Loading
Mendapat | Islam dan Sains-Edy - Part 6

Shalat jama’ah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian dengan selisih 27 derajat sebagaimana sering kita dengar. Inilah keutamaan shalat jama’ah tersebut. Disamping itu, orang yang menunggu shalat di masjid juga akan mendapat pahala dan do’a malaikat. Begitu pula ketika seseorang sudah berjalan dari rumahnya menuju masjid, itu pun sudah dihitung pahalanya. ———————- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649). ——————— Imam al-Bukhari ra berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Yusuf yang berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: ——————– Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.- ————————– Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Bolehnya melaksanakan shalat di pasar, meskipun saat itu hati terkadang tersibukkan dengan urusan duniawi dan kurang khusyu’ sehingga kurang disukai. ————— 2- Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian yaitu 25, 26, atau 27 derajat sebagaimana disebutkan dalam riwayat lainnya.———– 3- Hukum shalat jama’ah bagi pria adalah fardhu ‘ain menurut pendapat yang lebih kuat. Hal ini telah dijelaskan oleh Rumaysho.Com pada tulisan “Hukum Shalat Jama’ah”. Sedangkan bagi wanita tidaklah dihukumi wajib sebagaimana diterangkan dalam tulisan “Shalat Jama’ah bagi Wanita”, bahkan shalat wanita lebih baik di rumahnya. Sedangkan hadits ini yang menerangkan pahala shalat jama’ah 20 sekian derajat daripada shalat sendirian tidak menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu sunnah (dianjurkan). Dalil lain menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu wajib ‘ain karena ada ancaman keras bagi yang meninggalkan shalat jama’ah dan orang buta yang mendengar adzan masih disuruh untuk menghadiri shalat jama’ah.——————- Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Orang yang melaksanakan shalat sendirian masih sah, namun dihukumi berdosa karena ia telah meninggalkan shalat berjama’ah. Wallahu a’lam.” (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 38). Ini tentu bagi yang meninggalkan shalat jama’ah tanpa ada uzur.—————– 4- Niat yang membuat seseorang pergi keluar hingga menunggu shalat dinilai berpahala. Jika seseorang keluar rumah tidak berniat untuk shalat, tentu tidak mendapat pahala seperti itu. Sehingga benarlah Imam Nawawi memasukkan hadits ini dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin pada hadits no. 10 di Bab “Ikhlas dan Menghadirkan Niat”.———————- 5- Shalat lebih utama dari amalan lainnya karena terdapat do’a malaikat di sana.————- 6- Di antara tugas para malaikat adalah mendo’akan kebaikan pada orang-orang beriman. Do’a ini ada selama seorang yang shalat tidak berbuat kejelekan di masjid dan selama ia terus berada dalam keadaan suci (berwudhu).——————— 7- Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika seseorang menunggu shalat dalam waktu yang lama, setelah sebelumnya melakukan shalat tahiyatul masjid dan berdiam setelah itu, maka akan dihitung pahala shalat.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 74).————–

August 13, 2016 Edy Methek 0

Imam al-Bukhari ra berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Yusuf […]

Umatku yang UNGGUL dengan …“ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI “MEREKA”” … lalu …. DATANG KIAMAT ———————————— “Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi saw dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi saw menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah UMATKU YANG UNGGUL melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI MEREKA (berupa ghanimah) —hingga— DATANG KEPUTUSAN ALLAH (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, PUSAT NEGERI ISLAM adalah SYAM. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga DATANGnya KIAMAT.” (HR. Imam Ahmad) ————————— ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk MEMUSNAHKAN orang-ORANG YANG BERIMAN”…. ﴾ An Nisaa:141 ﴿ ————————- ﴾ An Nisaa:141 ﴿ (yaitu) orang-orang yang {ٱلَّذِينَ} MENUNGGU-NUNGGU (menunggu peristiwa YANG AKAN TERJADI /يَتَرَبَّصُونَ) pada DIRIMU {بِكُمْ}. Maka jika terjadi bagimu KEMENANGAN { فَتْحٌ } dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu {ikut memenangkan/ نَسْتَحْوِذْ} ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi KEPUTUSAN { يَحْكُمُ } di antara kamu di HARI KIAMAT {ٱلْقِيٰمَةِ} dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk MEMUSNAHKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN ========================== >>> Apakah “bentuk” BANTUAN Allah sehingga “orang-orang beriman” —TIDAK— MUSNAH/ BINASA ?? …. <<< ——————— “BANI ASHFAR” dan “kalian” … berKOALISI {“gencatan senjata”}, melawan … “BENTENG UMAT ISLAM” …. Tanda KIAMAT (HR. Imam Ahmad) ————————— Urutan event 6 tanda kiamat … (1) kematian Nabi Muhammad SAW (2) PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS (palestina oleh Umar Bin Kattab) (3) WABAH new desease yg menyebabkan keMATIan dg CEPAT (oleh Virus/bakteri) (4) konflik umat Islam (“umatku”) (5) harta membumbung tinggi (banyak orang KAYA) (6) koalisi negara EROPA {/ BANI ASHFAR } dan negara-negara timur tengah {“kalian”) ….melawan/ vs… {BENTENG} “umat ISLAM (“umat Nabi MUHAMMAD”… Minhaj Nubuwah) ————————— “Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw: Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi saw: Masuklah semua. Nabi saw: Wahai Auf, hitung ada ENAM tanda Kiamat. Pertama, (1)KEMATIANKU. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi saw membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi saw: (2)PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS {…. = oleh Umar Bin Khattab dan pasukannya…. }. Aku: Dua. Nabi saw: (3)KEMATIAN yang akan merenggut UMATKU dengan CEPAT seperti wabah kematian kambing. {… = wabah penyakit oleh virus/ bakteri ….} Aku: Tiga. Nabi saw:(4) KONFLIK DAHSYAT yang menimpa UMATKU {… =Afghanistan war, jazirah war, Mesir war, Rohingya (genoside), Gaza war, Syam war ….}. Aku: Empat. Nabi saw: (5) HARTA MEMBUMBUNG TINGGI NILAInya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi saw: (6)Terjadi GENCATAN SENJATA antara kalian dengan BANI ASHFAR {….= bangsa pirang/”negara Eropa” dg KOALISI “negara-negara munafik timur tengah”… HR Abu hurairah….}, lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. BENTENG UMAT ISLAM SAAT ITU di wilayah yang disebut GHOUTHAH, daerah sekitar kota DAMASKUS.” (HR. Imam Ahmad) ————————– Ref HR Abu Hurairah; tanda AKHIR zaman= ….. {1} WAKTU MEMENDEK {24 jam menjadi 16 jam atau kurang; …..{2} umat Islam PENGETAHUAN MENYUSUT {= Al Qashash:60), …. {3} umat Islam KEKURANGAN DAN PENDERITAAN {= akibat perang/ genocide {Rohingya, palestina, Yaman, Afghanistan, Kashmir etc}}; …. {4} PENYAKIT {baru} BERMUNCULAN {= virus baru/ bakteri baru … Mers, AI, ebola etc} …. {5} Umat Islam mengalami HARJ (PEMBUNUHAN/… war/ genocide} ——————————– Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” ———————-

August 10, 2016 Edy Methek 2

ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk […]

Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya hidup dan perilaku manusia, bahkan menentukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa. ———————————————- Masalah rezeki merupakan salah satu perkara yang banyak menyita perhatian manusia, sehingga ada sebagian yang menjadi budak dunia. Bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan menyempitkan peluang dalam mengais rezeki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam, tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian aturan Islam, terutama berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram. Padahal Sang Khalik mensyariatkan agamaNya bukan hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara akhirat saja, tetapi sekaligus menjadi pedoman sukses di dunia juga, seperti doa yang sering dipanjatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka. [Al Baqarah:201] ——————- Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika cara sukses mengais rezeki, membukakan pintu kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah, sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani. ————————- PUJIAN KEPADA ORANG YANG MENCARI NAFKAH ———————- Allah hanya menghalalkan usaha yang bersih dan mengharamkan usaha yang kotor. Seorang muslim tidak boleh menghalalkan segala cara dalam mengais rezeki, lantaran demi mengejar keuntungan semu yang memikat serta menggiurkan. ———————- Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya hidup dan perilaku manusia, bahkan menentukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Wahai, manusia! Sesungguhnya Allah Maha Bersih, tidak menerima kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para utusanNya, maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al Mukminun : 51]. ———————- Dan Allah berfirman (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah”. [Al Baqarah : 172]. ————————

August 9, 2016 Edy Methek 0

Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya […]

Dengan Amalan Sholeh Hanya Mengharap Keuntungan Dunia, Sungguh Akan Sangat Merugi…. dilempar ke NERAKA ————————————- “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16) ———————– Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlancar rizki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut. —————————- Allah Ta’ala berfirman, مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16) ———————————— Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat. —————– Yang dimaksud “perhiasan dunia” adalah harta dan anak. ————————– Mereka yang beramal seperti ini: “niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna). ————————— Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan sholeh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rizki semakin lancar dan karir terus meningkat. Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat? ——————————– Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya), “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di akhirat, mereka tidak akan memperoleh pahala karena mereka dalam beramal tidak menginginkan akhirat. Ingatlah, balasan akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19) —————————- Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah sehingga ketika di akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93) ————————– Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memperlancar rizki, umur panjang, dan lain sebagainya. ———————————-

August 5, 2016 Edy Methek 0

Dengan Amalan Sholeh Hanya Mengharap Keuntungan Dunia, Sungguh Akan Sangat […]

hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan …. selama berPUASA (SHAUM) ———————————– LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA ——————– من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai) ———————- Faedah Pembahasan : Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah. ———————- Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda: “Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim) ——————- Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan. ———————— LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I ———————– Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.” ————- Faedah Pembahasan : Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya. —————————- Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan ——————— Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa. ———————– Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali. ——————————- Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa ——————– Syarat wajib Puasa ——————- Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 : Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan . Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}. ———— Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk. ———————–

August 5, 2016 Edy Methek 1

hal-hal yang diLARANG … yang diHARAMkan ….   selama berPUASA […]

1 4 5 6 7 8