Loading
Jawab | Islam dan Sains-Edy

aneh ada JILBAB HATI, …. JILBAB untuk menutupi TUBUH WANITA —————— tubuh wanita ditutupi JILBAB agar tidak membuat DOSA dan MAKSIAT bagi dirinya dan orang lain —————————– KEWAJIBAN MENGENAKAN JILBAB ——— Allah Ta’ala berfirman,‏ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan g.” (QS.Al Ahzab: 59). ——— Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar.Sedangkan khimar adalah penutup kepala.—— ———— Allah Ta’ala juga berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya .” (QS. An Nuur [24] : 31). ———— Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar,Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). ——————– Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian .” (HR. Muslim no. 2128). —————– Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 17: 190-191). ———- Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. —————— BELUM MAU BERJILBAB ————— Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalanhati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” —————- Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! —————— Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” ——————— Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?—————- Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambutubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidaktahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” ———————- Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,‏ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu .” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. ———————– Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat. ——————— Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan. —————— Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ? —————— Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak. ———————- Hasil gambar untuk hadits berpakaian tapi telanjang Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat. ——————– “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8) ——————- Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga. Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan. ————————— APA JILBAB ITU?—————— Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita. —————— Dalilnya adalah: “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———- Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.————— Dalilnya ialah:———- “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).——— Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:——— (dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————- Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada: “Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).——— Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin: 1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——- 2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—- 3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——– 4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———- AKU BELUM SIAP—————- Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———– 1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——– 2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———– 3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————– KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———- Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1] yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——– Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————– Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——– Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”— Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———- BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——– Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab: “Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”– Jawaban: BOLEH——– Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:– “…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——– ———– SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——– Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——- “Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——– Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———- Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——- Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.—— Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——– “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)———— Dalam riwayat lain: “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——– Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

September 25, 2016 Edy Methek 1

aneh ada JILBAB HATI, …. JILBAB untuk menutupi TUBUH WANITA […]

sifat TAWADHU’ atau RENDAH HATI adalah sifat semua NABI dan RASUL …. yang harus diCONTOH oleh semua orang ISLAM, agar tidak terJEBAK dalam sifat SOMBONG dari SYAITAN ———————————– Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83) ——— Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215) ————– Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)——————- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588) ————- Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)———————- Penjelasan ringkas: Tawadhu’ dan rendah diri kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang tawadhu’ kepada-Nya. —————————– Diantara sekian banyak akhlak serta sifat terpuji yang ditekankan oleh agama kita ialah sifat tawadhu (rendah hati). Dikarenakan akhlak mulia adalah inti ajaran Islam, maka tak salah kalau banyak ayat serta hadits yang menganjurkan hal tersebut, salah satunya sifat yang akan menjadi kajian kita kali ini, yaitu sifat tawadhu. —————– Allah ta’ala berfirman: ﴿ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨﴾ [ لقمان: 18] “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Luqman: 18).——————- Dalam keterangan lain Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: ﴿ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨ ﴾ [الحجر: 88] “Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (QS al-Hijr: 88). ——————————— Pengertian:—————– Yang dimaksud tawadhu ialah merendahkan diri dan berlaku lemah lembut. Dan ini tidak akan mendongkrak pelakunya menjadi terpuji melainkan bila dibarengi karena mengharap wajah Allah azza wa jalla.————— Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kalau sekiranya ada orang bersikap tawadhu agar Allah Shubhanahu wa ta’alla mengangkat derajatnya dimata orang, maka ini belum dikatakan telah merengkuh sifat tawadhu, karena maksud utama perilakunya itu didasari agar mulia dimata orang, dan sikap seperti itu menghapus tawadhu yang sebenarnya”.[1]————— Ucapan beliau didasari sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ» [أخرجه مسلم] “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan (pasti) Allah akan mengangkat derajatnya”. HR Muslim no: 2588.——————— Syaikh Abdurahman as-Sa’di mengomentari maksud hadits diatas dengan mengatakan: “Sabdanya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah”. Sebagai peringatan supaya memperbagusi niat, yaitu dengan didasari ikhlas karena Allah Nabi Muhammaddidalam sikap tawadhunya tadi. karena banyak dijumpai, ada orang yang terkadang menampilkan sikap tawadhu dihadapan orang kaya, namun, niatnya supaya bisa mengais sedikit dari hartanya, atau terhadap pimpinan supaya bisa tercapai keinginannya. —————— Ada pula yang menampilkan sikap tawadhu dengan tujuan riya’ dan pamer, maka tujuan-tujuan semacam ini, semuanya rusak, tidak memberi manfaat sama sekali bagi pelakunya, kecuali rendah diri yang didorong rasa ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rangka mendekatkan diri kepada -Nya dan ingin meraih ganjaran serta kemurahan -Nya kepada makhluk, sehingga ihsan terbaik serta ruhnya itu ada pada ikhlas karena Allah ta’ala”. [2] ————— Dan Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pionir terdepan dalam akhlak mulia yang satu ini, untuk menggambarkan tawadhunya Nabi kita lihat pada haditsnya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Diceritakan oleh beliau: « أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِى عَقْلِهَا شَىْءٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ « يَا أُمَّ فُلاَنٍ انْظُرِى أَىَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِىَ لَكِ حَاجَتَكِ ». فَخَلاَ مَعَهَا فِى بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا » [أخرجه مسلم] “Ada seorang perempuan yang sedikit bermasalah otaknya berkata pada Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, saya ada keperluan sebentar denganmu”. Nabi menyahut: “Ya Ummu Fulan, apa kebutuhanmu, hingga aku bisa membantu urusanmu”. Maka beliau mengikutinya sedikit minggir dijalan kota Madinah, sampai perempuan tadi menyelesaikan keperluannya”. HR Muslim no: 2326.——————- Masih kisah yang menjelaskan tawadhunya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu beliau menceritakan: « إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ » [أخرجه البخاري] “Pernah ada seorang budak yang berada dikota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu diajak pergi untuk membantu urusannya”. HR Bukhari no: 6072. ————- Bahkan lebih mengesankan lagi dari itu semua, sebuah hadits yang dibawakan oleh al-Baghawi dalam syarhu sunah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس العبد » [أخرجه البغاوي في شرح السنة ] “Aku makan sebagaiman makannya seorang hamba sahaya, dan aku duduk seperti duduknya seorang budak”. HR al-Baghawi 13/248. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 544. ——– Dalam redaksi lain, dikatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يا عائشة لو شئت لسارت معي جبال الذهب. أتاني ملك وإن حجزته لتساوي الكعبة, فقال: إن ربك يقرأ عليك السلام ويقول: إن شئت نبياً ملكاً وإن شئت نبياً عبداً, فأشار إلي جبريل ضع نفسك فقلت: نبياً عبداً » [أخرجه البغاوي] “Wahai Aisyah, kalaulah sekiranya aku mau tentu ada gunung yang terbuat dari emas berjalan menemaniku. Telah datang kepadaku malaikat yang kain bagian bawahnya hampir setinggi Ka’bah. Dia mengatakan: “Sesungguhnya Rabbmu kirim salam kepadamu, dan berfirman: “Kalau engkau mau Aku jadikan seorang Nabi dan hamba, atau seorang Nabi dan malaikat”. Lalu aku berpaling kepada Jibril ‘alaihi sallam, dan ia mengisyaratkan padaku supaya rendah diri. Maka aku jawab: “Aku rela menjadi Nabi dan seorang hamba..”. Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam syarhu Sunah 13/348 no: 3683. ————————– Tatkala Aisyah ditanya apakah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan pekerjaan dirumahnya? Beliau menjawab: « قَالَتْ: نَعَمْ ,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه البغاوي] “Ia, beliau biasa menambal sendalnya, dan menjahit bajunya sendiri, dan melakukan pekerjaan rumah seperti halnya kalian melakukannya dirumah kalian”. Hadits shahih dikeluarkan oleh Baghawi dalam Syarhu Sunah 13/242 no: 3675.———————— Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa berdo’a: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَتَوَفَّنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَومَ القِيَامَة » [أخرجه الترمذي] “Ya Allah hidupkanlah hamba dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama orang-orang miskin kelak pada hari kiamat”. HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917. ————————- Tatkala ada seorang sahabat datang kepada beliau lalu memujinya sambil mengatakan: “Duhai sebaik-baik makhluk”. Beliau justru menimpali: “Itu adalah Ibrahim ‘alaihi sallam”. HR Muslim no: 2369. ————– Dalam shahih Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ ثُمَّ أَتَانِي الدَّاعِي لَأَجَبْتُهُ » [أخرجه البخاري و مسلم] “Kalau seandainya aku dipenjara seperti Yusuf lamanya tatkala dipenjara, pasti aku akan tetap memenuhi tugasku ini (berdakwah)”. HR Bukhari no: 3372. Muslim no: 151.————- Hal ini menunjukan bagaimana sikap tawadhunya beliau, karena beliau mendapat ujian yang tidak pernah ada seorangpun yang mendapat semisal dengannya. ————– Masih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Burdah, dirinya mengkisahkan: “Aisyah pernah keluar kepada kami sambil memegang baju dan jubah yang usang, lalu mengatakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dicabut ruhnya dalam keadaan memakai dua baju ini”. HR Bukhari no: 5818. Muslim no: 2080.—————– Dalam riwayat-riwayat diatas menjelaskan bahwa beliau adalah imam (pemimpinnya) orang-orang yang bertawadhu, dan ini tidak mengherankan karena tawadhu merupakan sifatnya para Nabi. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ: نَعَمْ ,كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ » [أخرجه البخاري] “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”. Maka para sahabatnya bertanya: ‘Tidak pula engkau wahai Rasul? Beliau menjawab: “Tidak pula aku. Dahulu aku biasa menggembala dibebukitan miliknya penduduk Makah”. HR Bukhari no: 2262. ———– Sehingga sangat wajar sekali bila Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya untuk bersikap tawadhu dan rendah diri. Sebagaimana haditsnya Iyadh al-Majaasyi’i radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ » [أخرجه مسلم] “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu padaku agar kalian bersikap rendah diri, hingga tidak ada seorangpun yang merendahkan saudaranya, dan tidak berlaku lalim satu sama lain”. HR Muslim no: 2865.—————————- Salah satu petuah yang pernah diberikan Abu Bakar kepada kita ialah: “Kami mendapatkan kemuliaan akhlak ada pada takwa, kekayaan pada keyakinan, serta keluhuran pada rendah diri”. ———– Dan Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengingatkan: “Sungguh betapa banyak orang yang lalai pada ibadah yang paling afdhal yaitu tawadhu”.———- Faidah sikap rendah diri:——- 1. Salah satu jalan yang akan mengantarkan pada surga.—— 2. Allah Shubhanhu wa ta’alla akan mengangkat kedudukan orang yang rendah diri dihati manusia. Dikenang kebaikannya oleh orang lain serta diangkat derajatnya diakhirat.——– 3. Bahwa sikap tawadhu terpuji itu ditujukan pada orang-orang beriman, adapun pengumpul dunia serta orang yang sesat maka bersikap rendah diri terhadap mereka akan menjadikan kehinaan.—- 4. Sifat tawadhu sebagai bukti akan keindahan akhlak serta pergaulannya.————- 5. Bahwa sifat tawadhu merupakan sifatnya para Nabi dan Rasul.—————

September 24, 2016 Edy Methek 1

sifat TAWADHU‘ atau RENDAH HATI  adalah sifat semua NABI dan […]

menganggap ENTENG I’DAD adalah ciri orang MUNAFIK —— I’dad = perSIAPan Kekuatan Melawan Musuh untuk berPERANG HUKUMnya WAJIB bagi MUSLIM dan MUSLIMAT —————- “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214 ————— “Penopang-Penopang Jihad yang Bersifat Materi” ———————- A. Kelayakan Fisik الليا قة البدنية Ini biasa di dapat dengan: · Kekuatan otot (با لقوة العضلية) · Kecekatan dan kegesitan tubuh (والرشاقة الجسمية) · Kesigapan dan semangat (والنشاط والهمة) ———————- Mengingat kata “jihad” merupakan pecahan dari kata “mujahadah” (bersungguh-sungguh) dan “mukaabadah” (menahan sesuatu), lantaran keras dan beratnya beban, kesulitan, kesengsaraan, kepayahan, penderitaan, ketakutan dan bahaya yang ada di dalamnya… seperti membawa senjata dan perlengkapan, mengamankan amunisi dan logistic, berjalan jauh, berlari dan melompat; melakuakan operasi penyerangan, bertahan dari gempuran musuh, melakukan taktik hit and run dalam serangan; mengadakan latihan perang-perangan… dan aktivitas-aktivitas keras lainnya dalam suasana medan yang diwarnai dengan kepulan debu, kobaran api dan gumpalan asap; dalam bara api peperangan yang dahsyat yang berseliweran di sana-sini, pecahan bom dan roket; dan di antara gelimpangan mayat, serpihan daging dan genangan daerah… atau juga menderita kepayahan, kesulitan, sedikit tidur dan kekurangan makan. —————- Keadaan jihad yang sedemikian itu membutuhkan tubuh-tubuh yang lentur, gesit dan kuat; lengan dan otot yang sekeras baja, serta tekad dan semangat yang tinggi lagi kokoh seperti gunung, mampu mengemban segala bentuk tugas dilapangan, dan tidak pernah merasa letih ataupun jemu sampai akhir peperangan yang bisa singkat maupun lama, yang kadang menidingin dan kadang memanas pula. —————— Jika demikian halnya, maka haruslah dipilih fisik-fisik yang tepat dan pantas untuk jihad, kemudian dilatih secara kontinyu dan teratur agar menjadi kuat dan bermental baja, gesit dan cekatan, serta mampu hidup dalam kondisi kasar dan keras…. Dan supaya mereka berlatih menghadapi kesulitan dan membiasakan diri terhadap kondisi yang tidak menyenangkan sehingga nantinya tidak shock (terkejut) bila menghadapi hal-hal yang di luar perhitungan, lalu menjadi lamban dan berat serta kembali dengan membawa kegagalan dan kerugian. ————————- Ketika Bani Isra’il meminta Nabi mereka untuk mengangkat seorang raja bagi mereka supaya merka bisa berperang di jalan Alloh swt di bawah pimpinannya, maka kemudian Alloh swt mengangkat Tholut sebagai raja dan panglima perang mereka; dan Alloh swrt mensifati Tholut sebagai seorang yang luas ilmunya dan kuat (perkasa) tubuhnya. Alloh berfirman: ———— “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Tholut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Tholut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak ?!’. Nabi (mereka) berkata , ‘Sesungguhnya Alloh telah memilih rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakin-Nya dan Alloh maha Luas pemberiaan-Nya lagi Maha Mengetahui.’.” (QS. Al Baqarah; 247). ——————– Ketika putri Nabi Syu’aib as memohon kepada bapaknya untuk menjadikan Musa sebagai pekerjanya, ia mensifatinya sebagai orang yang kuat lagi dapat dipercaya… dan sebaik-baik orang yang diupah sebagai pekerja adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan kuat tubuh mereka.—————- Alloh saw berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al Qashosh: 26).——————– Alloh saw berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal: 60).——————– Rosululloh saw bersabda: المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن “Seseorang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).———— B. Keahlian Perang (الخبرة القتالية)——- Yakni mengetahui: · Taktik-taktik perang (بأساليب القتال) · Macam-macam senjata (وأنواع السلاح) · Cara-cara penyediaan dan pengiriman bantuan(وطرق الإعداد والإمداد وغيرها) ——————- Sudah dimaklumi bahwa pedagang dan perniagaannya, perajin dengan karya tangannya, pegawai dengan tugasnya, petani dengan pertaniannya dan setiap pekerja dengan pekerjaannya membutuhkan keahlian terhadap bidang kerja yang dia geluti. Jika tidak berbekal keahlian maka akan berakhir dengan kegagalan. Sejauh mana tingkat keahlian, kecakapan dan kemahiran yang dimilikinya maka sejauh itu pula keberhasilan yang dapat diwujudkannya. ————– Perang itu akan menentukan hidup dan mati, mulia atau hina, haq atau batil yang akan berkuasa. Dan perang juga akan membuat persaingan dalam hal kemampuan, kecakapan, kekuatan dan keahlian. Telah berkembang teknik-teknik, cara-cara serta siasat perang dan telah masuk ke dalam bagiannya berbagai cabang ilmui pengetahuan, dan telah dipergunakan di dalamnya berbagai jenis industry senjata dan ciptaan-ciptaan baru (dalam bidang persenjataan); dan telah ditundukkan di dalamnya hampir seluruh kekuatan dan kemampuan. Sehingga jadilah dia sebagai suatu kegiatan yang saling berjalinan, saling terkait dan terkoordinasi dengan rapi. Jika demikian, dalam peprangan dibutuhkan suatu pengalaman dan keahlian khusus dalam hal strategi perang dan taktik-taktik tempur, baik taktik perang ofensif dan defensive, gerilya atau perang kota, operasi-operasi perang darat, perang laut, perang opini / propaganda / urat syaraf, atau perang politik ekonomi, pemikiran dan yang lainnya.—————- Juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap jenis-jenis senjata, cara mengoperasikannya, memperbaiki dan merawatnya. Dan dalam perang juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap cara-cara dan sasaran-sasaran penyediaan dan pengirimanan bantuan yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pasukan yang berperang. Sebagai tambahan, sekarang ini Dinas Keamanan dan staf-staf ahli yang bekerja di dalamnya dengan peralatan-peralatan canggih dan alat-alat komunikasi, spionase dan mata-mata yang mereka miliki mempunyai peran yang sangat efektif dalam menentukan keberhasilan suatu operasi militer dan mewujudkan kemenangan di dalamnya.——————- Semua itu dituntut dan sangat perlu dipersiapkan dan disediakan. Karena pentingnya sisi persoalan ini, maka didirikanlah akademi-akademi militer, pendidikan-pendidikan khusus dan diklat-diklat militer di sebagian besar Negara-negara di dunia. —————— Maka dari itu sudah seyogyanya bagi umat islam untuk mempersiapkan seluruh kekuatan yang mereka miliki dan seluruh kemampuan yang mereka sanggupi supaya mereka punya kesiapan dan sudah siap ketika ada seruan yang memerintahkkan mereka untuk berperang.——————- Alloh swt berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakanb langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram.; itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya dirirmu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya danketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).———- Rosululloh bersabda: من علم الرمي ثم تركه فليس منا “Barangsiapa yang telah diajari melempar, kemudian meninggalkannya maka ia bukan golongan kami. (HR. Muslim).————— Rosululloh bersabda; من تعلم الرمي ثم تركه فقد عصانى “Barangsiapa yang belajar melempar (panah atau yang sejenisnya) kemudian dia meninggalkannya, maka sesungguhnya ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Ibnu Majah).—————– Dari Salman bin Akwa, dia berkata, Nabi pernah melewati sebuah kaum yang sedang memanah, lalu beliau berkata dengan lantang, “Melemparlah kalian wahai anak-anak Ismail, karena sesungguhnya Bapak kalian adalah seorang pemanah. Saya akan bersama Bani Fulan.” Tetapi kemudian salah satu kelompok itu tidak ikut memanah. Rosuluulloh bertanya, ‘Kenapa kalian tidak ikut memanah?’Bagaimana kami (berani) melempar jika tuan bersama mereka?!’ jawab mereka. Lalu beliau berkata, “melemparlah kalian, saya bersama kalian semua.” (HR. Bukhori).——————– Rosululloh bersabda: “Melemparlah dan menunggang (kuda)lah, tetapi aku lebih suka kalian melempar daripada menunggang. Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah batil (sia-sia/tidak berguna), kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya atau seseorang yang melatih kudanya atau seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya. Sesungguhnya ketiga hal itu termasuk perkara yang haq. Dan barangsiapa meninggalkan melempar setelah belajar, maka sesungguhnya ia telah mengkufuri (nikmat) sesuatu yang telah diajarkan kepadanya.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Al Baihaqi. Nabi saw sering bermusyawarah dengan para sahabatnya, khususnya mereka yang memiliki keahlian dan pengalaman, ketika beliau hendak memerangi musuh dan yang lain, maka beliau sendiri pandai dalam persoalan tersebut meski beliau mendapat wahyu.————- C. Strategi Perang (التخطيط القتالي)—————- Yakni dengan membuat langkah-langkah sebagai berikut. · Spesifikasi target (بتحديد الهدف). · Taktik yang matang (وإحكام الخطة). · Pelaksanaan yang tuntas (ودقةالتنفيذ). —————— Yang dimaksud dengan “strategi perang” adalah suatu planning (rencana) operasi yang lengkap, representative dan jelas dari medan peperangan, lebar dan panjang areanya; dapat diiliustrasikan dengan jelas melalui sketsa tersebut, posisi-posisi lawan serta lokasi-lokasi pertahanannya, peralatan pendukung, pasukan, senjata, logistic dan sebagainya.————— Sebagaimana dijelaskan pula di dalamnya tahap-tahap perang, taktik-taktik, kemungkinan-kemungkinannya, solusi serta antisipasi terhadap setiap terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang ada.————— Dengan cara tersebut akan meminimalkan penyimpangan dan hal-hal mendadak yang terjadi di luar perhitungan dan bias dihindari dengan melakukan antisipasi secara cepat dan dadakan. Kecuali pada momen keadaan atau kondisi tertentu yang mana komandan pasukan, melalui kejelian pandangan serta kecerdikannya, merasa perlu melakukan perubahan strategi lain yang lebih tepat, dan mengganti taktik kepada taktik yang lain yang lebih pas untuk keuntungan pasukan dalam pertempuran.————– Dalam penyusunan strategi ini perluu sekali melibatkan seluruh pakar dan ahli (militer yang kompeten) dengan tetap menjaga kerahasiaannya, agar jangan sampai ada informasi apapun yang bocor kepihak lawan, yang mana kebocoran tersebut bias mengakibatkan kegagalan dan kekalahan bahkan kehancuran. Adalah Rosululloh saw biasa merancang strategi bagi setiap peperangan yang diterjuninya.———– Dalam perang Uhud, beliau saw menerangkan medan pertempuran dan menentukan lokasi-lokasi bagi pasukan pemanah dan pasukan tempur. Serta membagi-bagi tugas, memberikan pesan-pesan peringatan agar supaya tidak terjadi kegagalan strategi dan menderita kerugian. Al Qur’an telah menjelaskan hal tersebut melalui ayat:——– “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Al Imron: 121-122).——————— Dalam peperangan Khoibar, adalah orang Yahudi telah bersekutu dengan Bani Ghatafan untuk membantu melawan kaum Muslimin, apabila kaum Muslimin menyerang mereka di negeri mereka, Khaibar. Nabi saw diberitahu persekutuan tersebut. Maka beliau saw menggerakkan pasukan ke perkampungan Bani Ghatafan. Hal ini untuk memberikan kesan seolah-olah ia bermaksud untuk menyerang mereka. Kemudian, beliau berbalik menuju Khaibar, setelah mengirim sekelompok pasukan dari para sahabatnya untuk menyerbu perkampungan Bani Ghatafan, yang sudah tidak mempunyai kekuatan dan penjagaan karena orang-orangnya pergi ke Khaibar membantu orang-orang Yahudi melawan kaum Muslimin. Berita penyerbuan yang dilakukan kaum Muslimin menimbulkan ketakutan di kalangan Bani Ghatafan. Dan maneuver tersebut memaksa menarik kekuatan yang berada di Khaibar dan membawanya balik ke negeri mrereka., untuk mempertahankan dan menjaga negeri mereka dari ancaman dan serbuan kaum Muslimin.——————– Demikianlah strategi dan siasat berhasil dalam mengelabuhi Yahudi Khaibar dan sekutunya Bani Ghatafan. Selanjutnya pasukan Islam meneyerbu mereka dan akhirnya berhasil menaklukan Khaibar.——————— Dalam perang Adzab, Nabi saw diberi saran untuk menggali parit pada arah satu-satunya yang memungkinkan musuh ke kota Madinah –oleh karena, kota Madinah terlindung kuat secara alami, dengan perbukitan di sisi timur dan baratnya, sedangkan di sisi selatan dengan kebun-kebunnya-, Beliau saw menerima saran tersebut, lalu memerintahkan kaum Muslimin menggali parit. Parit tersebut memaksa pasukan musuh menghentikan gerak majunya dan membuat perkemahan di belakangnya. Musuh tidak mampu melewatinya sampai akhirnya pasukan musuh menjadi kacau balau dan terpaksa harus mundur. Dan Alloh menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan.—————— Nu’aim bin Mas’ud ra mempunyai peranan besar dalam merusak persekutuan antara Yahudi Madinah dengan pasukan Ahzab. Yang demikian itu adalah berkat siasatnya yang jitu. Alloh berfirman mengisahkan kejadian dalam perang ini.———— “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan [1209]. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 25-27).———– Dari Ka’ab bin Malik ra, dia berkata “Adalah Nabi apabila bermaksud melakukan peperangan, maka beliau menyamarkan tujuan kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dari Ka’ab bin Malik ra, dia juga berkata “ Belum pernah Rosululloh saw bermaksud melakukan Sahr, melainkan pasti beliau menyamarkan kepada tujuan yang lain.” (HR. Al Bukhri dan Muslim).—————— Rosululloh saw bersabda, الحرب خدعة “Peperangan adalah tipu daya.” (HR.Muslim).————— Rosululloh saw bersabda, “Setiap kebohongan akan dicatat (sebagai dosa) atas anak Adam, kecuali dalam tiga hal: 1) seorang dalam berbohong ketika berperang, karena perang adalah tipu daya. 2) seseorang yang berbohong kepada isterinya untuk menyenangkannya. 3) seseorang yang berbohong kepada dua orang yang bersengketa untuk mendamaikan mereka. (HR. At Thabrani dan Ibn Sina).——————— Dan diriwayatkan, “Amru bin Abdul Wadd Al Amiri melakukan perang tanding dengan Ali ra. Ketika keduanya telah berhadap-hadapan. Ali berujar, ‘Aku berperang tanding bukan untuk menghadapi dua orang’. Mendengar ucapan Ali ra, Amru menoleh ke samping. Dengan segera Ali melompat ke depan dan menghantam Amru dengan pedangnya. Maka berteriaklah Amru, ‘Engkau telah menipuku’. Ali menjawab dengan tenang, ‘perang adalah tipu daya’.”——————- Kaum Muslimingenerasi awal sangat mahir dan lihai dalam menentukkan target-target operasi militer mereka, mematangkan taktik –taktik peperangan mereka dan membagi-bagi kesatuan dan formasi tempur mereka, sehingga dapat mengungguli seluruh pasukan Persia dan pasukan Romawi yang merupakan dua kekuatan paling kuat pada zamannya, baik dalam soal kesepian, keteraturan dan persenjataan.————- ——- D. Persenjataan Perang (التسليح القتالي)———- Yang terdiri dari: · Persenjataan darat (بالتسليح البري). · Persenjataan laut (والتسليح البحري). · Persenjataan udara (والتسليح الجوي). ———————– Senjata adalah alat perang dan bekal yang harus dibawa seorang prajurit dalam perang. Tanpa senjata, tidak akan ada dan tidak akan terjadi peperangan. Pasukan yang tak bersenjata adalah seperti kawanan domba, dan umat yang tak bersenjata tidak akan bisa bertahan hidup (di muka bumi), kalaupun masih bertahan hidup, maka sudah pasti mereka lemah dan hina seperti domba betina yang tak bertanduk. Persejataan modern telah berkembang sedemikian pesat dan menjadi bermacam-macam dengan kekuatan yang sangat hebat dan menakutkan dan mengancam kehancuran dunia.—————— Perlombaan dalam pengembangan dan penemuan senjata-senjata perang akan terus berjalan terus dan menyedot anggaran dana yang paling besar. Seandainya perang dunia ketiga pecah dan senjata-senjata tersebut digunakan, pastilah ia akan menghancurkan dunia, melenyapkan peradabannya dan merubahnya menjadi puing-puing dan reruntuhan.——————— Oleh karenanya, sisi ini perlu diperhitungkan dan diberikan porsi perhatian yang sangat besar dan untuk menghadapi perang perlu dipersiapkan berbagai jenis senjata terbaru, terbagus dan kuat agar jangan sampai umat Islam menjadi mangsa empuk bagi senjata-senjata lawan. Sebab tidak logis dan tidak bisa diterima, menghadapi besi dan kayu atau menghadapi peluru dengan panah; atau menghadapi bom dengan batu.————- Untuk keberhasilan suatu perang, maka seharusnyalah memakai persenjataan dan mendekati kemampuan senjata lawan, meski tidak harus mengimbanginya. Inilah minimal yang memungkinkan perang berjalan terus. Jika tidak, maka perang tersebut adalah perang bunuh diri, yang pada ghalibnya berkesudahan dengan kekalahan dan kebinasaan.—————– Menyiapkan kekuatan senjata, masuk dalam makna firman Alloh swt “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60).———————- Dalam Tafsir Al Qurtubi diterangkan makna firman Alloh swt:———- Suatu perintah dari Alloh kepada orang-orang beriman agar mereka menyiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sesungguhnya Alloh jika mau, maka bisa saja Dia mengalahkan mereka dengan kalam (ucapan) dan menaburi wajah mereka dengan segenggam debu, seperti yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw, akan tetapi Alloh hendak menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ilmuNya yang mendahului segala sesuatu dan ketetapanNya yang pasti berjalan. Segala kebaikan yang kamu siapkan untuk musuhmu, maka iamasuk dalam bekal persiapanmu.———- Ibn Abbas ramengatakan bahwa kekuatan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah senjata dan kekerasan.———— Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh saw berkata di atas mimbar, setelah membaca ———— —————– Lalu berkata, “Ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.”——- Ini adalah nash hadits yang diriwayatkan dari Uqbah Abu AliTsumamah bin Syafi Al Hamdzani. Sedangkan Muslim tidak mempunyai periwayatan hadits yang shohih tentang persoalan ini selain daripadanya.———— ———— Dan hadits lain dalam masalah “melempar”, juga dari ‘Uqbah. Dia berkata, ‘Aku mendengar Rosululloh bersabda,——- “Kelak akan ditaklukan untuk kalian negeri-negeri dan Alloh mencukupkan atas kalian, maka janganlah seseorang di antara kalian merasa malas untuk mempermainkan panahnya.” (HR. Muslim). Rosululloh saw bersabda:– “Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil (sia-sia/tidak berguna) kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq.”———– Mempersiapkan bekal untuk perang memperkuat kaum Muslimin serta menggetarkan musuh-musuh Alloh. Yang terakhir ini adalah musuh-musuh yang tidak kelihatan yang dimaksudkan dalam firman Alloh swt———— “… dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60) {Tafsir Ath Thabrani}.———– Memberikan bekal persiapan seseorang untuk berperang di jalan Alloh serta berinfak di dalamnya adalah seperti berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang memberikan bekal persiapan / perlengkapan adalah seperti orang yang berperang. Rosululloh saw bersabda, من جهز غازيا حتى يستقل كان له مثل أجره حتى يموت أو يرجع “Siapa yangmempersiapkan perlengkapan orang yang akan berperang sampai ia bisa berangkat, maka orang tersebut akan memperoleh pahala sepertinya, sampai yang berperang mati atau kembali.” (HR. Ibn Majah).——————– Rosululloh saw bersabda, “Sesungguhnya Alloh akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah lantaran satu panah; pembuatnya yang memiliki niat kebaikan dalam membuatnya, orang yang membantu menyodorkan anak panahnya kepada orang yang membidikkannya damn orang yang membidikkannya. Melemparlah dan menungganglahkalian, tetapi aku lebih suka melempar daripada menunggang. Dan segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil, kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan isterinya. Sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq. Dan siapa saja yang telah diajari Alloh melempar kemudian ia meninggalkannya karena telah tidak menyukainya lagi, maka sesungguhnya itu adalah nikmat yang ia kufuri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’I dan Ibn Majah). Alloh berfirman:———————- “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. At Taubah: 41).———————– Perkembangan persenjataan perang merupakan reaksi positif dan kelanjutan dari apa yang telah dimiliki kaum Muslimin dahulu.————– Pada zaman Nabi saw, kaum Muslimin telah menggunakan senjata Manjanik, pelempar batu (lebih kecil dari Manjanik) dan kendaraan pendobrakuntuk mengepung serta mendobrak benteng-benteng dan gerbang-gerbang pertahanan lawan. Rosul saw pernah mengutus beberapa orang sahabat ke daerah Jarasy –di Negara Syam- untuk mempelajari pembuatan senjata. Kemudian kaum muslimin membuatnya sendiri dan Rosul saw memeprgunakannya dalam pengepungan kota Thoif serta negeri Khaibar. Jumlah pasukan berkuda berkembang secara kontinyu. Pada perang Badr, jumlah prajurit dalam pasukan Rosul ada 12 orang saja dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 314 orang. Sementara perkembangan jumlah prajurit berkuda pada perang Tabuk mencapai 12.000 orang dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 30.000 orang. — Kemudian pada periode selanjutnya persenjataan laut mulai dikembangkan oleh Kaum Muslimin. Mereka membuat rumah-rumah galangan untuk membuat kapal, yang diarsiteki oleh pakar-pakar yang mereka miliki. Di samping itu, telah dibuka pula akademi-akademi perang untuk melatih taktik-taktik perang di laut.———— Berkembanglah persenjataan laut yang dimiliki kaum Muslimin. Sehingga mereka menjadi armada laut yang terkuat di zamannya. Bahkan berhasil mengungguli armada laut bangsa Romawi, yang sebelumnya merupakan aramada laut paling kuat dan paling tangguh pada zamannya. Armada-armada laut ini (menurut penuturan Ibn Kaldun) melarikan diri ketika menghadapi armada laut Islam yang mengaum di hadapan mereka seperti auman singa yang melihat mangsanya.——————- Pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra, bangsa Romawi keluar dari Negara mereka untuk memerangi kaum Muslimin dengan armada laut mereka yang berkekuatan 500 buah kapal prang di bawah pimpinan Konstantin putra Heraklius, Raja Romawi. Armada mereka bergerak menuju negeri Maghrib (sekarang adalah wilayah Negara Maroko dan sekitarnya). Kemudian kaum Muslimin menyongsong kedatangan mereka dengan armada laut mereka yang berkekuatan 200 kapal perang di bawah pimpinan Abdulloh bin Sa’ad bin Abu As Sarh.——————— Maka bertemulah kedua pasukan itu dalam pertempuran yang sangat sengit, yang terkenal dengan sebutan “Mauqi’ah Dzatus Shawar” (lantaran banyaknya kapal-kapal perang yang dikerahkan dalam peperangan tersebut). Dalam peperangan tersebut, panglima pasukan Romawi, Constantin terluka parah, yang mengakibatkan kekalahan di pihak pasukannya. Maka kemudian mundurlah dia dengan tentaranya yang tersisa, meninggalkan medan pertempuran. Sehingga kemenangan diraih oleh kaum Muslimin. Dengan kemenangan ini, maka jadilah perairan Laut Tengah sebagai perairan islam yang di kuasai kaum Muslimin, yang mana kapal-kapal mereka bisa berlayar ke mana saja dengan bebas dan aman.———- —————- betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan dalam diri: —— ———————- Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya. ——————- I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————– ———— Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————- Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———– Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———– إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———- Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.——— Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———– Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———– Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————- Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.—— bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46) ——— Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan. * * *———- Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ——— Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad. * * *——- Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——- Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan? ————– Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ——— Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!——— Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———- Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————– وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————– Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.———— Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ———— Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا “Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)———— Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri. ————- Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”——— Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——– Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——- Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———- Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——— Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——- Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—– Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ “Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)———— ———————– I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ——–

September 24, 2016 Edy Methek 2

menganggap ENTENG I’DAD adalah ciri orang MUNAFIK —— I’dad = […]

DOSA-DOSA bisa diampuni oleh Allah !! ada juga DOSA-DOSA yang TIDAK akan diAMPUNi oleh Allah … wallahua’lam ————————————– SEMUA DOSA DIAMPUNI KECUALI …..SYIRIK……… Dari Anas bin Malik rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun ( SYIRIK} , pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, ”hadits ini hasan shahih.”) ————————— Allah Swt berfirman : “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah [5] ayat 74) ——————- “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Zumar [39] ayat 53) ———————- 1. BERTAUBAT Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135) —————— “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)—————– 2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA————– Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)———- 2. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31)———- “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)—————– 3. INFAQ—————— Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)———– 4. BALASAN DI DUNIA———— Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)————— 5. SABAR ATAS UJIAN HIDUP—————– Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11)———— Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)———– 6. MUSIBAH—————- Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.” (Bihar al-Anwar 67 : 236)—————- 7. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH———– Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)————- 8. PENYAKIT————– Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183)——– Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197)——– Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186)— Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.” (Bihar al-Anwar 77 : 42)—————- 9. KESEDIHAN————– Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)——– ‎10. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH)—– Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)———– 11. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH———— Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Al-Thalaq [65] ayat 5)———– “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS Hud [11] ayat 114)————— “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] ayat 35)————— “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] 70-71)————– Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12————- 12. AKHLAQ YANG BAIK—————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356)————— Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)————– 13. MEMPERBANYAKKAN SUJUD—————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)——————- 14. HAJJI DAN UMRAH————– Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah syurga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)———— Imam Ali as berkata, ”Menjalani hajji ke Bait Allah dan umrahnya, keduanya menghapus kefakiran dan mencuci dosa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110)————– 15. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR—————— Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nisa [4] ayat 110)————- 16. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA—- Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)———– 17. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *]——- Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195)————- “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8] ayat 74)——– Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;———— 18. KEMATIAN————- Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166)————–

September 17, 2016 Edy Methek 1

DOSA-DOSA bisa diampuni oleh Allah !! ada juga DOSA-DOSA yang […]

menjawab pertanyaan Ajal, Rezeki, dan Jodoh …. masih membingungkan ? ———————– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan: “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR. Tirmidzi). ————————– 1. REZEKI ————— Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).——— Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).——- 1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).———- 2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].———– Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.———– Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.———– Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak (pembelanjaan), karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta.————- Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram.———— Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki.———– Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki.————- 3.Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]: 57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]: 26; al-Hajj [22]: 34).———- Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan (secara riil) maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan (secara riil) saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan penunjukannya juga umum.———— Jika orang mencuri, menilap atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil rezekinya dari pihak lain.—————- Rezeki dan Usaha————- Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.———— Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.————– Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.—————- Banyak ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah dan Allahlah yang memberi rezeki (QS. al-Baqarah [2]: 172, 212, 254; Ali Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60; ar-Rum [30]: 40; dsb). Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang sesuai dengan kehendakNya. (QS. ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]: 30; al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’ [34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12).————- Sesuai kehendak-Nya, Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman (artinya): Mintalah rezeki itu di sisi Allah (QS. al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi, rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti kufur.———– Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.———- Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6)———— Imam Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.————– Allah SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS. al-Fajr [89]: 15-16). Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh penyikapan terhadapnya.———- Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.—— اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya:Umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa dan tubuhnya digunakan untuk apa. (HR at-Tirmidzi).————— Seret atau tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan: إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ: إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang baik —halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya— dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).———————- dst Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain.Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.” ——- 2. JODOH———— Lafadz “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun perempuan.—— Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup. Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “jodoh” seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan.—————– Para Fuqaha’ ketika membahas hukum pernikahan hanya menyebut istilah ( زَوْجٌ ) atau( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri, yakni istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia.——– Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan hidup kita”, dengan titik diskusi: Apakah Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan dengan D, ataukah tidak?————— Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat, tradisi, pameo, peribahasa, dsb.————- Hanya saja, pembahasan tentang jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) (Maha Pengatur). Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan” adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) adalah hal yang lain.——— Masing-masing adalah topik tersendiri yang harus dibahas berdasarkan nash-nash yang terkait dengan topik itu. Mencampur adukkan dua topik pembahasan ini adalah langkah keliru karena bertentangan dengan fakta pembahasan, sebagaimana bisa berakibat kekacauan terhadap pemahaman. Dengan demikian dua macam pembahasan itu harus dipisahkan.———– Tinjauan sekilas terhadap persoalan jodoh menunjukkan bahwa persoalan ini adalah termasuk masalah aqidah, sebab kepercayaan bahwa Allah mentakdirkan A berpasangan dengan B, C berpasangan dengan D, atau Allah tidak mentakdirkan itu adalah jenis keyakinan, bukan amal.———- Efek pembahasan yang paling akhir adalah membentuk keyakinan tertentu seputar persoalan tersebut, bukan membahas apa yang harus dikerjakan oleh seorang mukallaf. Dengan demikian masalah jodoh adalah masalah aqidah, bukan syariat dan dalam masalah ini pambahasan tersebut tidak ada bedanya dengan pembahasan tentang rezeki, ajal, Dajjal, siksa kubur, dsb.——— Dalam persoalan aqidah, seorang Muslim harus mendasarkan semua kepercayaannya atas dalil yang shohih. Tidak diperkenankan seorang Muslim memiliki keyakinan tanpa ada dalil., yakni sekedar menduga-duga atau mengikuti umumnya kata orang.——— Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) (pasti), tidak boleh bersifat ( ظَنِّيٌّ ) (dugaan). Meskipun ada Qorinah (indikasi) yang menunjukkan pada keyakinan tertentu, selama dalil itu bersifat ( ظَنِّيٌّ ) tidak boleh seorang Muslim mengambilnya sebagai aqidah. Allah telah mencela keras orang-orang kafir yang memiliki keyakinan bahwa para Malaikat itu berjenis kelamin wanita: “Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm;27-2). Artinya orang-orang kafir itu punya keyakinan bahwa Malaikat berjenis kelamin wanita tetapi mereka tidak memiliki bukti (dalil) atau argumentasi untuk menguatkan keyakinannya.——- Keyakinan mereka hanya didasarkan pada dugaan ( ظَنٌّ ), padahal dzon itu sama sekali tidak ada nilainya untuk membuktikan ( الْحَقُّ )——- Dari sini bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) baik ( قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ ) (pasti sumbernya) maupun ( قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ ) (pasti penunjukan maknanya).——- Setelah dilakukan kajian terhadap persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang berada dalam area yang dikuasai manusia.———- Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalah:Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4).——- Lafadz ( فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ ) begitu jelas menunjukkan bahwa setiap Muslim dipersilahkan memilih calon istrinya. Alasannya, ketika Allah memubahkan untuk menikahi wanita-wanita yang ( طَابَ ) (manis, enak, lezat, menyenangkan) bagi mereka, dan tidak mencela lelaki yang tidak mau menikahi wanita karena merasa kurang mantap, baik karena fisik maupun sifatnya, ini semua menunjukkan bahwa persoalan ini adalah persoalan pilihan ( اخْتِيَارِيٌّ ) bukan Qadha’.——— Dalil lain yang mendukung adalah kenyataan bahwa syara’ memberikan hak menentukan calon suami sebagai hak penuh kaum wanita, yang tidak boleh ada intervensi dari siapapun meski itu ayah, ibu, paman, musyrif, atau khalifah sekalipun.———— عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء. (رواه ابن ماجه) Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).————– dst

September 9, 2016 Edy Methek 1

menjawab pertanyaan Ajal, Rezeki, dan Jodoh …. masih membingungkan ? […]

1 2 3