Loading
Masa | Islam dan Sains-Edy - Part 3

turunnya FIRMAN ALLAH PERTAMA KALI ….. MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Urwah bin az-Zubair bahwa Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, telah mengabarkan kepadanya bahwa, dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu ketika beliau berada di gua Hira’. Wahyu tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku tidak pandai membaca.” Rasulullah bersabda: “Lalu malaikat memegang dan memelukku erat-erat, ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasku. Kemudian dia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: ‘Aku lalu menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Beliau melanjutkan: ‘Jibril kemudian memegang dan memelukku erat-erat lagi, hingga ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasnya kembali. Kemudian ia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku lalu menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Beliau melanjutkan: ‘Jibril kembali memegang dan memelukku erat-erat, sehingga ketika aku merasakan kepayahan, ia pun melepaskanku. Kemudian dia membaca firman Allah: ‘(Bacalah wahai Muhammad dengan nama Rabbmu yang menciptakan sekalian makhluk. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah yang mengajar manusia melalui pena. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui) ‘ (Qs. Al ‘Alaq: 1-5). Setelah kejadian itu beliau pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah, seraya beliau berkata: ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku.’ Lalu Khadijah memberi beliau selimut hingga hilang rasa gementar dari diri beliau. Beliau kemudian bersabda kepada Khadijah: ‘Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku? ‘ Beliau pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau bersabda lagi: ‘Aku benar-benar khawatir pada diriku.’ Khadijah terus menghibur beliau dengan berkata, ‘Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.’ Khadijah beranjak seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Dia pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ‘Paman! (Paman adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua) Dengarlah cerita anak saudaramu ini.’ Waraqah bin Naufal berkata, ‘Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi? ‘ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan semua peristiwa yang beliau telah alami. Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, ‘Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan: ‘Apakah mereka akan mengusirku? ‘ Waraqah menjawab, “Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu’.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dia berkata, az-Zuhri berkata, Dan telah mengabarkan kepada kami Urwah dari Aisyah bahwa dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah…lalu dia melansirkan hadits seperti hadits Yunus, hanya saja dia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya.” Dan dia berkata, “Khadijah berjakah, ‘Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu ini’.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Laits dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari kakekku dia berkata, telah menceritakan kepada kami Uqail bin Khalid berkata Ibnu Syihab saya mendengar Urwah bin az-Zubair berkata, Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Lalu beliau kembali pada Khadijah dalam keadaan hatinya ketakutan, ” lalu menceritakan hadits seperti hadits Yunus dan Ma’mar. Hanya saja dia tidak menyebutkan awal dari hadits keduanya, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah mimpi yang benar.” Dan dia mengikuti perkataan Yunus, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” Lalu dia menyebutkan perkataan Khadijah, “Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu.” (HR MUSLIM N0.232) —————— Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. ——— Bagian-bagian Al-Qur’an ———— Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. ——————– Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).——— Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.——— Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——- ————– Sejarah Turunnya Al-Qur’an ———– Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.— 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ———— Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. ——– Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ———— Makkiyah Madaniyyah ———— Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—– Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—– Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ——- Kodifikasi Al-Qur’an ———— Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ———— Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. ————– Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an —————— Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ——————- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ———— Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) ————– Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———– Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.— Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———– Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:———- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ————- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. ————— Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. —————- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an ————— Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:—— Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?——— Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. ————– Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———– Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.——— Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.—— Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).——

September 3, 2016 Edy Methek 1

turunnya FIRMAN ALLAH  PERTAMA KALI …..  MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— […]

Ajaran sekuler… Ajaran PLURALISME .. mengaku MILLAH IBRAHIM ? pemBODOHan masyarakat AWAM …. ——————– Millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang. —————- Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. — شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ “Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13) ———— Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman. ————- Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran. ———— Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130. وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———– Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129. ———— Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41. ———– Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya. ———— Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——- 1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126) “Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. — Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman. ————— 2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—– Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural. ———- 3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128) ————- 4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128) ———– Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna. ——- 5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129) ——— 6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36) ——- 7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37) —— 8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37) ——– 9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) —— Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”. ———– 10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41) ———– Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia). ———- Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim, ——— sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut: وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———— Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya. وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124) ——— Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka. ————— Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”. ———- Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——– إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin) Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123) ———– Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya. ——— Dan pantas pulalah bahwa Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad untuk mengikuti Millah Ibrahim, dan memerintahkan agar Millah Ibrahim tersebut dijadikan sebagai arah perjuangan (Jihad) Ummat Muslimin, yang sebenar-benarnya Jihad di pihak Allah. وَجَـٰهِدُواْ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ‌ۚ هُوَ ٱجۡتَبَٮٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ۬‌ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۚ Dan berjihadlah (berjuanglah) kamu di pihak Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah menyeleksi kamu dan Dia sekali-kali tidak membebankan atas kamu sesuatupun kesempitan dalam agama ini. (perjuangkanlah) cita-cita leluhurmu Ibrahim …. (Al Hajj : 78)

August 29, 2016 Edy Methek 1

Ajaran sekuler… Ajaran PLURALISME .. mengaku MILLAH IBRAHIM ? pemBODOHan […]

umat ISLAM yang BERIMAN kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya telah menimbulkan keBENCIan di antara orang-orang yang TIDAK beriman ———————– Kesibukan umat Islam bekerja dan kecintaan mereka hidup sebagai pekerja saja, sementara meLALAIkan semangat juang mendakwahkan agama ——————- KeHINAan AKAN ditimpakan Allah Subhanahu Wata’ala agar mereka kembali kepada jalan yang benar mendakwahkan kembali ajaran Islam dan membelanya. ——————— mengingatkan umat Islam bahwa jati diri umat Islam yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya telah menimbulkan kebencian di antara orang-orang yang tidak beriman, sehingga mereka akan selalu melancarkan makar-makar mereka guna memadamkan cahaya Allah di muka bumi, yakni dengan menghancurkan eksistensi umat Islam dimanapun mereka berada. —————————— Khilafah, wajibkah? ————————- Bukankah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah mengabarkan hal ini. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمَرْثَدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، عَنْ مَرْزُوقٍ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحِمْصِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحْبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” . Telah diriwayatkan dari Tsauban hamba Nabi saw bahwa beliau bersabda: “Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja, ditanyakan (kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam) apakah karena di saat itu jumlah kita sedikit? Jawab rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bahkan kamu saat itu mayoritas tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir, hanya mengikuti kemana air banjir mengalir (artinya kamu hanya ikut-ikutan pendapat kebanyakan orang seakan-akan kamu tidak punya pedoman hidup) sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’ ditanyakan (kepada Rasulullah) apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Jawabnya: wahn adalah cinta dunia dan benci mati.” (Hadits Mursal diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalani dalam Tahzib al Tahzib Juz 8 hal 75). ————————- Didalam hadits lain yang terkait pula: Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. “Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha akan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, (yang) tidak akan hilang kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 423)]. —————————- Definisi Khilafah —– Khilafah atau Imamah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin diseluruh dunia. Khilafah menerapkan syariat islam di wilayahnya dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah adalah sebuah nama negara sekaligus nama sistem pemerintahan. Sistem khilafah berbeda dengan seluruh sistem buatan manusia seperti teokrasi, kerajaan, demokrasi, republik, dll. ————————— Khilafah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: imamah, daulah islam dan darul islam. Imamah berarti kepemimpinan, daulah islam berarti negara islam (islamic state), dan darul islam berarti daerah islam. Ketiga kata tersebut pada hakikatnya memiliki makna yang sama, namun untuk menghilangkan perbedaan maksud maka kita sebut saja khilafah. Sebab imamah juga digunakan oleh agama syiah imamiyyah yang menganggap bahwa imam mereka ma’sum atau suci, daulah islam juga kadang digunakan untuk negara regional (tidak seperti khilafah yang merupakan negara internasional), dan darul islam yang sering digunakan untuk menyebut negri-negri kaum muslimin yang sekarang padahal didalamnya tidak diterapkan syariat islam kaffah. ——————————– Khalifah adalah kepala negara khilafah. Pengangkatannya dengan metode baiat, meskipun boleh saja didahului oleh pemilihan dan musyawarah, namun yang menjadikan khalifah itu sah atau tidak adalah dia dibaiat atau tidak. Khalifah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: Imam, Amirul Mukminin, Ulil Amri, dan Sultan. Khalifah bertanggungjawab penuh atas pengurusan urusan umat (baik muslim maupun ahlu dzimmah yaitu kafir yang tunduk dibawah naungan negara islam) dengan syariat islam. Khalifah berhak mengadobsi salah satu ijtihad dalam sebuah persoalan jika terjadi perbedaan dalam menerapkan syariat islam. ——————— Khilafah, wajibkah? ———————– Umat islam wajib hidup dalam naungan khilafah islam. Sepanjang sejarah, umat islam tidak pernah hidup tanpa khilafah kecuali paska diruntuhkannya khilafah islamiyyah utsmaniyyah tahun 1924. Khilafah bahkan merupakan mahkotanya kewajiban, sebab banyak kewajiban yang tidak bisa terlaksana sempurna kecuali dengan khilafah. Diantaranya hukum hudud (hukum pidana islam), jizyah (pajak untuk ahlu dzimmah), penarikan zakat, jihad offensif (jihad untuk membuka penghalang dakwah dan memperluas wilayah khilafah), dan persatuan umat islam. Tanpa khilafah tidak ada perlindungan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin, hal ini terbukti dengan banyaknya pembunuhan atas umat islam sejak runtuhnya khilafah seperti pembantaian di Palestina, Bosnia, Afghanistan, Irak, Rohingya, Xinjiang, Poso, Somalia, Mali, Kashmir, Pakistan, Suriah, dan sebagainya. —————————- Allah SWT berfirman: فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah: 48) ——————- وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49) ——————————— Memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah jelas merupakan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari syahadat. Ayat diatas melarang kaum muslimin membuat aturan-aturan yang dibuat tidak berlandaskan syara’ atau menyelisihi syara’. Misalnya dalam pencurian, membuat aturan bahwa ”barangsiapa yang mencuri maka akan dipenjara” ini sangat bertentangan dengan syara’, sebab Allah telah memutuskan untuk melakukan hukum potong tangan bagi pencuri (lihat QS. Alma’idah: 38). ————————— Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”(HR Muslim) ———————— Hadits diatas menunjukkan betapa pentingnya kewajiban menegakkan khilafah, bahkan perkara ini disebut sebagai perkara hidup atau mati. Matinya seorang muslim adalah suatu perkara yang amat besar dihadapan Allah, namun lebih besar lagi jika sampai umat islam hidup dengan dua kepala negara. ———————– Mengomentari hadits diatas, Ibn Hazm rahimahullah menuturkan, “kaum Muslim di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam/khalifah, baik keduanya saling sepakat ataupun berselisih, di dua tempat berbeda atau di tempat yang sama” (Ibn Hazm, al-Muhalla, IX/360, Idârah at-Thabâ’ah al-Munîriyyah, Kairo. 1938 M). ——————- Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh diakadkan baiat kepada dua orang khalifah pada satu masa, baik wilayah Negara Islam itu luas ataupun tidak” (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawâwî ‘alâ Shahîh Muslim, XII/232). ————————– Kewajiban mengangkat satu orang khalifah untuk seluruh kaum muslimin juga ditunjukkan oleh perbuatan sahabat Nabi yang merupakan ijma’ sahabat ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka sahabat bersegera mungkin mengangkat pemimpin penggantinya (khalifaturrasul), bahkan sampai para sahabat tidak mengurusi jasad Rasulullah SAW sebelum terangkat khalifah. —————————–

August 27, 2016 Edy Methek 2

umat ISLAM yang BERIMAN kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya […]

seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss yang didalangi industry Holocaust. ———————– Mengungkap Kebohongan Peristiwa Holocaust Lewat Buku “The Holocaust Industry” ————————- Sebuah Resensi Buku dengan judul “The Holocaust Industry” karya Norman G. Finkelstein ——– Buku The Holocaust Industry menjadi buku laris di Eropa, Timur Tengah, Asia dan Amerika, dan sudah diterjemahkan kedalam 26 (dua puluh enam) bahasa di dunia. Buku ini mengungkap Penipuan dan Pemerasan Atas Nama Pembantaian Bangsa Yahudi. The Holocaust Industry oleh surat kabar Guardian, London dinobatkan sebagai ”buku paling heboh dan laris sepanjang tahun”. Dalam buku ini, Norman G Finkelstein, seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss yang didalangi industry Holocaust. Norman G Finkelstein adalah seorang Yahudi mengoyak-oyak pembenaran yang berpengaruh atas industry Holocaust. ———– Norman G Finkelstein saat ini mengajar ilmu politik di DePaul University di Chicago. Buku lain yang telah diterbitkan; “Image and Reality of Israel-Pelestine Conflict” dan (bersama Ruth Bettina Birn) ”A Nation on Trial” yang dinobatkan sebagai buku popular tahun 1998 oleh New York Times Book Review. ———— Bagi kaum Yahudi, Holocaust berarti penghancuran besar terhadap kehidupan, khususnya pembantaian massal dan keji terhadap kaum Yahudi oleh NAZI Jerman dibawah Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II.———— Holocaust telah menjadi sesuatu yang sakral bagi Barat, bahkan lebih suci dari Kristen ataupun Yesus, sebab orang bisa menghina agama dan Tuhan mereka tanpa resiko atau sanksi apapun. Tapi menolak Holocaust bisa dipandang sebagai sikap tidak bermoral dan anti-semit yang patut mendapat ganjaran. Germar Rodef, ahli kimia asal Jerman, misalnya, harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku ”Dissection Holocaust” (Pembedahan Holocaust). Profesor Robber Fridson harus diadili, karena melakukan wawancara dengan stasiun TV Iran. Riva Dalsters bunuh diri karena tekanan kaum Yahudi.———- Dalam pengantarnya, Smith Alhadar, Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) menyetir pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang menyatakan bahwa Holocaust itu hanya sebuah mitos. Dalam pernyataan lainnya, presiden Iran yang sederhana ini menegaskan regim Zionis harus dihapuskan dari peta dunia. Namun mengapa Barat bereaksi sangat negatif dan menyebut Ahmadinejad sebagai Hitler?————– Rupanya tidak hanya Ahmadinejad yang meragukan tentang kebenaran peristiwa Holocaust. Manfred Rouder, Fred Louchter, Fredrick Toben dan Bruno Gelish adalah segelincir nama yang mempertanyakan kebanaran Holocaust meskipun akhirnya mereka terkena hukuman. Rouder dikenai 10 bulan penjara; Louchter, seorang ahli gas, diberhentikan dari pekerjaannya; Toben, warga Australia asal Jerman, dilarang masuk kembali ke Jerman; Gelish, anggota Uni Eropa kini berada di penjara.—————— Buku yang menarik untuk dibaca ini, terutama bagi yang menginginkan informasi mendalam tentang bagaimana sebenarnya peristiwa Holocaust. Finkelstein, sang penulis yang kebetulan keturunan Yahudi, memaparkan informasi Holocaust dengan alur dan data yang setidaknya dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, peristiwa Holocaust telah menguntungkan secara ekonomis oleh sekelompok orang Yahudi.———– Berbagai kalangan memberikan tanggapan atas buku ini, diantaranya The Times, yang menyebutkan: “Jaringan penipuan ini perlu dibongkar, dan Finkelstein yakin kalau dialah yang harus melakukannya. Dalam buku ini, Norman benar-benar menyikap akal bulus mereka. Jika tuduhannya itu terbukti benar, haruslah ada tuntutan, pemberangusan, dan protes atas mereka. Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras”.——————— ”Dia patut didengar..dia membuat beberapa poin penting yang diam-diam berusaha dibantah oleh banyak cendekiawan muda Yahudi yang suaranya telah dibungkam oleh kemapanan, apalagi yang ada di AS.” – Evening Standard.—————-

August 27, 2016 Edy Methek 0

seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss […]

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat agar mereka beruntung. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an: —————————- Surat An-Nur ayat 31 yang artinya “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Q.S. An Nur (24) : 31) Surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang mensucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah (2) : 222). ————————– Taubat merupakan ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak keutamaan. —————— Makna Pertama: Taubat yang Murni (Ikhlas) dan Jujur —————— Secara bahasa, نصح (na-sha-kha) artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain). Sesuatu disebut (الناصح) (an-naashikh), jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni atau sejenisnya. Di antara turunan kata نصح adalah النصيحة(an-nashiihah). (Lihat Lisaanul ‘Arab, 2/615-617). ——————– Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelaku taubat tersebut memurnikan, ikhlas (hanya semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar (jujur). ———————- Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, أَيْ تَوْبَةً صَادِقَةً جَازِمَةً تَمْحُو مَا قَبْلَهَا مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَتَلُمُّ شَعَثَ التَّائِبِ وَتَجْمَعُهُ وَتَكُفُّهُ عَمَّا كَانَ يَتَعَاطَاهُ مِنَ الدَّنَاءَاتِ. “Yaitu taubat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim, 4/191). ——————– Ketika menjelaskan ayat di atas, penulis kitab Tafsir Jalalain berkata, صَادِقَة بِأَنْ لَا يُعَاد إلَى الذَّنْب وَلَا يُرَاد الْعَوْد إلَيْهِ “Taubat yang jujur, yaitu dia tidak kembali (melakukan) dosa dan tidak bermaksud mengulanginya.” (Tafsir Jalalain, 1/753). ——————– Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَالنُّصْحُ فِي التَّوْبَةِ وَالْعِبَادَةِ وَالْمَشُورَةِ تَخْلِيصُهَا مِنْ كُلِّ غِشٍّ وَنَقْصٍ وَفَسَادٍ، وَإِيقَاعُهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ “An-nush-khu dalam taubat, ibadah, dan nasihat artinya memurnikan perkara-perkara tersebut dari semua kotoran, kekurangan, dan kerusakan. Seseorang melaksanakannya dalam bentuk yang paling sempurna.” (Madaarijus Saalikiin, 1/309-310). ———————- Taubat nasuha ini akan terasa pengaruhnya bagi pelakunya, yaitu orang lain kemudian mendoakan kebaikan untuknya. ——————– Al-Alusi rahimahullah berkata, وجوز أن يراد توبة تنصح الناس أي تدعوهم إلى مثلها لظهور أثرها في صاحبها، واستعمال الجد والعزيمة في العمل بمقتضياتها “Taubat nasuha boleh juga dimaknai dengan taubat yang mendatangkan doa dari manusia. Artinya, manusia mendoakannya untuk bertaubat, sehingga tampaklah pengaruh taubat tersebut bagi pelakunya. Pelakunya pun mencurahkan kesungguhan dan tekad untuk melaksanakan konsekuensi dari taubatnya.“ (Ruuhul Ma’aani, 28/158). ——————— Terdapat beberapa syarat agar taubat nasuha diterima, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama rahimahumullah. ———————– Makna Ke dua: Taubat yang Memperbaiki Kerusakan dalam Agama akibat Perbuatan Maksiat ———————– Penulis ‘Umdatul Qari menjelaskan, وأصل النَّصِيحَة مَأْخُوذ من نصح الرجل ثَوْبه إِذا خاطه بالمنصح “Adapun makna asal dari ‘nashihah’ diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya, ketika dia menyulam pakaiannya dengan jarum.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321) ————————— Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan, وَمِنْه التَّوْبَة النصوح، كَأَن الذَّنب يمزق الدّين وَالتَّوْبَة تخيطه “(Dari kata nashihah tersebut) muncullah istilah ‘taubat nasuha’. Seakan-akan dosa (maksiat) telah merobek agama (seseorang), dan taubatlah yang menjahit kembali (robekan tersebut).” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321). ———————— Al-Qurthubi rahimahullah berkata, وقيل: هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان: أحدهما- لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه “Dikatakan, (taubat nasuha) diambil dari kata ‘an-nashahah’, yaitu ‘jahitan’. Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha. Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya. Sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). —————————— Berdasarkan makna secara bahasa di atas, maka pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan taubatnya dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai macam amal ketaatan. Hal ini sebagaimana jahitan yang menyempurnakan (memperbaiki) pakaian, menguatkan, dan merapikannya. ——————————– Al-Alusi rahimahullah berkata, وسميت التوبة نصوحا : أي توبة ترفو خروقك في دينك وترم خللك “Disebut dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang memperbaiki robekan (lubang) dalam agamamu dan memperbaiki keburukanmu.” (Ruuhul Ma’aani, 28/157-158). —————————– Abu Ishaq rahimahullah berkata, بَالِغَة فِي النصح وَهِي الْخياطَة كَانَ الْعِصْيَان يخرق وَالتَّوْبَة ترفع “Taubat nasuha adalah taubat yang mencapai puncak kesempurnaan (yang dilaksanakan semaksimal mungkin, pen.). Taubat ini (sejenis dengan) pekerjaan menjahit. Seakan-akan maksiat telah merobek (agama), dan taubatlah yang menambal (menjahit atau memperbaikinya).” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 22/280). —————————– Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan sisi yang lain istilah taubat nasuha sesuai dengan makna bahasa di atas. Beliau rahimahullah berkata, والثاني- لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم، كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض. “Sisi yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah, dan merekatkannya. Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi lainnya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). ————————- Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk dalam hamba-hambaNya yang gemar untuk bertaubat.

August 21, 2016 Edy Methek 1

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat agar mereka […]

1 2 3 4 5 14