Loading
Malaikat | Islam dan Sains-Edy

aneh ada JILBAB HATI, …. JILBAB untuk menutupi TUBUH WANITA —————— tubuh wanita ditutupi JILBAB agar tidak membuat DOSA dan MAKSIAT bagi dirinya dan orang lain —————————– KEWAJIBAN MENGENAKAN JILBAB ——— Allah Ta’ala berfirman,‏ “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan g.” (QS.Al Ahzab: 59). ——— Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar.Sedangkan khimar adalah penutup kepala.—— ———— Allah Ta’ala juga berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya .” (QS. An Nuur [24] : 31). ———— Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar,Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14). ——————– Orang yang tidak menutupi auratnya artinya tidak mengenakan jilbab diancam dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian .” (HR. Muslim no. 2128). —————– Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah: (1) Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang; (2) Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang (Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 17: 190-191). ———- Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa wajibnya wanita mengenakan jilbab dan ancaman bagi yang membuka-buka auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa berpakaian tetapi telanjang alias tidak mengenakan jilbab termasuk dosa besar. Karena dalam hadits mendapat ancaman yang berat yaitu tidak akan mencium bau surga. Na’udzu billahi min dzalik. —————— BELUM MAU BERJILBAB ————— Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki? Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriyah pun demikian. Karena iman itu mencakup amalan hati, perkataan dan perbuatan. Hanya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalanhati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriyah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan” —————- Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas? Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan! —————— Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang yang berjilbab malah suka menggunjing? Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul rata bahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.” ——————— Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?—————- Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanit jika sudah pipi keriput dan rambutubanan? Inilah was-was dari setan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidaktahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzakh, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. So … jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berjilbab.” ———————- Perkataan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut seharusnya menjadi renungan,‏ “Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu .” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut menjadikan kita bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpanjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas. ———————– Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat. ——————— Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan. —————— Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ? —————— Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak. ———————- Hasil gambar untuk hadits berpakaian tapi telanjang Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat. ——————– “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8) ——————- Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga. Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan. ————————— APA JILBAB ITU?—————— Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita. —————— Dalilnya adalah: “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———- Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.————— Dalilnya ialah:———- “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).——— Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:——— (dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————- Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada: “Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).——— Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin: 1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——- 2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—- 3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——– 4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———- AKU BELUM SIAP—————- Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———– 1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——– 2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———– 3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————– KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———- Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1] yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——– Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————– Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——– Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”— Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———- BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——– Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab: “Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”– Jawaban: BOLEH——– Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:– “…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——– ———– SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——– Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——- “Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——– Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———- Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——- Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.—— Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——– “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)———— Dalam riwayat lain: “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——– Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

September 25, 2016 Edy Methek 1

aneh ada JILBAB HATI, …. JILBAB untuk menutupi TUBUH WANITA […]

sifat TAWADHU’ atau RENDAH HATI adalah sifat semua NABI dan RASUL …. yang harus diCONTOH oleh semua orang ISLAM, agar tidak terJEBAK dalam sifat SOMBONG dari SYAITAN ———————————– Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83) ——— Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215) ————– Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)——————- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588) ————- Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)———————- Penjelasan ringkas: Tawadhu’ dan rendah diri kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang tawadhu’ kepada-Nya. —————————– Diantara sekian banyak akhlak serta sifat terpuji yang ditekankan oleh agama kita ialah sifat tawadhu (rendah hati). Dikarenakan akhlak mulia adalah inti ajaran Islam, maka tak salah kalau banyak ayat serta hadits yang menganjurkan hal tersebut, salah satunya sifat yang akan menjadi kajian kita kali ini, yaitu sifat tawadhu. —————– Allah ta’ala berfirman: ﴿ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨﴾ [ لقمان: 18] “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Luqman: 18).——————- Dalam keterangan lain Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: ﴿ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨ ﴾ [الحجر: 88] “Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (QS al-Hijr: 88). ——————————— Pengertian:—————– Yang dimaksud tawadhu ialah merendahkan diri dan berlaku lemah lembut. Dan ini tidak akan mendongkrak pelakunya menjadi terpuji melainkan bila dibarengi karena mengharap wajah Allah azza wa jalla.————— Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Kalau sekiranya ada orang bersikap tawadhu agar Allah Shubhanahu wa ta’alla mengangkat derajatnya dimata orang, maka ini belum dikatakan telah merengkuh sifat tawadhu, karena maksud utama perilakunya itu didasari agar mulia dimata orang, dan sikap seperti itu menghapus tawadhu yang sebenarnya”.[1]————— Ucapan beliau didasari sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ» [أخرجه مسلم] “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan (pasti) Allah akan mengangkat derajatnya”. HR Muslim no: 2588.——————— Syaikh Abdurahman as-Sa’di mengomentari maksud hadits diatas dengan mengatakan: “Sabdanya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah”. Sebagai peringatan supaya memperbagusi niat, yaitu dengan didasari ikhlas karena Allah Nabi Muhammaddidalam sikap tawadhunya tadi. karena banyak dijumpai, ada orang yang terkadang menampilkan sikap tawadhu dihadapan orang kaya, namun, niatnya supaya bisa mengais sedikit dari hartanya, atau terhadap pimpinan supaya bisa tercapai keinginannya. —————— Ada pula yang menampilkan sikap tawadhu dengan tujuan riya’ dan pamer, maka tujuan-tujuan semacam ini, semuanya rusak, tidak memberi manfaat sama sekali bagi pelakunya, kecuali rendah diri yang didorong rasa ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rangka mendekatkan diri kepada -Nya dan ingin meraih ganjaran serta kemurahan -Nya kepada makhluk, sehingga ihsan terbaik serta ruhnya itu ada pada ikhlas karena Allah ta’ala”. [2] ————— Dan Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pionir terdepan dalam akhlak mulia yang satu ini, untuk menggambarkan tawadhunya Nabi kita lihat pada haditsnya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Diceritakan oleh beliau: « أَنَّ امْرَأَةً كَانَ فِى عَقْلِهَا شَىْءٌ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ « يَا أُمَّ فُلاَنٍ انْظُرِى أَىَّ السِّكَكِ شِئْتِ حَتَّى أَقْضِىَ لَكِ حَاجَتَكِ ». فَخَلاَ مَعَهَا فِى بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا » [أخرجه مسلم] “Ada seorang perempuan yang sedikit bermasalah otaknya berkata pada Nabi MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, saya ada keperluan sebentar denganmu”. Nabi menyahut: “Ya Ummu Fulan, apa kebutuhanmu, hingga aku bisa membantu urusanmu”. Maka beliau mengikutinya sedikit minggir dijalan kota Madinah, sampai perempuan tadi menyelesaikan keperluannya”. HR Muslim no: 2326.——————- Masih kisah yang menjelaskan tawadhunya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu beliau menceritakan: « إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ » [أخرجه البخاري] “Pernah ada seorang budak yang berada dikota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu diajak pergi untuk membantu urusannya”. HR Bukhari no: 6072. ————- Bahkan lebih mengesankan lagi dari itu semua, sebuah hadits yang dibawakan oleh al-Baghawi dalam syarhu sunah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس العبد » [أخرجه البغاوي في شرح السنة ] “Aku makan sebagaiman makannya seorang hamba sahaya, dan aku duduk seperti duduknya seorang budak”. HR al-Baghawi 13/248. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no: 544. ——– Dalam redaksi lain, dikatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يا عائشة لو شئت لسارت معي جبال الذهب. أتاني ملك وإن حجزته لتساوي الكعبة, فقال: إن ربك يقرأ عليك السلام ويقول: إن شئت نبياً ملكاً وإن شئت نبياً عبداً, فأشار إلي جبريل ضع نفسك فقلت: نبياً عبداً » [أخرجه البغاوي] “Wahai Aisyah, kalaulah sekiranya aku mau tentu ada gunung yang terbuat dari emas berjalan menemaniku. Telah datang kepadaku malaikat yang kain bagian bawahnya hampir setinggi Ka’bah. Dia mengatakan: “Sesungguhnya Rabbmu kirim salam kepadamu, dan berfirman: “Kalau engkau mau Aku jadikan seorang Nabi dan hamba, atau seorang Nabi dan malaikat”. Lalu aku berpaling kepada Jibril ‘alaihi sallam, dan ia mengisyaratkan padaku supaya rendah diri. Maka aku jawab: “Aku rela menjadi Nabi dan seorang hamba..”. Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam syarhu Sunah 13/348 no: 3683. ————————– Tatkala Aisyah ditanya apakah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan pekerjaan dirumahnya? Beliau menjawab: « قَالَتْ: نَعَمْ ,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه البغاوي] “Ia, beliau biasa menambal sendalnya, dan menjahit bajunya sendiri, dan melakukan pekerjaan rumah seperti halnya kalian melakukannya dirumah kalian”. Hadits shahih dikeluarkan oleh Baghawi dalam Syarhu Sunah 13/242 no: 3675.———————— Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa berdo’a: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ أَحْيِنِى مِسْكِينًا وَتَوَفَّنِى مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِى فِى زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَومَ القِيَامَة » [أخرجه الترمذي] “Ya Allah hidupkanlah hamba dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama orang-orang miskin kelak pada hari kiamat”. HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917. ————————- Tatkala ada seorang sahabat datang kepada beliau lalu memujinya sambil mengatakan: “Duhai sebaik-baik makhluk”. Beliau justru menimpali: “Itu adalah Ibrahim ‘alaihi sallam”. HR Muslim no: 2369. ————– Dalam shahih Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ مَا لَبِثَ يُوسُفُ ثُمَّ أَتَانِي الدَّاعِي لَأَجَبْتُهُ » [أخرجه البخاري و مسلم] “Kalau seandainya aku dipenjara seperti Yusuf lamanya tatkala dipenjara, pasti aku akan tetap memenuhi tugasku ini (berdakwah)”. HR Bukhari no: 3372. Muslim no: 151.————- Hal ini menunjukan bagaimana sikap tawadhunya beliau, karena beliau mendapat ujian yang tidak pernah ada seorangpun yang mendapat semisal dengannya. ————– Masih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Abu Burdah, dirinya mengkisahkan: “Aisyah pernah keluar kepada kami sambil memegang baju dan jubah yang usang, lalu mengatakan: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dicabut ruhnya dalam keadaan memakai dua baju ini”. HR Bukhari no: 5818. Muslim no: 2080.—————– Dalam riwayat-riwayat diatas menjelaskan bahwa beliau adalah imam (pemimpinnya) orang-orang yang bertawadhu, dan ini tidak mengherankan karena tawadhu merupakan sifatnya para Nabi. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ: نَعَمْ ,كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ » [أخرجه البخاري] “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”. Maka para sahabatnya bertanya: ‘Tidak pula engkau wahai Rasul? Beliau menjawab: “Tidak pula aku. Dahulu aku biasa menggembala dibebukitan miliknya penduduk Makah”. HR Bukhari no: 2262. ———– Sehingga sangat wajar sekali bila Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya untuk bersikap tawadhu dan rendah diri. Sebagaimana haditsnya Iyadh al-Majaasyi’i radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ » [أخرجه مسلم] “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu padaku agar kalian bersikap rendah diri, hingga tidak ada seorangpun yang merendahkan saudaranya, dan tidak berlaku lalim satu sama lain”. HR Muslim no: 2865.—————————- Salah satu petuah yang pernah diberikan Abu Bakar kepada kita ialah: “Kami mendapatkan kemuliaan akhlak ada pada takwa, kekayaan pada keyakinan, serta keluhuran pada rendah diri”. ———– Dan Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengingatkan: “Sungguh betapa banyak orang yang lalai pada ibadah yang paling afdhal yaitu tawadhu”.———- Faidah sikap rendah diri:——- 1. Salah satu jalan yang akan mengantarkan pada surga.—— 2. Allah Shubhanhu wa ta’alla akan mengangkat kedudukan orang yang rendah diri dihati manusia. Dikenang kebaikannya oleh orang lain serta diangkat derajatnya diakhirat.——– 3. Bahwa sikap tawadhu terpuji itu ditujukan pada orang-orang beriman, adapun pengumpul dunia serta orang yang sesat maka bersikap rendah diri terhadap mereka akan menjadikan kehinaan.—- 4. Sifat tawadhu sebagai bukti akan keindahan akhlak serta pergaulannya.————- 5. Bahwa sifat tawadhu merupakan sifatnya para Nabi dan Rasul.—————

September 24, 2016 Edy Methek 1

sifat TAWADHU‘ atau RENDAH HATI  adalah sifat semua NABI dan […]

ISLAM telah MENGATUR hidup MANUSIA mulai TIDUR, bangun TIDUR, makan, minum, sampai TIDUR lagi ….. hidup, mengatur pola HIDUP dengan ITTIBA’ / mencontoh RASUL —————————- Setidaknya ada 10 cara menjaga kesehatan ala Rasulullah yang sudah dikenal di masyarakat, tak hanya umat Islam bahkan orang yang beragama lain. Banyak dari mereka telah mempraktikkan pola-pola gaya hidup sehat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Apa saja, ya? Dilansir dari berbagai sumber, berikut uraiannya untuk kamu.———— 1. Di pagi hari, Rasulullah biasa menggunakan siwak. Siwak telah diteliti sangat bermanfaat menjaga kesehatan mulut dan gigi.————- 2. Nabi Muhammad SAW biasa sarapan dengan segelas air dan dicampur madu. Ternyata dengan rutin meminumnya bisa melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit.———- 3. Jelang dhuha (sekitar pukul 08.00 WIB), Rasul memakan 7 butir kurma yang sudah matang. Kurma bermanfaat untuk menetralisir racun dalam tubuh (detoksifikasi).———– 4. Di sore hari, Nabi Muhammad SAW suka ngemil roti yang diolesi cuka campur minyak zaitun. Dua bahan ini ternyata mencegah kanker dan menghancurkan kolesterol.———– 5. Malam hari, Rasulullah menyantap sayur mayur. Wah, kalau sayur sudah tidak usah disebutkan lagi khasiatnya, ya. Banyak banget.——— 6. Setelah makan malam, Nabi Muhammad SAW tidak langsung tidur. Beliau beraktifitas, entah membaca Alquran atau bercengkrama dengan keluarga dan sahabat. Ini supaya makan malamnya tercerna dengan baik.————- 7. Makanan lain yang sering disantap Rasul yakni roti dengan kuah daging, sayur-sayuran dingin seperti labu air atau mentimun, buah anggur, dan susu. ————- 8. Olahraga dan banyak gerak. Cara beliau olahraga juga gak ngotot banget seperti joging, angkat beban, dan lain-lain. Cukup bermain bersama anak serta cucunya. Rasulullah juga sering mengadakan lomba lari dengan mereka. Pada suatu riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah mengajak istrinya, Aisyah, lomba lari supaya badan tidak lemas dan tetap sehat.———— 9. Jika tidak ada kepentingan Rasulullah tidak akan begadang. Namun jika diharuskan begadang untuk kepentingan umat Islam, beliau banyak minum air putih.————– 10. Pola hidup sehat Rasulullah ini ternyata serupa dengan irama biologi (circadian rhytme) yakni siklus pencernaan manusia yang kerap dianjurkan oleh pakar kesehatan dunia. Keren, kan? Yuk ah kita coba hidup sehat ala Nabi Muhammad SAW ini.————- ===========================- Tidak diragukan, Islam adalah agama yang mengajarkan hidup sehat. Jika selama ini ada slogan yang terkenal “pencegahan lebih baik dari pengobatan,” ternyata sejak empat belas abad yang lalu aplikasi dari slogan itu telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanamkan kepada para shahabatnya. Mari perhatikan hal-hal berikut:——— a) Menjaga kebersihan dan kesucian:———- { وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4] “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Mudatstsir: 4).————– Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata: { وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ } أي: اغسلها بالماء. “Maksud “Dan pakaianmu bersihkanlah” adalah basuhlah dengan air.”———— Ibnu Zaid rahimahullah berkata: كان المشركون لا يتطهرون، فأمره الله أن يتطهر، وأن يطهر ثيابه. “Dahulu orang-orang musyrik kebiasaan mereka tidak bersuci, maka Allah memerintahkan agar bersuci dan membersihkan pakaiannya.” (Lihat tafsir Al Quran Al Azhim).———– Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ayat ini mencakup seluruh perkara itu bersamaan dengan kesucian hati.” Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim di dalam ayat ini.———- عَنْ أبي مالِكٍ الأشْعَريِّ – رضي الله عنه – قالَ :قالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( الطُّهورُ شَطْرُ الإيمانِ ،)). رواه مسلم “Abu Malik Al Asy‘ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah setengah dari keimanan” HR. Muslim————– Ibnu Al Atsir rahimahullah berkata, لأنَّ الإيمانَ يُطهِّر نجاسةَ الباطن والطَّهورَ يُطهِّر نجاسة الظاهر “Karena keimanan membersihkan kotorannya batin dan bersuci dengan air membersihkan kotoran lahir.” (Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib Al Hadits).————– عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا. “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatau malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 3936).————– b) Mandi عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال « حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِى كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ» “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim untuk mandi di setiap tujuh hari, sehari dia membasuh kepada dan badannya di dalamnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Bukhari).——- Maksud hadits adalah: suatu kelaziman dan keharusan bagi setiap muslim minimal dalam seminggu dia harus mandi membersihkan kotoran di tubuhnya dan kepalanya, dan yang dimaksud sehari disini adalah hari Jumat sebagaimana dalam beberapa riwayat seperti riwayat Imam Ahmad dan Ath Thahawy.— c) Menghilangkan kotoran, bakteri dan kuman dengan memotong kuku, menghabiskan bulu ketiak, bulu kemaluan, berkhitan, menipiskan kumis———— عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ» “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim).— Makna fitrah di dalam hadits adalah: asli penciptaan, agama, dan sunnah (syariat Islam).——- Imam An Nawawi rahimahullah berkata, . قَالَ النَّوَوِيّ وَتَفْسِير الْفِطْرَة هَاهُنَا بِالسُّنَّةِ هُوَ الصَّوَاب؛ لأنَّهُ وَرَدَ فِي رِوَايَة مِنْ السُّنَّة قَصُّ الشَّارِب وَنَتْف الإبِط وَتَقْلِيم الأظْفَار، وَأَصَحُّ مَا فُسِّرَ بِهِ غَرِيب الْحَدِيث تَفْسِيره بِمَا جَاءَ فِي رِوَايَة أُخْرَى اِنْتَهَى. “Tafsiran Al Fithrah dengan makna As Sunnah adalah pendapat yang benar, karena diriwayatkan dari sunnah bahwa menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak atau memotong kuku-kuku, dan tafsiran yang paling benar di dalam menfsirkan kata-kata yang sing di dalam hadits adalah dengan riwayat lain.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.—————— Maksudnya adalah siapa yang mengerjakan 5 hal ini maka dia dia atas keaslian yang Allah ciptakan atasnya dan perintahkan kepadanya, berkata As Suyuthi rahimahullah: وَقَالَ أَبُو شَامَة أَصْل الْفِطْرَة الْخِلْقَة الْمُبْتَدَأَة ، وَالْمُرَاد بِهَا هُنَا أَنَّ هَذِهِ الأشْيَاء إِذَا فُعِلَتْ اِتَّصَفَ فَاعِلُهَا بِالْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ الله الْعِبَاد عَلَيْهَا وَحَثَّهُمْ عَلَيْهَا وَاسْتَحَبَّهَا لَهُمْ لِيَكُونُوا عَلَى أَكْمَل الصِّفَات وَأَشْرَفهَا صُورَة “Berkata Abu Syamah: asal kata fithrah adalah ciptaan yang asal, dan maksudnya di dalam hadits ini adalah bahwa perkara ini jika dilakukan maka pelakunya telah bersifat fitrah yang Allah fithrahkan kepada hamba-hamba-Nya, dan perintahkan serta anjurkan untuk itu kepada mereka agar mereka berada dalam sifat yang sempurna dan rupa yang paling mulia.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.————— dst

September 24, 2016 Edy Methek 1

ISLAM telah MENGATUR hidup MANUSIA mulai TIDUR, bangun TIDUR, makan, […]

berbagai MAKANAN dan KHASIATnya yg termuat dalam AYAT Allah dan HADITS ——————————————- Dalam Al quran beberapa makanan dan minuman disebutkan langsung oleh Allah dan disebut sebagai makanan yang baik dan halal, bahkan diantaranya juga disebut sebagai makanan dan minuman yang kelak ada di surga yang dihidangkan pada orang-orang beriman. Begitu juga di dalam hadits nabi beberapa makanan dan minuman disebutkan memeberikan manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.Bagaimana pun, Al quran dan hadits adalah pedoman hidup bagi orang Islam, dan meyakini kebenarannya adalah wujud iman seorang mu’min. ———— 1. AIR ZAM-ZAM —————— Air zam-zam memang terkenal sebagai air yang paling diberkati dan dapat mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah. Dalam sebuah hadits shahih, Nabi SAW menyebutkan:———- “Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”————- Dianjurkan bagi setiap mukmin menikmati air tersebut jika memang mudah memperolehnya. Air tersebut juga bisa digunakan untuk berwudhu. Air tersebut bisa digunakan untuk beristinja ‘(membersihkan kotoran setelah buang air). Air tersebut juga bisa digunakan untuk mandi junub jika memang ada kebutuhan untuk menggunakannya.————– 2. KURMA———- Kurma banyak disebut di dalam al-Quran, diantaranya dalam surah Mukminah ayat 19: “Kemudian Kami tumbuhkan karenanya kebun kurma dan anggur untuk kamu. Disana kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian kamu makan”————- Kurma adalah “energi instan” karena mudah diserap dan diproses. Ia juga mengandung kandungan serat yang tinggi (3 kali lebih tinggi dari pisang).———- Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Rumah yang tidak ada kurma adalah rumah yang tidak ada makanan” Sabda Nabi yang lain: “Siapapun yang memakan 7 biji tamar ‘Ajwah’, dia akan terkendali dari kejutan setan dan sihir pada hari tersebut”————– Khasiat kurma adalah sebagai penguat memori, penawar racun dan obat berbagai penyakit.——- 3. BUAH TIN——————– Buah tin juga sangat bermanfaat bagi umat manusia seperti yang dijelaskan dalam surah At-Tin (surah ke 95 dalam Al-Quran) dimana Allah telah bersumpah atas nama buah tin dan buah zaitun.——– Antara khasiat buah tin termasuk menghilangkan racun, mengurangi batuk yang berkepanjangan membersihkan hati dan mengurangi lendir di usus. Buah tin yang kering ditemukan memasok 6 kali lebih kalori dari jenis basah (segar). Pengeringan buah kaleng telah mengakibatkan pemekatan nutrisi di dalamnya dimana ianya menjadi lebih kaya dengan berbagai mineral dan zat mineral, tetapi rendah sodium.————– 4. ZAITUN————— Pohon zaitun ada disebut dalam Al-Quran, dalam surah An-Nur ayat ke-35.——— Semenjak 1.400 tahun yang lalu, Muhammad telah menyarankan umat Islam agar menggunakan minyak zaitun untuk kesehatan dan perawatan tubuh, di mana Baginda S.A.W. sendiri menggunakannya sebagai minyak rambut.————– Menurut penelitian, ia dikatakan dapat mengurangi risiko penyakit kanker dan sakit jantung, merupakan sejenis antioksidan dan digunakan sebagai produk kecantikan sejak berabad lamanya.——– 5. BIJI HITAM (HABATUSSAUDA)——— Dilaporkan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Jadi seperti biji habb al-sauda karena biji ini obat semua penyakit kecuali mati”———– Adalah dilaporkan juga bahwa Allah Taala menunjukkan bahwa habatussauda itu menghilangkan angina dalam usus dan demam, juga mengobati ‘leukoderma’ dan menghilangkan penyakit flu.———– 6. MADU LEBAH———— Memiliki berbagai khasiat dan dianggap ibu segala makanan. Bila dicampur air panas, dapat mengobati penyakit diare.———- Sabda Nabi s.a.w .: “Demi Allah yang aku dalam genggamanNya, minumlah madu. Malaikat akan memohon rahmat pada penghuni rumah yang ada madu di dalamnya. Jika seseorang makan madu, seribu obat masuk ke perutnya dan sejuta penyakit keluar darinya”———– Rasulullah sendiri mengamalkan minuman madu; dicampurkan madu dengan segelas air dan minum setiap pagi ketika perut kosong.———– Madu yg paling berkualitas adalah madu yang dikeluarkan dalam musim semi dan musin panas, tetapi kurang berkualitas ketika diproduksi di musim dingin.————- 7. DELIMA———– Allah menyebut buah delima (Rumman) sebanyak 3 kali di dalam ayatNya untuk menunjukkan betapa hebatnya penciptaan Allah itu dan ia juga disebut sebagai buah dari surga.———– Dalam Surah ar-Rahman, ayat 68 Allah berfiman: “Di dalam keduanya (surga) juga ada buah-buahan dan pohon kurma dan delima”———– Ada banyak penelitian dilakukan yang mana membuktikan delima bagus sebagai antioksidan, mencegah sakit jantung dan mampu menstabilkan tekanan darah.———— 8.SUSU KAMBING—————— Rasulullah s.a.w pernah bersabda:———- “Akan tiba suatu masa di mana kambing adalah sebaik-baik harta bagi orang Islam. Orang Islam akan memeliharanya di puncak-puncak bukit dan di lembah-lembah, hidup terisolasi dari masyarakat demi memelihara agama dari ditimpa bencana ”———– Menurut penelitian, susu kambing mampu membantu masalah seperti asma, rematik, demam kuning, insomnia dan memperkuat tulang. Khasiatnya dikatakan lebih baik dari susu sapi dan hampir menyamai ASI.————- 9. ZA’FARON / Safron—————- Terlalu banyak dalam kitab menyatakan bahwa Za’faran sangat baik untuk kecerdasan pikiran. Dalam kitab Tibbul Imama A’li, halaman 381, Saiyidina Ali (k.w) menyatakan dengan maksudnya:——- “Siapapun yg mengambil bagian Za’faran murni dan Su’dun satu bagian dicampur dengan ‘asal (madu), diminum sebanyak dua misqal (dua sudu) pada setia hari, maka dia dikagumi tentang ingatannya sehingga dituduh melakukan zihir”————- Za’faron ini memiliki banyak khasiat lain, antaranya epilepsi, penyakit hati, demam, impotensi serta melancarkan pengaliran darah.———— 10. BARLI————– Barley berkhasiat sebagai pendingin tubuh.————— Rasulullah s.a.w. pernah memberi sup gandum kepada orang yang mengidap demam. Selain dari itu juga dapat mengurangi kolesterol, melawaskan kencing, membantu sembelit dan mengurangi risiko diabetes (tetapi jangan campurkan dengan gula).————– 11. ROTI———— Roti yang paling bagus adalah yang terbuat dari gandum (karena mudah dicerna). Idealnya, roti dibiarkan dingin dahulu sebelum dimakan, jika tidak, kita akan merasa haus ketika memakannya Sementara, roti yang lama dan tidak elok akan menyebukan perut———— Nabi s.a.w. bersabda:—– “Jangan potong roti dengan isau. Hormatilah roti itu dengan memotong dgn tanganmu karena Allah menghormati roti itu”———– 12. HALIA————- Jahe disebut dalam ayat alQuran (ayat17, Surah Al-Insan) firman Allah Ta’ala yang artinya:— “Dan mereka dalam surga itu diberi dari sejenis minuman yang campurannya zanjabil ‘.—– Khasiatnya membantu pencernaan dan pemanasan. Jahe juga dikatakan mampu meredakan rasa mual, penyakit sendi dan membantu distribusi darah.———- 13. HALBA————— Nabi s.a.w. pernah bersabda:———- “Jika umatku tahu apa yang ada pada hulbah, mereka pasti membeli dan membayarnya dengan emas”.— Antara khasiat hulbah membantu aliran menstruasi dan berguna untuk menyembuhkan sakit perut (mulas). Wanita arab suka mengambil Fenugreek ni untuk cantikkan buah dada. Bagi ibu yang menyusui, Fenugreek menambahkan susu badan. Fenugreek juga dapat membantu mengurangi gula, menurunkan kolesterol, mengurangi batuk kronis, pembengkakan gusi dan sebagai makanan pembuka.—- 14. CUKA APEL————- Cuka apel mengandung berbagai khasiat dan dikatakan menjadi tonik kesehatan bagi masyarakat Yunani. Cuka apel adalah cuka yang dihasilkan dari proses farmentasi buah apel.——– Nabi sangat menyukai cuka dan kadangkala mengamalnya bersama roti, sabdanya:— “Allah menempatkan keberkahan dalam cuka, itu telah digunakan oleh para nabi sebelum aku”– Ini dikatakan dapat menghilangkan kelesuan, mengobati penyakit hati, memecahkan lemak di badan, melancarkan darah dan mengurangi stress.——- 15. TIMUN————- Dari Abdullah bin Jaafar, diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah memakan mentimun bersama kurma. Dengan mengambil mentimun bersama kurma, ia bisa menghilangkan dahaga dan mengurangi rasa panas tubuh. Selain itu, sifat mentimun yang segar, enak dimakan bersama kurna yang manis.—- Timun bersifat dingin dan udara, sedangkan kurma bersifat panas dan kering. Maka suhu tubuh akan menjadi seimbang. Disini Nabi mengajarkan kita, ketika kita mengambil makanan yang panas, seimbangkan kembali suhu tubuh dengan makanan yang dingin.————– Selain itu, mentimun juga mengandung vitamin C yang mampu meredakan radang kulit dan juga mengandung silika. Silika merupakan unsur penting yang diperlukan untuk menjamin kesehatan sistem saraf yang melibatkan otot, tendon, ligamen dan tulang————– 16. DAGING KAMBING——————– Daging kambing adalah makanan favorit Rasulullah. Negara barat selalu mengembang-gemborkan keburukan daging kambing, tetapi kenyataannya ia memiliki banyak kelebihan.————— Berdasarkan penelitian daging kambing adalah daging yang paling baik untuk jantung, mengurangi darah tinggi dan obesitas, mempercantik kulit dan juga mengurangi stress.—————- 17. TEMBIKAI—————- Abu Daud dan Tirmizi meriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata, “Rasulullah pernah memakan buah semangka bersama dengan buat tamar basah.”————- Semangka mengandung 92 persen air dan 8 persen gula serta mengandung antioksidan yang disebut lycopene yang mampu mencegah dari berbagai penyakit terutama kanker.———— Nabi juga mengatakan wanita hamil yang mengandung tidak akan gagal melahirkan anak yang baik dari segi karakter dan wajahnya.——— 18. ANGGUR—————- Di dalam surah Ar-Rad, ayat 4 Allah berfirman:——– “Dan di bumi ada bahagian2 yg berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman2, pohon kurma yg bercabang dan yg tidak bercabang; disirami dgn air yg sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yg satu dari yg lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu trdpt tanda2 (kebesaran Allah) bagi org2 yg mengerti ”——- Anggur dikatakan memiliki berbagai khasiat, diantaranya mengurangi peradangan, mencegah penyakit pikun, melancarkan perjalanan darah dan membersihkan perut.———– 19. JAMUR————- Drpd Said bin Zaid bin Amru bin Nufail r.a katanya: Aku pernah mendengar Nabi s.a.w bersabda:— “Jamur adalah sejenis Manna (satu anugerah yg sgt istimewa) dan dapat mengobati mata”———- Jamur bukan shj sejenis makanan yg enak, malahan memiliki berbagai khasiat dan diakatakan menjadi obat herbal sejak zaman dulu lagi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dikatakan dapat meningkatkan system kekebalan tubuh (terutama bagi pasien kanker), juga berperan melawan allergik dan radang.———– 20. LABU————– Dari Hadis Anas bin Malik r.a:——– Seorang tukang jahit telah mengundang Rasulullah s.a.w untuk menghadiri suatu jamuan makan. Anas bin Malik berkata: Aku pergi bersama Rasulullah s.a.w menghadiri jamuan makan tersebut. Dia menghampiri Rasulullah s.a.w dan menyajikan roti dari gandum serta kuah berisi buah labu dan daging bakar. Anas berkata: Aku melihat Rasulullah s.a.w mencari-cari buah labu dari dalam sahfah tersebut yaitu sebuah wadah makanan yang memuat makanan cukup untuk lima orang “.———- Selain kurma, Nabi juga menggemari labu. Ia dikatakan memiliki berbagai nutrisi dan zat yg baik utk tubuh, terutama bagi penderita rabun malam dan diabetik. Ia juga berkhasiat untuk mengontrol nafsu makan, mengobati maslah kecacingan dan mencegah pembentukan batu ginjal.———- 21. GARAM————- Amalan Rasulullah S.A.W memakan sedikit garam sebelum dan setelah makan kini dibuktikan oleh sains bahwa kebiasaan ini menambahkan efektivitas perut untuk mencerna makanan dan menghindarkan perut dari menyerap racun.————– Dari Abdullah Bin Umar, sabda Nabi s.a.w .:—— “Sesungguhnya Allah menurunkan empat hal berkat (memiliki kebaikan) dari langit (melalui hujan) ke bumi yaitu beis, api, air dan garam”————- Hadis Riwayat Al-Baghawiy dalam tafsirnya:——— Dari Anas bin Malik, Nabi bersabda “Penghulu segala lauk pauk kamu adalah garam.”———

September 17, 2016 Edy Methek 1

berbagai MAKANAN dan KHASIATnya yg termuat dalam AYAT Allah dan […]

JANGAN memastikan pemberian Allah yang BURUK maka PASTI buruk untuk kita …. atau … Pemberian Allah yang BAIK maka PASTI BAIK untuk kita … semua adalah UJIAN dari Allah ————————— jika kehidupan seorang yang kafir yang ditakdirkan menjadi penghuni surga maka akan melaksanakan amal perbuatan baik atau bertobat pada akhir hayatnya seperti seorang yang kafir sebelumnya maka masuk islam ketika menjelang ajal. Adapun orang yang baru masuk islam laksana bayi yang baru lahir meskipun amal jahat pernah dilakukan. Karena amal itu akan dihapus dan dia adalah sebagai seorang yang bersih dari dosa sehingga buku amalannya yang baru akan dimulai ketika dia baru masuk islam. Amalan baik atu buruk akan dicatat pada buku amalan baru. Dan apabila dia mati pada saat baru masuk islam maka dia pasti akan masuk surga karena ini adalah janji Allah SWT. Kaum muslimin yang berbahagia, ————————— Nah, sudah jelas bahwa tidak ada satupun amalan yang kita kerjakan didunia kecuali semua telah tercatat sejak dalam kandungan. Mungkin ada yang bertanya, jadi untuk apa kita beramal, jika memang semua yang kita lakukan adalah sudah tertulis sejak kita dalam kandungan. bagaimana jika kita berserah diri saja kepada Allah SWT.. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita simak kisah dari hadits nabi berikut ini, ————————– Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786) ———————– Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair Al Mahdani dan lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Abu Mu’awiyah dan Waki’ mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Zaid bin Wahb dari ‘Abdullah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu -Ash Shadiq Al Mashduq-(seorang yang jujur menyampaikan dan berita yang disampaikannya adalah benar): ‘Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’ Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga.’ Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim keduanya dari Jarir bin ‘Abdul Hamid; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami ‘Isa bin Yunus; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id Al Asyaj; Telah menceritakan kepada kami Waki’; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakannya kepada kami ‘Ubaidullah bin Mu’adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj seluruhnya dari Al A’masy melalui jalur ini, dia berkata di dalam Hadits Waki’; sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dimulai dari perut ibunya selama empat puluh malam. Dan di sebutkan di dalam Hadits Mu’adz dari Syu’bah empat puluh malam, kemudian empat puluh hari. Sedangkan di dalam Hadits Jarir, empat puluh hari. (Shahih Muslim No.4781) —————— ———— Kaya dan Miskin ————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————- ———– Hasad dan Ghittoh ———- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—– Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———– Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————– Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———– Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——– Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————- ————- Definisi Fitnah —————— Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.———— Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————– Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——- ————- Sumber Fitnah —————— Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ——— Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ———— Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). ————— —————- Bahagia itu Sederhana —————- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).—————— Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.————— Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————- ———— Ujian Hidup ———- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————– Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————– Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————– Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. —— ———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———– Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————– Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————- ———– Kesejahteraan itu Perlu ———————– Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).—————— Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.————— Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.————— Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.————— Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.————— Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ———————– Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ———— Allâh Ta’ala berfirman:———- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——– Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———- ——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———– Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.———— Allâh Ta’ala berfirman:———– Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——– “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————- Allâh Ta’ala berfirman:———– “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——– Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—– “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———– —- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———– Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.———— Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:— Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———– “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—– Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.—— Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———– Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).————— Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——– ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———– Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]——— ————- HIKMAH COBAAN ——– Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.—— Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————– Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]————

September 17, 2016 Edy Methek 1

JANGAN memastikan pemberian Allah yang BURUK maka PASTI buruk untuk […]

1 2 3 16