Loading
Kecelakaan | Islam dan Sains-Edy

JANTUNG / QALBU bukan hanya PHYSIC tapi berPIKIR dan MEMAHAMI —————————- Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas? Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.———— Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.———- Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik…——— Manusia sering kali melakukan sesuatu atas dasar hawa nafsunya yang mengakibatkan perbuatan tersebut berdampak negative ditengah-tengah masyarakat. Untuk menghindari penyesalan diakhir perbuatan yang akan dilakukan, maka seyogyanya bertanyalah pada hati kecil, baik dan buruknya perbuatan tersebut. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk memahami hatinya atau bahasa lain adalah “Qolbu”. ——————- Dalam hadis Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب Artinya: ” Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( Hadis Riwayat Bukhori ). ———- Jika kita pahami secara mendalam hadis tersebut, maka hati sangat berperan dalam kehidupan jiwa manusia, karena hati yang bersih akan melahirkan jiwa yang bersih dan selalu taat serta tunduk terhadap titah dari Sang Ilahi Rabbi. Sebaliknya jiwa yang kotor disebabkan karena jiwa tersebut memiliki hati yang tidak baik dan selalu melanggar aturan yang telah digariskan oleh Allah Swt. =========================== Riset Al Quran & Sains: QALBU (JANTUNG) PUSAT BERFIKIR MANUSIA ————————– ” Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai Qalbun (jantung) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah Qalbun yang di dalam dada.”(QS. Al-Hajj: 46)————— Syaikh az-Zindani ditanya: Apakah pusat keyakinan (keimanan) dan berpikir dalam diri manusia adalah jantung? Jika demikian, bagaimana dengan praktek cangkok jantung dan pemasangan jantung buatan? Dan apakah al-Qalb (jantung) yang ada dalam al-Quran dan Sunnah (hadits) adalah jantung ini?———— Beliau menjawab:Pagi hari ini baru saja aku menemukan jawaban baru, yang telah lama aku mencarinya. Sejak beberapa waktu yang lalu, kami terus mencari dan menelusuri permasalahan ini. Maka kami mengutus salah seorang saudara kami ke pusat proses mekanisme pengubahan (pencangkokan) jantung buatan di Amerika. Dia berkata:” Apakah Anda mengizinkan saya untuk bertemu dengan pasien?” Mereka berkata:” Kami tidak mengizinkan untuk Anda!” Mengapa? Saya hanya ingin bertemu dengan mereka dan bertanya kepada mereka.————– Maka apa yang terjadi? Mereka merasa sangat cemas dan gelisah dengan permintaan saya! Mengapa? Mereka berkata kepada saya:”Informasi apapun yang Anda inginkan, kami akan menyajikannya untuk Anda.” Kami katakan:” Insyaa Allah, Rabb (Tuhan) kita akan mengungkap dan akan menjadikan hal ini sebagai suatu keajaiban ilmiah, yang kami berbicara dengannya pada hari-hari dan tahun tahun mendatang – Insya Allah – sehingga kalian akan melihat dan akan mengingatnya.” ————– Maka kami mulai mencari dan meneliti kembali, dan ternyata ada salah seorang profesor di Universitas King Abdul Aziz berkata kepadaku:” Apakah anda belum mendengar berita tentang hal itu?!” Saya berkata:” Apa itu?” Dia berkata:”Berita itu sudah dipublikasikan dalam sebuah koran semenjak tiga setengah tahun yang lalu. Koran itu mengatakan:” Mereka menemukan bahwa jantung bukan hanya memompa darah, tapi ia merupakan pusat akal dan pikiran.” Allahu Akbar, tunjukan dan berikan kepadaku koran tersebut.————— Lalu ia pun membawakan koran itu untukku, dan koran itu ada padaku. Dan ini adalah pintu pertama. Hari-haripun berlalu dan suatu ketika aku berada di pusat penggantian jantung di Yordania. Maka aku berkata:”Negeri ini adalah negeri Arab semoga saja -Insyaa Allah- akan mudah bagi kami untuk mendapatkan pengetahuan (maklumat) tentang hal itu.” Dan kami melihat hal itu dengan mata kami sendiri. Lalu salah seorang saudara kami pengamat dalam masalah ini berkata:”Apakah Anda mendengar konferensi pers tentang orang pertama yang mengganti jantungnya?” Aku berkata:” Tidak.” Dia mengatakan:” Telah diadakan konferensi pers, dan mereka berkata (keluarga orang yang jantungnya diganti):’ Jika kalian bersama kami di rumah kami, kalian melihat perilaku dia (orang yang jantungnya diganti), niscaya kalian tidak akan iri kepada kami terhadap penggantian jantung ini.'” Dan masih ada perkataan lain di sana namun bukan itu yang menjadi topik pembahasan kami.—————— Pagi hari ini salah seorang saudara kami, seorang dokter dari Saudi yang sibuk dalam proses penggantian jantung dan ingin mempersiapkan penelitian untuk masalah ini, menghubungiku. Maka aku mulai bertanya kepadanya:”Saya ingin anda fokus pada perubahan yang terjadi pada akal (mental), psikologis (kejiwaan), dan kemampuannya untuk memilih, apa yang terjadi?” Dia berkata:” Pertama saya ingin mengatakan kepada anda sesuatu yang sekarang sudah maklum (diketahui) oleh orang-orang yang bekerja di bidang ini, yaitu bahwa jantung yang baru, tidak ada sedikitpun perasaan dan emosi padanya.”——– Apa maksud ungkapan ini? Dia mengatakan:” Jantung ini (jantung buatan) jika engaku mendekatkan kepadanya sesuatu yang tampaknya membahayakan, maka seolah-olah ia tidak merasa terancam oleh apa-apa! Padahal yang kedua (jantung asli) akan merinding ketakutan. Dan jika engkau mendekatkan kepadanya sesuatu yang disukainya, maka seolah-olah engkau tidak memberikan apa pun kepadanya. Sungguh jantung yang dingin (pasif) dan tidak interaktif dengan seluruh anggota tubuh.”—————- Maka aku katakan:” Ini -insya Allah- Dia akan mengungkap banyak sisi kemukjizat (keajaiban), dan akan menunjukkan apa yang kami cari, maka bersabarlah sedikit. Karena masalah ini baru di awalnya.” Mereka mengatakan:” Mereka menemukan bahwa di dalam jantung ada hormon untuk berfikir, dan hormon ini mengirim pesan ke seluruh tubuh. Dan sesungguhnya jantung adalah pusat nalar dan berpikir, dan bukan hanya sekedar pemompa darah.” Wallahu A’lam dan sungguh janji kita adalah dekat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.———— ——————- EFEK SAMPING TRANSPLANTASI JANTUNG: APAKAH MEMORI TERSIMPAN DALAM SEL? —————- Legenda menceritakan bahwa pada 2.500 tahun lalu, pada masa Periode Negara Berperang, dua pria menemui seorang ahli pengobatan China kuno terkenal bernama Bian Que. Bian menyembuhkan penyakit mereka dengan sangat cepat, tetapi dia menemukan bahwa kedua pria ini mempunyai masalah lain yang dapat menjadi serius sejalan dengan waktu. Bian mengatakan bahwa mereka akan jadi sehat jika mereka saling menukar jantung mereka, dan mereka setuju untuk mengizinkan Bian melakukan operasi. —————– Bian memberikan pada dua orang tersebut sejenis anestetik, dan mereka kehilangan kesadaran selama tiga hari, waktu yang dipergunakan oleh Bian untuk membuka dada mereka, menukar jantung mereka, dan melakukan pengobatan. Ketika mereka sadar kembali, mereka telah pulih dan sehat seperti sedia kala. ————– Tetapi terdapat suatu masalah: ketika mereka pulang ke rumah, mereka berdua tercengang karena istri mereka tidak dapat mengenali mereka. Ternyata mereka berdua saling tertukar pergi ke rumah temannya dan berpikir bahwa istri temannya itu adalah istri mereka. ————- Hampir tidak dapat dipercaya bahwa pembedahan semacam itu dapat dilakukan pada 2.500 tahun lalu, tetapi cerita ini secara luar biasa mirip dengan situasi yang ditemui pada kasus tranplantasi jantung moderen. ————- Media Inggris, Daily Mail, melaporkan bahwa setelah melakukan sebuah transplatasi jantung, Sonny Graham dari Georgia jatuh cinta kepada istri si pendonor dan menikahinya. Dua belas tahun sesudah pernikahan, dia melakukan bunuh diri dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh pendonornya. ——- Pada laporan Daily Mail yang lain, seorang pria bernama William Sheridan menerima sebuah jantung dari seorang pelukis yang meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, dan tiba-tiba dia mampu untuk membuat lukisan indah tentang kehidupan liar dan pemandangan alam. —————– Claire Sylvia, penerima donor jantung dan paru-paru pada 1988, menulis dalam bukunya A Change of Heart: A Memoir, bahwa setelah melakukan transplantasi dia mulai menyukai mengonsumsi bir, ayam goreng dan paprika hijau, yang sebelumnya tidak dia sukai, namun pendonor remaja pria berusia 18 tahun amat menyukainya. —————- Dia bermimpi di mana dia mencium seorang seorang anak lelaki yang dipikirnya bernama Tim L., dan menghirupnya ke dalam dirinya pada saat berciuman. Dia kemudian menemukan bahwa Tim L. adalah nama pendonor tersebut. Dia heran apakah hal ini terjadi karena salah seorang dokter menyebutkan namanya pada saat dia dioperasi, tetapi kemudian dokter memberitahukan bahwa mereka tidak tahu nama si pendonor. —————– Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Near-Death, Dr. Paul Pearsall dari University of Hawaii dan Dr. Gary Schwartz dan Dr. Linda Russek dari University of Arizona mendiskusikan 10 kasus dari transplantasi jantung atau jantung – paru-paru di mana dilaporkan bahwa para penerima donor mempunyai “perubahan dalam makanan, musik, seni, seks, rekreasi, dan pilihan karir, dan termasuk contoh-contoh tanggapan yang spesifik terhadap nama dan pengalaman yang berhubungan dengan pendonor.” ———————- Dalam salah satu kasus, mereka gambarkan pendonornya adalah seorang keturunan Afrika Amerika, jadi penerima berpikir bahwa pendonor menyukai musik rap dan tidak mengira bahwa transplantansi yang dia lakukan telah menyebabkan kegemaran baru terhadap musik klasik. Dan ternyata pendonor tersebut adalah seorang pemain biola dan menyukai musik klasik. ———————— Kasus ini mengesankan bahwa perubahan perilaku penerima donor terjadi tanpa diduga sebelumnya. Namun kasus-kasus seperti ini tidak serupa dengan efek pengobatan plasebo yang menimbulkan perubahan kondisi kesehatan pasien secara langsung tanpa diduga sebelumnya. ————————- Sebagai tambahan, peneliti menemukan bahwa seperti penerima di atas, ada kemungkinan bahwa penerima lain yang mengesampingkan ide bahwa mereka telah mengadopsi kegemaran pendonor karena harapan mereka pada pendonor, sehingga jumlah penerima transplantasi organ yang mengalami perubahan kepribadian serupa seperti pendonor mereka tidak terlaporkan. —————— Pearsall, Schawartz dan Russek menyimpulkan bahwa kejadian ini terjadi secara kebetulan, dan hipotesa yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh ingatan dalam sel, yang berarti bahwa memori dan kegemaran dapat tersimpan dalam sel. —————— Tetapi tidak dapat terdeteksi apakah bentuk memori ini eksis. ===================== Tanda-tanda hati yang kotor atau sakit —————— Fitrah manusia adalah suci dan bersih dalam menjalankan perintah agama,namun terkadang dalam perjalanan kehidupannya, manusia sering lupa dan lalai serta terjerumus dalam sifat-sifat “syaithoniyah”. Untuk mengenal lebih jauh tanda-tanda hati manusia yang telah kotor atau sakit, berikut ini salah satu tandanya :———— Adanya sifat nifaq ( Munafik ) dalam jiwa manusia, mari kita renungkan firman Allah Swt. Dalam surat al-Baqarah :——— وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ . يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ .فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ . Artinya : ” Dan diantara manusia ada yang berkata ” kami beriman kepada Allah dan hari akhir “, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang2 yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang2 yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit ( Nifaq ), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta “. ( QS.al-Baqarah : 8-10 )————– Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut, maka sifat munafik akan menjadikan hati manusia bertambah kotor dan rusak, karena pada dasarnya manusia yang memiliki sifat nifaq akan terlihat diluar dirinya manis akan tetapi dalam bathinnya dia memiliki sifat-sifat syaithoniyyah, apa saja sifat-sifat tersebut, Syekh az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya “al-Kassyaf”, menggambarkan hati yang sakit karena sifat nifaq dalam diri manusia adalah selalu condong untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt. Sedangkan Syekh Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya “Zahratu at-Tafasir”, bahwasanya hati akan menjadi keras karena sifat nifaq yang selalu menanamkan kedengkian dan selalu menghinakan orang2 yang beriman. Penyakit hati tersebut menurut beliau tidak ada obatnya, na’udzubillah.—————-

September 27, 2016 Edy Methek 1

JANTUNG / QALBU bukan hanya PHYSIC tapi berPIKIR dan MEMAHAMI […]

MATI … AJAL akan menDATANGi … walau pergi berPERANG maupun yang tidak, ———————— dan tidak ada sesuatupun yang bisa menyelamatkan manusia dari kematian, karena sesungguhnya AJAL sudah ditentukan ——————————————————– “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût/29:57] ————————— Kematian adalah sesuatu yang pasti menimpa siapapun manusia di dunia, yang mukminnya ataupun yang munafik atau yang kafirnya, ulamanya ataupun kaum awamnya, lelaki ataupun perempuannya, yang mudanya ataupun yang tuanya, kaum kayaknya ataupun miskinnya, golongan pejabat ataupun rakyat jelatanya dan selainnya, niscaya mereka semuanya akan mengalami kematian. Hal tersebut sebagaimana yang telah banyak di alami oleh umat-umat terdahulu dan sekang ini, dan juga pernah dialami oleh seorang shahabat dari golongan Anshor yang diselenggarakan penguburannya oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum, sebagaimana persaksian al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu anhu di dalam pembahasan dari hadits terdahulu. [1] ——————— TIAP TIAP YANG BERNYAWA AKAN MERASAKAN MATI (QS:ALI IMRON :185) ——– Mari kita perhatikan firman-firman Allah Ta’ala berikut ini:———— 1. إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Surat Az Zumar: 30). 2. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).——— 3. أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (Surat An Nisa’: 78)————– 4. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. (Surat Al Jumu`ah: 8).————— “Sesungguhnya segala yang bermula itu akan berakhir, setiap yang kuat itu memiliki kelemahan dan setiap yang hidup pasti akan mati” —————– Hal inipun didukung oleh beberapa dalil berikut ini, تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ اْلمـُلْكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِى خَلَقَ اْلـمَوْتَ وَ اْلحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَ هُوَ اْلعَزِيزُ اْلغَفُورُ Maha berkah Allah, yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa lagi Maha pengampun. [QS. Al-Mulk/ 67: 1-2].——— Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan mati dan hidup. Jika Allah Azza wa Jalla telah menciptakan kehidupan bagi seorang manusia, maka Ia juga akan menciptakan kematian baginya. Maka kematian adalah sesuatu yang dipastikan akan dimiliki oleh setiap makhluk hidup sebagaimana Allah Jalla wa Ala pernah memberikan kehidupan kepadanya. Sebab setiap yang memiliki jiwa niscaya akan merasakan kematian, meskipun ia berusaha dengan maksimal dan optimal untuk selalu menjauhi dan menghindarinya. Kendatipun ia berada di dalam benteng kuat yang tak mudah dihancurkan senjata canggih apapun yang dijumpai di muka bumi, bungker kokoh yang keberadaannya sangat tersembunyi, istana megah yang diawasi oleh ribuan penjaga perkasa tak tertandingi namun tetap kematian itu akan datang menemui dan menghampirinya tiada peduli. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini,—- وَ مَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ اْلخُلْدَ أَفَإِين مِّتَّ فَهُمُ اْلخَالِدُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?. [QS al-Anbiya’/21: 34].———- كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمـَوْتِ Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. [QS. Ali Imran/3: 185, al-Anbiya’/21: 35 dan al-Ankabut/29: 57].———- مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَ مَا يَسْتَئْخِرُونَ Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). [QS al-Hijr/ 15: 5].——— قُلْ إِنَّ اْلمـَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ اْلغَيْبِ وَ الشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكَمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْلَمُونَ Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui keghaiban dan yang nyata. Lalu Ia akan beritakan kepada kalian apa yang kalian telah kerjakan. [QS. Al-Jumu’ah/62: 8].—- أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ اْلمـَوْتُ وَ لَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [QS. An-Nisa’/ 4: 78].—- Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna di dalam alqur’an bahwasanya setiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan ketidak-abadian. Karena keabadian itu hanya ada di hari kiamat kelak, di dalam surga dengan segala kenikmatannya atau di dalam neraka dengan segala kesengsaraanya. Apakah kematian yang merenggut nyawanya itu karena penyakit yang menimpanya, kecelakaan kendaraan atau pesawat yang ditumpanginya, terbenam dalam kubangan air yang menenggelamkannya, teruruk dalam bongkahan-bongkahan tanah yang menguburnya, terbakar oleh api yang mengepungnya, terbunuh oleh lawan yang berseteru dengannya ataupun dengan sebab-sebab lainnya.———- Setiap manusia meskipun ia takut mati sehingga ia hanya berdiam diri di rumahnya dalam rangka menghindar dari kematian maka jikalau telah ditentukan kematian kepadanya niscaya ia akan mendatangi tempat dimana ia akan mati di tempat tersebut dan akan tertimpa sesuatu peristiwa yang menyebabkan kematian yang telah ditentukan baginya. Hal ini sebagaimana telah diungkapkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam ayat berikut,———- قُلْ لَّوْ كُنتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ اْلقَتْلُ إِلَى مَضَاجَعِهِمْ Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. [QS Alu Imran/ 3: 154].———– Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penetapan akan dasar qodlo dan qodar Allah. Bahwa orang yang telah ditetapkan kematian baginya di suatu tempat maka ia pasti akan mati di tempat tersebut”. [2]————- Maka kematian itu niscaya akan menghampiri setiap jiwa dalam berbagai keadaan, apakah matinya itu lantaran memperjuangkan agama Allah dengan bentuk berjihad dengan harta, lisan dan jiwa, kelelahan tatkala mengerjakan beberapa ibadah dari ibadah-ibadah yang disyariatkan oleh agama, membantu dan mengajak orang lain untuk ikut berpartisipasi di dalam menegakkan Islam sebagai agama yang paling bersahaja dan lain sebagainya. Ini adalah kematian yang mengandung kemuliaan. Ataukah matinya itu ketika sedang membela kebatilan yang selama ini ia yakini, melakukan berbagai kemaksiatan yang selama ini ia sukai, membantu dan mengajak orang lain untuk menentang dan melawan kebenaran yang selama ini ia benci dan jauhi dan lain sebagainya. Ini adalah kematian yang mengundang kenistaan. Mati berbalutkan kemuliaan ataukah mati berselimutkan kenistaan, itulah dua pilihan yang mesti diambil oleh setiap manusia yang niscaya akan melampaui dan memilih salah satu di antara keduanya.——– إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَ إِمَّا كَفُورًا Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. [QS. Al-Insan/ 76: 3].———- Bahkan di dalam setiap kematian itu terdapat sekarat, yang mesti di alami oleh setiap manusia baik yang mukmin, munafik ataupun kafirnya. وَ جَآءَتْ سَكْرَةُ اْلـمَوْتِ بِاْلحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ Dan datanglah sekaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. [QS. Qof/ 50: 19].——- Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat secara pasti. Ya Allah mudahkanlah sekaratul maut atas kami”. [3] وَ لَوْ تَرَى إِذِ اْلظَّالِمـُونَ فِى غَمَرَاتِ اْلمـَوْتِ وَ اْلمـَلَائِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمْ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sekaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu”. [QS. Al-An’am/ 6: 93].——- Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penetapan adanya adzab kubur dan sekaratul maut”. Di dalam hadits, “Bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat”. [4]– عن عائشة كَانَتْ تَقُوْلُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ – عُلْبَةٌ فِيْهَا مَاءٌ – يَشُكُّ عُمَرُ – فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَهُ فىِ اْلمـَاءِ فَيَمْسَحُ بِهَا وَجْهَهُ وَ يَقُوْلُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: فىِ الرَّفِيْقِ اْلأَعْلىَ حَتىَّ قُبِضَ وَ مَالَتْ يَدُهُ Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Sesungguhnya di hadapan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada sebuah bejana (yang terbuat dari kulit atau mangkuk) –Umar ragu-ragu- yang berisi air. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam air itu dan membasuh wajahnya dengannya. Beliau bersabda, “Laa ilaaha illallah (tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah), sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat”. Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya bersabda, “Berada di tempat yang tinggi”. Sehingga beliau wafat sedangkan tangannya mengendur/ terkulai. [HR al-Bukhoriy: 6510. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]——- Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat dan kesulitan sehingga para Nabi Alaihim as-Salam pun meminta diringankan dari sekarat ini”. [6]—— Berdasarkan ayat dan hadits di atas dapat dipahami bahwasanya setiap kematian yang menimpa seseorang itu niscaya terdapat sekarat, yaitu suatu tekanan yang amat berat lagi menyulitkan ketika menjelang kematiannya sehingga orang tersebut seperti orang yang kehilangan akal dan kesadarannya sebagaimana keadaan orang yang sedang mabuk. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala meringankan kita dari sekaratul maut ini seringan-ringannya.————– Hadits dari Aisyah radliyallahu anha di atas menjadi dalil akan bolehnya bagi orang yang sakit untuk mempergunakan air pada bagian kepalanya (ngompres) untuk meringankan sakit panas yang menimpanya dan juga disunnahkan baginya untuk selalu memohon ampunan dan rahmat dari-Nya. Hal ini juga didukung oleh dalil berikut ini,—– عن عائشة قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيِّ وَ هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لىِ وَ ارْحَمْنىِ وَ أَلْحِقْنىِ بِالرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata sedangkan beliau sedang bersandar kepadaku, “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan himpunkan aku di tempat yang tinggi”. [HR al-Bukhoriy: 5674 dan Muslim: 2444. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]———- Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepatutnya bagi orang yang sakit itu untuk meminta ampunan dan rahmat. Ia tidak boleh berputus asa dari pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak boleh berputus harapan dari rahmat-Nya”. [8]——- Maka dianjurkan bagi setiap muslim, ketika tertimpa sakit apalagi sakitnya itu mendekati tanda-tanda kematian untuk memperbanyak meminta ampun dan rahmat kepada Allah Jalla dzikruhu, selalu memuji-Nya, menghiasi diri dengan berbaik sangka kepada-Nya dan senantiasa berharap berjumpa dengan-Nya dan takut terhadap akibat dari dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Hal ini sebagaimana telah disinyalir di dalam dalil-dalil hadits berikut ini,——– Dari Ibnu Abbas radliyallahu anha berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengambil seorang anak perempuan asuh yang hampir meninggal dunia. Beliau meletakkannya di atas dadanya (memeluknya), lalu ia meninggal dunia di dalam pelukannya. Maka Ummu Ayman radliyallahu anha pun berteriak menangis. Dikatakan kepadanya, “Mengapa kamu menangis di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Iapun berkata, “Bukankah aku juga melihatmu menangis wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallampun bersabda, “Aku tidaklah menangis, ini hanyalah rahmat (rasa kasih sayang)”.—- إِنَّ اْلمـُؤْمِنَ بِكُلِّ خَيْرٍ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِنَّ نَفْسَهُ تَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ جَنْبَيْهِ وَ هُوَ يَحْمَدُ اللهَ عز و جل “Sesungguhnya orang mukmin itu selalu di dalam kebaikan di atas setiap keadaan, sesungguhnya jiwanya keluar dari jasadnya sedangkan ia dalam keadaan memuji Allah Azza wa Jalla”. [HR Ahmad: I/ 273-274. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. [9]——– عن جابر رضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ قَالَ: لاَ يَمُوْتُ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan tiga hal sebelum wafatnya. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”. [HR Abu Dawud: 3113, Muslim, Ibnu Majah: 4167 dan Ahmad: III/ 293, 325, 330, 334, 390. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]——– Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah masuk menemui seorang pemuda yang sedang mendekati kematian. Beliau bersabda, “Apa yang kamu rasakan?”. Ia menjawab, “Demi Allah, wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengharapkan Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَجْتَمِعَانِ فىِ قَلْبِ عَبْدٍ فىِ مِثْلِ هَذَا اْلمـَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُوْ وَ آمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ “Tidaklah keduanya terhimpun di dalam hati seorang hamba di semisal tempat ini melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti”. [HR at-Turmudziy: 983, Ibnu Majah: 4261 dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [11]——–

September 9, 2016 Edy Methek 1

MATI … AJAL akan menDATANGi … walau pergi berPERANG maupun […]

BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar … —————————————— Saat mengalami peristiwa Isra Mi’raj diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril mengendarai makhluk bernama buraq, makhluk yang melegenda di kalangan umat Islam. Namun, mungkin tidak banyak umat Islam saat ini yang mengetahui sosok atau bentuk tunggangan tersebut, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam lagi. ———————- Buraq berasal dari kata /barqu yang memiliki arti kilat. Namun, penggantian istilah dari barqu yang berarti kilat menjadi buraq tersebut jelas mengandung pengertian yang berbeda. Jika barqu itu adalah kilat, maka Buraq dapat diasumsikan sebagai sesuatu kendaraan yang kecepatannya diatas kilat atau sesuatu yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya. ———————– Istilah barqu yang berarti kilat tersebut bisa ditemukan dalam beberapa surah dalam Alquran. Salah satunya yaitu di dalam surah al-Baqarah ayat 20 yang artinya,Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2: 20]). ——————— Terkait dengan bentuk buraq, di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (kitab al-Jami’ al-Sahih juz I, hlm 99). ———- Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa Buraq itu adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab, dabbah adalah suatu makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki bisa perempuan, berakal dan juga tidak berakal. Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin hewan tersebut, seperti halnya malaikat. …………….. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”……………. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dan beberapa literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa buraq itu adalah seekor hewan yang warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat, memiliki empat kaki. Jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya…………….

July 3, 2016 Edy Methek 3

BURAQ {“KILAT”}….. Kendaraan Rasulullah Berkecepatan MELEBIHI kecepatan cahaya /sinar … […]

Matematika Pahala dan Dosa —————————————– Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut , ‘Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini). ========================== Orang Muslim Berdasarkan hadits tersebut, jika engkau seorang Muslim, maka berlaku matematika sebagai berikut: …………………………. Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, namun engkau tidak jadi melakukannya maka engkau mendapat satu poin amal kebaikan. ……………… Rumusnya: Pahala niat = amal shalih x 1 = 1 amal shalih ========================== Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, kemudian engkau jadi melakukannya maka engkau mendapat 10 sampai dengan 700 poin amal kebaikan. ……………. Rumusnya: Pahala amal shalih minimal = amal shalih x 10 = 10 amal shalih ————————– Contohnya, jika engkau bersedekah Rp 1 juta, minimal engkau dinilai oleh Allah seolah-olah bersedekah Rp 10 juta. ———————– Rumus Pahala amal shalih ideal= amal shalih x 700 = 700 amal shalih ————————– Contohnya, jika engkau bersedekah Rp 1 juta, engkau mendapat penilaian ideal oleh Allah, sehingga dinilai seolah-olah engkau bersedekah Rp 700 juta. —————————– Itu baru perhitungan untuk satu kali amal shalih di bulan biasa. Bagaimana jika seorang Muslim melakukan amal shalihnya di bulan Ramadhan yang dijanjikan berlipat ganda? Kita tidak tahu berapa kelipatan yang Allah berikan pada bulan Ramadhan. Tapi kalau boleh kita andaikan kelipatannya 10 kali lipat bulan biasa, maka seseorang yang berinfak Rp 1 juta di bulan Ramadhan dengan menyempurnakan segala persyaratannya, maka dia akan mendapatkan penilaian seolah-olah berinfak Rp 7 milyar. —————————- Rumusnya sbb: ……… Pahala amal shalih ideal di bulan Ramadhan = amal shalih x 700 x 10 = 7000 amal shalih Ada juga pahala maksimal, yakni tak terhingga nilainya. —————– Rumusnya: …………. Pahala amal shalih maksimal= amal shalih x ∞ = ∞ amal shalih ∞ = lambang matematika untuk bilangan yang tak terhingga ——————-

June 30, 2016 Edy Methek 3

Matematika Pahala dan Dosa … melaksanakan KEBAIKAN …. maka Allah […]

SEDEKAH/SHADAQAH adalah WAJIB …. bagaimana dengan orang MISKIN/sedikit HARTA ?? ————————— SEDEKAH/SHADAQAH banyak bentuknya —————— >>>>> bekerja dapat imbalan .. lalu … SEDEKAH ……… >>>>> menolong orang yg terANIAYA ……… >>>> menyuruh orang berbuat keBAIKan/ma’ruf …………. >>>> mencegah diri sendiri dari DOSA/kejahatan …………… ————————–————————–— Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat maruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim) —————————– manfaat …….. SEDEKAH (ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH) ……………………..……………………..……………………..………. Manfaatnya sedekah di akhirat, antara lain: 1. Meringankan hisab. 2. Memberatkan timbangan kebaikan (Simak Al Hadid 18 dan al Baqarah 261). 3. Menjadi naungan bagi orang yang melakukannya dari dahsyatnya panas hari kiamat. Rasul bersabda “Setiap orang berada dalam naungan sedekahnya hingga diputuskan perkara diantara manusia.” “Naungan Mukmin pada hari Kiamat adalah sedekahnya,“ kilah Putra Luqman al Hakim. “ 4. Dimudahkaan melewati ash-shirath. 5. Menaikkan derajat di surga. 6. Menghapuskan dosa dan kesalahan. Rasul SAW bersabda, “Puasa adalah perisai, dan sedekah itu memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api.” Nasehat Luqman al Hakim kepada anaknya, ”Jika engkau melakukan suatu kesalahan, maka bersedekahlah“ ……………………..……………………..…………… Perbedaan ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH yaitu : 1. Zakat, sifatnya wajib dan adanya ketentuannya/batasan jumlah harta yang harus zakat dan siapa yang boleh menerima. 2. Infaq, sumbangan sukarela atau seikhlasnya (materi). 3. Shadaqah, lebih luas dari infaq, karena yang disedekahkan tidak terbatas pada materi saja. ……………………..………………

June 29, 2016 Edy Methek 1

SEDEKAH/SHADAQAH adalah WAJIB …. bagaimana dengan orang MISKIN/sedikit HARTA ?? […]

1 2