Loading
Cintanya | Islam dan Sains-Edy

MANUSIA mengaku sudah MUSLIM … sudah BERIMAN …. tapi …. TUHANnya masih UANG , HARTA , WANITA / PRIA , ANAK , PENGUASA / thaghut, ULAMA Su’ ………. masih “menyembah MAKHLUK-Nya” —————————– manusia masih melakukan keSYIRIKan di HATI, PIKIRAN, SIKAP/PERBUATAN . —————— apakah bisa masuk surga …. dg kemUSYRIKan manusia?? —– ——————– >> hanya ALLAH saja yg diTAKUTi !!!! … KOK malah TAKUT pada makhluk CIPTAAN Allah {Neraka, Thaghut, Syaitan dst}??? >> hanya ALLAH saja yg di CINTAI …!!!! .. KOK malah sangat CINTA SURGA .. melebihi CINTA pada Allah {SURGA, bidadari, manusia, dst}???? >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<< > Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, yaitu bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah (at-Taubah: 18, al-Baqarah: 150). >> Tidak ada yang patut dicintai (secara absolut) kecuali hanya Allah (at-Taubah: 24). >> Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah (Yunus:107). >> Tidak ada yang memberi karunia kecuali hanya Allah (Ali Imran: 145). >> Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT (Ali Imran: 145) —————— I’tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi berfikir dan bersikap tauhid pada: —————————— (1) Tauhid dalam ibadah dan doa, yaitu tidak ada yang patut disembah kecuali hanya Allah dan tidak ada dzat yang pantas menerima doa kecuali hanya Allah (al-Faatihah: 5) ———————- (2) Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi, yaitu tidak ada dzat yang memberi rizki kecuali hanya Allah (Hud: 6). Dan pemilik mutlak dari semua yang ada adalah Allah SWT (al-Baqarah: 284, An-Nur: 33). ———————— (3) Tauhid dalam melaksanakan pendidikan dan dakwah, yaitu bahwa yang menjadikan seseorang itu baik atau buruk hanyalah Allah SWT. Dan hanya Allah yang mampu memeberikan petunjuk (hidayah) kepada seseorang (al-Qoshosh: 56, an-Nahl: 37). ——————— (4) Tauhid dalam berpolitik, yaitu penguasa yang Maha Muthlaq hanyalah Allah SWT (al-Maidah: 18, al-Mulk: 1) dan seseorang hanya akan memperoleh kekuasaan karena anugerah Allah semata (Ali Imran: 26). Demikian pula, kemulyaan serta kekuasaan hanyalah kepunyaan Allah SWT (Yunus: 65) —————- (5) Tauhid dalam menjalankan hukum, yaitu bahwa hukum yang benar adalah hukum yang datang dari Allah SWT, dan sumber kebenaran yang muthlak adalah Allah SWT (Yunus: 40 dan 67). ———————— (6) Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, yaitu bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah (at-Taubah: 18, al-Baqarah: 150). ————— (7) Tidak ada yang patut dicintai (secara absolut) kecuali hanya Allah (at-Taubah: 24). Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah (Yunus:107). Tidak ada yang memberi karunia kecuali hanya Allah (Ali Imran: 145). Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT (Ali Imran: 145) ——————————– <<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>“Aku tidaklah menyembahNya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surgaNya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaan dan kerinduan kepadaNya” (Ihyaa’ Uluum ad-Diin 4/310) مَا عَبَدْتُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلاَ حُبًّا فِي جَنَّتِهِ فَأَكُوْنَ كَأَجِيْرِ السُّوْءِ، بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيهِ Al-Gozali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang adalah (dungu). Ia barkata, “Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahanNya….maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga” (Ihyaa Uluumid Diin 3/375) فَالْعَامِلُ ِلأَجْلِ الْجَنَّةِ عَامِلٌ لِبَطْنِهِ وَفَرْجِهِ كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ وَدَرَجَتُهُ دَرَجَةُ الْبَلَهِ وَإِنَّهُ لَيَنَالُهَا بِعَمَلِهِ إِذْ أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْبَلَهُ وَأَمَّا عِبَادَةُ ذَوِي الْأَلْبَابِ فَإِنَّهَا لاَ تُجَاوِزُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَالْفِكْرِ فِيْهِ لِجَمَالِهِ … وَهَؤُلاَءِ أَرْفَعُ دَرَجَةً مِنَ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى الْمَنْكُوْحِ وَالْمَطْعُوْمِ فِي الْجَنَّةِ ……………………………………………………….. “TAKUT hanya kepada ALLAH” …. saja. BUKAN kepada Makhluk ciptaan-Nya …………………………………….. >> TAKUT kepada ALLAH …. sehingga menyebabkan TAKWA, ….. bukan takut kepada NERAKA melebihi TAKUT kepada ALLAH …. inilah bentuk syirik/keMUSYRIKan, …. Al Anfaal:48, … yg ditakuti pertama = Allah, … HANYA ALLAH saja yang DITAKUTI .. inilah TAUHID …………………………………….. <<< Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, yaitu bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah (at-Taubah: 18, al-Baqarah: 150). Tidak ada yang patut dicintai (secara absolut) kecuali hanya Allah (at-Taubah: 24) >>>> ………………………………….. >>> makhuk ciptaan Allah (NERAKA, thaghut, Dajjal,dsb)… LEBIH diTAKUTi daripada Allah = MUSYRIK >>> makhluk ciptaan Allah (SURGA, nikmat dunia, harta db) … LEBIH diSENANGi daripada ALlah = MUSYRIK …. ……………………………………….. >> cinta karena Allah saja, >>>> TIDAK BOLEH MENCINTAI atau MENYENANGI MAKHLUK-Nya …. MELEBIHI “CINTA-NYA” kepada Allah >> takut kepada Allah saja >>>> TIDAK BOLEH TAKUT …. kepada MAKHLUK-Nya …. MELEBIHI “TAKUT-NYA” kepada Allah …………………………………………. “Mereka TAKUT kepada RABB mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

August 31, 2016 Edy Methek 1

MANUSIA mengaku sudah MUSLIM … sudah BERIMAN …. tapi …. […]

Jika Allah maha baik, mengapa Dia menciptakan neraka???Mengapa tidak masuk surga saja semua? Mengapa harus ada neraka? ———— Kita sebagai manusia yang beriman, tentunya harus selalu mengacu kepada sumber-sumber dasar hukum tersebut di dalam menentukan atau menilai suatu hal dan permasalahan, artinya predikat baik atau buruk, sopan atau tidak sopan, lembek atau keras, kejam atau tidak kejam…..baru dianggap sah dan benar jika pengertian dan pengetahuan yang kita miliki sudah kita selaraskan dengan pengertian dan ilmu yang datang dari Tuhan Pencipta Alam. ———————— “Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu” (QS Al Kahfi : 29) ——————– “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (QS Al Baqarah : 216) ——————- Masalahnya sekarang ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berkembangnya paham-paham baru seperti LIBERALISME, FEMINISME, FEDERALISME, dsb yang beberapa inti ajarannya sangat membahayakan dan bertentangan dengan akidah, pengertian dan perbuatan umat Islam pada umumnya. Mereka (paham-paham tersebut) sangat mendukung dan membantu segala bentuk kesenangan dan kebebasan tanpa batas. ————– Yang penting asalkan suka sama suka dan tidak ada paksaan maka hal itu tidak melanggar norma-norma hukum kemanusiaan, yang imbasnya akan mengotori dan merusak norma-norma hukum agama yang penuh dengan pantangan, halangan, dan larangan. Meraka selalu berusaha untuk menghancurkan segala bentuk keterbatasan dan ketidakbebasan walaupun pada hakikatnya semua keterbatasan dan ketidakbebasan itu didasari demi tercapainya suatu kebaikan, kesopanan, kepantasan, keberadaban serta keharmonisan hubungan diantara sesama manusia. Tetapi sayangnya paham dan propaganda-propaganda itu sudah cukup sukses tersebar dan menyebar dengan luas di semua kalangan di dunia ini. Kita telah terciptakan dan hidup di dunia ini agar kita bisa menjadi khalifah-NYA di muka bumi, makna lebih dalamnya lagi adalah supaya kita mau tunduk dan patuh terhadap segala ketentuan dan perintah dari ALLAH swt. Bukannya kita yang harus mengatur ALLAH, tetapi kita yang harus diatur agar kita selamat di dunia dan akhirat. Begitu juga ALLAH swt telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, siang dan malam, baik dan buruk, bersih dan kotor, bagus dan jelek, bahagia dan sedih, hidup dan mati yang pada akhirnya surga dan neraka. Itu sudah merupakan salah satu sunatullah dan qudrat-NYA. ————– —————– “Hai jiwa yang tenang…Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-NYA…Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-KU…Dan masuklah kedalam Surga-KU” (QS Al Fajr : 27-30) —————— Ibaratnya seperti seorang Ibu yang ditinggal pergi jauh oleh anak putrinya yang cantik, karena dia harus sekolah atau bekerja di suatu kota besar untuk waktu yang cukup lama. Tentunya si ibu tersebut akan selalu merindukannya dan merisaukan segala keselamatan dan kesehatannya. Andaikan si Ibu itu menerima kabar kalau anak kesayangannya itu sakit, diganggu/disakiti oleh orang lain apalagi sampai dia berbuat yang tidak baik (dosa)….maka si ibu itu akan merasakan sangat teriris-iris hatinya karena rasa sayang dan cintanya kepada putrinya itu. Dan dapat dipastikan kalau rasa cemas, khawatir, dan cinta ALLAH kepada kita yang masih hidup di dunia ini adalah 70 kali lebih besar dan kuat daripada rasa yang dimiliki oleh si ibu tersebut. Itulah mengapa BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM….Dengan menyebut nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kalau kita ibaratkan misalnya….kasih sayang ALLAH itu bernilai 100%, maka hanya 1% saja yang DIA turunkan dan curahkan kepada umat manusia di dunia….sedangkan yang 99% nya lagi akan diberikan kepada kita pada hari Penghisaban. Dimana ALLAH pada hari itu akan benar-benar memperlihatkan kemaha sayangannya dan kemaha adilannya, karena disitulah penentuan akhir dari segala tindak tanduk, perbuatan, nasib serta takdir dari setiap jiwa yang pernah hidup. ————– “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” (QS Al Infithar : 5) —————- Disana mahkamah pengadilan akan digelar selama kurang lebih 500.000 tahun karena semua orang dari zaman Nabi Adam sampai Bayi terakhir lahir akan diadili seadil-adilnya. Siapa yang berbuat kebajikan walaupun sebesar biji zarrahpun akan mendapatkan hasilnya dan begitu juga sebaliknya. ———————- “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya….dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al Zalzalah : 7-8) ———————- Tidak akan ada seorangpun yang teraniaya dan terugikan. Pada saat itu….kasusnya bisa jadi seorang yang mencuri tetapi yang akan dimintai pertanggungjawabannya adalah para pemimpin. Dia mencuri karena orang miskin dan sangat lapar, sedangkan setiap pemimpin bertanggung jawab atas semua orang (rakyat) yang dipimpinnya. Atau bisa jadi kasus berikutnya adalah….seorang anak yang berzina, tetapi yang disalahkan adalah kedua orang tuanya karena tidak segera menikahkan anaknya ketika waktunya tiba. Jadi segala persoalan tidak akan diputuskan seenaknya saja dan semau gue….tidak seperti kita membeli pisang goreng dan es teh manis tanpa pikir dulu….just do it!…yang penting isi perut dapat terisi. Pada saat itu semua orang dari segala suku, bangsa, agama, kalangan, pekerjaan, profesi dsb akan menyesal dan menangis hebat karena penyesalan yang begitu mendalam ketika mereka telah menyaksikan kenyataan / realitas dengan mata kepala sendiri. Tetapi ALLAH masih sangat penyayang….karena itu DIA memberikan jalan lain / solusi lain agar hamba-hamba-NYA bisa terselamatkan dari azab api neraka yaitu dengan cara memberikan izin kepada para Rasul, Nabi, Sahabat, Wali, dan Hafizh untuk memberikan Syafaat / Pertolongan kepada umat manusia asalkan mereka (Para Pendosa dan Pendurhaka) adalah orang-orang yang mengakui adanya 1 Tuhan dan Muhammad saw adalah sebagai rasul terakhir. Semakin tinggi derajat mereka (Para Rasul,….., Wali) semakin banyak pula orang-orang yang bisa mereka selamatkan dari api neraka. Demi ALLAH……ALLAH tidak rela sedikitpun jika hamba-hamba-NYA harus singgah dulu di neraka walaupun hanya 1 detik. Tetapi DIA lah yang maha adil, maha membalas dan maha menepati janji…..jadi DIA harus rela, pasrah dan ridho akan ketentuan-ketentuan-NYA yang telah ditetapkan-NYA selama berjuta-juta tahun sebelumnya, untuk membiarkan banyak dari hamba-hamba-NYA untuk dicuci dahulu segala dosa-dosanya di dalam api neraka. Walaupun Hati-NYA hancur lebur karena kesedihan-NYA yang begitu mendalam sehingga dapat menggetarkan kebesaran, kemegahan, dan keagungan Arasy-NYA / Singgasana-NYA. Tetapi apa mau dikata…..nasi sudah jadi bubur……Semua buku-buku amalan sudah ditutup, tidak dapat dirubah lagi, dan harus dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Segala kasih sayang ALLAH kepada hamba-hamba-NYA telah mutlak dan tuntas diberikan…..tidak ada satupun yang terlewat. Para Rasul, Nabi, Wali dan Solihin untuk memberikan peringatan dan kabar gembira kepada umat manusia tentang hari akhirat kelak….Akal untuk membedakan hal-hal yang baik dan buruk……Hidayah, Taufik, Ilham untuk menunjukkan kepada jalan yang benar dan lurus…..Al Qur’an dan Hadist untuk mengetahui suatu ilmu kebenaran tentang haq dan bathil (halal dan haram)…..Cobaan dan Teguran untuk lebih menyadarkan diri dari segala kesalahan……Tetapi alangkah sayangnya, semuanya itu hanyalah bagaikan angin yang berlalu saja untuk diri kita. Lalu kalau sudah begitu…..APA SALAH ALLAH?…..KEJAM dan SADISkah TUHANku?…Mudah-mudahan Kamu Mengerti…

August 17, 2016 Edy Methek 0

Jika Allah maha baik, mengapa Dia menciptakan neraka???Mengapa tidak masuk […]

{Jangan}……”Muslim KALAH Oleh Kuda” … keBERANIan …. menyerang MUSUH ———————————————————— “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu shubuh, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada? Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS. Al ‘Adiyat: 1-11) —————————————- Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar ingkar kepada-Nya. Pernyataan tersebut diawali dengan pujian Allah kepada makhluk-Nya, yaitu seekor kuda perang. Dalam surah ini, Allah bersumpah atas nama kuda. Bahwa kuda adalah salah satu karunia terbesar di antara karunia Allah pada makhluk-makhluk-Nya. Karena Allah menyebutkan kuda dengan sumpah, berarti kuda di sini memiliki keistimewaan khusus dibanding hewan-hewan lainnya. Kuda tersebut berlari kencang dengan terengah-engah. Kuda tersebut memercikkan api karena hentakkan kakinya yang mengenai batu saat berlari. Sambil berlari, kuda tersebut kemudian menyerang musuhnya di waktu shubuh. Akibat kencangnya lari kuda tersebut, lalu debu-debu pun beterbangan. Kemudian kuda tersebut menyerang dengan menerobos barisan musuh hingga menembus ke tengah-tengah mereka. Inilah yang digunakan untuk bersumpah oleh Allah dalam surah ini. Manusia harus bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat tersebut. Dari sumpah Allah kepada kuda, hingga kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lengah. —————————————- Bersungguh-sungguh Kuda diciptakan Allah sebagai kendaraan dan juga sebagai perhiasan bagi yang memilikinya. “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8). ———————- Dan di dalam surah Al-‘Adiyat, kuda yang disebutkan adalah kuda yang dikhususkan (dan telah dilatih) untuk berperang. Di antara hewan-hewan yang bisa dijadikan tunggangan, hanya kuda yang sering digunakan dalam perang sejak berabad-abad yang lalu. Lain halnya dengan unta atau gajah yang hanya digunakan oleh pasukan-pasukan tertentu dan dalam keadaan tertentu saja. Hampir setiap bangsa diharuskan memiliki pasukan yang pandai menunggang kuda. ———— Di awal ayat surah ini disebutkan bahwa kuda tersebut lari hingga terengah-engah. Kemudian kuku-kuku kakinya memercikkan api akibat bergesekan dengan batu. Kita dapat memahami bahwa kuda adalah hewan yang tidak pernah setengah hati dalam bekerja. Kuda bekerja sesuai dengan kehendak tuannya. Apapun yang diperintah tuannya, kuda akan menaatinya dengan sepenuh hati. Bila larinya sampai membuat nafasnya terengah-engah, artinya ia sedang berlari dalam kecepatan tinggi. Bila larinya menyebabkan munculnya percikan-percikan api dari kakinya, berarti ia sangat bersungguh-sungguh dalam berlari. ————– Apa yang dapat kita pelajari dari kuda yang disebutkan dalam surah Al-‘Adiyat, salah satunya adalah keberanian yang dimiliki kuda perang tersebut. ——— Mereka dengan gagahnya lari menerjang ke tengah sekawanan musuhnya. Tanpa ada rasa takut sedikitpun, meskipun kuda itu sendirian –bersama penunggangnya………… Apakah kita, sebagai manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagai makhluk Allah yang tercipta sempurna, lebih baik daripada kuda? Atau hidup kita dapat disamakan dengan kuda? Atau jangan-jangan kita lebih buruk daripada kuda?…..

June 12, 2016 Edy Methek 1

{Jangan}……”Muslim  KALAH Oleh Kuda” … keBERANIan …. menyerang MUSUH ———————————————————— “Demi […]