Loading
Heran | Islam dan Sains-Edy

JANTUNG / QALBU bukan hanya PHYSIC tapi berPIKIR dan MEMAHAMI —————————- Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas? Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.———— Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.———- Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik…——— Manusia sering kali melakukan sesuatu atas dasar hawa nafsunya yang mengakibatkan perbuatan tersebut berdampak negative ditengah-tengah masyarakat. Untuk menghindari penyesalan diakhir perbuatan yang akan dilakukan, maka seyogyanya bertanyalah pada hati kecil, baik dan buruknya perbuatan tersebut. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk memahami hatinya atau bahasa lain adalah “Qolbu”. ——————- Dalam hadis Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب Artinya: ” Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori ). ———- Jika kita pahami secara mendalam hadis tersebut, maka hati sangat berperan dalam kehidupan jiwa manusia, karena hati yang bersih akan melahirkan jiwa yang bersih dan selalu taat serta tunduk terhadap titah dari Sang Ilahi Rabbi. Sebaliknya jiwa yang kotor disebabkan karena jiwa tersebut memiliki hati yang tidak baik dan selalu melanggar aturan yang telah digariskan oleh Allah Swt. =========================== Riset Al Quran & Sains: QALBU (JANTUNG) PUSAT BERFIKIR MANUSIA ————————– ” Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai Qalbun (jantung) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah Qalbun yang di dalam dada.”(QS. Al-Hajj: 46)————— Syaikh az-Zindani ditanya: Apakah pusat keyakinan (keimanan) dan berpikir dalam diri manusia adalah jantung? Jika demikian, bagaimana dengan praktek cangkok jantung dan pemasangan jantung buatan? Dan apakah al-Qalb (jantung) yang ada dalam al-Quran dan Sunnah (hadits) adalah jantung ini?———— Beliau menjawab:Pagi hari ini baru saja aku menemukan jawaban baru, yang telah lama aku mencarinya. Sejak beberapa waktu yang lalu, kami terus mencari dan menelusuri permasalahan ini. Maka kami mengutus salah seorang saudara kami ke pusat proses mekanisme pengubahan (pencangkokan) jantung buatan di Amerika. Dia berkata:” Apakah Anda mengizinkan saya untuk bertemu dengan pasien?” Mereka berkata:” Kami tidak mengizinkan untuk Anda!” Mengapa? Saya hanya ingin bertemu dengan mereka dan bertanya kepada mereka.————– Maka apa yang terjadi? Mereka merasa sangat cemas dan gelisah dengan permintaan saya! Mengapa? Mereka berkata kepada saya:”Informasi apapun yang Anda inginkan, kami akan menyajikannya untuk Anda.” Kami katakan:” Insyaa Allah, Rabb (Tuhan) kita akan mengungkap dan akan menjadikan hal ini sebagai suatu keajaiban ilmiah, yang kami berbicara dengannya pada hari-hari dan tahun tahun mendatang – Insya Allah – sehingga kalian akan melihat dan akan mengingatnya.” ————– Maka kami mulai mencari dan meneliti kembali, dan ternyata ada salah seorang profesor di Universitas King Abdul Aziz berkata kepadaku:” Apakah anda belum mendengar berita tentang hal itu?!” Saya berkata:” Apa itu?” Dia berkata:”Berita itu sudah dipublikasikan dalam sebuah koran semenjak tiga setengah tahun yang lalu. Koran itu mengatakan:” Mereka menemukan bahwa jantung bukan hanya memompa darah, tapi ia merupakan pusat akal dan pikiran.” Allahu Akbar, tunjukan dan berikan kepadaku koran tersebut.————— Lalu ia pun membawakan koran itu untukku, dan koran itu ada padaku. Dan ini adalah pintu pertama. Hari-haripun berlalu dan suatu ketika aku berada di pusat penggantian jantung di Yordania. Maka aku berkata:”Negeri ini adalah negeri Arab semoga saja -Insyaa Allah- akan mudah bagi kami untuk mendapatkan pengetahuan (maklumat) tentang hal itu.” Dan kami melihat hal itu dengan mata kami sendiri. Lalu salah seorang saudara kami pengamat dalam masalah ini berkata:”Apakah Anda mendengar konferensi pers tentang orang pertama yang mengganti jantungnya?” Aku berkata:” Tidak.” Dia mengatakan:” Telah diadakan konferensi pers, dan mereka berkata (keluarga orang yang jantungnya diganti):’ Jika kalian bersama kami di rumah kami, kalian melihat perilaku dia (orang yang jantungnya diganti), niscaya kalian tidak akan iri kepada kami terhadap penggantian jantung ini.'” Dan masih ada perkataan lain di sana namun bukan itu yang menjadi topik pembahasan kami.—————— Pagi hari ini salah seorang saudara kami, seorang dokter dari Saudi yang sibuk dalam proses penggantian jantung dan ingin mempersiapkan penelitian untuk masalah ini, menghubungiku. Maka aku mulai bertanya kepadanya:”Saya ingin anda fokus pada perubahan yang terjadi pada akal (mental), psikologis (kejiwaan), dan kemampuannya untuk memilih, apa yang terjadi?” Dia berkata:” Pertama saya ingin mengatakan kepada anda sesuatu yang sekarang sudah maklum (diketahui) oleh orang-orang yang bekerja di bidang ini, yaitu bahwa jantung yang baru, tidak ada sedikitpun perasaan dan emosi padanya.”——– Apa maksud ungkapan ini? Dia mengatakan:” Jantung ini (jantung buatan) jika engaku mendekatkan kepadanya sesuatu yang tampaknya membahayakan, maka seolah-olah ia tidak merasa terancam oleh apa-apa! Padahal yang kedua (jantung asli) akan merinding ketakutan. Dan jika engkau mendekatkan kepadanya sesuatu yang disukainya, maka seolah-olah engkau tidak memberikan apa pun kepadanya. Sungguh jantung yang dingin (pasif) dan tidak interaktif dengan seluruh anggota tubuh.”—————- Maka aku katakan:” Ini -insya Allah- Dia akan mengungkap banyak sisi kemukjizat (keajaiban), dan akan menunjukkan apa yang kami cari, maka bersabarlah sedikit. Karena masalah ini baru di awalnya.” Mereka mengatakan:” Mereka menemukan bahwa di dalam jantung ada hormon untuk berfikir, dan hormon ini mengirim pesan ke seluruh tubuh. Dan sesungguhnya jantung adalah pusat nalar dan berpikir, dan bukan hanya sekedar pemompa darah.” Wallahu A’lam dan sungguh janji kita adalah dekat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.———— ——————- EFEK SAMPING TRANSPLANTASI JANTUNG: APAKAH MEMORI TERSIMPAN DALAM SEL? —————- Legenda menceritakan bahwa pada 2.500 tahun lalu, pada masa Periode Negara Berperang, dua pria menemui seorang ahli pengobatan China kuno terkenal bernama Bian Que. Bian menyembuhkan penyakit mereka dengan sangat cepat, tetapi dia menemukan bahwa kedua pria ini mempunyai masalah lain yang dapat menjadi serius sejalan dengan waktu. Bian mengatakan bahwa mereka akan jadi sehat jika mereka saling menukar jantung mereka, dan mereka setuju untuk mengizinkan Bian melakukan operasi. —————– Bian memberikan pada dua orang tersebut sejenis anestetik, dan mereka kehilangan kesadaran selama tiga hari, waktu yang dipergunakan oleh Bian untuk membuka dada mereka, menukar jantung mereka, dan melakukan pengobatan. Ketika mereka sadar kembali, mereka telah pulih dan sehat seperti sedia kala. ————– Tetapi terdapat suatu masalah: ketika mereka pulang ke rumah, mereka berdua tercengang karena istri mereka tidak dapat mengenali mereka. Ternyata mereka berdua saling tertukar pergi ke rumah temannya dan berpikir bahwa istri temannya itu adalah istri mereka. ————- Hampir tidak dapat dipercaya bahwa pembedahan semacam itu dapat dilakukan pada 2.500 tahun lalu, tetapi cerita ini secara luar biasa mirip dengan situasi yang ditemui pada kasus tranplantasi jantung moderen. ————- Media Inggris, Daily Mail, melaporkan bahwa setelah melakukan sebuah transplatasi jantung, Sonny Graham dari Georgia jatuh cinta kepada istri si pendonor dan menikahinya. Dua belas tahun sesudah pernikahan, dia melakukan bunuh diri dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh pendonornya. ——- Pada laporan Daily Mail yang lain, seorang pria bernama William Sheridan menerima sebuah jantung dari seorang pelukis yang meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, dan tiba-tiba dia mampu untuk membuat lukisan indah tentang kehidupan liar dan pemandangan alam. —————– Claire Sylvia, penerima donor jantung dan paru-paru pada 1988, menulis dalam bukunya A Change of Heart: A Memoir, bahwa setelah melakukan transplantasi dia mulai menyukai mengonsumsi bir, ayam goreng dan paprika hijau, yang sebelumnya tidak dia sukai, namun pendonor remaja pria berusia 18 tahun amat menyukainya. —————- Dia bermimpi di mana dia mencium seorang seorang anak lelaki yang dipikirnya bernama Tim L., dan menghirupnya ke dalam dirinya pada saat berciuman. Dia kemudian menemukan bahwa Tim L. adalah nama pendonor tersebut. Dia heran apakah hal ini terjadi karena salah seorang dokter menyebutkan namanya pada saat dia dioperasi, tetapi kemudian dokter memberitahukan bahwa mereka tidak tahu nama si pendonor. —————– Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Near-Death, Dr. Paul Pearsall dari University of Hawaii dan Dr. Gary Schwartz dan Dr. Linda Russek dari University of Arizona mendiskusikan 10 kasus dari transplantasi jantung atau jantung – paru-paru di mana dilaporkan bahwa para penerima donor mempunyai “perubahan dalam makanan, musik, seni, seks, rekreasi, dan pilihan karir, dan termasuk contoh-contoh tanggapan yang spesifik terhadap nama dan pengalaman yang berhubungan dengan pendonor.” ———————- Dalam salah satu kasus, mereka gambarkan pendonornya adalah seorang keturunan Afrika Amerika, jadi penerima berpikir bahwa pendonor menyukai musik rap dan tidak mengira bahwa transplantansi yang dia lakukan telah menyebabkan kegemaran baru terhadap musik klasik. Dan ternyata pendonor tersebut adalah seorang pemain biola dan menyukai musik klasik. ———————— Kasus ini mengesankan bahwa perubahan perilaku penerima donor terjadi tanpa diduga sebelumnya. Namun kasus-kasus seperti ini tidak serupa dengan efek pengobatan plasebo yang menimbulkan perubahan kondisi kesehatan pasien secara langsung tanpa diduga sebelumnya. ————————- Sebagai tambahan, peneliti menemukan bahwa seperti penerima di atas, ada kemungkinan bahwa penerima lain yang mengesampingkan ide bahwa mereka telah mengadopsi kegemaran pendonor karena harapan mereka pada pendonor, sehingga jumlah penerima transplantasi organ yang mengalami perubahan kepribadian serupa seperti pendonor mereka tidak terlaporkan. —————— Pearsall, Schawartz dan Russek menyimpulkan bahwa kejadian ini terjadi secara kebetulan, dan hipotesa yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh ingatan dalam sel, yang berarti bahwa memori dan kegemaran dapat tersimpan dalam sel. —————— Tetapi tidak dapat terdeteksi apakah bentuk memori ini eksis. ===================== Tanda-tanda hati yang kotor atau sakit —————— Fitrah manusia adalah suci dan bersih dalam menjalankan perintah agama,namun terkadang dalam perjalanan kehidupannya, manusia sering lupa dan lalai serta terjerumus dalam sifat-sifat “syaithoniyah”. Untuk mengenal lebih jauh tanda-tanda hati manusia yang telah kotor atau sakit, berikut ini salah satu tandanya :———— Adanya sifat nifaq ( Munafik ) dalam jiwa manusia, mari kita renungkan firman Allah Swt. Dalam surat al-Baqarah :——— وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ .فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ . Artinya : ” Dan diantara manusia ada yang berkata ” kami beriman kepada Allah dan hari akhir “, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang2 yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang2 yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit ( Nifaq ), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta “. ( QS.al-Baqarah : 8-10 )————– Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut, maka sifat munafik akan menjadikan hati manusia bertambah kotor dan rusak, karena pada dasarnya manusia yang memiliki sifat nifaq akan terlihat diluar dirinya manis akan tetapi dalam bathinnya dia memiliki sifat-sifat syaithoniyyah, apa saja sifat-sifat tersebut, Syekh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya “al-Kassyaf”, menggambarkan hati yang sakit karena sifat nifaq dalam diri manusia adalah selalu condong untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt. Sedangkan Syekh Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya “Zahratu at-Tafasir”, bahwasanya hati akan menjadi keras karena sifat nifaq yang selalu menanamkan kedengkian dan selalu menghinakan orang2 yang beriman. Penyakit hati tersebut menurut beliau tidak ada obatnya, na’udzubillah.—————-

September 27, 2016 Edy Methek 1

JANTUNG / QALBU bukan hanya PHYSIC tapi berPIKIR dan MEMAHAMI […]

Mengapa ISLAM ingin kita percaya dan mengAMALkan pada qadar / TAKDIR BAIK dan BURUK ? ———————- Percaya pada takdir adalah salah satu enam rukun iman ( iman ) dan wajib bagi setiap Muslim untuk percaya pada qadar ( takdir ) . Dengan demikian , orang yang mengingkari ” qadar ” telah keluar dari Islam dan iman . Lalu , apa hikmahnya dalam Islam menempatkan iman pada qadar di tempat yang sedemikian penting ? ———————– Umar Ibn Al – Khattab ( ra ) meriwayatkan : ” Suatu hari ketika kami berada bersama Rasulullah ( saw ) , seorang pria dengan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam menghampiri kami . Tidak ada tanda-tanda pada dirinya yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan perjalanan, dan tak satu pun dari kami mengenalinya . Saat dia duduk di samping Nabi ( SAW ) , menyandarkan lututnya terhadap lutut nabi dan meletakkan tangannya di atas barang miliknya, …———- Dia berkata: ” Sekarang ceritakan padaku tentang Iman . ” Dia menjawab : ” Iman artinya kamu harus percaya kepada Allah ( swt ) , malaikat-malaikat-Nya , kitab-kitab-Nya , rasul-rasul -Nya , dan hari kemudian , dan kamu harus beriman pada takdir baik dan buruk. ” …———– Orang itu kemudian pergi , dan setelah saya telah menunggu beberapa lama , [ Nabi ] berkata kepadaku : ” Apakah kamu tahu siapa penanya itu , Umar ? ” Saya menjawab : Allah dan Rasul -Nya lebih tahu ” Dia berkata: ” Dia adalah Jibril yang datang kepadamu untuk mengajarkan agamamu. ” ( HR Bukhari ) ——————– Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————– “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———- “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]——— Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————- —-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——– Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.—— Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———– Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————- Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————– Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]———— Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——- Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——- ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————- Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz——— Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]—————— Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.——— Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——– “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———- Allah Maha Berkehendak——————– Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———- ”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———– Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————- Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]————— Mendekat Kepada Allah————- Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.———— Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————- Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]——— Berserah diri Kepada Allah——————- Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———– Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——- “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]——— Menerima Ketetapan/Takdir Allah————– Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————- Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——– Jangan Putus Asa!————— Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——– Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————– Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————- Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]———— Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]——— Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.———— Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————- Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—– ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,— (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———- ”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———– Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——– sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———– ”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————- Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita——— Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——– ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———- ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]——— “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——- ———Berusaha Mencari Karunia Allah——- Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.———— ”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——- Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————– ========= Allah Maha Tahu =========== Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan———— Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)————— Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:— Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)—————— Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————– Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—- ====================

September 17, 2016 Edy Methek 1

Mengapa ISLAM ingin kita percaya dan mengAMALkan  pada qadar / […]

Allah adalah Al-Ilah …. hanya Allah Ar-Rabb Al-Ilah. Tiada tandingan bagi-Nya ————————– Ringkasnya, Allah = Al-Ilah (sesembahan) = Al-Ma’luh (yang disembah) = Al-Ma’bud (yang diibadahi) ——————— “Allah” adalah nama untuk Dzat Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang memiliki nama tersebut selain Dia. Lafal “Allah” berasal dari tashrif أَلِهَ-يَأْلَهُ-أُلُوْهَةٌ-إِلاَهَةٌ-أُلُوْهِيَّةٌ . Selanjutnya, إِلاَهَةٌ (Ilahah) bemakna المألوه (Al-Ma’luh), sedangkan المألوه (Al-Ma’luh) bermakna المغبود (Al-Ma’bud), yaitu yang disembah karena rasa cinta dan pengagungan. ——————————– Lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq Para ulama berbeda pendapat tentang asal lafal “Allah”; apakah lafal tersebut adalah isim jamid (bentuk tunggal/berdiri sendiri) atau isim musytaq (bentuk turunan).————- Pendapat pertama: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim jamid. Alasannya, kondisi musytaq (penurunan bentuk kata) mengharuskan isim tersebut memiliki penyusun sebelumnya, padahal nama Allah itu qadim (paling awal). Sesuatu yang qadim tidaklah memiliki unsur. Hal ini sebagaimana seluruh nama yang hanya sekadar nama namun tak memiliki hubungan dengan akar katanya. Contoh: seseorang bernama Nashir, namun belum tentu dia suka menolong; seseorang bernama Mahmud, namun belum tentu perangainya terpuji; seseorang bernama Syuja’, namun belum tentu dia pemberani.—————– Pendapat kedua: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim musytaq. Dalilnya adalah firman Allah, وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Q.s. Al-An’am: 3)——————- Penggalan kata فِي السَّمَاوَاتِ dikaitkan dengan lafal jalalah; maknanya:———- وَهُوَ المألوه فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ “Dialah sesembahan di langit dan di bumi.”———– Terkait makna lafal jalalah ‘Allah’, Ibnu ‘Abbas radhiallhu ‘anhuma menyebutkan, الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين ”Allah adalah pemilik hak uluhiyyah (ketuhanan) dan ‘ubudiyyah (penghambaan) atas seluruh makhluk.”——— Yang rajih dalam hal ini adalah pendapat bahwa lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq. (Penjelasan ini terdapat dalam Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad Khalil Harash dan Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)—————– Allah adalah Ar-Rabb————— Ar-Rabb: Al-Murabbi (pemelihara) seluruh jagad raya beserta isinya. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk bagi-Nya. Dia melengkapi kehidupan makhluk-Nya dengan segala sarana dan prasarana. Dia curahkan nikmat berlimpah kepada mereka. Seandainya seluruh nikmat itu lenyap, niscaya makhluk-Nya tak ‘kan mampu bertahan hidup. Apa pun nikmat yang dirasakan (oleh setiap makhluk) maka itu datang hanya dari Allah. (Taisir Karimir Rahman) ——————– Tarbiyah (pemeliharaan) Allah atas makhluk-Nya terdiri atas dua jenis:——- At-tarbiyah al-‘ammah (pemeliharaan umum), berupa mencipta makhluk-makhluk, memberi mereka rezeki, dan menunjuki jalan-jalan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka di muka bumi.————— At-tarbiyah al-khashshah (pemeliharaan khusus), berupa penjagaan Allah terhadap para wali-Nya (orang yang dekat dengan-Nya). Allah memelihara mereka melalui karunia iman dan taufik. Allah pun menyempurnakan iman dan taufik itu bagi mereka. Allah juga menghilangkan penghambat dan penghalang antara diri mereka dan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah: (i) pemeliharaan di atas taufik menuju segala kebaikan; (ii) penjagaan dari segala keburukan. Barangkali ini adalah makna tersembunyi di balik sebagian besar doa para nabi yang menggunakan lafal “Ar-Rabb”; isi doa-doa mereka adalah meminta at-tarbiyah al-khashshah dari Allah. (Taisir Karimir Rahman)—- —-Berhak disembah karena memiliki sifat rububiyyah———— Yang mendapat keistimewaan hak uluhiyyah hanya Dzat yang memiliki sifat rububiyyah.—- Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu mencipta jagad raya, seluruh makhluk hidup, gunung, laut, pohon, dan makhluk lainnya. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menurunkan hujan, mendatangkan kemarau berkepanjangan, menimpakan paceklik, mengguncangkan bumi dengan gempa, dan meluapkan air laut. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat.———— Mustahil seseorang adalah tuhan sedangkan dirinya saja diciptakan. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak mampu mendatangkan manfaat meski bagi dirinya sendiri. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia sendiri tak bisa menyelamatkan dirinya dari bahaya. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak bisa mengubah kondisi jagad raya dan isinya sekehendak dirinya. ———————————— Diantara syarat syarat kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah ilmu, maksudnya: seseorang yang mengucapkannya harus mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. Karena yang dituntut dari setiap orang bukan hanya mengucapkan kalimat ini dengan lisan saja, melainkan juga ia dituntut untuk memenuhi segala syarat syaratnya. Diantara syarat syaratnya adalah mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. ————————— Allah Ta’ala telah memerintahkan: فاعلم أنه لاإله إلاالله “Ketahuilah bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Allah”(Muhammad : 19). ———————– Dalam sebuah hadits shohih riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:————— من مات وهو يعلم أنه لاإله إلاالله دخل الجنة “Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah, maka ia masuk surga”. ————————- Mafhum dari hadits ini adalah bahwa barang siapa yang mati sedang ia tidak mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah maka ia tidak akan masuk surga. Orang yang tidak masuk surga adalah bukan orang Islam. Karena orang muslim akan masuk surga. Dalam hadits shohih muttafaqun ‘alaihi telah disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:——– لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim”. ———————- Sebab orang yang tidak mengetahui tauhid maka ia tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan tauhid. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan dan menerapkan tauhid maka ia adalah seorang musyrik. Dan segala amalan amalan kebaikan yang dilakukan oleh seorang musyrik tidak akan diterima di sisi Allah, karena amalan amalan tersebut dikerjakan tidak berlandaskan pada tauhid. ————————– Allah Ta’ala berfirman tentang amalan amalan orang orang musyrikin: وقدمنا إلي ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا “Dan Kami datangkan apa apa yang telah mereka amalkan, lalu Kami menjadikannya sebagai debu yang berterbangan” ———————– Jadi masalah ini adalah masalah besar dan bukanlah masalah sepele. Karena bagaimana mungkin kita dapat mengamalkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah) kalau kita tidak mengetahui makna dari kalimat tersebut. Bahkan orang yang tidak mengetahui makna kalimat ini, maka pasti ia akan mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini, baik secara sadar ataupun tanpa sadar! Lihatlah keadaan pemerintah thogut nkri di sekitar kita. Mereka mengklaim diri mereka sebagai bagian dari kaum muslimin, mereka sholat, puasa serta selalu mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi mereka pada waktu yang bersamaan telah mengatakan secara lisan ataupun secara tingkah laku bahwa diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah !!! Subhanallah !!! Lihatlah juga keadaan aparat aparat keparat yang telah menjadi pelindung pelindung thogut. Sebagian mereka juga mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi pada waktu bersamaan mereka rela menjadi pelindung Ilah Ilah selain Allah, mereka rela membela mati-matian berhala pancasila dan memerangi tentara tentara tauhid !!! Lihatlah juga keadaan orang orang yang beribadah kepada kubur kubur. Mereka sering mengulang-ngulang kalimat tauhid laa ilaaha illallaah tidak ada Ilah kecuali Allah, akan tetapi pada waktu bersamaan mereka telah menjadikan kubur kubur yang mereka ibadahi tersebut sebagai Ilah Ilah selain Allah !!! Kenapa bisa terjadi begini? Karena mereka semua mengucapkan kalimat ini dengan tanpa memenuhi syarat syaratnya, yang salah satunya adalah syarat ilmu. Maka jelas mereka tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan kandungan dari kalimat ini, sehingga mereka bukanlah termasuk orang yang bertauhid !!! ———————– Makna Ilah——————— Untuk dapat memahami kalimat ini, maka pertama tama kita harus memahami makna dari kata Ilah, sehingga ketika kita mengucapkan kalimat “tidak ada Ilah kecuali Allah” maka kita mengucapkannya berdasarkan ilmu, kita mengetahui apa yang kita ucapkan dan kita siap untuk merealisasikannya. Kita hidup dan mati demi kalimat ini.—————– Kata Ilah إله dalam bahasa Arab bermakna: sesuatu yang diibadahi, baik secara haq ataupun secara batil. Allah adalah satu satunya Ilah yang haq, hanya Dia saja Ilah yang berhak untuk diibadahi. Adapun pancasila yang disembah, presiden yang ditaati secara mutlak, kuburan yang disembah, salib, patung budha, tempat tempat yang dikeramatkan dan dikultuskan dan lain lain adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya, tapi ini semua adalah Ilah Ilah yang bathil dan palsu, karena ini semua hanyalah makhluk dan sama sekali tidak berhak untuk diibadahi.—————- الإله (Al Ilah) berasal dari kata alaha – ya’lahu – uluuhah – ilaahah – uluuhiyyah yang bermakna beribadah. Adapun Ilaah adalah sinonim dari kata Ma’luuh yang bermakna obyek yang diibadahi atau sesuatu yang di ibadahi. Bentuk jamak dari kata Ilaah إله adalah aalihah آلهة (Ilah Ilah). Orang orang musyrikin Arab pada zaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut berhala berhala mereka dengan aalihah, karena berhala yang mereka ibadahi tidak hanya satu, tapi banyak, diantaranya adalah berhala lata, berhala uzza, berhala manat dan lain lain. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat heran terhadap da’wah tauhid Nabi Muhammad shollallahu ‘alihi wa sallam, mereka berkata:——————- أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيئ عجاب “Kenapa ia menjadikan Ilah Ilah itu hanya Ilah Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang mengherankan”(Shaad : 5) —————————— Jadi mereka heran terhadap da’wah tauhid yang disampaikan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat tahu sekali makna dari kata Ilah. Itulah sebabnya mereka enggan mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah), karena dengan mengucapkan kalimat ini berarti mereka harus meninggalkan Ilah Ilah mereka yang sedang mereka ibadahi. Mereka tahu betul bahwa konsistensi dari mengucapkan kalimat tauhid adalah meninggalkan peribadatan kepada seluruh Ilah Ilah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala telah menceritakan keadaan mereka:—————- إنهم كانواإذا قيل لهم لاإله إلاالله يستكبرون، ويقولون أإنالتاركوا الهتنا لشاعر مجنون “Sesungguhnya mereka (orang orang musyrikin) apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah)” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah kami harus meninggalkan Ilah Ilah kami karena seorang penyair yang gila?”(Ash Shaaffaat : 35-36) ——————————- Mereka tahu betul makna kata Ilah. Maka celakalah orang yang mana Abu Jahal lebih tahu darinya tentang makna Ilah !——————- Jadi segala sesuatu yang diibadahi walau dengan satu bentuk ibadah saja, adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya. Dan ibadah itu sendiri memiliki arti yang luas, tidak seperti yang digambarkan oleh orang orang sekuler, ulama ulama pancasila dan penyembah penyembah kubur. Mereka menggambarkan bahwa ibadah hanyalah amalan amalan seperti sholat, sedekah, puasa, baca Al Quran, dan melaksanakan ibadah haji saja. Sehingga mereka santai santai saja ketika mempersembahkan satu atau beberapa bentuk ibadah kepada sembahan sembahan mereka selain Allah, mereka mengklaim bahwa mereka meyakini tidak ada Ilah selain Allah, padahal kenyataannya mereka telah beribadah kepada banyak Ilah Ilah selain Allah !!! —————— Bentuk bentuk ibadah Diantara bentuk bentuk ibadah selain ibadah ibadah ritual yang nampak jelas bagi semua orang, seperti sujud, ruku’, sholat, puasa, sedekah, haji dan lain lain adalah seperti dalam perkataan Ibnu Katsir rohimahullah yang telah dinukilkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdulwahab di dalam kitab beliau ‘Utsulus Tsalatsah, Ibnu Katsir berkata: ——————- “Pencipta segala sesuatu ini adalah yang berhak untuk diibadahi. Dan bentuk bentuk ibadah yang telah Allah perintahkan adalah seperti islam, iman dan ihsan, dan termasuk darinya adalah do’a, khouf (takut), roja (rasa berharap), tawakkal, roghbah (rasa berharap), rohbah (rasa takut), khusu’, khosyyah (takut), inabah (kembali bertaubat), isti’anah (meminta tolong), isti’adzah (meminta perlindungan), menyembelih hewan, nadzar dan bentuk ibadah yang lain lainnya yang telah Allah perintahkan semuanya hanya untuk Allah Ta’ala.”—————- Dalam kitab Hasyiyah Ushulus Tsalastsah disebutkan bahwa makna perkataan Ibnu Katsir “Dan bentuk ibadah yang lainnya yang telah Allah perintahkan” adalah: “Ini bermakna bahwa bentuk bentuk ibadah tidak hanya khusus pada hal hal ini saja dan tidak terbatas pada bentuk bentuk ini saja yang telah disebutkan oleh beliau rohimahullah, akan tetapi bentuk bentuknya sangat banyak sekali.” (Lihat Hasyiyah Utsulus Tsalatsah halaman 54).—————– Diantara bentuk ibadah adalah ketaatan. Maka wajib beribadah hanya kepada Allah Ta’ala bermakna wajib taat hanya kepada Allah Ta’ala. Yang berhak untuk dita’ati hanyalah Allah Ta’ala saja. Adapun siapapun selain-Nya, maka mereka semua ditaati karena Allah atau atas izin atau perintah dari Allah Ta’ala. Mereka ditaati pada hal hal yang tidak bertentangan dengan syari’at Allah———- Dalam sebuah hadits disebutkan: لا طاعة لبشر في معصية الله، إنما الطاعة في معروف “Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah pada hal yang ma’ruf” ————————— Makhluk apapun yang ditaati secara mutlak bagaimanapun dan apapun juga keadaanya, tanpa melihat apakah ia baik atau buruk dan tanpa melihat apakah perkara tersebut adalah perkara yang baik atau tidak baik, maka makhluk tersebut telah menjadi Ilah dan sembahan bagi orang yang taat buta kepadanya. Dan siapapun juga yang memerintahkan orang lain untuk taat buta kepadanya dalam segala hal dan kondisi, baik pada hal hal yang baik ataupun hal hal yang buruk dan kesyirikan, maka orang tersebut telah menjadi thogut yang wajib untuk kita jauhi dan kufuri.—————- Betuk ketaatan mutlak seperti ini bila dipersembahkan kepada makhluk, maka ini merupakan sebuah bentuk kesyirikan dan kekafiran yang nyata. Berikut adalah sebagian dari dalil dalilnya: وإن الشياطين ليحون إلي أولياءهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون “Sesungguhnya syetan syetan itu membisikkan kepada kawan kawannya agar mereka membantah (mendebat) kalian, dan jika kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrik.”(Al An’am:121) —————————- Disebutkan dalam asbabun nuzul ayat ini, bahwa orang orang musyrikin mendebat para sahabat rodiyallahu ‘anhum tentang pengharaman bangkai binatang, karena mereka (orang orang musyrikin) tidak mengharamkan bangkai, lalu turunlah ayat ini: “Bila kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrikin” ——————- Suatu perbuatan tidak disebut sebagai kesyirikan kecuali apabila terdapat suatu ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Lalu apa bentuk ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan.——————- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang orang yang murtad sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah berkata kepada orang orang yang membenci apa apa yang telah Allah turunkan: “Kami akan mentaati kalian dalam beberapa urusan”, sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka.”(Surat Al Qital:25-26) —————————- Dalam menafsiri firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang orang yang murtad”, Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Maksudnya mereka yang meninggalkan keimanan dan kembali kepada kekafiran.”—————- Kemurtadan terjadi apabila seseorang melaksanakan kesyirikan, lalu apa kesyirikan yang disebut dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan kepada orang orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah pada suatu masalah tertentu. Lalu bagaimana gerangan bila mentaati mereka pada semua masalah ?!——————– Jadi, seseorang yang mengatakan kepada suatu makhluk tertentu apapun juga bentuk makhluk tersebut, baik berupa seorang manusia atau sekumpulan orang, atau suatu pemerintahan, atau suatu pemikiran seperti pancasila, atau suatu majelis seperti dpr/mpr atau apapun juga bentuknya: “Engkau mempunyai hak untuk memerintah apapun, engkau berhak memutuskan segala hal, apa yang engkau anggap baik maka ia adalah kebaikan dan apa yang engkau anggap buruk maka ia adalah keburukan, dan engkau mempunyai hak untuk ditaati dalam hal itu semua, engkau wajib ditaati apapun yang engkau perintahkan.”. Maka orang ini telah menjadikan makhluk tersebut sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah, bentuk peribadatannya kepada makhluk tersebut adalah ketaatan kepadanya.—————- Diantara bentuk ibadah yang lain adalah tahaakum (berhakim atau berhukum). Bila seseorang dalam segala urusannya berhakim kepada syariat Allah, maka dia adalah hamba Allah dan masuk dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, bila ia berhakim kepada selain Allah, walaupun pada suatu urusan tertentu, maka ia berarti telah beribadah kepadanya dan telah menjadikannya sebagai Ilah selain Allah.————— Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mengaku ngaku telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thogut, padahal mereka telah diperintah untuk kafir kepada thogut. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.(An Nisa ; 60) ‘———————- Syeikh Muhammad bin Ibrahim rohimahullah berkata dalam buku beliau Tahkimul Qowanin (Hukum menerapkan undang undang buatan): “Sesungguhnya firman Allah Azza wa Jalla: “Mengaku ngaku” adalah bentuk pendustaan bagi mereka atas apa yang mereka klaim dari keimanan, karena tidak akan berkumpul di dalam hati seseorang perbuatan berhakim kepada selain apa yang telah dibawa oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan, bahkan masing masing dari keduanya akan menafikan (meniadakan) yang lain.”—————— Syeikh Abu Bashir Ath Thorthusiy hafizhahullah berkata: “Bila keimanan tidak terdapat pada diri seseorang kecuali dengan berhakim (atau berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla, maka hal itu menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa sesungguhnya berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Ta’ala adalah sebuah ibadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala karena perbuatan ini adalah syarat dari keimanan. Sesuatu hal tidak akan menjadi syarat dari keimanan kecuali ia mengandung peribadatan kepada-Nya Azza wa Jalla. Adapun yang kedua adalah, bahwa ketidak adanya sikap berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla akan meniadakan keimanan dari pelakunya. Dan telah disebutkan diatas bahwa keimanan tidak akan hilang pada diri pemiliknya kecuali karena sebab kesyirikan yang mengandung peribadatan kepada makhluk walau pada satu sisi tertentu. Maka (ini semua) menunjukkan bahwa perbuatan tahaakum (berhakim) adalah merupakan sebuah peribadatan dari pelakunya kepada obyek (yang ia berhakim kepadanya). Maka barang siapa yang berhakim kepada Allah saja dalam seluruh urusan kehidupannya yang khusus ataupun yang umum, maka ia adalah hamba Allah. Dan barangsiapa yang berhakim kepada selain Allah apapun juga bentuknya, walau pada satu permasalahan hidupnya, maka ia adalah hamba bagi sesuatu yang selain Allah ini.” Dan ia telah menjadikan sesuatu yang selain Allah ini sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah.——————— Diantara bentuk ibadah yang lain adalah: Kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan.————– Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda أوثق عرى الإيمان الموالة في الله والمعاداة في الله والحب في الله والبغض في الله عز و جل “Sekokoh kokohnya ikatan iman adalah loyalitas (al muwalah) karena Allah, memusuhi (al mu’adah) karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” ————————- Jadi keempat perbuatan ini adalah merupakan ikatan keimanan yang paling kokoh, karena perbuatan perbuatan ini adalah merupakan bentuk peribadatan yang paling sempurna dan paling tinggi tingkatannya. Keempat perbuatan ini wajib untuk dipersembahkan hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Adapun selain Allah, maka mereka semua dicintai atau dibenci karena Allah, serta diloyali dan dimusuhi karena Allah.——————– Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata: “Tidak boleh mencintai segala sesuatu yang ada karena sebab zatnya (dirinya) kecuali Dia Subhanahu wa bihamdihi. Segala sesuatu yang dicintai di alam semesta ini, itu hanyalah boleh untuk dicintai karena sebab selainnya, bukan karena sebab zatnya (dirinya). Hanya Rob Ta’ala yang wajib untuk dicintai karena Diri-Nya. Dan ini adalah termasuk dari makna makna ke-Ilahan-Nya. Dan bila di langit dan di bumi terdapat dua Ilah, maka langit dan bumi pasti akan hancur.”—————- Maka barang siapa yang loyalitasnya, permusuhannya, kecintaannya dan kebenciannya karena Allah dan Rosul-Nya, dimana dia tidak mencintai kecuali apa apa yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya, tidak membenci kecuali apa yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, serta tidak loyal kecuali kepada orang yang loyal kepada Allah dan Rosul-Nya dan tidak memusuhi kecuali orang yang dimusuhi oleh Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia adalah hamba Allah dan telah beribadah kepada-Nya saja. Sebaliknya, barangsiapa yang mana kecintaan dan kebenciannya, loyalitas dan permusuhannya berdasarkan selain Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia telah menjadi hamba bagi selain Allah tadi dan telah mempersembahkan kepadanya bentuk ibadah yang paling tinggi derajatnya.—————— Contoh, bila kecintaan, loyalitas dan permusuhan seseorang berdasarkan tanah air dan nasionalisme kebangsaan, dimana ia akan loyal kepada siapapun yang setanah air dan sebangsa dengannya walaupun mereka adalah musuh Allah dan Rosul-Nya, atau ia akan mencintai dan menjunjung tinggi budaya tanah air dan bansanya walaupun itu merupakan perbuatan syirik kepada Allah, maka berarti ia telah menjadi hamba tanah air dan telah beribadah kepada tanah air, baik ia mengakui hal ini ataupun tidak mengakuinya ! Apa yang ia ikrarkan bahwa tidak ada Ilah selain Allah adalah merupakan sebuah kedustaan besar, karena pada saat yang sama ia telah menjadikan tanah air dan bangsanya sebagai Ilah selain Allah !—————————- Hak hak khusus yang hanya dimiliki oleh Ilah——————– Dari penjelasan diatas, maka kita dapat mengetahui beberapa diantara hak hak khusus ke-Ilahan yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana tidak satu makhlukpun boleh mengklaim bahwa dirinya memiliki salah satu atau beberapa dari hak hak ini, karena kalau demikian, maka ia telah mengklaim bahwa dirinya adalah Ilah selain Allah ! Atau tidak seorangpun boleh meyakini bahwa ada suatu makhluk apapun bentuknya, baik berupa satu orang manusia, atau sekumpulan orang, atau suatu bangsa, atau suatu pemikiran atau yang lainnya memiliki hak hak ini, karena kalau demikian, maka berarti ia telah meyakini bahwa makhluk tersebut adalah Ilah selain Allah ! Diantara hak hak khusus ke-Ilahan adalah sebagai berikut:—————– Hukum hanyalah milik Allah Ta’ala saja————- Hak membuat syari’at dan undang undang, menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya adalah hanya milik Allah Ta’ala saja.————- Hanya Allah saja yang menentukan hukum sesuai apa yang Dia kehendaki dan tidak seorangpun dapat mengkritik hukum yang Dia tetapkan.————— Hanya Allah Ta’ala saja yang tidak dimintai pertanggung jawaban, sedangkan selain-Nya maka mereka semua akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan.—- Hanya Allah Ta’ala saja yang dicintai karena Dzat-Nya, sedangkan selain-Nya maka mereka semua dicintai karena Allah dan atas izin dan perintah dari Allah.—– Hanya Allah Ta’ala saja yang ditaati karena Dzat-Nya, sedangkan selain Allah Ta’ala maka mereka semua ditaati karena-Nya dan dalam rangka mentaati-Nya.—————– Hanya Allah Ta’ala saja yang dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat.————-

September 17, 2016 Edy Methek 1

Allah adalah Al-Ilah …. hanya Allah Ar-Rabb Al-Ilah. Tiada tandingan […]

petunjuk kebenaran IBRAHIM Rusydahu …… hidayah Allah sebelum ia mencapai umur baligh … Al-Anbiya’ ayat 51 —————————— QS Ali Imran ayat 67: Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi Muslim (seorang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dan jauh dari kesesatan) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik (tidak pernah musyrik sama sekali baik sebelum menjadi nabi maupun sesudahnya) . —————- “Ibrahim” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang. ————————- Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut. ————— Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.——————- Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.———- Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ———– Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:— “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).——— Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.———— Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.———- Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.————– Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.——– Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”——– Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.—- Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”—- Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:—- “Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”——— “Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”——- “Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”—– Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”————– Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.——— Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)—————- “Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)———– Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.——– Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.——— “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).——————- Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.————– Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk————– “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)———— Nabi Ibrahim dan Keturunannya—————- Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.————– Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.———– Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.———- Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.—————– Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.——————- Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:- Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).——– Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran: 1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)———— 2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).——— 3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)————- 4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).——- Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja. ————— kisah nabi ibrahim Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.—————- “Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)———– “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)—————- ————– Kelahiran Nabi Ismail ————- Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.————- Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)—————— Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.———– Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat—– Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.———- Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.————— Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,————— “Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)————– Kisah Penyembelihan Nabi Ismail———– Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.————- Kunjungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ke Mekah——– Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.——- Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,— “Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)———————- Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)———– Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.———— Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).—————— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.———- Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),— (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)——————— Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)——————- Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud. ——————————– Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak. berbagai sumber wallahua’lam

September 3, 2016 Edy Methek 1

petunjuk kebenaran IBRAHIM Rusydahu …. hidayah  Allah sebelum ia mencapai […]

Proses Pembentukan Bumi ….. Menurut Agama Islam ———————- “Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam” ( Al-Qur’an, Az-Zumar:5) ———————– dalam AL-Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata arab yang terjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat diatas adalah “takwir” dalam kamus bahasa arab misalnya kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan di atas kepala. ————————— Keterangan yang di sebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al-Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7 telah diisyaratkan tentang bentuk bumi yang bulat. Namun perlu diingat bahwa ilmu Astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda dimasa itu, bumi di yakini berbentuk bidang datar san semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini, sebaliknya ayat-ayat Al-Qur’an berisi informasi yang telah hanya mampu kita pahami dalam abad terakhir oleh karena Al- Qur’an adalah firman Allah. ——————— Maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayat ketika menjelaskan jagat raya..Adapun yang mengenai relief bumi, Qur-an hanya menyinggung terbentuknya gunung-gunung. Sesungguhnya dari segi yang kita bicarakan di sini, hanya sedikit yang dapat kita katakan; yaitu ayat-ayat yang menunjukkan perhatian Tuhan kepada manusia dalam hubungannya dengan terbentuknya bumi seperti dalam: Surat Nuh ayat 19: وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا Artinya: “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.” —————————- Surat Az-Zariyat ayat 48 : وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ Artinya: “Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami.” ———————————– (Permadani) yang digelar (dihamparkan) adalah kulit bumi yang keras yang di atasnya kita dapat hidup. Adapun lapisanlapisan di bawah adalah sangat panas, cair dan tak sesuai dengan kehidupan. Ayat-ayat Qur-an yang mengenai gunung-gunung serta isyarat-isyarat tentang stabilitasnya karena akibat fenomena lipatan adalah sangat penting. —————————–

June 8, 2016 Edy Methek 1

Proses Pembentukan Bumi ….. Menurut Agama Islam ———————- “Dia menciptakan […]