Loading
Doa | Islam dan Sains-Edy

bagaimana dan cara apa, agar gaya HIDUP dan rahasia hidup SEHAT seperti NABI MUHAMMAD SAW ----------------------------- Gaya hidup yang dijalani oleh Nabi Allah yang terakhir ini sungguh bisa dijadikan teladan bagi umat zaman sekarang. Salah satunya adalah Rasulullah tidak makan sebelum lapar dan tidak berlebihan dalam makan. Hal itu terbukti menyehatkan secara ilmiah. -------------- Jika sudah waktunya tidur, maka Rasulullah SAW akan cepat tidur. Tidur yang tepat di malam hari kira-kira adalah seusai istirahat setelah shalat Isya, kurang lebih pukul 21.30. Kemudian kira-kira pukul 03.00 sudah bangun di pertiga malam untuk shalat malam. Dengan demikian waktu yang digunakan untuk tidur adalah kurang dari delapan jam. Dalam konteks ini, penggunaan waktu 24 jam dalam satu hari satu malam, adalah sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk beribadah kepada Allah, dan sepertiga lagi adalah untuk tidur yang cukup. Tentu saja, perbandingan ini tidaklah kaku, melainkan dalam pengertian dalam keseimbangan. ------------------- Menurut sebuah penelitian berpuasa adalah sebuah metode ampuh untuk menahan diri. Ini merupakan sebuah cara sehat yang belum diketahui orang-orang zaman sekarang. ------------------------ Berikut ini adalah beberapa cara hidup sehat yang selalu beliau amalkan: Selalu bangun sebelum Subuh---------- Rasulullah mengajak umatnya bangun sebelum subuh untuk melaksanakan shalat sunnah dan shalat subuh berjamaah. Hikmahnya adalah mendapat limpahan pahala, kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk menyehatkan paru-paru serta menyegarkan pikiran. Asupan oksigen yang masih bebas polusi bisa menyehatkan otak.Bangun sebelum subuh dimanfaatkan Rosul untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq lewat sholat tahajud, hajat, dan witir, dimana sholat dan doa di seperti malam terakhir termasuk waktu yang mustajabah----------- Aktif menjaga kebersihan------------- Rasulullah SAW senantiasa tampak bersih dan rapi. Setiap kamis atau jumat, beliau mencukur rambut halus di pipi, memotong kuku, bersiwak, serta memakai minyak wangi . Rosul juga sangat menjaga kebersihan mulut dan gigi melalui sunah Beliau bersiwaq sampai sekarang dianut oleh umatnya Tidak pernah makan berlebihan-------- Rasulullah mengajarkan untuk mengisi perut kita dengan 3 hal secara seimbang: sepertiga diisi dengan makanan, sepertiganya dengan air, dan sepertiga sisanya untuk bernapas (diisi dengan udara). ---------- Sabda Rasulullah:”Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan, tidak terlalu banyak(tidak sampai kekenyangan)”.Menurut penelitiohan modern hampir separuh penyakit diakibatkan dari makanan yang berlebih dikonsumsi, seperti diabetes, jantung koroner, ginjal, dan sebagainya --------- Gemar berjalan kaki--------- Rasulullah berjalan kaki ketika ke masjid, pasar, ke medan jihad, ataupun sekedar mengunjungi rumah sahabat. Dengan berjalan kaki peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung. Kaki dan telapak kaki adalah bagian organ tubuh yang sangat penting dalam menjaga metabolisme tubuh, maka dengan berjalan kaki seluruh saraf saraf kaki dan telapak kaki akan selalu aktif yang nantinya akan berdampak positif terhadap organ lain Tidak pemarah--------- Nasihat Rasulullah:”Jangan marah”, diulangi tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kekuatan seseorang bukanlah terletak pada jasad, tetapi pada kebersihan jiwa. ---------- Bila kita marah, cara paling mudah adalah mengubah posisi ketika marah. Jika sedang berdiri, maka duduklah. Jika sedang duduk, maka berbaringlah. Kemudian membaca ta’awudz serta mengambil air wudhu. Karena marah itu asalnya dari setan, dan setan terbuat dari api, maka padamkan dengan air wudhu. Pemarah bias menyebabkan darah tinggi, darah tinggi bisa menyebabkan komplikasi penyakit yang lain seperti ginjal, jantungkoroner, stroke dan lain lain ------------ Optimis dan tidak berputus asa----------- Sikap optimis memberikan kekuatan tersendiri bagi kelapangan jiwa, selain itu perlu juga memperbanyak sabar, istiqamah, serta tawakal kepada Allah SWT.Sifat optimis dan tidak mudah putus asa melahirkan jiwa yang tangguh , kuar, tegar dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompititif Tidak pernah iri hati------------ Kita perlu menjauhi sifat iri hati karena penting untuk menjaga kebersihan hati dan kesehatan jiwa. Kita harus selalu berdo’a: “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat-sifat mazmumah (mendatangkan keburukan pada diri) dan hiasilah diriku dengan sifat-sifat mahmudah (mendatangkan kebaikan pada diri)”.Iri hati , hasud, dan sombong meupakan paket penyakit yang sudah sangat tua sejak iblis iri dengan mahluk Alloh yang bernama Adam. --------- Pemaaf------------ Pemaaf adalah sifat terpuji yang bisa mendatangkan ketenteraman hati dan jiwa. Memaafkan orang lain akan membebaskan diri kita dari belenggu kemarahan. Ketika kita marah, marah itu akan melekat pada hati. Karenanya, mari menjadilan diri kita seorang yang pemaaf, karena dengan memaafkan akan membuat jiwa menjadi lapang dan badan akan selalu sehat. -------- ---- Dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasulullah saw bersabda: ‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah swt daripada orang mukmin yang lemah. (HR Muslim)---- Kesehatan adalah dasar yang sangat penting untuk terwujudnya kekuatan seorang mukmin. Dan rasul saw pun telah meneladankan hidup sehat. Marilah kita cermati hadits-hadits nabi saw untuk meneladani pola hidup sehat yang beliau teladankan bagi kita ---------- Pola Tidur;------- 1- segera tidur, tidak tidur sebelum Isya’------- عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا Dari Abu Barzah, bahwasannya Rasulullah saw membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan berbincang-bincang setelahnya.” (HR. Bukhari)----------- Pengaruh begadang terhadap kesehatan menurut Dr. Harvey Moldofsky, Direktur Center for Sleep and Chronobiology di Universitas Toronto, akan merusak jam biologis. Dan dampak selanjutnya akan mempengaruhi sistem hormon yang bisa membantu pemulihan jaringan di seluruh badan.--------- 2- tidur siang---------- عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ Dari Anas bin Malik, bahwasannya ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Tidur siang (Qailulah)lah, karena syetan-syetan tidak tidur siang (HR Abu Nu’aim dalam kitab ath-Thibb, dan ath-Thabrani)--- Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)-------- Tidur siang selama antara 20 – 30 menit banyak manfaatnya bagi manusia. Tidur siang ini berfungsi untuk stamina, serta meningkatkan produktivitas dan kreativitas kerja.------------- 3- Tidur di sisi kanan--------- عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلاَمِكَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مُتَّ وَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ Dari Barra’ bin ‘Azib, bahwasannya Rasulullah saw bersabda apabila kau hendak tidur, maka berwudlulah seperti wudlumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di sisi kanan, kemudian bacalah do’a (yang artinya) “Ya Allah sesungguhnya Aku telah tundukkan wajahku kepadaMu, dan aku serahkan urusanku kepadaMu, dan aku tundukkan punggungku di hadapan-Mu dengan penuh harapan dan rasa takut kepadaMu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dariMu melainkan kepada-Mu, aku beriman kepada kitab yang Engkau telah turunkan dan beriman kepada Nabi yang Engkau telah utus”, dan jadikanlah kalimah itu sebagai akhir perkataanmu, jika engkau mati pada malam hari itu, kau mati dalam keadaan fitrah------------ Rahasia tidur dengan posisi seperti ini, darah akan lebih terdistribusi ke seluruh tubuh sehingga kerja jantung akan lebih ringan. Selain itu juga memberikan kesempatan kepada lambung untuk beristirahat.--- Pola Makan Rasulullah saw---------- 1- Keseimbangan makan--------- عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ Dari Ma’dikarib, bahwasannya ia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda “Tiada ada bejana anak Adam yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)------------ Keseimbangan makan seperti ini bukan hanya menyebabkan kesehatan fisik, namun juga menjaga kesehatan ruhiyah. Sehingga tidak timbul rasa malas untuk melaksanakan berbagai ibadah kepada Allah swt.---------- 2- Menjaga kesehatan Makanan dan minuman-------------- عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ أَهْرِقْهَا . قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ : فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi saw melarang untuk meniup ke dalam minuman. Kemudian seroang laki-laki berkata, “Lalu bagaimana bila aku melihat kotoran di dalam bejana?” Beliau bersabda: “Kalau begitu, tumpahkanlah.” Ia berkata lagi, “Sungguh, aku tidaklah puasa dengan sekali tarikan nafas.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, jauhkanlah bejana (tempat untuk minum) dari mulutmu.” (HR at-Tirmidzi)------------ عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِى الإِنَاءِ Dari Abu Qatadah; Bahwa Nabi saw melarang menghembuskan nafas di dalam bejana (ketika minum). (HR al-Bukhari dan Muslim)------------ Orang yang bernafas mengeluarkan karbon (C02), dan jika zat ini bersenyawa dengan air maka akan mencemari air di dalam gelas. Bila petunjuk Rasulullah saw ini kita kembangkan, maka kita harus menjauhkan dari hal-hal yang menjadikan bahan makanan kita mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.--------------- Menutup tempat makanan--------- عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ Dari Jabir bin ‘Abdullah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ketempat-tempat air yang tidak tertutup.” (HR Muslim)------------- Makanan dan minuman yang terbuka sangat mudah terkena debu ataupun dimasuki binatang-binatang pembawa kuman, seperti lalat, cicak dan lain-lainnya. Anjuran Rasulullah saw untuk menutup makanan agar tidak kemasukan kuman sangat jelas di dalam hadits ini.----------- 4- Makan Buah-buahan------- عَنْ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ الرُّطَبَ بِالْقِثَّاءِ Dari sa’d, bahwasannya ia berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Ja’far berkata, “Aku melihat Nabi saw makan kurma segar dengan qitsa` (sejenis mentimun).”----------- Pola Hidup Bersih------ 1- Menjaga kebersihan gigi dengan bersiwak---------- عَنْ أَنَسٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي السِّوَاكِ Dari Anas, bahwasannya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Aku telah terlalu sering memperingatkan kalian untuk selalu bersiwak.” (HR al- Bukhari)------- عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ. dari Hudzaifah berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.” (HR al- Bukhari dan Muslim)--------- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan ummatku atau manusia, niscaya aku akan perintahkan kepada mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)---------- Mulut adalah rongga tempat mengolah makan pertama kali. Karena itu di dalam mulut sering ada sisa-sisa makanan. Sisa-sisa ini akan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya penyakit apabila tidak dibersihkan. Anjuran Rasulullah saw untuk bersiwak (gosok gigi) menunjukkan perhatian beliau yang sangat tinggi terhadap kesehatan-------------- 2- Menjaga kebersihan tubuh----------------- عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَالاِسْتِنْشَاقُ بِالْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ . يَعْنِى الاِسْتِنْجَاءَ بِالْمَاءِ. قَالَ زَكَرِيَّا قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ. Dari Aisyah dia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Ada sepuluh perkara dari fitrah; mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), memotong kuku, bersuci dengan air, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’ dengan air.” Zakariya berkata, Mush’ab berkata, “Dan aku lupa yang kesepuluh, kemungkinan adalah berkumur-kumur.” (HR Muslim)------------- Di dalam riwayat lain,--------------- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: “Fithrah itu ada lima, atau ada lima fithrah yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.”---- Baik dalam lima atau yang sepuluh hal di dalam hadits di atas semuanya mengajarkan kebersihan tubuh. Dan kebersihan tubuh akan menjauhkan seseorang dari kuman yang menyebabkannya menjadi sakit.-- 3- Kebersihan air---------------- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di air yang menggenang kemudian dia mandi darinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)--------------- Air kencing mengandung banyak zat-zat beracun yang dikeluarkan dari dalam tubuh. Jika seseorang kencing di dalam air yang menggenang dan tidak mengalir lalu mandi dengan air itu, maka artinya ia mandi dengan air yang mengandung banyak zat yang berbahaya bagi tubuhnya. Tindakan ini bisa berakibat buruk bagi kesehatan seseorang.----------- Berolah raga------------- Di antara beberapa cabang olah raga yang dilakukan pada masa Rasulullah saw adalah sebagai berikut;--- Panahan------- عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ { وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ } أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ Dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah saw menyampaikan ketika beliau di atas mimbar: ‘(Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi) ‘ (Al Anfaal: 60), ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR Muslim)------ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابَقَ بِالْخَيْلِ الَّتِي قَدْ أُضْمِرَتْ مِنْ الْحَفْيَاءِ وَكَانَ أَمَدُهَا ثَنِيَّةَ الْوَدَاعِ وَسَابَقَ بَيْنَ الْخَيْلِ الَّتِي لَمْ تُضْمَرْ مِنْ الثَّنِيَّةِ إِلَى مَسْجِدِ بَنِي زُرَيْقٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ فِيمَنْ سَابَقَ بِهَا Berkuda----------- Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengadakan lomba pacuan kuda yang telah mengkabarkan kepada kamilah dilatih dari Haifa sampai ke Tsaniyatul Wada’, dankuda yang belum dilatih dari Tsaniyah hingga Masjid Bani zurai’. Dan Ibnu’Umar sendiri turut dalam perlombaan itu.” (HR Muslim)---------- Gulat-------------- عَنْ عَلِيِّ بْنِ رُكَانَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رُكَانَةَ صَارَعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَرَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُكَانَةُ dari Ali bin Rukanah, bahwsannya ia berkata, “Rukanah pernah menggulat (membanting) Nabi saw, lalu Nabi saw ganti membanting rukanah. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)---------

September 24, 2016 Edy Methek 1

bagaimana dan cara apa, agar gaya HIDUP dan rahasia hidup [...]

JANGAN memastikan pemberian Allah yang BURUK maka PASTI buruk untuk kita .... atau ... Pemberian Allah yang BAIK maka PASTI BAIK untuk kita ... semua adalah UJIAN dari Allah --------------------------- jika kehidupan seorang yang kafir yang ditakdirkan menjadi penghuni surga maka akan melaksanakan amal perbuatan baik atau bertobat pada akhir hayatnya seperti seorang yang kafir sebelumnya maka masuk islam ketika menjelang ajal. Adapun orang yang baru masuk islam laksana bayi yang baru lahir meskipun amal jahat pernah dilakukan. Karena amal itu akan dihapus dan dia adalah sebagai seorang yang bersih dari dosa sehingga buku amalannya yang baru akan dimulai ketika dia baru masuk islam. Amalan baik atu buruk akan dicatat pada buku amalan baru. Dan apabila dia mati pada saat baru masuk islam maka dia pasti akan masuk surga karena ini adalah janji Allah SWT. Kaum muslimin yang berbahagia, --------------------------- Nah, sudah jelas bahwa tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan didunia kecuali semua telah tercatat sejak dalam kandungan. Mungkin ada yang bertanya, jadi untuk apa kita beramal, jika memang semua yang kita lakukan adalah sudah tertulis sejak kita dalam kandungan. bagaimana jika kita berserah diri saja kepada Allah SWT.. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita simak kisah dari hadits nabi berikut ini, -------------------------- Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786) ----------------------- Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair Al Mahdani dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Zaid bin Wahb dari 'Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): 'Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.' Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.' Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir bin 'Abdul Hamid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki'; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami 'Ubaidullah bin Mu'adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah bin Hajjaj seluruhnya dari Al A'masy melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki'; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu'adz dari Syu'bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (Shahih Muslim No.4781) ------------------ ------------ Kaya dan Miskin ------------- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. ----- Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.--------------- Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.-------- Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ----------- -------------- Empat Jenis Manusia ----------------- Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: ---- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.---- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.----- Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.---------- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.------------- ----------- Hasad dan Ghittoh ---------- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.----- Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.----------- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.-------------- Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.------- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.----------- Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.---------- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.-------- Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. ---------------- ------------- Definisi Fitnah ------------------ Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.------------ Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.----------------- Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ------- ------------- Sumber Fitnah ------------------ Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. --------- Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ------------- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ------------ Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). --------------- ---------------- Bahagia itu Sederhana ---------------- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).---------- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).------------------ Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.--------------- Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.---------------- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. ---------------- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ------------------- ------------ Ujian Hidup ---------- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). -------------- Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.---------------- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).---------------- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. ---------------- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).------------- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).----------------- Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: -------------- Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ------ ------------ Taatilah Allah Sepenuh Hati ------------------- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.----------- Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.-------------- Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. ---------------- ----------- Kesejahteraan itu Perlu ----------------------- Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).------------------ Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.--------------- Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.--------------- Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.--------------- Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.--------------- Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ----------------------- Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ------------ Allâh Ta’ala berfirman:---------- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)-------- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:------------- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]---------- ------- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ----------- Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.------------ Allâh Ta’ala berfirman:----------- Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)---- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:-------- “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].------------- Allâh Ta’ala berfirman:----------- “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)-------- Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:----- “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]----------- ---- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ----------- Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.------------ Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:--- Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)------------- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:----------- “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]----- Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.------ Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.----------- Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:---------- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.------------------- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).--------------- Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:-------- ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).----------- Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]--------- ------------- HIKMAH COBAAN -------- Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.------ Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.-------------- Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:------------- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]------- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]------------

September 17, 2016 Edy Methek 1

JANGAN memastikan pemberian Allah yang BURUK maka PASTI buruk untuk [...]

ALLAH adalah ar-RABB, berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti yang memperbaiki/mengurus sesuatu. ------------------ “Kata ar-Rabb secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. Kata ini tidak boleh digunakan dengan tanpa digandengkan (dengan kata yang lain) kecuali untuk Allah Ta’ala (semata), dan kalau digunakan untuk selain-Nya maka (harus) digandengkan (dengan kata lain), misalnya: rabbu kadza (pemilik sesuatu ini). --------------------- JANGAN BUTA seperti orang-orang SESAT memahami RABBnya, ------------------ Rabb adalah bentuk mashdar, yang ber­arti "mengembang­kan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna". Jadi Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa'il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. ------------------- Adapun jika di-idhafah-kan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Rabb semesta alam." (Al-Fatihah: 2) Juga firmanNya: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang da­hulu". (Asy-Syu'ara: 26) ------------------ Dan di antaranya lagi adalah perkataan Nabi Yusuf Alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan men­jadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya." (Yusuf: 42) Dan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Kembalilah kepada tuanmu ..." (Yusuf: 50) "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar ..." (Yusuf: 41) ------------ Rasulullah bersabda dalam hadits "Unta yang hilang": "Sampai sang pemilik menemukannya". Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah jika ma'rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: "Tuhan Allah Penguasa semesta alam" atau "Tuhan manusia". ----------------- Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah kecuali jika di-idhafah-kan, misalnya: tuan rumah atau pemilik unta dan lainnya. Makna "Rabbal 'alamiin" adalah Allah Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus dan Pembimbing mereka dengan segala nikmat-Nya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitab-Nya dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya. -------------- Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa konsekuensi rububiyah ada­lah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang ber­buat baik dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejaha­tannya. [1] ------------------- Pengertian Rabb Menurut Pandangan Umat-Umat Yang Sesat-------------- Allah Subhannahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan fitrah mengakui tauhid serta mengetahui Rabb Sang Pencipta. Firman Allah: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia ti­dak mengetahui." (Ar-Rum: 30) --------------- "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (Al-A'raf: 172)------------------ Jadi mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri. Sedangkan syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda Rasul bersabda: "Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tu­a-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)----------------- Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan penyimpangan. -------------------- Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang memalingkan mereka." (HR. Muslim dan Ahmad) ----------- Maksudnya, memalingkan mereka kepada berhala-berhala dan menjadikan mereka itu sebagai tuhan selain Allah. Maka mereka jatuh dalam kesesatan, keterasingan, perpecahan dan perbedaan; karena masing-masing kelompok memiliki tuhan sendiri-sendiri. Sebab, ketika mereka berpaling dari Tuhan yang hak, maka mereka akan jatuh ke dalam tuhan-tuhan palsu.------------------ Sebagaimana firman Allah: "Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan ke­sesatan." (Yunus: 32) ------------------ Kesesatan itu tidak memiliki batas dan tepi. Dan itu pasti terjadi pada diri orang-orang yang berpaling dari Allah Subhannahu wa Ta'ala . FirmanNya: "... manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu." (Yusuf: 39-40)------------ Dan syirik dalam tauhid rububiyah, yakni dengan menetapkan adanya dua pencipta yang serupa dalam sifat dan perbuatannya, adalah mustahil. Akan tetapi sebagian kaum musyrikin meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka memiliki sebagian kekuasaan dalam alam semesta ini. Setan telah mempermainkan mereka dalam menyembah tuhan-tuhan tersebut, dan setan mempermainkan setiap kelompok manusia berdasarkan kemampuan akal mereka.---------------- Ada sekelompok orang yang diajak untuk menyembah orang-orang yang sudah mati dengan jalan membuat patung-patung mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh Alaihissalam. Ada pula sekelompok lain yang membuat berhala-berhala dalam bentuk planet-planet. Mereka menganggap planet-planet itu mempunyai pengaruh terhadap alam semesta dan isinya.------------ Maka mereka membuatkan rumah-rumah untuknya serta memasang juru kuncinya. Mereka pun berselisih pandang tentang penyembahannya; ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan dan ada pula yang menyembah planet-planet lain, sampai mereka membuat piramida-piramida, dan masing-masing planet ada piramidanya sendiri-sendiri. Ada pula golongan yang menyembah api, yaitu kaum Majusi.--------------------- Juga ada kaum yang menyembah sapi, seperti yang ada di India; ke­lompok yang menyembah malaikat, kelompok yang menyembah po­hon-pohon dan batu besar. Juga ada yang menyembah makam atau kuburan yang dikeramatkan. Semua ini penyebabnya karena mereka membayangkan dan menggambarkan benda-benda tersebut mempunyai sebagian dari sifat-sifat rububiyah. Ada pula yang menganggap berhala-berhala itu mewakili hal-hal yang ghaib. ---------------------- Imam Ibnul Qayyim berpendapat: "Pembuatan berhala pada mulanya adalah penggambaran ter­hadap tuhan yang ghaib, lalu mereka membuat patung berdasarkan bentuk dan rupanya agar bisa menjadi wakilnya serta mengganti kedudukannya. Kalau tidak begitu, maka sesungguhnya setiap orang yang berakal tidak mungkin akan memahat patung dengan tangannya sendiri kemudian meyakini dan mengatakan bahwa patung pahatannya sendiri itu adalah tuhan sembahannya." [2]------------------ Begitu pula para penyembah kuburan, baik dahulu maupun sekarang, mereka mengira orang-orang mati itu dapat membantu mereka, juga dapat menjadi perantara antara mereka dengan Allah dalam pemenuhan hajat-hajat mereka. Mereka mengatakan: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (Az-Zumar: 3)--------- "Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa'atan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah'." (Yunus: 18)------------------- Sebagaimana halnya sebagian kaum musyrikin Arab dan Nasrani mengira tuhan-tuhan mereka adalah anak-anak Allah. Kaum musyrikin Arab menganggap malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Orang Nasrani menyembah Isa Alaihissalam atas dasar anggapan ia sebagai anak laki-laki Allah.------- Sanggahan Terhadap Pandangan Yang Batil Di Atas Allah Subhannahu wa Ta'ala telah menyanggah pandangan-pandangan tersebut: ---------- a. Sanggahan terhadap para penyembah berhala:-------------- "Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengang­gap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?" (An-Najm: 19-20) -- Tafsir ayat tersebut menurut Imam Al-Qurthubi, "Sudahkah eng­kau perhatikan baik-baik tuhan-tuhan ini. Apakah mereka bisa men­datangkan manfaat atau madharat, sehingga mereka itu dijadikan se­bagai sekutu-sekutu Allah?"----------------- Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Apakah yang kamu sem­bah?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya'. Berkata Ibrahim: 'Apa­kah berhala-berhala itu mendengar (do'a) mu sewaktu kamu berdo'a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka men­jawab: '(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian'." (Asy-Syu'ara: 69-74) ---------- Mereka sepakat, berhala-berhala itu tidak bisa mendengar permo­honan, tidak bisa mendatangkan manfaat dan madharat. Akan tetapi mereka menyembahnya karena taklid buta kepada nenek moyang mereka. Sedangkan taklid adalah hujjah yang batil.------------- b. Sanggahan terhadap penyembah matahari, bulan dan bintang.----------------- Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bin­tang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya." (Al-A'raf: 54) ---------------- "Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." (Fushshilat: 37)-------------- c. Sanggahan terhadap penyembah malaikat dan Nabi Isa atas dasar anggapan sebagai anak Allah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:------------- "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, ..." (Al-Mu'minun: 91)------------ "Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempun­yai isteri." (Al-An'am: 101) "Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlas: 3-4) ------------

September 17, 2016 Edy Methek 1

ALLAH adalah ar-RABB,  berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga [...]

Allah adalah Al-Ilah .... hanya Allah Ar-Rabb Al-Ilah. Tiada tandingan bagi-Nya -------------------------- Ringkasnya, Allah = Al-Ilah (sesembahan) = Al-Ma’luh (yang disembah) = Al-Ma’bud (yang diibadahi) --------------------- “Allah” adalah nama untuk Dzat Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang memiliki nama tersebut selain Dia. Lafal “Allah” berasal dari tashrif أَلِهَ-يَأْلَهُ-أُلُوْهَةٌ-إِلاَهَةٌ-أُلُوْهِيَّةٌ . Selanjutnya, إِلاَهَةٌ (Ilahah) bemakna المألوه (Al-Ma’luh), sedangkan المألوه (Al-Ma’luh) bermakna المغبود (Al-Ma’bud), yaitu yang disembah karena rasa cinta dan pengagungan. -------------------------------- Lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq Para ulama berbeda pendapat tentang asal lafal “Allah”; apakah lafal tersebut adalah isim jamid (bentuk tunggal/berdiri sendiri) atau isim musytaq (bentuk turunan).------------- Pendapat pertama: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim jamid. Alasannya, kondisi musytaq (penurunan bentuk kata) mengharuskan isim tersebut memiliki penyusun sebelumnya, padahal nama Allah itu qadim (paling awal). Sesuatu yang qadim tidaklah memiliki unsur. Hal ini sebagaimana seluruh nama yang hanya sekadar nama namun tak memiliki hubungan dengan akar katanya. Contoh: seseorang bernama Nashir, namun belum tentu dia suka menolong; seseorang bernama Mahmud, namun belum tentu perangainya terpuji; seseorang bernama Syuja’, namun belum tentu dia pemberani.----------------- Pendapat kedua: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim musytaq. Dalilnya adalah firman Allah, وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Q.s. Al-An’am: 3)------------------- Penggalan kata فِي السَّمَاوَاتِ dikaitkan dengan lafal jalalah; maknanya:---------- وَهُوَ المألوه فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ “Dialah sesembahan di langit dan di bumi.”----------- Terkait makna lafal jalalah ‘Allah’, Ibnu ‘Abbas radhiallhu ‘anhuma menyebutkan, الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين ”Allah adalah pemilik hak uluhiyyah (ketuhanan) dan ‘ubudiyyah (penghambaan) atas seluruh makhluk.”--------- Yang rajih dalam hal ini adalah pendapat bahwa lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq. (Penjelasan ini terdapat dalam Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad Khalil Harash dan Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)----------------- Allah adalah Ar-Rabb--------------- Ar-Rabb: Al-Murabbi (pemelihara) seluruh jagad raya beserta isinya. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk bagi-Nya. Dia melengkapi kehidupan makhluk-Nya dengan segala sarana dan prasarana. Dia curahkan nikmat berlimpah kepada mereka. Seandainya seluruh nikmat itu lenyap, niscaya makhluk-Nya tak ‘kan mampu bertahan hidup. Apa pun nikmat yang dirasakan (oleh setiap makhluk) maka itu datang hanya dari Allah. (Taisir Karimir Rahman) -------------------- Tarbiyah (pemeliharaan) Allah atas makhluk-Nya terdiri atas dua jenis:------- At-tarbiyah al-‘ammah (pemeliharaan umum), berupa mencipta makhluk-makhluk, memberi mereka rezeki, dan menunjuki jalan-jalan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka di muka bumi.--------------- At-tarbiyah al-khashshah (pemeliharaan khusus), berupa penjagaan Allah terhadap para wali-Nya (orang yang dekat dengan-Nya). Allah memelihara mereka melalui karunia iman dan taufik. Allah pun menyempurnakan iman dan taufik itu bagi mereka. Allah juga menghilangkan penghambat dan penghalang antara diri mereka dan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah: (i) pemeliharaan di atas taufik menuju segala kebaikan; (ii) penjagaan dari segala keburukan. Barangkali ini adalah makna tersembunyi di balik sebagian besar doa para nabi yang menggunakan lafal “Ar-Rabb”; isi doa-doa mereka adalah meminta at-tarbiyah al-khashshah dari Allah. (Taisir Karimir Rahman)---- ----Berhak disembah karena memiliki sifat rububiyyah------------ Yang mendapat keistimewaan hak uluhiyyah hanya Dzat yang memiliki sifat rububiyyah.---- Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu mencipta jagad raya, seluruh makhluk hidup, gunung, laut, pohon, dan makhluk lainnya. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menurunkan hujan, mendatangkan kemarau berkepanjangan, menimpakan paceklik, mengguncangkan bumi dengan gempa, dan meluapkan air laut. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat.------------ Mustahil seseorang adalah tuhan sedangkan dirinya saja diciptakan. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak mampu mendatangkan manfaat meski bagi dirinya sendiri. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia sendiri tak bisa menyelamatkan dirinya dari bahaya. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak bisa mengubah kondisi jagad raya dan isinya sekehendak dirinya. ------------------------------------ Diantara syarat syarat kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah ilmu, maksudnya: seseorang yang mengucapkannya harus mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. Karena yang dituntut dari setiap orang bukan hanya mengucapkan kalimat ini dengan lisan saja, melainkan juga ia dituntut untuk memenuhi segala syarat syaratnya. Diantara syarat syaratnya adalah mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. --------------------------- Allah Ta'ala telah memerintahkan: فاعلم أنه لاإله إلاالله "Ketahuilah bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Allah"(Muhammad : 19). ----------------------- Dalam sebuah hadits shohih riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda:--------------- من مات وهو يعلم أنه لاإله إلاالله دخل الجنة "Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah, maka ia masuk surga". ------------------------- Mafhum dari hadits ini adalah bahwa barang siapa yang mati sedang ia tidak mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah maka ia tidak akan masuk surga. Orang yang tidak masuk surga adalah bukan orang Islam. Karena orang muslim akan masuk surga. Dalam hadits shohih muttafaqun 'alaihi telah disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:-------- لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة "Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim". ---------------------- Sebab orang yang tidak mengetahui tauhid maka ia tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan tauhid. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan dan menerapkan tauhid maka ia adalah seorang musyrik. Dan segala amalan amalan kebaikan yang dilakukan oleh seorang musyrik tidak akan diterima di sisi Allah, karena amalan amalan tersebut dikerjakan tidak berlandaskan pada tauhid. -------------------------- Allah Ta'ala berfirman tentang amalan amalan orang orang musyrikin: وقدمنا إلي ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا "Dan Kami datangkan apa apa yang telah mereka amalkan, lalu Kami menjadikannya sebagai debu yang berterbangan" ----------------------- Jadi masalah ini adalah masalah besar dan bukanlah masalah sepele. Karena bagaimana mungkin kita dapat mengamalkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah) kalau kita tidak mengetahui makna dari kalimat tersebut. Bahkan orang yang tidak mengetahui makna kalimat ini, maka pasti ia akan mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini, baik secara sadar ataupun tanpa sadar! Lihatlah keadaan pemerintah thogut nkri di sekitar kita. Mereka mengklaim diri mereka sebagai bagian dari kaum muslimin, mereka sholat, puasa serta selalu mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi mereka pada waktu yang bersamaan telah mengatakan secara lisan ataupun secara tingkah laku bahwa diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah !!! Subhanallah !!! Lihatlah juga keadaan aparat aparat keparat yang telah menjadi pelindung pelindung thogut. Sebagian mereka juga mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi pada waktu bersamaan mereka rela menjadi pelindung Ilah Ilah selain Allah, mereka rela membela mati-matian berhala pancasila dan memerangi tentara tentara tauhid !!! Lihatlah juga keadaan orang orang yang beribadah kepada kubur kubur. Mereka sering mengulang-ngulang kalimat tauhid laa ilaaha illallaah tidak ada Ilah kecuali Allah, akan tetapi pada waktu bersamaan mereka telah menjadikan kubur kubur yang mereka ibadahi tersebut sebagai Ilah Ilah selain Allah !!! Kenapa bisa terjadi begini? Karena mereka semua mengucapkan kalimat ini dengan tanpa memenuhi syarat syaratnya, yang salah satunya adalah syarat ilmu. Maka jelas mereka tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan kandungan dari kalimat ini, sehingga mereka bukanlah termasuk orang yang bertauhid !!! ----------------------- Makna Ilah--------------------- Untuk dapat memahami kalimat ini, maka pertama tama kita harus memahami makna dari kata Ilah, sehingga ketika kita mengucapkan kalimat "tidak ada Ilah kecuali Allah" maka kita mengucapkannya berdasarkan ilmu, kita mengetahui apa yang kita ucapkan dan kita siap untuk merealisasikannya. Kita hidup dan mati demi kalimat ini.----------------- Kata Ilah إله dalam bahasa Arab bermakna: sesuatu yang diibadahi, baik secara haq ataupun secara batil. Allah adalah satu satunya Ilah yang haq, hanya Dia saja Ilah yang berhak untuk diibadahi. Adapun pancasila yang disembah, presiden yang ditaati secara mutlak, kuburan yang disembah, salib, patung budha, tempat tempat yang dikeramatkan dan dikultuskan dan lain lain adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya, tapi ini semua adalah Ilah Ilah yang bathil dan palsu, karena ini semua hanyalah makhluk dan sama sekali tidak berhak untuk diibadahi.---------------- الإله (Al Ilah) berasal dari kata alaha - ya'lahu - uluuhah - ilaahah - uluuhiyyah yang bermakna beribadah. Adapun Ilaah adalah sinonim dari kata Ma'luuh yang bermakna obyek yang diibadahi atau sesuatu yang di ibadahi. Bentuk jamak dari kata Ilaah إله adalah aalihah آلهة (Ilah Ilah). Orang orang musyrikin Arab pada zaman Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam telah menyebut berhala berhala mereka dengan aalihah, karena berhala yang mereka ibadahi tidak hanya satu, tapi banyak, diantaranya adalah berhala lata, berhala uzza, berhala manat dan lain lain. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat heran terhadap da'wah tauhid Nabi Muhammad shollallahu 'alihi wa sallam, mereka berkata:------------------- أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيئ عجاب "Kenapa ia menjadikan Ilah Ilah itu hanya Ilah Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang mengherankan"(Shaad : 5) ------------------------------ Jadi mereka heran terhadap da'wah tauhid yang disampaikan oleh Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam. Mereka sangat tahu sekali makna dari kata Ilah. Itulah sebabnya mereka enggan mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah), karena dengan mengucapkan kalimat ini berarti mereka harus meninggalkan Ilah Ilah mereka yang sedang mereka ibadahi. Mereka tahu betul bahwa konsistensi dari mengucapkan kalimat tauhid adalah meninggalkan peribadatan kepada seluruh Ilah Ilah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Ta'ala telah menceritakan keadaan mereka:---------------- إنهم كانواإذا قيل لهم لاإله إلاالله يستكبرون، ويقولون أإنالتاركوا الهتنا لشاعر مجنون "Sesungguhnya mereka (orang orang musyrikin) apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah)" mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: "Apakah kami harus meninggalkan Ilah Ilah kami karena seorang penyair yang gila?"(Ash Shaaffaat : 35-36) ------------------------------- Mereka tahu betul makna kata Ilah. Maka celakalah orang yang mana Abu Jahal lebih tahu darinya tentang makna Ilah !------------------- Jadi segala sesuatu yang diibadahi walau dengan satu bentuk ibadah saja, adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya. Dan ibadah itu sendiri memiliki arti yang luas, tidak seperti yang digambarkan oleh orang orang sekuler, ulama ulama pancasila dan penyembah penyembah kubur. Mereka menggambarkan bahwa ibadah hanyalah amalan amalan seperti sholat, sedekah, puasa, baca Al Quran, dan melaksanakan ibadah haji saja. Sehingga mereka santai santai saja ketika mempersembahkan satu atau beberapa bentuk ibadah kepada sembahan sembahan mereka selain Allah, mereka mengklaim bahwa mereka meyakini tidak ada Ilah selain Allah, padahal kenyataannya mereka telah beribadah kepada banyak Ilah Ilah selain Allah !!! ------------------ Bentuk bentuk ibadah Diantara bentuk bentuk ibadah selain ibadah ibadah ritual yang nampak jelas bagi semua orang, seperti sujud, ruku', sholat, puasa, sedekah, haji dan lain lain adalah seperti dalam perkataan Ibnu Katsir rohimahullah yang telah dinukilkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdulwahab di dalam kitab beliau 'Utsulus Tsalatsah, Ibnu Katsir berkata: ------------------- "Pencipta segala sesuatu ini adalah yang berhak untuk diibadahi. Dan bentuk bentuk ibadah yang telah Allah perintahkan adalah seperti islam, iman dan ihsan, dan termasuk darinya adalah do'a, khouf (takut), roja (rasa berharap), tawakkal, roghbah (rasa berharap), rohbah (rasa takut), khusu', khosyyah (takut), inabah (kembali bertaubat), isti'anah (meminta tolong), isti'adzah (meminta perlindungan), menyembelih hewan, nadzar dan bentuk ibadah yang lain lainnya yang telah Allah perintahkan semuanya hanya untuk Allah Ta'ala."---------------- Dalam kitab Hasyiyah Ushulus Tsalastsah disebutkan bahwa makna perkataan Ibnu Katsir "Dan bentuk ibadah yang lainnya yang telah Allah perintahkan" adalah: "Ini bermakna bahwa bentuk bentuk ibadah tidak hanya khusus pada hal hal ini saja dan tidak terbatas pada bentuk bentuk ini saja yang telah disebutkan oleh beliau rohimahullah, akan tetapi bentuk bentuknya sangat banyak sekali." (Lihat Hasyiyah Utsulus Tsalatsah halaman 54).----------------- Diantara bentuk ibadah adalah ketaatan. Maka wajib beribadah hanya kepada Allah Ta'ala bermakna wajib taat hanya kepada Allah Ta'ala. Yang berhak untuk dita'ati hanyalah Allah Ta'ala saja. Adapun siapapun selain-Nya, maka mereka semua ditaati karena Allah atau atas izin atau perintah dari Allah Ta'ala. Mereka ditaati pada hal hal yang tidak bertentangan dengan syari'at Allah---------- Dalam sebuah hadits disebutkan: لا طاعة لبشر في معصية الله، إنما الطاعة في معروف "Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah pada hal yang ma'ruf" --------------------------- Makhluk apapun yang ditaati secara mutlak bagaimanapun dan apapun juga keadaanya, tanpa melihat apakah ia baik atau buruk dan tanpa melihat apakah perkara tersebut adalah perkara yang baik atau tidak baik, maka makhluk tersebut telah menjadi Ilah dan sembahan bagi orang yang taat buta kepadanya. Dan siapapun juga yang memerintahkan orang lain untuk taat buta kepadanya dalam segala hal dan kondisi, baik pada hal hal yang baik ataupun hal hal yang buruk dan kesyirikan, maka orang tersebut telah menjadi thogut yang wajib untuk kita jauhi dan kufuri.---------------- Betuk ketaatan mutlak seperti ini bila dipersembahkan kepada makhluk, maka ini merupakan sebuah bentuk kesyirikan dan kekafiran yang nyata. Berikut adalah sebagian dari dalil dalilnya: وإن الشياطين ليحون إلي أولياءهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون "Sesungguhnya syetan syetan itu membisikkan kepada kawan kawannya agar mereka membantah (mendebat) kalian, dan jika kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrik."(Al An'am:121) ---------------------------- Disebutkan dalam asbabun nuzul ayat ini, bahwa orang orang musyrikin mendebat para sahabat rodiyallahu 'anhum tentang pengharaman bangkai binatang, karena mereka (orang orang musyrikin) tidak mengharamkan bangkai, lalu turunlah ayat ini: "Bila kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrikin" ------------------- Suatu perbuatan tidak disebut sebagai kesyirikan kecuali apabila terdapat suatu ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Lalu apa bentuk ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan.------------------- Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang orang yang murtad sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah berkata kepada orang orang yang membenci apa apa yang telah Allah turunkan: "Kami akan mentaati kalian dalam beberapa urusan", sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka."(Surat Al Qital:25-26) ---------------------------- Dalam menafsiri firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang orang yang murtad", Ibnu Katsir rohimahullah berkata: "Maksudnya mereka yang meninggalkan keimanan dan kembali kepada kekafiran."---------------- Kemurtadan terjadi apabila seseorang melaksanakan kesyirikan, lalu apa kesyirikan yang disebut dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan kepada orang orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah pada suatu masalah tertentu. Lalu bagaimana gerangan bila mentaati mereka pada semua masalah ?!-------------------- Jadi, seseorang yang mengatakan kepada suatu makhluk tertentu apapun juga bentuk makhluk tersebut, baik berupa seorang manusia atau sekumpulan orang, atau suatu pemerintahan, atau suatu pemikiran seperti pancasila, atau suatu majelis seperti dpr/mpr atau apapun juga bentuknya: "Engkau mempunyai hak untuk memerintah apapun, engkau berhak memutuskan segala hal, apa yang engkau anggap baik maka ia adalah kebaikan dan apa yang engkau anggap buruk maka ia adalah keburukan, dan engkau mempunyai hak untuk ditaati dalam hal itu semua, engkau wajib ditaati apapun yang engkau perintahkan.". Maka orang ini telah menjadikan makhluk tersebut sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah, bentuk peribadatannya kepada makhluk tersebut adalah ketaatan kepadanya.---------------- Diantara bentuk ibadah yang lain adalah tahaakum (berhakim atau berhukum). Bila seseorang dalam segala urusannya berhakim kepada syariat Allah, maka dia adalah hamba Allah dan masuk dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya, bila ia berhakim kepada selain Allah, walaupun pada suatu urusan tertentu, maka ia berarti telah beribadah kepadanya dan telah menjadikannya sebagai Ilah selain Allah.--------------- Allah Ta'ala berfirman: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mengaku ngaku telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thogut, padahal mereka telah diperintah untuk kafir kepada thogut. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.(An Nisa ; 60) '---------------------- Syeikh Muhammad bin Ibrahim rohimahullah berkata dalam buku beliau Tahkimul Qowanin (Hukum menerapkan undang undang buatan): "Sesungguhnya firman Allah Azza wa Jalla: "Mengaku ngaku" adalah bentuk pendustaan bagi mereka atas apa yang mereka klaim dari keimanan, karena tidak akan berkumpul di dalam hati seseorang perbuatan berhakim kepada selain apa yang telah dibawa oleh Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam dengan keimanan, bahkan masing masing dari keduanya akan menafikan (meniadakan) yang lain."------------------ Syeikh Abu Bashir Ath Thorthusiy hafizhahullah berkata: "Bila keimanan tidak terdapat pada diri seseorang kecuali dengan berhakim (atau berhukum) kepada syari'at Allah Azza wa Jalla, maka hal itu menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa sesungguhnya berhakim (berhukum) kepada syari'at Allah Ta'ala adalah sebuah ibadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala karena perbuatan ini adalah syarat dari keimanan. Sesuatu hal tidak akan menjadi syarat dari keimanan kecuali ia mengandung peribadatan kepada-Nya Azza wa Jalla. Adapun yang kedua adalah, bahwa ketidak adanya sikap berhakim (berhukum) kepada syari'at Allah Azza wa Jalla akan meniadakan keimanan dari pelakunya. Dan telah disebutkan diatas bahwa keimanan tidak akan hilang pada diri pemiliknya kecuali karena sebab kesyirikan yang mengandung peribadatan kepada makhluk walau pada satu sisi tertentu. Maka (ini semua) menunjukkan bahwa perbuatan tahaakum (berhakim) adalah merupakan sebuah peribadatan dari pelakunya kepada obyek (yang ia berhakim kepadanya). Maka barang siapa yang berhakim kepada Allah saja dalam seluruh urusan kehidupannya yang khusus ataupun yang umum, maka ia adalah hamba Allah. Dan barangsiapa yang berhakim kepada selain Allah apapun juga bentuknya, walau pada satu permasalahan hidupnya, maka ia adalah hamba bagi sesuatu yang selain Allah ini." Dan ia telah menjadikan sesuatu yang selain Allah ini sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah.--------------------- Diantara bentuk ibadah yang lain adalah: Kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan.-------------- Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda أوثق عرى الإيمان الموالة في الله والمعاداة في الله والحب في الله والبغض في الله عز و جل "Sekokoh kokohnya ikatan iman adalah loyalitas (al muwalah) karena Allah, memusuhi (al mu'adah) karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah." ------------------------- Jadi keempat perbuatan ini adalah merupakan ikatan keimanan yang paling kokoh, karena perbuatan perbuatan ini adalah merupakan bentuk peribadatan yang paling sempurna dan paling tinggi tingkatannya. Keempat perbuatan ini wajib untuk dipersembahkan hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Adapun selain Allah, maka mereka semua dicintai atau dibenci karena Allah, serta diloyali dan dimusuhi karena Allah.-------------------- Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata: "Tidak boleh mencintai segala sesuatu yang ada karena sebab zatnya (dirinya) kecuali Dia Subhanahu wa bihamdihi. Segala sesuatu yang dicintai di alam semesta ini, itu hanyalah boleh untuk dicintai karena sebab selainnya, bukan karena sebab zatnya (dirinya). Hanya Rob Ta'ala yang wajib untuk dicintai karena Diri-Nya. Dan ini adalah termasuk dari makna makna ke-Ilahan-Nya. Dan bila di langit dan di bumi terdapat dua Ilah, maka langit dan bumi pasti akan hancur."---------------- Maka barang siapa yang loyalitasnya, permusuhannya, kecintaannya dan kebenciannya karena Allah dan Rosul-Nya, dimana dia tidak mencintai kecuali apa apa yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya, tidak membenci kecuali apa yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, serta tidak loyal kecuali kepada orang yang loyal kepada Allah dan Rosul-Nya dan tidak memusuhi kecuali orang yang dimusuhi oleh Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia adalah hamba Allah dan telah beribadah kepada-Nya saja. Sebaliknya, barangsiapa yang mana kecintaan dan kebenciannya, loyalitas dan permusuhannya berdasarkan selain Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia telah menjadi hamba bagi selain Allah tadi dan telah mempersembahkan kepadanya bentuk ibadah yang paling tinggi derajatnya.------------------ Contoh, bila kecintaan, loyalitas dan permusuhan seseorang berdasarkan tanah air dan nasionalisme kebangsaan, dimana ia akan loyal kepada siapapun yang setanah air dan sebangsa dengannya walaupun mereka adalah musuh Allah dan Rosul-Nya, atau ia akan mencintai dan menjunjung tinggi budaya tanah air dan bansanya walaupun itu merupakan perbuatan syirik kepada Allah, maka berarti ia telah menjadi hamba tanah air dan telah beribadah kepada tanah air, baik ia mengakui hal ini ataupun tidak mengakuinya ! Apa yang ia ikrarkan bahwa tidak ada Ilah selain Allah adalah merupakan sebuah kedustaan besar, karena pada saat yang sama ia telah menjadikan tanah air dan bangsanya sebagai Ilah selain Allah !---------------------------- Hak hak khusus yang hanya dimiliki oleh Ilah-------------------- Dari penjelasan diatas, maka kita dapat mengetahui beberapa diantara hak hak khusus ke-Ilahan yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dimana tidak satu makhlukpun boleh mengklaim bahwa dirinya memiliki salah satu atau beberapa dari hak hak ini, karena kalau demikian, maka ia telah mengklaim bahwa dirinya adalah Ilah selain Allah ! Atau tidak seorangpun boleh meyakini bahwa ada suatu makhluk apapun bentuknya, baik berupa satu orang manusia, atau sekumpulan orang, atau suatu bangsa, atau suatu pemikiran atau yang lainnya memiliki hak hak ini, karena kalau demikian, maka berarti ia telah meyakini bahwa makhluk tersebut adalah Ilah selain Allah ! Diantara hak hak khusus ke-Ilahan adalah sebagai berikut:----------------- Hukum hanyalah milik Allah Ta'ala saja------------- Hak membuat syari'at dan undang undang, menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya adalah hanya milik Allah Ta'ala saja.------------- Hanya Allah saja yang menentukan hukum sesuai apa yang Dia kehendaki dan tidak seorangpun dapat mengkritik hukum yang Dia tetapkan.--------------- Hanya Allah Ta'ala saja yang tidak dimintai pertanggung jawaban, sedangkan selain-Nya maka mereka semua akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan.---- Hanya Allah Ta'ala saja yang dicintai karena Dzat-Nya, sedangkan selain-Nya maka mereka semua dicintai karena Allah dan atas izin dan perintah dari Allah.----- Hanya Allah Ta'ala saja yang ditaati karena Dzat-Nya, sedangkan selain Allah Ta'ala maka mereka semua ditaati karena-Nya dan dalam rangka mentaati-Nya.----------------- Hanya Allah Ta'ala saja yang dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat.-------------

September 17, 2016 Edy Methek 1

Allah adalah Al-Ilah .... hanya Allah Ar-Rabb Al-Ilah. Tiada tandingan [...]

AKHIRAT adalah TUJUAN kita HIDUP di dunia .... mustahil menyeimbangkan antara dunia dan akhirat ----------------- jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. ---------------------- Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77). --------------------- Lalu Allah katakan, jangan kamu lupakan BAGIANMU dari dunia. Ya, “bagianmu”, yakni bagian kecil dari duniamu, bukan setengahnya, apalagi semuanya. Jelas sekali dari ayat ini, bahwa kita harusnya mementingkan akherat, bukan seimbang dengan dunia, apalagi mendahulukan dunia. ------------------- Jujurlah, mungkinkah Anda menyeimbangkan antara dunia dan akherat?! Sungguh, seakan itu hal yang mustahil. Yang ada: mendahulukan dunia, atau mendahukan akherat. Dan yang terakhir inilah yang Allah perintahkan. ------- Makanya, Allah berfirman dalam ayat lain: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku“. (QS. Adz-Dzariyat: 56).---- Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan. Jika demikian, pantaskan kita menyeimbangkan antara tujuan utama dengan yang lainnya?!------ Bahkan dalam doa “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahukan kehidupan akherat:----- رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“. (QS. Albaqoroh: 201)--------- Di sini ada 3 permintaan; 1 permintaan untuk kehidupan dunia, dan 2 permintaan utk kehidupan akherat. Inilah isyarat, bahwa kita harus lebih memikirkan kehidupan akherat, wallohu a’lam. ===================== ================================= Kehidupan Akhirat Adalah Tujuan--------- Allah SWT berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat".------- Di sini terlihat dengan jelas bahwa yang harus kita kejar adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman: "Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya" (QS. Al-Ankabut: 64).--------- Lalu, apa arti kita hidup di dunia?... Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat. Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan. Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi. Bila demikian tabiat dunia, mengapa kita terlalu banyak menyita hidup untuk keperluan dunia? Diakui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya bisa dipastikan terkuras habis oleh kegiatan yang berputar-putar dalam urusan dunia.------------ Coba kita ingat nikmat Allah yang tak terhingga, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Tapi mengapa kita lalaikan itu semua. Detakan jantung tidak pernah berhenti. Kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati. Tapi kita sengaja atau tidak selalu melupakan hal itu. Kita sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanja kita dengan nikmat-nikmatNya, kita sering kali memalingkan ingatan. Akibatnya kita pasti akan lupa akhirat. Dari sini dunia akan selalu menghabiskan waktu kita.---------- Orang-orang bijak mengatakan bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia dibangun semata sebagai keperluan. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan. Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah itu. Begitu juga sebenarnya sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sementara akhirat dikesampingkan.------

September 10, 2016 Edy Methek 1

AKHIRAT adalah TUJUAN kita HIDUP di dunia .... mustahil menyeimbangkan [...]

1 2 3 7