gamblang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan mereka dari akhirat. ———————— Setelah kita mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, mestinya kita mau mengaca diri dan menilai diri kita sejujurnya. Adakah kita termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh keindahan dunia yang menipu ini ? ————————- Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki ? ……… Coba perhatikan hadits dibawah ini. لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati ——————— Dalam hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh seorang Mukmin, yaitu rasa puas, ridha dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Inilah yang dinamakan dengan qanâ’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan rasa qanâ’ah yang sangat tinggi. —————– Jika kita menginginkan dunia maka dunia tidak akan pernah ada habisnya. Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua gunung emas atau lebih banyak lagi. ————- Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas ? Mereka tidak akan pernah puas kecuali kalau mulut-mulut mereka sudah dipenuhi dengan tanah, maksudhnya kematian telah menjemput. —————- Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri kita untuk benar-benar beribadah kepada Allâh dan mengisi sisa-sisa hari kita ini dengan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla. ======================= Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun ————————- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36). ——————- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ “Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58). ———————- وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114). ——————– وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58). —————– وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Al-Jumu’ah: 11). —————–

August 18, 2016 Edy Methek 1

Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum ! Allah Subhanahu […]

PENGGUGUR AMALAN, PENGHAPUS PAHALA …. menghapus seluruh bagian iman dan amalan adalah yang disebabkan oleh kekafiran, kesyirikan, kemurtadan dan kemunafikan. ————— Penggugur pahala amalan yang dimaksud dalam pembahasan tema ini berlandaskan pandangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Bahwa penggugur hakiki yang dapat menghapus seluruh bagian iman dan amalan adalah yang disebabkan oleh kekafiran, kesyirikan, kemurtadan dan kemunafikan. Adapun penggugur yang dapat membatalkan sebagian amalan oleh sebab kemaksiatan, atau berkurangnya balasan pahala, atau tertundanya manfaat baik sebuah amalan pada waktu yang dibutuhkan adalah penggugur yang bersifat relatif dan tidak sampai berakibat mengugurkan dasar keimanan.[3] ——————— Berikut ini adalah penggugur-penggugur amalan, di antaranya: ———————– 1. Syirik Dan Riddah (Kemurtadan).”—— Keduanya jelas menjadi penghalang diterimanya sebuah amalan di hadapan Allah Azza wa Jalla , sebaik dan seindah apapun amalan itu, karena Allah Azza wa Jalla membenci syirik dan kemurtadan serta tidak menerima segala jenis kebaikan apapun dari mereka manakala mereka mati dalam kondisi demikian. Tentang syirik, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada engkau -wahai Muhammad – dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum engkau: “Jika kamu berbuat syirik (kepada Allah ), niscaya akan gugur terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi [az-Zumar/39:65][4] ———— Dan tentang bahaya kemurtadan, Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang gugur sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya [al-Baqarah/2:217] [5] ——————- 2. Riya’ ————- Yaitu seseorang beramal dan memperlihatkan amalannya kepada manusia, mengharapkan suatu kebaikan duniawi bagi dirinya ketika mereka melihatnya. Riya’ tergolong syirik kecil yang memiliki beragam jenis dan bentuknya. Banyak sekali hadits yang menyatakan kekhawatiran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap riya’ yang akan dialami oleh umatnya. ——————— Ma`qil bin Yasâr menuturkan sebuah kisah, “Aku pernah bersama Abu Bakar ash-Shidiq Radhiyallahu anhu pergi menuju Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Wahai Abu Bakar, pada kalian ada syirik yang lebih tersembunyi daripada langkah seekor semut”. Abu Bakar bertanya, “Bukankah syirik adalah seseorang telah menjadikan selain Allâh sebagai sekutu bagi-Nya?”… Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Demi Allâh, Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, syirik (kecil) lebih tersembunyi daripada langkah seekor semut. Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu (doa) yang jika engkau mengucapkannya, maka akan lenyaplah (syirik tersembunyi itu) baik sedikit maupun banyak? Ucapkanlah: الَلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ (Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari perbuatan kesyirikan terhadap-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apapun yang aku tidak mengetahuinya)[6] ——————- 3. Mendatangi Dukun, Peramal Dan Sejenisnya. ——————- Mempercayai omong kosong, penipuan dan kedustaan dukun dan paranormal termasuk penyakit yang menjangkiti sebagian masyarakat. Dengan adanya kemajuan teknologi, seseorang tanpa sadar telah mendatangi atau membenarkan dukun (paranormal) meski tidak mendatangi tempat praktek manusia-manusia itu. Pasalnya, berbagai media massa sering kali menyediakan produk-produk mereka (para dukun) seperti zodiak (ramalan bintang), primbon biro jodoh, ramalan pekerjaan dan keberuntungan, transfer kekuatan jarak jauh dan penglaris dagangan, serta produk perdukunan lainnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah mengecam siapapun yang mempercayai mereka dengan ancaman kekufuran, atau dengan gugurnya pahala shalat akibat menanyakan sesuatu kepada mereka sekalipun tidak mempercayainya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun dan mempercayai ucapannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap (syariat) yang diturunkan kepada Muhammad [7] ——————— Dalam lafazh lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidaklah diterima shalatnya sepanjang empat puluh hari [8] ———————- 4. Durhaka Terhadap Kedua Orang Tua, Mengungkit-Ungkit Sedekah Yang Diberikan, Mendustakan Takdir. ——————— Pelaku tiga perbuatan ini diancam dengan gugurnya pahala amalan yang mereka kerjakan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا : عَاقٌّ، وَمَنَّانٌ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ Ada tiga golongan manusia yang Allâh tidak akan menerima dari mereka amalan wajib (fardhu), dan tidak pula amalan sunnat (nafilah) mereka pada hari Kiamat kelak; seorang yang durhaka kepada orang tuanya, seorang yang menyebut-nyebut sedekah pemberiannya, dan seorang yang mendustakan takdir [9] ——————– 5. Bergembira Atas Terbunuhnya Seorang Mukmin ——————– Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membunuh seorang Mukmin dan berharap pembunuhannya, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima darinya amalan wajib (fardhu) maupun amalan sunnat (nafilah)”.[10] ————— 6. Mengakui Selain Ayahnya Sebagai Orang Tuanya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengakui selain ayahnya (sebagai orang tua nasabnya), atau mengakui selain tuannya sebagai majikan pemiliknya karena membencinya, maka baginya laknat Allâh Subhanahu wa Ta’ala, laknat para malaikat dan seluruh manusia, serta Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amalan wajib maupun sunnahnya”.[11] ——————– 7. Melanggar Batasan-Batasan Keharaman Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Saat Sendirian —————- Hal ini mungkin salah satu di antara yang dilalaikan atau bahkan diabaikan oleh banyak di kalangan kaum Muslimin. Mungkin karena mereka belum tahu atau tidak mau tahu. Padahal berdampak pada gugurnya pahala amalan. Sudah seharusnya kita waspada terhadapnya. ———- Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku mengetahui banyak di kalangan umatku yang akan datang pada hari Kiamat nanti dengan berbekal kebaikan sebanyak gunung-gunung Tihâmah, namun Allâh menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan”. Tsauban bertanya, “Wahai Rasûlullâh,, tunjukkan kepada kami sifat mereka”! Jelaskan kepada kami siapa mereka, agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa kami sadari”. Lantas Rasûlullâh menjawab, “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian, dari jenis kalian, mereka melakukan shalat tahajud sebagaimana yang kalian lakukan, namun mereka adalah orang-orang yang apabila berada dalam kesendirian, mereka melanggar batasan keharaman-keharaman Allâh (berbuat maksiat, red) [12]. ———— 8. Bersumpah Dengan Nama Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Dan Bersaksi Bahwa Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Tidak Akan Mengampuni Seseorang. ———————– Ketahuilah bahwa rahmat Allâh Azza wa Jalla sangat luas, menaungi siapapun yang Dia Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengampuni dosa apapun selain syirik, sebagai gambaran betapa besar kebaikan dan limpahan karunia dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Maka, seseorang tidak berhak menghalang-halanginya dari siapapun. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seseorang yang berkata “Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuni si Fulan”. Padahal Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Siapakah orangnya yang telah bersumpah atas nama-Ku (dan bersaksi) bahwa Aku tidak memberikan ampunan kepada si Fulan?!.. Sungguh Aku telah ampuni si Fulan itu dan Aku gugurkan amalmu”.[13] ——————– Orang yang melakukan hal tersebut telah menyebabkan orang lain berputus asa dari rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala, dan semakin menjadikannya tenggelam dalam kemaksiatan. Maka, seorang yang menjadi penyebab tertutupnya pintu kebaikan dan terbukanya pintu keburukan berhak untuk digugurkan pahala amalannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagai balasan yang setimpal. ———————– 9. Meninggalkan Shalat Ashar —————- Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka telah gugur amalnya”.[14]———— Hadits ini memperingatkan kita agar selalu menjaga shalat lima waktu, khususnya shalat Ashar. —————– 10. Pecandu Khamer (Minuman Keras). ——————- Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa minum khamer, tidak diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulanginya, tidaklah diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulanginya tidaklah diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulangi lagi ke empat kalinya tidaklah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima taubatnya, dan kelak Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan memberikannya minum dari sungai khabal”. Wahai Abu ‘Abdirrahmân, apa itu sungai khabal? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sungai (berisi) nanah penduduk neraka”.[15] 11. Kedurhakaan Isteri Kepada Suaminya ————- Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga golongan manusia, shalat mereka tidak melampaui telinga mereka; budak yang kabur dari majikannya sampai dia kembali, seorang isteri yang melewati malam hari dalam keadaan suaminya murka kepadanya, seorang imam bagi sekelompok kaum padahal mereka membencinya”.[16] ————–

August 18, 2016 Edy Methek 1

PENGGUGUR AMALAN, PENGHAPUS PAHALA …. menghapus seluruh bagian iman dan […]

MAKNA TAWAKAL TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB——– KEDUDUKAN TAWAKKAL DALAM ISLAM ——————- Pemahaman makna tawakal kaum muslimin dewasa ini kurang tepat. Mereka sudah tidak memahami makna tawakkal yang sebenarnya. Tawakkal hanya menjadi perkataan kosong tanpa ada kenyataannya dalam kehidupan mereka. Berlainan dengan generasi pertama ummat Islam, mereka benar-benar memahami makna tawakkal kepada Allah SWT. Mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya, mereka senantiasa sanggup menyelesaikan berbagai kesulitan yang dihadapi. ————————- Mengapa kaum muslimin saat ini mengalami kemunduran? ini disebabkan karena pemahaman tawakal yang salah. Maka dari itu, bila kita ingin membangkitkan umat islam & mengembalikan kejayaan umat islam lagi , maka salah satu kuncinya adalah memberikan pemahaman tawakal yang benar kepada umat islam, sebagaimana yang dipahami oleh umat islam generasi awal, yang memahami makna tawakal dengan sebenarnya. Sebagai generasi umat islam yang terbaik dengan pemahaman tawakal yang benar, maka umat islam pada waktu itu bisa bangkit dan menjadi umat yang jaya, bisa menghadapi kesulitan & masalah yang dihadapi. Jadi kata kunci tawakal bisa kita pakai terus untuk segala hal yang berkaitan dengan kehidupan umat islam. ————————– Jadi dalam hal apa saja, bila tawakalnya benar maka InsyaAllah hidupnya akan sukses dunia akherat. Maka apabila umat islam saat ini tidak bisa memimpin dunia, umat islam tidak bisa mengatur dunia, tidak bisa menguasai dunia, itu semua dikarenakan tawakalnya yang kurang benar, maka apabila umat islam pemahaman tawakalnya sudah benar, maka umat islam itu akan bangkit & cepat menguasai dunia dengan waktu yang sesingkat-singkatnya seperti pada zaman sahabat dahulu aamiin. ———————– Pada zaman atau generasi sahabat dahulu, mereka bisa menaklukan Romawi, syam, Persia, sampai Iraq. Dan Umat islam mengalami kejayaan pada zamannya Khlalifah Rasyidin, yaitu zamannya Abu Bakar & Umar. ——————- Makna tawakal itu sendiri ada tiga, yang dua salah dalam pemahaman maknanya dan yang satu benar. Pemahaman tawakkal yang salah dari kaum muslimin sekarang ini terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:……………… 1. Tawakkal berarti terikat dengan hukum sebab-musabab………. 2. Tawakkal berarti melepaskan dari hukum sebab-musabab. —————— 1. MAKNA TAWAKAL TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB ———————- Tawakkal yang dimaksudkan adalah Hadits yang berbunyi: “I’qilha watawakkal…”, maksudnya adalah (“Ikatlah untamu dan bertawakkallah)” (Sunan Tirmidzi: 2636). Hadist ini sangat terkenal & biasanya digunakan untuk memahami makna tawakal, “ikatlah untamu & bertawakallah…” biasanya hadist ini dijabarkan atau dipahami bahwa tawakal itu berikhtiar dulu baru tawakal atau bekerja dulu baru tawakal atau berusaha dulu baru tawakal, yang berarti kejadian dulu baru tawakal. ——————– Misalnya seperti seorang mahasiswa yang akan ujian, maka harus belajar sunguh-sungguh dan mengerjakan ujian dengan serius sampai mati-matian, kemudian menunggu hasil ujian baru tawakal akan hasil yang dicapai. —————— Atau seorang pengusaha, kita sudah berusaha mati-matian mempromosikan dan mengiklankan produk, apakah ada respon atau tidak, kita tawakal, kita tunggu kalau ada yang telpon dari custumer yang mau beli Alhamdulillah, kalau tidak ya,,,belum rezeki. ——————— Hadits “Ikatlah untamu dan bertawakallah…” sering digunakan untuk memperlemah makna tawakkal dalam jiwa manusia. Akibatnya “himmah” dan “azimah” kaum muslimin menjadi turun. Jadi semangat & cita-cita tidak ada, menjadi loyo, Pandangan kehidupannya menjadi sempit, akan merasa lemah, kemampuannya terbatas dan tidak mampu melakukan apapun di luar kemampuannya. ———————

August 16, 2016 Edy Methek 1

KEDUDUKAN TAWAKKAL DALAM ISLAM ——————- Pemahaman makna tawakal kaum muslimin […]

1 2 3 4 5