Loading
Mengumpulkan | Islam dan Sains-Edy

turunnya FIRMAN ALLAH PERTAMA KALI ….. MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Urwah bin az-Zubair bahwa Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, telah mengabarkan kepadanya bahwa, dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu ketika beliau berada di gua Hira’. Wahyu tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku tidak pandai membaca.” Rasulullah bersabda: “Lalu malaikat memegang dan memelukku erat-erat, ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasku. Kemudian dia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: ‘Aku lalu menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Beliau melanjutkan: ‘Jibril kemudian memegang dan memelukku erat-erat lagi, hingga ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasnya kembali. Kemudian ia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku lalu menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Beliau melanjutkan: ‘Jibril kembali memegang dan memelukku erat-erat, sehingga ketika aku merasakan kepayahan, ia pun melepaskanku. Kemudian dia membaca firman Allah: ‘(Bacalah wahai Muhammad dengan nama Rabbmu yang menciptakan sekalian makhluk. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah yang mengajar manusia melalui pena. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui) ‘ (Qs. Al ‘Alaq: 1-5). Setelah kejadian itu beliau pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah, seraya beliau berkata: ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku.’ Lalu Khadijah memberi beliau selimut hingga hilang rasa gementar dari diri beliau. Beliau kemudian bersabda kepada Khadijah: ‘Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku? ‘ Beliau pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau bersabda lagi: ‘Aku benar-benar khawatir pada diriku.’ Khadijah terus menghibur beliau dengan berkata, ‘Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.’ Khadijah beranjak seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Dia pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ‘Paman! (Paman adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua) Dengarlah cerita anak saudaramu ini.’ Waraqah bin Naufal berkata, ‘Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi? ‘ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan semua peristiwa yang beliau telah alami. Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, ‘Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan: ‘Apakah mereka akan mengusirku? ‘ Waraqah menjawab, “Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu’.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dia berkata, az-Zuhri berkata, Dan telah mengabarkan kepada kami Urwah dari Aisyah bahwa dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah…lalu dia melansirkan hadits seperti hadits Yunus, hanya saja dia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya.” Dan dia berkata, “Khadijah berjakah, ‘Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu ini’.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Laits dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari kakekku dia berkata, telah menceritakan kepada kami Uqail bin Khalid berkata Ibnu Syihab saya mendengar Urwah bin az-Zubair berkata, Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Lalu beliau kembali pada Khadijah dalam keadaan hatinya ketakutan, ” lalu menceritakan hadits seperti hadits Yunus dan Ma’mar. Hanya saja dia tidak menyebutkan awal dari hadits keduanya, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah mimpi yang benar.” Dan dia mengikuti perkataan Yunus, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” Lalu dia menyebutkan perkataan Khadijah, “Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu.” (HR MUSLIM N0.232) —————— Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. ——— Bagian-bagian Al-Qur’an ———— Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. ——————– Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).——— Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.——— Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——- ————– Sejarah Turunnya Al-Qur’an ———– Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.— 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ———— Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. ——– Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ———— Makkiyah Madaniyyah ———— Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—– Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—– Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ——- Kodifikasi Al-Qur’an ———— Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ———— Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. ————– Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an —————— Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ——————- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ———— Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) ————– Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———– Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.— Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———– Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:———- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ————- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. ————— Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. —————- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an ————— Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:—— Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?——— Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. ————– Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———– Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.——— Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.—— Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).——

September 3, 2016 Edy Methek 1

turunnya FIRMAN ALLAH  PERTAMA KALI …..  MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— […]

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat agar mereka beruntung. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an: —————————- Surat An-Nur ayat 31 yang artinya “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Q.S. An Nur (24) : 31) Surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang mensucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah (2) : 222). ————————– Taubat merupakan ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak keutamaan. —————— Makna Pertama: Taubat yang Murni (Ikhlas) dan Jujur —————— Secara bahasa, نصح (na-sha-kha) artinya sesuatu yang bersih atau murni (tidak bercampur dengan sesuatu yang lain). Sesuatu disebut (الناصح) (an-naashikh), jika sesuatu tersebut tidak bercampur atau tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang lain, misalnya madu murni atau sejenisnya. Di antara turunan kata نصح adalah النصيحة(an-nashiihah). (Lihat Lisaanul ‘Arab, 2/615-617). ——————– Berdasarkan makna bahasa ini, taubat disebut dengan taubat nasuha jika pelaku taubat tersebut memurnikan, ikhlas (hanya semata-mata untuk Allah), dan jujur dalam taubatnya. Dia mencurahkan segala daya dan kekuatannya untuk menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat dengan taubat yang benar (jujur). ———————- Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, أَيْ تَوْبَةً صَادِقَةً جَازِمَةً تَمْحُو مَا قَبْلَهَا مِنَ السَّيِّئَاتِ، وَتَلُمُّ شَعَثَ التَّائِبِ وَتَجْمَعُهُ وَتَكُفُّهُ عَمَّا كَانَ يَتَعَاطَاهُ مِنَ الدَّنَاءَاتِ. “Yaitu taubat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim, 4/191). ——————– Ketika menjelaskan ayat di atas, penulis kitab Tafsir Jalalain berkata, صَادِقَة بِأَنْ لَا يُعَاد إلَى الذَّنْب وَلَا يُرَاد الْعَوْد إلَيْهِ “Taubat yang jujur, yaitu dia tidak kembali (melakukan) dosa dan tidak bermaksud mengulanginya.” (Tafsir Jalalain, 1/753). ——————– Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فَالنُّصْحُ فِي التَّوْبَةِ وَالْعِبَادَةِ وَالْمَشُورَةِ تَخْلِيصُهَا مِنْ كُلِّ غِشٍّ وَنَقْصٍ وَفَسَادٍ، وَإِيقَاعُهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ “An-nush-khu dalam taubat, ibadah, dan nasihat artinya memurnikan perkara-perkara tersebut dari semua kotoran, kekurangan, dan kerusakan. Seseorang melaksanakannya dalam bentuk yang paling sempurna.” (Madaarijus Saalikiin, 1/309-310). ———————- Taubat nasuha ini akan terasa pengaruhnya bagi pelakunya, yaitu orang lain kemudian mendoakan kebaikan untuknya. ——————– Al-Alusi rahimahullah berkata, وجوز أن يراد توبة تنصح الناس أي تدعوهم إلى مثلها لظهور أثرها في صاحبها، واستعمال الجد والعزيمة في العمل بمقتضياتها “Taubat nasuha boleh juga dimaknai dengan taubat yang mendatangkan doa dari manusia. Artinya, manusia mendoakannya untuk bertaubat, sehingga tampaklah pengaruh taubat tersebut bagi pelakunya. Pelakunya pun mencurahkan kesungguhan dan tekad untuk melaksanakan konsekuensi dari taubatnya.“ (Ruuhul Ma’aani, 28/158). ——————— Terdapat beberapa syarat agar taubat nasuha diterima, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama rahimahumullah. ———————– Makna Ke dua: Taubat yang Memperbaiki Kerusakan dalam Agama akibat Perbuatan Maksiat ———————– Penulis ‘Umdatul Qari menjelaskan, وأصل النَّصِيحَة مَأْخُوذ من نصح الرجل ثَوْبه إِذا خاطه بالمنصح “Adapun makna asal dari ‘nashihah’ diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya, ketika dia menyulam pakaiannya dengan jarum.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321) ————————— Beliau rahimahullah kemudian melanjutkan, وَمِنْه التَّوْبَة النصوح، كَأَن الذَّنب يمزق الدّين وَالتَّوْبَة تخيطه “(Dari kata nashihah tersebut) muncullah istilah ‘taubat nasuha’. Seakan-akan dosa (maksiat) telah merobek agama (seseorang), dan taubatlah yang menjahit kembali (robekan tersebut).” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 1/321). ———————— Al-Qurthubi rahimahullah berkata, وقيل: هي مأخوذة من النصاحة وهي الخياطة. وفي أخذها منها وجهان: أحدهما- لأنها توبة قد أحكمت طاعته وأوثقتها كما يحكم الخياط الثوب بخياطته ويوثقه “Dikatakan, (taubat nasuha) diambil dari kata ‘an-nashahah’, yaitu ‘jahitan’. Berdasarkan asal kata tersebut, terdapat dua sisi (makna) dari taubat nasuha. Pertama, karena taubat tersebut telah memperbaiki ketaatan dan menguatkannya. Sebagaimana jahitan yang memperbaiki pakaian dan menguatkannya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). —————————— Berdasarkan makna secara bahasa di atas, maka pelaku taubat nasuha telah menyempurnakan taubatnya dan memperkuat taubatnya dengan melaksanakan berbagai macam amal ketaatan. Hal ini sebagaimana jahitan yang menyempurnakan (memperbaiki) pakaian, menguatkan, dan merapikannya. ——————————– Al-Alusi rahimahullah berkata, وسميت التوبة نصوحا : أي توبة ترفو خروقك في دينك وترم خللك “Disebut dengan taubat nasuha, yaitu taubat yang memperbaiki robekan (lubang) dalam agamamu dan memperbaiki keburukanmu.” (Ruuhul Ma’aani, 28/157-158). —————————– Abu Ishaq rahimahullah berkata, بَالِغَة فِي النصح وَهِي الْخياطَة كَانَ الْعِصْيَان يخرق وَالتَّوْبَة ترفع “Taubat nasuha adalah taubat yang mencapai puncak kesempurnaan (yang dilaksanakan semaksimal mungkin, pen.). Taubat ini (sejenis dengan) pekerjaan menjahit. Seakan-akan maksiat telah merobek (agama), dan taubatlah yang menambal (menjahit atau memperbaikinya).” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 22/280). —————————– Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan sisi yang lain istilah taubat nasuha sesuai dengan makna bahasa di atas. Beliau rahimahullah berkata, والثاني- لأنها قد جمعت بينه وبين أولياء الله وألصقته بهم، كما يجمع الخياط الثوب ويلصق بعضه ببعض. “Sisi yang ke dua, karena taubat nasuha mengumpulkan antara pelakunya dengan wali-wali Allah, dan merekatkannya. Hal ini sebagaimana jahitan yang merekatkan pakaian dan menyambung antara sisi (kain) yang satu dengan sisi lainnya.” (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an, 18/199). ————————- Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk dalam hamba-hambaNya yang gemar untuk bertaubat.

August 21, 2016 Edy Methek 1

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat agar mereka […]

di DUNIA RUGI …. di AKHIRAT ke NERAKA ….. manusia paling sengsara —————– Kesengsaraan yang paling sengsara ialah MISKIN di dunia dan diSIKSA di akhirat. (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab) ——————- Oleh karena itu, ebook ini tidak membahas bagaimana cara mengumpulkan kekayaan, tidak membahas cara mencari pasangan idaman, tidak membahas apapun yang sekilas enak dinikmati tetapi sebagian besar isinya membahas tentang bagaimana meraih kebahagiaan “Hidup” dunia dan akhirat dengan rumus-rumus canggih yang mungkin belum pernah Anda sadari sebelumnya. ——————- Inilah dia “Rumus Canggih” yang saya maksud : ——– 1. BERDO’A ———- Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS. 40 : 60] ———— Ayat Al-Qur’an di atas merupakan ayat motivator maha dahsyat untuk manusia agar tidak putus asa untuk berdo’a dan meminta sesuatu. Apapun keinginan Anda, jangan ragu untuk memintanya kepada Dzat yang memilikinya, yaitu Allah Swt, dan yakinlah bahwa do’a yang Anda panjatkan pasti dikabulkanNya. ———- Anda ingin pekerjaan, Anda ingin jodoh, Anda ingin kendaraan, Anda ingin pintar atau apapun keinginan Anda boleh Anda ajukan kepadaNya. ————– 2. INGATLAH, ALLAH SELALU MEMBERI YANG TERBAIK ———– “Aku (mungkin merasa telah) tekun berdoa dan berusaha untuk keberhasilan dan kebahagiaan… aku sadar, ada kalanya beberapa niatku lambat terpenuhi dan mungkin Allah akan menggantikan dengan yang lain, yang lebih baik… aku yakin keberhasilan dan kebahagiaan itu akan jadi milikku walaupun mungkin dalam bentuk dan waktu yang lain… insyaAllah….innallaha ma’ana ———– “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216) ———– 3. BERSUKUR DALAM SEGALA HAL ————– Bersyukurlah dalam segala hal, karena semua indah pada waktunya…. ———— Setiap kejadian, baik atau buruk menurut kita mengandung hikmah mendalam yang ingin disampaikan oleh Allah Swt. ————— 4. BERBAGI SUMBER KEBAHAGIAAN ———– Sebuah perbuatan untuk menyenangkan dan membahagiakan orang lain merupakan sebuah hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Tidak peduli sebesar atau sekecil apapun hal yang Anda lakukan, selama itu dilakukan dengan niat yang tulus. ———– Kebahagiaan Dunia Akhirat ……. harus diRAIH …. agar tidak RUGI selamanya ————————— Anda mungkin pernah memimpikan untuk hidup bergelimangan harta, hidup dalam kemewahan, memiliki istri yang cantik, anak-anak yang baik, mobil yang canggih serta segala harta dunia lainnya yang rasanya begitu nikmat jika bisa kita miliki. ——————– Namun, sesungguhnya, semua itu tidak bisa menjamin orang yang memilikinya merasakan kebahagiaan ataupun keindahan hidup yang sesungguhnya. ———-

August 3, 2016 Edy Methek 0

Kebahagiaan Dunia Akhirat ……. harus diRAIH …. agar tidak RUGI […]

pilihan ke SURGA atau ke NERAKA adalah PILIHAN manusia itu SENDIRI ——– > ingin menjadi “MUSUH Allah” …. KAFIR/ MUSYRIK/ MUNAFIK/ FASIK/AL WAHN/ Muslim 72 golongan/ Muslim BUIH {=manusia DZALIM} … ke NERAKA << ya ...Silahkan >> —————- Allah memberi keBEBASan manusia di DUNIA —– ingin “BERIMAN pada Allah” << silahkan >> ——————————————– dan siapa saja yang TIDAK berHUKUM dengan apa-apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang KAFIR…. {Al-maidah (5) ayat 44} —————————— > pilihan ke SURGA atau ke NERAKA = PILIHAN manusia itu SENDIRI …… ———————————– >SURGA = adalah CIPTAAN Allah … Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke SURGA-Nya ————————————- > NERAKA = adalah CIPTAAN Allah … Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke NERAKA-Nya ————————- Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia BERIMAN {فَلْيُؤْمِن}, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia KAFIR {فَلْيَكْفُرْ}”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang DZALIM {لِلظّٰلِمِينَ} itu NERAKA {نَارً}, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang MENDIDIH {كَٱلْمُهْلِ/logam mendidih} yang mengHANGUSkan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling BURUK { وَسَآءَتْ}. {Q.s. Al-Kahfi: 29} ——————– Berimanlah, atau …. tidak usah beriman sama sekali. ——————————————— Iman berarti selalu mentaati aturan-aturan Alloh dan mencontoh Rosululloh, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat An-Nur (24) ayat 51, yaitu :  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Artinya : Hanya perkataan orang-orang yang beriman sajalah, yang apabila diajak kepada (aturan) Alloh dan Rosul-Nya, supaya dia menghukum diantara mereka, mereka mengatakan “kami mendengar dan kami taat” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ———————————- Sedangkan kafir adalah lawan dari iman, maka kafir adalah yang tidak mau melaksanakan aturan atau hukum Alloh, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat Al-maidah (5) ayat 44, yaitu : وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ Artinya : dan siapa saja yang tidak berhukum dengan apa-apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir ——————————————– Orang-orang yang beriman itu tempat kembalinya surga, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat Al-Baqoroh (2) ayat 82, yaitu : وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُولَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ Artinya : Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya —————————————– Sedangkan orang-orang kafir akan di masukkan ke dalam neraka, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat An-Nisa (4) ayat 140, yaitu : إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam —————————————— ﴾ Al Baqarah:98 ﴿ Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. ——————- ﴾ Al Anfaal:60 ﴿ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). ———– ﴾ At Taubah:114 ﴿ Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. ————- ﴾ Ali Imran:146 ﴿ Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. ————- ﴾ Al Fushilat:19 ﴿ Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya.———

July 12, 2016 Edy Methek 4

Allah memberi keBEBASan manusia di DUNIA —– ingin “BERIMAN pada […]

> ingin menjadi “MUSUH Allah” …. KAFIR/ MUSYRIK/ MUNAFIK/ FASIK/AL WAHN/ Muslim 72 golongan/ Muslim BUIH {=manusia DZALIM} … ke NERAKA << ya ...Silahkan >> —————- Allah memberi keBEBASan manusia di DUNIA —– ingin “BERIMAN pada Allah” << silahkan >> ——————————————– dan siapa saja yang TIDAK berHUKUM dengan apa-apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang KAFIR…. {Al-maidah (5) ayat 44} —————————— > pilihan ke SURGA atau ke NERAKA = PILIHAN manusia itu SENDIRI …… ———————————– >SURGA = adalah CIPTAAN Allah … Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke SURGA-Nya ————————————- > NERAKA = adalah CIPTAAN Allah … Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke NERAKA-Nya ————————- Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia BERIMAN {فَلْيُؤْمِن}, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia KAFIR {فَلْيَكْفُرْ}”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang DZALIM {لِلظّٰلِمِينَ} itu NERAKA {نَارً}, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang MENDIDIH {كَٱلْمُهْلِ/logam mendidih} yang mengHANGUSkan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling BURUK { وَسَآءَتْ}. {Q.s. Al-Kahfi: 29} ——————– Berimanlah, atau …. tidak usah beriman sama sekali. ——————————————— Iman berarti selalu mentaati aturan-aturan Alloh dan mencontoh Rosululloh, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat An-Nur (24) ayat 51, yaitu :  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Artinya : Hanya perkataan orang-orang yang beriman sajalah, yang apabila diajak kepada (aturan) Alloh dan Rosul-Nya, supaya dia menghukum diantara mereka, mereka mengatakan “kami mendengar dan kami taat” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ———————————- Sedangkan kafir adalah lawan dari iman, maka kafir adalah yang tidak mau melaksanakan aturan atau hukum Alloh, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat Al-maidah (5) ayat 44, yaitu : وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ Artinya : dan siapa saja yang tidak berhukum dengan apa-apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir ——————————————– Orang-orang yang beriman itu tempat kembalinya surga, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat Al-Baqoroh (2) ayat 82, yaitu : وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُولَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ Artinya : Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya —————————————– Sedangkan orang-orang kafir akan di masukkan ke dalam neraka, sebagaimana Alloh katakan di dalam Alqur’an surat An-Nisa (4) ayat 140, yaitu : إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahannam —————————————— ﴾ Al Baqarah:98 ﴿ Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. ——————- ﴾ Al Anfaal:60 ﴿ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). ———– ﴾ At Taubah:114 ﴿ Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. ————- ﴾ Ali Imran:146 ﴿ Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. ————- ﴾ Al Fushilat:19 ﴿ Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya.———

July 12, 2016 Edy Methek 4

Allah memberi keBEBASan manusia di DUNIA —– ingin “BERIMAN pada […]