Loading
Dimaksudkan | Islam dan Sains-Edy

TAHLILAN jelas sekali BID’AH MUNKAR ….. SELAMATAN setelah KEMATIAN adalah Bid’ah tercela ———————– orang BIASA melakukan BID’AH = tidak boleh minum air telaga di Akhirat ——————- Dikhawatirkan, orang-orang yang mengadakan dan melakukan bid’ah munkaroh dan sudah diperingatkan namun justru dibesar-besarkan itu akan terkena hadits tentang orang-orang yang tidak boleh minum air telaga di Akherat kelak. —————————– “Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : ” Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap” HR Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau), dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut di atas. ———————— Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Selamatan Kematian atau Tahlilan”. ——————————- Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan,” Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul(ditempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak dimaksudkan kecuali untuk bermegah megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa sifulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakan hartanya untuk tahlilan bapaknya . Semuanya itu adalah haram menyalahi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, salafus shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam agama(kita).” ———————— Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِدُ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ قَالَ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي “Aku adalah pendahulu kalian menuju telaga. Siapa saja yang melewatinya, pasti akan meminumnya. Dan barangsiapa meminumnya, niscaya tidak akan haus selamanya. Nanti akan lewat beberapa orang yang melewati diriku, aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku, namun mereka terhalangi menemui diriku.” Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya mereka termasuk umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui perkara yang telah mereka rubah sepeninggalmu.” Kemudian aku (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda: “jauhlah, jauhlah! bagi orang yang merubah (ajaran agama) sesudahku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) ———————— LUGHOTUL HADITS——— 1. كُنَا نَعُدُّ / كُنَّا نَرَى = Kami memandang/menganggap. Maknanya : Menurut madzhab kami para shahabat semuanya bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan termasuk dari bagian meratap.——- Ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan para shahabat dalam masalah ini. Sedangkan ijma’ para shahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah dengan kesepakatan para Ulama Islam seluruhnya.———– 2. اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ = Berkumpul-kumpul di tempat atau di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan yang kemudian mereka makan bersama-sama——– 3. بَعْدَ دَفْنِهِi = Sesudah mayit itu ditanam/dikubur. Lafadz ini adalah tambahan dari riwayat Imam Ahmad.——- Keterangan di atas tidak menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”!?. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur.——- 4. مِنَ الْنِّيَاحَةِ = Termasuk dari meratapi mayit————- Ini menunjukkan bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan” adalah hukumnya haram berdasarkan madzhab dan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan ke dalam bagian meratap sedangkan merapat adalah dosa besar.————– SYARAH HADITS————— Hadits ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa : Berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya). Dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama dan seterusnya”.———- Hukum diatas berdasarkan ijma’ para shahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa) bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.—————– FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH INI————- Apabil para shahabat telah ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.————– Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.———– ———-KESIMPULAN.————– Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.—— Kedua : Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.—- Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.——— Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.————- “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]——– Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).———- Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]—————

September 12, 2016 Edy Methek 1

TAHLILAN jelas sekali  BID’AH MUNKAR ….. SELAMATAN setelah KEMATIAN adalah […]

yang menJALANkan perintah Allah …. adalah NABI dan orang BERIMAN. NABI dan orang berIMAN memerangi dengan sangat KERAS pada orang KAFIR ! ———————- NABI dan orang berIMAN bukan orang FASIK dan MUNAFIK seperti 72 golongan MUSLIM .. muslim BUIH … muslim 72 golongan ke NERAKA ————————– NABI dan orang berIMAN memerangi dengan sangat KERAS pada orang KAFIR !! … itu adalah PERINTAH Allah ….. At Taubah:73,Al Maidah:54 —————————————– ﴾ Al Ghaafir:38 ﴿ Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. ———— ﴾ At Taubah:23 ﴿ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. ————————— ﴾ Al Maidah:54 ﴿ Hai orang-orang yang BERIMAN, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap KERAS terhadap orang-orang KAFIR, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. —————— ﴾ At Taubah:73 ﴿ Hai NABI, berjihadlah (melawan) orang-orang KAFIR dan orang-orang munafik itu, dan bersikap KERASlah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. ———————— ﴾ Al Fushilat:27 ﴿ Maka sesungguhnya Kami akan merasakan AZAB yang KERAS kepada orang-orang KAFIR dan Kami akan memberi BALASAN kepada mereka dengan seBURUK-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. ———————– Shahih Bukhari: حدثنا ‏ ‏مسلم بن إبراهيم ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سلام بن مسكين ‏ ‏حدثنا ‏ ‏ثابت ‏ ‏عن ‏ ‏أنس ‏أن ناسا كان بهم سقم قالوا يا رسول الله آونا وأطعمنا فلما صحوا قالوا إن ‏ ‏المدينة ‏ ‏وخمة ‏ ‏فأنزلهم ‏ ‏الحرة ‏ ‏في ‏ ‏ذود ‏ ‏له فقال ‏ ‏اشربوا ألبانها فلما صحوا قتلوا ‏ ‏راعي ‏ ‏النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏واستاقوا ذوده فبعث في آثارهم فقطع أيديهم وأرجلهم ‏ ‏وسمر ‏ ‏أعينهم فرأيت الرجل منهم ‏ ‏يكدم ‏ ‏الأرض بلسانه حتى يموت ‏قال ‏ ‏سلام ‏ ‏فبلغني أن ‏ ‏الحجاج ‏ ‏قال ‏ ‏لأنس ‏ ‏حدثني بأشد عقوبة عاقبه النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فحدثه بهذا ‏ ‏فبلغ ‏ ‏الحسن ‏ ‏فقال وددت أنه لم يحدثه بهذا .… Dari Anas ibn Malik, “Sesungguhnya ada sekelompok orang yang sakit, mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah saw., beri kami tempat berteduh (tempat tinggal) dan beri kami makan.’ Maka setelah mereka sembuh, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kota Madinah ini jelek untuk kita.” Maka Nabi saw. memerintah mereka mendatangi daerah Hurrah (pinggiran kota Madinah) dan beliau bersabda, “Minumlah dari susu unta-unta di sana. Setelah mereka sembuh, mereka membunuh si pengembala dan menggiring (membawa lari) unta-unta itu. Kemdian sampailah berita itu kepada Nabi saw., maka beliau mengutus orang-orang untuk mengejar mereka, setelah mereka didatangkan, Nabi memotong tanga-tangan dan kaki-kaki mereka serta menggores mata-mata mereka dengan besi/paku mengangah. Aku (kata Anas) menyaksikan seorang dari mereka menggigit tanah dengan lidahnya hingga mati.” ———– Sallâm berkata, “Maka sampailah kepadaku bahwa Hajjâj berkata kepada Anas, ‘Sampaikan kepadaku siksaan Nabi yang paling keras/sadis, maka ia pun menyampaikan hadis ini.lalu sampailah berita itu kpada Hasan dan ia pun berkata, ‘Aku berharap andai ia tidak menyampaikan hadis itu kepada Hajjaj.’” ———————– Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Sallam bin Miskin telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa beberapa orang sedang menderita sakit, lalu mereka berkata; “Wahai Rasulullah, berilah kami tempat untuk menginap dan jamulah kami, ketika keadaan mereka mulai membaik, mereka berkata; “Sesungguhnya kota Madinah tidak cocok untuk kami, ” lantas beliau menyuruh mereka supaya pergi ke padang tempat gembalaan unta-unta milik beliau, lalu beliau bersabda: “Setelah itu minumlah susunya.” Ketika mereka semuanya sehat, ternyata mereka membunuh penggembala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan merampok sejumlah unta beliau, maka beliau memerintahkan untuk mengejar mereka. Kemudian beliau memotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka serta mencongkel mata mereka, dan aku melihat salah seorang dari mereka menjulurkan lidahnya ke tanah sampai akhirnya mati terkapar.” Sallam berkata; telah sampai kepadaku bahwa Al Hajjaj pernah berkata kepada Anas; “Ceritakanlah kepadaku tentang hukuman yang paling sadis yang pernah di lakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Anas menceritakan hadits di atas, ternyata hal itu sampai kepada Al Hasan, maka dia berkata; “Aku menyangka bahwa Anas belum pernah menyampaikan hadits ini.” =============================== Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa sekelompok orang sedang menderita sakit ketika berada di Madinah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka supaya menemui penggembala beliau dan meminum susu dan kencing unta, mereka lalu pergi menemui sang penggembala dan meminum air susu dan kencing unta tersebut sehingga badan-badan mereka kembali sehat, setelah badan mereka sehat mereka justru membunuh penggembala dan merampok unta-untanya, setelah kabar itu sampai ke nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun memerintahkan untuk mengejar mereka, kemudian mereka di bawa ke hadapan Nabi, lantas Nabi memotong tangan dan kaki mereka serta mencongkel mata mereka.” Qatadah berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sirin bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum turunnya ayat tentang hudud (hukuman).” ============================= Telah menceritakan kepada kami Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Sa’id telah menceritakan kepada kami Qatadah bahwa Anas bin Malik telah menceritakan kepada mereka bahwa sekelompok orang atau pemuda dari kabilah ‘Ukl dan ‘Urainah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menyatakan masuk Islam. Lalu mereka berkata, “Wahai Nabiyullah, kami orang yang hidup dari hasil ternak, bukan dari hasil pertanian.” Lalu mereka menderita sakit di Madinah karena iklim yang tidak cocok, maka Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam memerintahkan mereka supaya keluar menemui penggembala yang sedang menggembalakan unta, lalu beliau menyuruh mereka keluar dari Madinah. Mereka pun minum susu unta tersebut dan minum air kencingnya. Tatkala mereka berada di perbatasan Madinah, mereka keluar dari Islam (kufur), kemudian membunuh pengembala unta Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam, dan menggiring untanya. Berita tersebut sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam, maka beliau menyuruh untuk mencari jejak mereka, dan akhirnya mereka dapat dibawa kepada Rasulullah Shallallahu’laihi wasallam. Mereka dihukum dengan cara ditusuk matanya dengan paku (di congkel dengan paku panas), tangan dan kaki mereka dipotong, lalu mereka dibiarkan dalam keadaan seperti itu dibawah terik matahari hingga mereka mati.” ========================= hati-hati …. 72 golongan MUSLIM ke NERAKA.. BERCERMINlah .. itu adalah aku/ kita …. lihat diri kita/ dirimu sendiri …!!!! …………………….. “Dan barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Surah al-Maidah ayat 47) ——————— karena “FASIK” …. banyak manusia terjun ke NERAKA …. —————————– ﴾ As Sajdah:20 ﴿ Dan adapun orang-orang yang FASIK {فَسَقُوا۟} maka tempat mereka adalah JAHANAM. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. ———————- >>>>Yang dimaksudkan dengan fasik, Syeikh Raghib al-Asfahani mendefinisikan sebagai keluar daripada landasan syariat atau agama. Istilah fasik digunakan khusus kepada orang yang diperintahkan dengan hukum Allah SWT namun mereka menolak untuk mentaatinya dan seterusnya mengingkari sama ada sebahagian mahupun keseluruhan hukum itu. ———————————— Dengan lain perkataan, istilah fasik ditujukan kepada mereka yang banyak melakukan dosa, baik dosanya kepada Tuhannya atau dosanya kepada sesama manusia. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> >>>> Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah. HR. Sunan Ibnu Majah. —————————– >>>> Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah? ” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmizi. ………………………….. karena “FASIK” …. banyak manusia terjun ke NERAKA …. ……………………………………………………………. orang yang FASIK adalah orang yang secara SADAR “melanggar larangan atau hukum agama”. ……………………………muslim 72 GOLONGAN = fasik penyebab ke NERAKA.. walau mereka mengaku beriman …… …………………………………………………… >>“mereka MENGAKU beriman kepada Allah” … padahal mereka “pengikut Thaghut” (An Nisaa:60)….>>> Mereka di cap Allah = munafik (An Nisaa:61) ——————————– ﴾ An Nisaa:60 ﴿Apakah kamu tidak memperhatikan ORANG-ORANG YANG MENGAKU DIRINYA TELAH BERIMAN kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak BERHAKIM KEPADA THAGHUT, padahal MEREKA TELAH DIPERINTAH MENGINGKARI THAGHUT ITU. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ————————— ﴾ An Nisaa:61 ﴿ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang MUNAFIK menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّـهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا ﴿النساء:٦١﴾ ————————————- ﴾ An Nisaa:48 ﴿ <<< syirik = menyembah selain Allah … “menyembah” THAGHUT {=”mengikuti semua perintah, berHAKIM, berkawan, koalisi THAGHUT}, … thaghut = kawan syetan Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang MEMPERSEKUTUKAN ALLAH, MAKA SUNGGUH IA TELAH BERBUAT DOSA YANG BESAR. ———————————– “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “SEMBAHLAH ALLAH (saja) dan jauhilah thaghut itu” (Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 36) —————————— Imam al-Shadiq as berkata, “Thaghut adalah orang yang tidak menghakimi dengan benar, membuat keputusan yang menentang perintah Allah lalu perintahnya ditaati. ———————

September 11, 2016 Edy Methek 2

yang menJALANkan perintah Allah …. adalah NABI dan orang BERIMAN. […]

ARTI …SURGA … JANNAH —————————- Kata Janah dalam bahasa Arab memiliki arti “Kebun”, maka dalam bahasa Al-Qur’an berarti “Kebun Surga”. ——————– Dalam bahasa arab Jannah adalah kata jamak dari kata Jinan, yang berarti kebun atau taman. Dimana kebun atau taman tersebut adalah tempat yang kekal diakhirat, yang diperuntukan bagi hamba Allah yang beriman dan beramal shaleh, tempat yang memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan di dunia dan sebagai balasan untuk amalannya yang mengikuti perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini sesuai dengan gambaran Al-Jannah dalam Al-Qur’an. ———————– Pengertian Surga ————————- Kata “*surga*” sendiri berasal dari kata/sanskerta/, suarga, dari suku kata SUAR dan GA. /SUAR artinya cahaya/, dan/GA artinya perjalanan/. Orang Jawa sering menyebutnya dengan /SUARGO/. Dengan demikian, pada mulanya surga berarti /perjalanan ke dunia cahaya/. Pengertian ini terdapat dalam ajaran Hindu-Budha. Bagaimana dalam ajaran Islam? Dalam al-Qur’an (Islam), konsep surga dimaksudkan terjemahan dari kata bahasa arab,*jannah* – jamak dari Jinan – yang berarti “/kebun, taman/“. Ia adalah tempat yang kekal di akhirat dan diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah Swt yang beriman dan beramal shaleh, tempat yang memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan ketika hidup di dunia dan sebagai balasan jerih payah memenuhi perintah dan menjauhi larangannya. ————————- Dari arti “kebun” itu, tampaknya sangat sesuai ketika Al-Qur’an melukiskan Al-Jannah (surga) sebagai sebuah tempat yang indah, dipenuhi pohonn-pohon rindang, sungai yang airnya mengalir jernih dan segala keindahan lainnya. Hal tersebut dimaksudkan dan juga sejumlah penafsir menggarisbawahi bahwa keadaan di surga, begitu indah dan nikmatnya sampai tidak terbayangkan oleh manusia. ————————– Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang memikat dan menyenangkan hati serta pandangan, di dalamnya terdapat segala sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terpikirkan oleh akal pikiran. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’aala berfirman: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As Sajdah: 17). —————————— Sebagaimana diungkap di atas, surga dan neraka merupakan kelanjutan alami dari perbuatan baik dan jahat manusia. Secara logis manusia memerlukan keduanya sebagai balasan amal mereka. Jika beramal sholeh balasannya adalah surga dan sebaliknya neraka adalah buat orang kafir dan ingkar terhadap ayat-ayatnya. Ini lebih menjelaskan lagi bahwa surga merupakan tempat yang bagus dan sebaliknya dengan neraka. إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108)‏ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (Al Kahfi: 107-108). ——————————— Pengertian Neraka ————————- /Neraka/ dalam terminologi al-Quran memiliki beberapa pengertian, di antaranya: 1) Alam akhirat tempat penyiksaan untuk orang berdosa, 2) Sial, dan 3) Keadaan atau tempat menyengsarakan, penyakit parah, dan kemiskinan. —————– Dalam terminologi al-Quran, kata neraka disebut *naar*, yang berarti api yang menyala. Secara istilah, neraka berarti tempat balasan berupa siksaan bagi orang yang berbuat dosa dan kesalahan. —————— Neraka adalah tempat penyiksaan dimana bentuk hukumannya yang paling sangat menyiksa digambarkan sebagai api. Nama-nama neraka yang digunakan di dalam al-Quran : al-Naar (api),jahannam, al-Jahim (yang membakar), al-Sa’ir (jilatan api), al-Saqar (api yang menghanguskan), al-Hawiyah (jurang), al-Huthamah (api yang meremukkan). ——————— Naar adalah api yang panas sekali —————– Adapun ayat-ayat yang menggunakan kata naar ditemukan sebanyak 194 kali. ——————- Jahannam, yang memiliki arti sumur yang dalam. Kata jahannam dalam al-Quran disebutkan sebanyak 77 kali.

August 24, 2016 Edy Methek 2

ARTI …SURGA  … JANNAH —————————- Kata Janah dalam bahasa Arab […]

MAKNA TAWAKAL TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB——– KEDUDUKAN TAWAKKAL DALAM ISLAM ——————- Pemahaman makna tawakal kaum muslimin dewasa ini kurang tepat. Mereka sudah tidak memahami makna tawakkal yang sebenarnya. Tawakkal hanya menjadi perkataan kosong tanpa ada kenyataannya dalam kehidupan mereka. Berlainan dengan generasi pertama ummat Islam, mereka benar-benar memahami makna tawakkal kepada Allah SWT. Mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya, mereka senantiasa sanggup menyelesaikan berbagai kesulitan yang dihadapi. ————————- Mengapa kaum muslimin saat ini mengalami kemunduran? ini disebabkan karena pemahaman tawakal yang salah. Maka dari itu, bila kita ingin membangkitkan umat islam & mengembalikan kejayaan umat islam lagi , maka salah satu kuncinya adalah memberikan pemahaman tawakal yang benar kepada umat islam, sebagaimana yang dipahami oleh umat islam generasi awal, yang memahami makna tawakal dengan sebenarnya. Sebagai generasi umat islam yang terbaik dengan pemahaman tawakal yang benar, maka umat islam pada waktu itu bisa bangkit dan menjadi umat yang jaya, bisa menghadapi kesulitan & masalah yang dihadapi. Jadi kata kunci tawakal bisa kita pakai terus untuk segala hal yang berkaitan dengan kehidupan umat islam. ————————– Jadi dalam hal apa saja, bila tawakalnya benar maka InsyaAllah hidupnya akan sukses dunia akherat. Maka apabila umat islam saat ini tidak bisa memimpin dunia, umat islam tidak bisa mengatur dunia, tidak bisa menguasai dunia, itu semua dikarenakan tawakalnya yang kurang benar, maka apabila umat islam pemahaman tawakalnya sudah benar, maka umat islam itu akan bangkit & cepat menguasai dunia dengan waktu yang sesingkat-singkatnya seperti pada zaman sahabat dahulu aamiin. ———————– Pada zaman atau generasi sahabat dahulu, mereka bisa menaklukan Romawi, syam, Persia, sampai Iraq. Dan Umat islam mengalami kejayaan pada zamannya Khlalifah Rasyidin, yaitu zamannya Abu Bakar & Umar. ——————- Makna tawakal itu sendiri ada tiga, yang dua salah dalam pemahaman maknanya dan yang satu benar. Pemahaman tawakkal yang salah dari kaum muslimin sekarang ini terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu:……………… 1. Tawakkal berarti terikat dengan hukum sebab-musabab………. 2. Tawakkal berarti melepaskan dari hukum sebab-musabab. —————— 1. MAKNA TAWAKAL TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB ———————- Tawakkal yang dimaksudkan adalah Hadits yang berbunyi: “I’qilha watawakkal…”, maksudnya adalah (“Ikatlah untamu dan bertawakkallah)” (Sunan Tirmidzi: 2636). Hadist ini sangat terkenal & biasanya digunakan untuk memahami makna tawakal, “ikatlah untamu & bertawakallah…” biasanya hadist ini dijabarkan atau dipahami bahwa tawakal itu berikhtiar dulu baru tawakal atau bekerja dulu baru tawakal atau berusaha dulu baru tawakal, yang berarti kejadian dulu baru tawakal. ——————– Misalnya seperti seorang mahasiswa yang akan ujian, maka harus belajar sunguh-sungguh dan mengerjakan ujian dengan serius sampai mati-matian, kemudian menunggu hasil ujian baru tawakal akan hasil yang dicapai. —————— Atau seorang pengusaha, kita sudah berusaha mati-matian mempromosikan dan mengiklankan produk, apakah ada respon atau tidak, kita tawakal, kita tunggu kalau ada yang telpon dari custumer yang mau beli Alhamdulillah, kalau tidak ya,,,belum rezeki. ——————— Hadits “Ikatlah untamu dan bertawakallah…” sering digunakan untuk memperlemah makna tawakkal dalam jiwa manusia. Akibatnya “himmah” dan “azimah” kaum muslimin menjadi turun. Jadi semangat & cita-cita tidak ada, menjadi loyo, Pandangan kehidupannya menjadi sempit, akan merasa lemah, kemampuannya terbatas dan tidak mampu melakukan apapun di luar kemampuannya. ———————

August 16, 2016 Edy Methek 1

KEDUDUKAN TAWAKKAL DALAM ISLAM ——————- Pemahaman makna tawakal kaum muslimin […]

hati-hati …. 72 golongan MUSLIM ke NERAKA.. BERCERMINlah .. itu adalah aku/ kita …. lihat diri kita/ dirimu sendiri …!!!! …………………….. “Dan barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Surah al-Maidah ayat 47) ——————— karena “FASIK” …. banyak manusia terjun ke NERAKA …. —————————– ﴾ As Sajdah:20 ﴿ Dan adapun orang-orang yang FASIK {فَسَقُوا۟} maka tempat mereka adalah JAHANAM. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. ———————- >>>>Yang dimaksudkan dengan fasik, Syeikh Raghib al-Asfahani mendefinisikan sebagai keluar daripada landasan syariat atau agama. Istilah fasik digunakan khusus kepada orang yang diperintahkan dengan hukum Allah SWT namun mereka menolak untuk mentaatinya dan seterusnya mengingkari sama ada sebahagian mahupun keseluruhan hukum itu. ———————————— Dengan lain perkataan, istilah fasik ditujukan kepada mereka yang banyak melakukan dosa, baik dosanya kepada Tuhannya atau dosanya kepada sesama manusia. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> >>>> Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah. HR. Sunan Ibnu Majah. —————————– >>>> Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah? ” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmizi. ………………………….. karena “FASIK” …. banyak manusia terjun ke NERAKA …. ……………………………………………………………. orang yang FASIK adalah orang yang secara SADAR “melanggar larangan atau hukum agama”. ……………………………muslim 72 GOLONGAN = fasik penyebab ke NERAKA.. walau mereka mengaku beriman …… …………………………………………………… >>“mereka MENGAKU beriman kepada Allah” … padahal mereka “pengikut Thaghut” (An Nisaa:60)….>>> Mereka di cap Allah = munafik (An Nisaa:61) ——————————– ﴾ An Nisaa:60 ﴿Apakah kamu tidak memperhatikan ORANG-ORANG YANG MENGAKU DIRINYA TELAH BERIMAN kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak BERHAKIM KEPADA THAGHUT, padahal MEREKA TELAH DIPERINTAH MENGINGKARI THAGHUT ITU. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ————————— ﴾ An Nisaa:61 ﴿ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang MUNAFIK menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّـهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيْتَ ٱلْمُنٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا ﴿النساء:٦١﴾ ————————————- ﴾ An Nisaa:48 ﴿ <<< syirik = menyembah selain Allah … “menyembah” THAGHUT {=”mengikuti semua perintah, berHAKIM, berkawan, koalisi THAGHUT}, … thaghut = kawan syetan Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang MEMPERSEKUTUKAN ALLAH, MAKA SUNGGUH IA TELAH BERBUAT DOSA YANG BESAR. ———————————– “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “SEMBAHLAH ALLAH (saja) dan jauhilah thaghut itu” (Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 36) —————————— Imam al-Shadiq as berkata, “Thaghut adalah orang yang tidak menghakimi dengan benar, membuat keputusan yang menentang perintah Allah lalu perintahnya ditaati. ———————

July 23, 2016 Edy Methek 2

hati-hati …. 72 golongan MUSLIM ke NERAKA.. BERCERMINlah .. itu […]