Loading
Kirim | Islam dan Sains-Edy

sifat TAWADHU’ atau RENDAH HATI adalah sifat semua NABI dan RASUL …. yang harus diCONTOH oleh semua orang ISLAM, agar tidak terJEBAK dalam sifat SOMBONG dari SYAITAN ———————————– Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83) ——— Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215) ————– Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)——————- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588) ————- Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)———————- Penjelasan ringkas: Tawadhu’ dan rendah diri kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang tawadhu’ kepada-Nya. —————————– Diantara sekian banyak akhlak serta sifat terpuji yang ditekankan oleh agama kita ialah sifat tawadhu (rendah hati). Dikarenakan akhlak mulia adalah inti ajaran Islam, maka tak salah kalau banyak ayat serta hadits yang menganjurkan hal tersebut, salah satunya sifat yang akan menjadi kajian kita kali ini, yaitu sifat tawadhu. —————– Allah ta’ala berfirman: ﴿ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨﴾ [ لقمان: 18] “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Luqman: 18).——————- Dalam keterangan lain Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: ﴿ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨ ﴾ [الحجر: 88] “Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (QS al-Hijr: 88). ——————————— Pengertian:—————– Yang dimaksud tawadhu ialah merendahkan diri dan berlaku lemah lembut. Dan ini tidak akan mendongkrak pelakunya menjadi terpuji melainkan bila dibarengi karena mengharap wajah Allah azza wa jalla.————— Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kalau sekiranya ada orang bersikap tawadhu agar Allah Shubhanahu wa ta’alla mengangkat derajatnya dimata orang, maka ini belum dikatakan telah merengkuh sifat tawadhu, karena maksud utama perilakunya itu didasari agar mulia dimata orang, dan sikap seperti itu menghapus tawadhu yang sebenarnya”.[1]————— Ucapan beliau didasari sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ» [أخرجه مسلم] “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan (pasti) Allah akan mengangkat derajatnya”. HR Muslim no: 2588.——————— Syaikh Abdurahman as-Sa’di mengomentari maksud hadits diatas dengan mengatakan: “Sabdanya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah”. Sebagai peringatan supaya memperbagusi niat, yaitu dengan didasari ikhlas karena Allah Nabi Muhammaddidalam sikap tawadhunya tadi. karena banyak dijumpai, ada orang yang terkadang menampilkan sikap tawadhu dihadapan orang kaya, namun, niatnya supaya bisa mengais sedikit dari hartanya, atau terhadap pimpinan supaya bisa tercapai keinginannya. —————— Ada pula yang menampilkan sikap tawadhu dengan tujuan riya’ dan pamer, maka tujuan-tujuan semacam ini, semuanya rusak, tidak memberi manfaat sama sekali bagi pelakunya, kecuali rendah diri yang didorong rasa ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rangka mendekatkan diri kepada -Nya dan ingin meraih ganjaran serta kemurahan -Nya kepada makhluk, sehingga ihsan terbaik serta ruhnya itu ada pada ikhlas karena Allah ta’ala”. [2] ————— Dan Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pionir terdepan dalam akhlak mulia yang satu ini, untuk menggambarkan tawadhunya Nabi kita lihat pada haditsnya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Diceritakan oleh beliau: « أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِى عَقْلِهَا شَىْءٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ « يَا أُمَّ فُلاَنٍ انْظُرِى أَىَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِىَ لَكِ حَاجَتَكِ ». فَخَلاَ مَعَهَا فِى بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا » [أخرجه مسلم] “Ada seorang perempuan yang sedikit bermasalah otaknya berkata pada Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, saya ada keperluan sebentar denganmu”. Nabi menyahut: “Ya Ummu Fulan, apa kebutuhanmu, hingga aku bisa membantu urusanmu”. Maka beliau mengikutinya sedikit minggir dijalan kota Madinah, sampai perempuan tadi menyelesaikan keperluannya”. HR Muslim no: 2326.——————- Masih kisah yang menjelaskan tawadhunya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu beliau menceritakan: « إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ » [أخرجه البخاري] “Pernah ada seorang budak yang berada dikota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu diajak pergi untuk membantu urusannya”. HR Bukhari no: 6072. ————- Bahkan lebih mengesankan lagi dari itu semua, sebuah hadits yang dibawakan oleh al-Baghawi dalam syarhu sunah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس العبد » [أخرجه البغاوي في شرح السنة ] “Aku makan sebagaiman makannya seorang hamba sahaya, dan aku duduk seperti duduknya seorang budak”. HR al-Baghawi 13/248. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 544. ——– Dalam redaksi lain, dikatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يا عائشة لو شئت لسارت معي جبال الذهب. أتاني ملك وإن حجزته لتساوي الكعبة, فقال: إن ربك يقرأ عليك السلام ويقول: إن شئت نبياً ملكاً وإن شئت نبياً عبداً, فأشار إلي جبريل ضع نفسك فقلت: نبياً عبداً » [أخرجه البغاوي] “Wahai Aisyah, kalaulah sekiranya aku mau tentu ada gunung yang terbuat dari emas berjalan menemaniku. Telah datang kepadaku malaikat yang kain bagian bawahnya hampir setinggi Ka’bah. Dia mengatakan: “Sesungguhnya Rabbmu kirim salam kepadamu, dan berfirman: “Kalau engkau mau Aku jadikan seorang Nabi dan hamba, atau seorang Nabi dan malaikat”. Lalu aku berpaling kepada Jibril ‘alaihi sallam, dan ia mengisyaratkan padaku supaya rendah diri. Maka aku jawab: “Aku rela menjadi Nabi dan seorang hamba..”. Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam syarhu Sunah 13/348 no: 3683. ————————– Tatkala Aisyah ditanya apakah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan pekerjaan dirumahnya? Beliau menjawab: « قَالَتْ: نَعَمْ ,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه البغاوي] “Ia, beliau biasa menambal sendalnya, dan menjahit bajunya sendiri, dan melakukan pekerjaan rumah seperti halnya kalian melakukannya dirumah kalian”. Hadits shahih dikeluarkan oleh Baghawi dalam Syarhu Sunah 13/242 no: 3675.———————— Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa berdo’a: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَتَوَفَّنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَومَ القِيَامَة » [أخرجه الترمذي] “Ya Allah hidupkanlah hamba dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama orang-orang miskin kelak pada hari kiamat”. HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917. ————————- Tatkala ada seorang sahabat datang kepada beliau lalu memujinya sambil mengatakan: “Duhai sebaik-baik makhluk”. Beliau justru menimpali: “Itu adalah Ibrahim ‘alaihi sallam”. HR Muslim no: 2369. ————– Dalam shahih Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ ثُمَّ أَتَانِي الدَّاعِي لَأَجَبْتُهُ » [أخرجه البخاري و مسلم] “Kalau seandainya aku dipenjara seperti Yusuf lamanya tatkala dipenjara, pasti aku akan tetap memenuhi tugasku ini (berdakwah)”. HR Bukhari no: 3372. Muslim no: 151.————- Hal ini menunjukan bagaimana sikap tawadhunya beliau, karena beliau mendapat ujian yang tidak pernah ada seorangpun yang mendapat semisal dengannya. ————– Masih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Burdah, dirinya mengkisahkan: “Aisyah pernah keluar kepada kami sambil memegang baju dan jubah yang usang, lalu mengatakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dicabut ruhnya dalam keadaan memakai dua baju ini”. HR Bukhari no: 5818. Muslim no: 2080.—————– Dalam riwayat-riwayat diatas menjelaskan bahwa beliau adalah imam (pemimpinnya) orang-orang yang bertawadhu, dan ini tidak mengherankan karena tawadhu merupakan sifatnya para Nabi. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ: نَعَمْ ,كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ » [أخرجه البخاري] “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”. Maka para sahabatnya bertanya: ‘Tidak pula engkau wahai Rasul? Beliau menjawab: “Tidak pula aku. Dahulu aku biasa menggembala dibebukitan miliknya penduduk Makah”. HR Bukhari no: 2262. ———– Sehingga sangat wajar sekali bila Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya untuk bersikap tawadhu dan rendah diri. Sebagaimana haditsnya Iyadh al-Majaasyi’i radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ » [أخرجه مسلم] “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu padaku agar kalian bersikap rendah diri, hingga tidak ada seorangpun yang merendahkan saudaranya, dan tidak berlaku lalim satu sama lain”. HR Muslim no: 2865.—————————- Salah satu petuah yang pernah diberikan Abu Bakar kepada kita ialah: “Kami mendapatkan kemuliaan akhlak ada pada takwa, kekayaan pada keyakinan, serta keluhuran pada rendah diri”. ———– Dan Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengingatkan: “Sungguh betapa banyak orang yang lalai pada ibadah yang paling afdhal yaitu tawadhu”.———- Faidah sikap rendah diri:——- 1. Salah satu jalan yang akan mengantarkan pada surga.—— 2. Allah Shubhanhu wa ta’alla akan mengangkat kedudukan orang yang rendah diri dihati manusia. Dikenang kebaikannya oleh orang lain serta diangkat derajatnya diakhirat.——– 3. Bahwa sikap tawadhu terpuji itu ditujukan pada orang-orang beriman, adapun pengumpul dunia serta orang yang sesat maka bersikap rendah diri terhadap mereka akan menjadikan kehinaan.—- 4. Sifat tawadhu sebagai bukti akan keindahan akhlak serta pergaulannya.————- 5. Bahwa sifat tawadhu merupakan sifatnya para Nabi dan Rasul.—————

September 24, 2016 Edy Methek 1

sifat TAWADHU‘ atau RENDAH HATI  adalah sifat semua NABI dan […]

untuk apa SURAT NABI MUHAMMAD kepada para raja dan pembesar KAFIR? —————————————– mengajak RAJA dan RAKyatnya MASUK ISLAM … agar tidak menjadi KAFIR dan MUSYRIK … agar tidak diLEMPAR Allah ke NERAKA selamanya ————————————————– “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa mereka dan tidak (pula) mereka diberi penangguhan.” (Qs. Al-Baqarah[2]: 161-162) —————————- Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. An-Nisa : 167-169) —————– beliau membuat cincin dari perak yang bertuliskan (berukir) “Muhammad Rasulullah”. Kata “Allah” ditulis paling atas, kata “Rasul” ditulis di tengah, dan kata “Muhammad” di tulis paling bawah. ———————- Beliau membuat cincin berukir “Muhammad Rasulullah” tersebut guna membubuhi cap pada surat-surat yang akan beliau kirim. Adapun surat-surat yang dikirim kepada para raja dan para pembesar tersebut diantaranya sebagai berikut : ——————- Surat Dakwah kepada Heraklius, kaisar Romawi ————– Surat yang dikirim kepada kaisar Romawi dibawa oleh Dihyah bin Khalifah Al-Kalbiy, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ اِلَى هِرَقْلَ عَظِيْمِ الرُّوْمِ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى، اَمَّا بَعْدُ: فَاِنّى اَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ اْلاِسْلاَمِ. اَسْلِمْ تَسْلَمْ. اَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللهُ اَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتَ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ اِثْمُ اْلاَرِيْسِيّيْنَ. وَ ياَهْلَ اْلكِتبِ تَعَالَوْا اِلى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ اَنْ لاَّ نَعْبُدَ اِلاَّ اللهَ وَ لاَ نُشْرِكَ بِه شَيْئًا وَّ لاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مّنْ دُوْنِ اللهِ، فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ. البداية و النهاية 4: 658 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Hiraklius Pembesar Negara Ruum. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku mengajak kepadamu kepada seruan Islam, maka dari itu masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Maka jika engkau berpaling, sesungguhnya kamu akan mendapat dosa-dosa segenap rakyat. Dan, wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu kita tidak menyembah melainkan hanya kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) [QS. Ali Imran : 64]”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah 4:658] ————————– Menurut riwayat surat dakwah Nabi SAW itu dibawa oleh Dihyah Al-Kalbiy dengan disertai pesan beliau, bahwa ia supaya datang lebih dulu ke Bushra menemui Harits bin Abu Syammar Al-Ghassaniy, gubernur negeri Bushra untuk meminta bantuannya menyampaikan surat itu kepada raja Hiraklius, maka Dihyah pun melaksanakan pesan Nabi itu. Kebetulan raja Hiraklius pada waktu itu sedang berada di Iliya (Baitul Maqdis, Palestina), karena sedang menyempurnakan nadzarnya. ———————- Sesampai di kota Himsha, Dihyah bertemu dengan raja Hiraklius dengan perantaraan Harits bin Abu Syammar tersebut, lalu surat dakwah dari Nabi SAW itu disampaikan kepadanya. =============== Surat dakwah kepada Kisra Abrawaiz, raja Persia ——————– Surat yang dikirimkan kepada Kisra Abrawaiz raja Persia dibawa oleh shahabat ‘Abdullah bin Hudzafah As-Sahmiy, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، اِلَى كِسْرَى عَظِيْمِ فَارِسٍ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى، وَ امَنَ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ شَهِدَ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ اللهِ. فَاِنّى اَنَا رَسُوْلُ اللهِ اِلَى النَّاسِ كَافَّةً ِلاُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَ يَحِقَّ اْلقَوْلُ عَلَى اْلكَافِرِيْنَ. اَسْلِمْ تَسْلَمْ، فَاِنْ اَبَيْتَ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ اِثْمُ اْلمَجُوْسِ. نور اليقين : 180 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah kepada Kisra, pembesar negara Persia. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar, yang beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dan yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku menyeru kepadamu dengan seruan Allah, karena sesungguhnya aku ini utusan Allah kepada seluruh ummat manusia, pemberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir. Masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Jika engkau enggan, maka sesungguhnya bagimu dosa orang-orang Majusi. [Nuurul Yaqiin hal. 180] ================== Surat dakwah kepada Najasyi, raja Habsyi ——— Surat yang dikirim kepada Najasyi, raja Habsyi dibawa oleh shahabat ‘Amr bin Umayyah Adl-Dlamriy, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلَى النَّجَاشِيّ اْلاَصْحَمِ مَلِكِ اْلحَبْشَةِ، سِلْمٌ اَنْتَ. فَاِنّى اَحْمَدُ اِلَيْكَ اللهَ الَّذِى لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ اْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ رُوْحُ اللهِ وَ كَلِمَتُهُ اَلْقَاهَا اِلَى مَرْيَمَ اْلبَتُوْلِ الطَّيّبَةِ اْلحَصِيْنَةِ. فَحَمَلَتْ بِعِيْسَى فَخَلَقَهُ اللهُ مِنْ رُوْحِهِ وَ نَفْخِهِ كَمَا خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ وَ نَفْخِهِ. وَ اِنّى اَدْعُوْكَ اِلَى اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اْلمُوَالاَةِ عَلَى طَاعَتِهِ. وَ اَنْ تَتَّبِعَنِى وَ تُؤْمِنَ بِالَّذِى جَاءَنِى، فَاِنّى رَسُوْلُ اللهِ. وَ قَدْ بَعَثْتُ اِلَيْكَ ابْنَ عَمّى جَعْفَرًا وَ نَفَرًا مَعَهُ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ. فَاِذَا جَاءَكَ فَاقْرِهِمْ وَ دَعِ التَّجَبُّرَ فَاِنّى اَدْعُوْكَ وَ جُنُوْدَكَ اِلَى اللهِ فَقَدْ بَلَّغْتُ وَ نَصَحْتُ فَاقْبَلُوْا نُصْحِى. وَ السَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى. منهاج الصالحين: 761 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah kepada Najasyi Al-Ashham raja Habsyi, semoga keselamatan atas engkau. Sesungguhnya saya memuji Allah di hadapanmu yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Pemberi keselamatan, Pemberi keamanan serta Yang Maha Pemelihara, dan aku bersaksi bahwasanya ‘Isa putra Maryam itu ruh Allah dan kalimat-Nya yang telah Ia berikan kepada Maryam, gadis yang suci lagi memelihara diri, lalu ia mengandung ‘Isa, kemudian Allah menciptakannya dari ruh-Nya dan tiupan-Nya sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan tiupan-Nya. Dan sesungguhnya aku menyeru kamu kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan untuk setia thaat kepada-Nya, dan supaya engkau mengikutiku, dan percaya kepada apa yang telah datang kepadaku, karena sesungguhnya aku ini utusan Allah. Dan sungguh aku telah menyuruh Ja’far anak pamanku kepadamu beserta serombongan kaum muslimin. Maka jika datang kepadamu, muliakanlah mereka itu, dan tinggalkanlah kesombongan. Sesungguhnya aku mengajakmu dan mengajak bala tentaramu kepada Allah. Dan sungguh aku telah menyampaikan dan menasehatimu, maka terimalah nasehatku. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. [Minhaajus Shaalihin hal. 761] ====================== Surat dakwah kepada Muqauqis, gubernur Mesir ————– Surat yang dikirim kepada Muqauqis, gubernur Mesir, dibawa oleh shahabat Hathib bin Abu Balta’ah, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلَى اْلمُقَوْقِسِ عَظِيْمِ اْلقِبْطِ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى. اَمَّا بَعْدُ: فَاِنّى اَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ اْلاِسْلاَمِ. اَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللهُ اَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتَ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ اِثْمُ اْلقِبْطِ. وَ ياَهْلَ اْلكِتبِ، تَعَالَوْا اِلى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ اَنْ لاَّ نَعْبُدَ اِلاَّ اللهَ وَ لاَ نُشْرِكَ بِه شَيْئًا وَّ لاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مّنْ دُوْنِ اللهِ، فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ. نور اليقين: 179 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Muqauqis, pembesar Qibthi (Mesir) Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku menyeru kepadamu dengan seruan Islam, masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa segenap rakyat Qibthi. Dan wahai ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Nuurul Yaqiin : 179] ======================== Surat dakwah kepada Al-Harits bin Abu Syammar Al-Ghassaniy ————— Surat yang dikirim kepada Al-Harits bin Abu Syammar wakil kaisar Rum di Damaskus dibawa oleh Syuja’ bin Wahab, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلَى اْلحَارِثِ بْنِ اَبِى شَمَّرٍ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى وَ امَنَ بِاللهِ وَ صَدَقَ. وَ اِنّى اَدْعُوْكَ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يَبْقَى لَكَ مُلْكُكَ. منهاج الصالحين: 772 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah kepada Al-Harits bin Abu Syammar. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar, dan percaya kepada Allah serta berlaku benar. Dan sesungguhnya aku menyeru engkau agar percaya kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan supaya kekal kerajaanmu padamu. [Minhaajush Shaalihiin : 772] ———– Menurut riwayat, setiba di Damaskus shahabat Syuja’ lalu menyampaikan surat itu kepada Al-Harits. Ketika itu Al-Harits sedang bersiap-siap berangkat ke Iliya untuk menyambut kedatangan Hiraklius, kaisar Romawi, yang sedang dalam perjalanan menuju ke kota tersebut untuk menyempurnakan nadzarnya di Baitul Maqdis. ====================== Surat dakwah kepada Mundzir bin Sawa, raja Bahrain———– Surat yang dikirim kepada Al-Mundzir bin Sawa, raja Bahrain wakil raja Kisra, dibawa oleh Ibnul-Hadlramiy, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. (مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلَى اْلمُنْذِرِ بْنِ سَاوَى). اَسْلِمْ اَنْتَ فَاِنّى اَحْمَدُ اِلَيْكَ اللهَ الَّذِى لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ. اَمَّا بَعْدُ: فَاِنَّ مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَ اسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَ اَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذلِكَ اْلمُسْلِمُ. لَهُ ذِمَّةُ اللهِ وَ ذِمَّةُ الرَسُوْلِ. فَمَنْ اَحَبَّ ذلِكَ مِنَ اْلمَجُوْسِ فَاِنَّهُ اَمِنَ. وَ مَنْ اَبَى فَاِنَّ عَلَيْهِ اْلجِزْيَةَ. نور اليقين:181 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Dari Muhammad Utusan Allah kepada Al-Mundzir bin Sawa). Masuk Islam lah engkau, sesungguhnya saya memuji kepada Allah di hadapanmu, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Adapun sesudah itu, sesungguhnya barangsiapa yang mengerjakan shalat sebagaimana shalat kami, dan berqiblat pada qiblat kami serta memakan sembelihan kami, maka itulah orang Islam, baginya mendapat jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya, maka barangsiapa diantara orang Majusi menyukai yang demikian, sesungguhnya ia aman, dan barangsiapa yang menolak, maka wajib baginya membayar jizyah. [Nuurul Yaqiin hal. 181] ========================== Surat dakwah kepada Haudzah bin ‘Ali, raja Yamamah ————— Surat yang dikirim kepada Haudzah bin ‘Ali, raja negeri Yamamah dibawa oleh Salith bin ‘Amr Al-’Amiriy, bunyinya demikian : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ اِلَى هَوْذَةَ بْنِ عَلِيّ. سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى. وَ اعْلَمْ اَنَّ دِيْنِى سَيَظْهَرُ اِلَى مُنْتَهَى اْلخَفّ وَ اْلحَافِرِ، فَاَسْلِمْ تَسْلَمْ وَ اَجْعَلْ لَكَ مَا تَحْتَ يَدَيْكَ. نور اليقين: 182 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah kepada Haudzah bin ‘Ali. Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya agama saya ini akan tampak sampai ke ujung sepatu dan kuku (mendapat kemenangn sepenuhnya), maka dari itu masuk Islamlah engkau, niscaya engkau selamat. Dan saya menjadikan untuk engkau apa yang ada di bawah kekuasaanmu. [Nuurul Yaqiin hal. 182] ============================ Surat dakwah kepada Amir Bushra ——————– Menurut riwayat, Nabi SAW juga mengirim surat dakwah kepada Amir kota Bushra, suatu kota yang termasuk bagian daerah negeri Syam. Surat itu dibawa oleh shahabat Al-Harits bin Umair Al-Azdiy. Tetapi ketika utusan itu sampai di Mut’ah, mendadak bertemu dengan Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassaniy, ia adalah seorang kepala daerah itu. —- Al-Harits ditanya oleh Syurahbil, “Akan ke mana kamu ?”. Al-Harits menjawab, “Saya mau ke Syam”. Syurahbil bertanya lagi, “Barangkali engkau utusan Muhammad ?”. “Ya, betul”, jawab Al-Harits. Seketika itu Al-Harits ditangkap kemudian dipenggal lehernya. Sehingga Al-Harits tidak sampai bertemu dengan Amir kota Bushra tersebut. [Nuurul Yaqiin hal. 177] ———————–

August 28, 2016 Edy Methek 1

untuk apa SURAT NABI MUHAMMAD kepada para raja dan pembesar […]

Matematika Pahala dan Dosa —————————————– Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut , ‘Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini). ========================== Orang Muslim Berdasarkan hadits tersebut, jika engkau seorang Muslim, maka berlaku matematika sebagai berikut: …………………………. Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, namun engkau tidak jadi melakukannya maka engkau mendapat satu poin amal kebaikan. ……………… Rumusnya: Pahala niat = amal shalih x 1 = 1 amal shalih ========================== Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, kemudian engkau jadi melakukannya maka engkau mendapat 10 sampai dengan 700 poin amal kebaikan. ……………. Rumusnya: Pahala amal shalih minimal = amal shalih x 10 = 10 amal shalih ————————– Contohnya, jika engkau bersedekah Rp 1 juta, minimal engkau dinilai oleh Allah seolah-olah bersedekah Rp 10 juta. ———————– Rumus Pahala amal shalih ideal= amal shalih x 700 = 700 amal shalih ————————– Contohnya, jika engkau bersedekah Rp 1 juta, engkau mendapat penilaian ideal oleh Allah, sehingga dinilai seolah-olah engkau bersedekah Rp 700 juta. —————————– Itu baru perhitungan untuk satu kali amal shalih di bulan biasa. Bagaimana jika seorang Muslim melakukan amal shalihnya di bulan Ramadhan yang dijanjikan berlipat ganda? Kita tidak tahu berapa kelipatan yang Allah berikan pada bulan Ramadhan. Tapi kalau boleh kita andaikan kelipatannya 10 kali lipat bulan biasa, maka seseorang yang berinfak Rp 1 juta di bulan Ramadhan dengan menyempurnakan segala persyaratannya, maka dia akan mendapatkan penilaian seolah-olah berinfak Rp 7 milyar. —————————- Rumusnya sbb: ……… Pahala amal shalih ideal di bulan Ramadhan = amal shalih x 700 x 10 = 7000 amal shalih Ada juga pahala maksimal, yakni tak terhingga nilainya. —————– Rumusnya: …………. Pahala amal shalih maksimal= amal shalih x ∞ = ∞ amal shalih ∞ = lambang matematika untuk bilangan yang tak terhingga ——————-

June 30, 2016 Edy Methek 3

Matematika Pahala dan Dosa … melaksanakan KEBAIKAN …. maka Allah […]