Loading
Nama | Islam dan Sains-Edy - Part 5

Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai teori penciptaan manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang dilontarkan oleh Darwin. Alquran bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Alquran, karena Alquran sudah pasti benar. —————————— Prapenciptaan “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqarah: 30) —————— Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu. Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah dan keputusanNya. Akan tetapi satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara” kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini. —————– Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi. ——————— Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut. —————- Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi. ——————— a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam) ——————- Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya : “Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7) ——————- “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26) ———————— Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29) —————– Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : “Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari) —————— “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31) ———— “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32) ———— “Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33) ————— “Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2) ———————— b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa) —————— Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya : “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36) ————– Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu : “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1) —————- Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan : “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim) —————– Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya. ——————— c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa) ————- Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya : ———- “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14). ———— Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda : “Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim) —————- Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas). “ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS. Addahr: 2) ——— “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS 96. Al-’Alaq: 2) Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya. Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya. —————-

August 17, 2016 Edy Methek 0

Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai […]

Jika Allah maha baik, mengapa Dia menciptakan neraka???Mengapa tidak masuk surga saja semua? Mengapa harus ada neraka? ———— Kita sebagai manusia yang beriman, tentunya harus selalu mengacu kepada sumber-sumber dasar hukum tersebut di dalam menentukan atau menilai suatu hal dan permasalahan, artinya predikat baik atau buruk, sopan atau tidak sopan, lembek atau keras, kejam atau tidak kejam…..baru dianggap sah dan benar jika pengertian dan pengetahuan yang kita miliki sudah kita selaraskan dengan pengertian dan ilmu yang datang dari Tuhan Pencipta Alam. ———————— “Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu” (QS Al Kahfi : 29) ——————– “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (QS Al Baqarah : 216) ——————- Masalahnya sekarang ini kita hidup di zaman yang penuh dengan berkembangnya paham-paham baru seperti LIBERALISME, FEMINISME, FEDERALISME, dsb yang beberapa inti ajarannya sangat membahayakan dan bertentangan dengan akidah, pengertian dan perbuatan umat Islam pada umumnya. Mereka (paham-paham tersebut) sangat mendukung dan membantu segala bentuk kesenangan dan kebebasan tanpa batas. ————– Yang penting asalkan suka sama suka dan tidak ada paksaan maka hal itu tidak melanggar norma-norma hukum kemanusiaan, yang imbasnya akan mengotori dan merusak norma-norma hukum agama yang penuh dengan pantangan, halangan, dan larangan. Meraka selalu berusaha untuk menghancurkan segala bentuk keterbatasan dan ketidakbebasan walaupun pada hakikatnya semua keterbatasan dan ketidakbebasan itu didasari demi tercapainya suatu kebaikan, kesopanan, kepantasan, keberadaban serta keharmonisan hubungan diantara sesama manusia. Tetapi sayangnya paham dan propaganda-propaganda itu sudah cukup sukses tersebar dan menyebar dengan luas di semua kalangan di dunia ini. Kita telah terciptakan dan hidup di dunia ini agar kita bisa menjadi khalifah-NYA di muka bumi, makna lebih dalamnya lagi adalah supaya kita mau tunduk dan patuh terhadap segala ketentuan dan perintah dari ALLAH swt. Bukannya kita yang harus mengatur ALLAH, tetapi kita yang harus diatur agar kita selamat di dunia dan akhirat. Begitu juga ALLAH swt telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, siang dan malam, baik dan buruk, bersih dan kotor, bagus dan jelek, bahagia dan sedih, hidup dan mati yang pada akhirnya surga dan neraka. Itu sudah merupakan salah satu sunatullah dan qudrat-NYA. ————– —————– “Hai jiwa yang tenang…Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-NYA…Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-KU…Dan masuklah kedalam Surga-KU” (QS Al Fajr : 27-30) —————— Ibaratnya seperti seorang Ibu yang ditinggal pergi jauh oleh anak putrinya yang cantik, karena dia harus sekolah atau bekerja di suatu kota besar untuk waktu yang cukup lama. Tentunya si ibu tersebut akan selalu merindukannya dan merisaukan segala keselamatan dan kesehatannya. Andaikan si Ibu itu menerima kabar kalau anak kesayangannya itu sakit, diganggu/disakiti oleh orang lain apalagi sampai dia berbuat yang tidak baik (dosa)….maka si ibu itu akan merasakan sangat teriris-iris hatinya karena rasa sayang dan cintanya kepada putrinya itu. Dan dapat dipastikan kalau rasa cemas, khawatir, dan cinta ALLAH kepada kita yang masih hidup di dunia ini adalah 70 kali lebih besar dan kuat daripada rasa yang dimiliki oleh si ibu tersebut. Itulah mengapa BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM….Dengan menyebut nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kalau kita ibaratkan misalnya….kasih sayang ALLAH itu bernilai 100%, maka hanya 1% saja yang DIA turunkan dan curahkan kepada umat manusia di dunia….sedangkan yang 99% nya lagi akan diberikan kepada kita pada hari Penghisaban. Dimana ALLAH pada hari itu akan benar-benar memperlihatkan kemaha sayangannya dan kemaha adilannya, karena disitulah penentuan akhir dari segala tindak tanduk, perbuatan, nasib serta takdir dari setiap jiwa yang pernah hidup. ————– “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” (QS Al Infithar : 5) —————- Disana mahkamah pengadilan akan digelar selama kurang lebih 500.000 tahun karena semua orang dari zaman Nabi Adam sampai Bayi terakhir lahir akan diadili seadil-adilnya. Siapa yang berbuat kebajikan walaupun sebesar biji zarrahpun akan mendapatkan hasilnya dan begitu juga sebaliknya. ———————- “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya….dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al Zalzalah : 7-8) ———————- Tidak akan ada seorangpun yang teraniaya dan terugikan. Pada saat itu….kasusnya bisa jadi seorang yang mencuri tetapi yang akan dimintai pertanggungjawabannya adalah para pemimpin. Dia mencuri karena orang miskin dan sangat lapar, sedangkan setiap pemimpin bertanggung jawab atas semua orang (rakyat) yang dipimpinnya. Atau bisa jadi kasus berikutnya adalah….seorang anak yang berzina, tetapi yang disalahkan adalah kedua orang tuanya karena tidak segera menikahkan anaknya ketika waktunya tiba. Jadi segala persoalan tidak akan diputuskan seenaknya saja dan semau gue….tidak seperti kita membeli pisang goreng dan es teh manis tanpa pikir dulu….just do it!…yang penting isi perut dapat terisi. Pada saat itu semua orang dari segala suku, bangsa, agama, kalangan, pekerjaan, profesi dsb akan menyesal dan menangis hebat karena penyesalan yang begitu mendalam ketika mereka telah menyaksikan kenyataan / realitas dengan mata kepala sendiri. Tetapi ALLAH masih sangat penyayang….karena itu DIA memberikan jalan lain / solusi lain agar hamba-hamba-NYA bisa terselamatkan dari azab api neraka yaitu dengan cara memberikan izin kepada para Rasul, Nabi, Sahabat, Wali, dan Hafizh untuk memberikan Syafaat / Pertolongan kepada umat manusia asalkan mereka (Para Pendosa dan Pendurhaka) adalah orang-orang yang mengakui adanya 1 Tuhan dan Muhammad saw adalah sebagai rasul terakhir. Semakin tinggi derajat mereka (Para Rasul,….., Wali) semakin banyak pula orang-orang yang bisa mereka selamatkan dari api neraka. Demi ALLAH……ALLAH tidak rela sedikitpun jika hamba-hamba-NYA harus singgah dulu di neraka walaupun hanya 1 detik. Tetapi DIA lah yang maha adil, maha membalas dan maha menepati janji…..jadi DIA harus rela, pasrah dan ridho akan ketentuan-ketentuan-NYA yang telah ditetapkan-NYA selama berjuta-juta tahun sebelumnya, untuk membiarkan banyak dari hamba-hamba-NYA untuk dicuci dahulu segala dosa-dosanya di dalam api neraka. Walaupun Hati-NYA hancur lebur karena kesedihan-NYA yang begitu mendalam sehingga dapat menggetarkan kebesaran, kemegahan, dan keagungan Arasy-NYA / Singgasana-NYA. Tetapi apa mau dikata…..nasi sudah jadi bubur……Semua buku-buku amalan sudah ditutup, tidak dapat dirubah lagi, dan harus dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Segala kasih sayang ALLAH kepada hamba-hamba-NYA telah mutlak dan tuntas diberikan…..tidak ada satupun yang terlewat. Para Rasul, Nabi, Wali dan Solihin untuk memberikan peringatan dan kabar gembira kepada umat manusia tentang hari akhirat kelak….Akal untuk membedakan hal-hal yang baik dan buruk……Hidayah, Taufik, Ilham untuk menunjukkan kepada jalan yang benar dan lurus…..Al Qur’an dan Hadist untuk mengetahui suatu ilmu kebenaran tentang haq dan bathil (halal dan haram)…..Cobaan dan Teguran untuk lebih menyadarkan diri dari segala kesalahan……Tetapi alangkah sayangnya, semuanya itu hanyalah bagaikan angin yang berlalu saja untuk diri kita. Lalu kalau sudah begitu…..APA SALAH ALLAH?…..KEJAM dan SADISkah TUHANku?…Mudah-mudahan Kamu Mengerti…

August 17, 2016 Edy Methek 0

Jika Allah maha baik, mengapa Dia menciptakan neraka???Mengapa tidak masuk […]

di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum. —————— Adab ketika Makan dan Minum —————————- Memakan makanan dan minuman yang halal.Saudariku, hendaknya kita memilih makanan yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman, يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51) —————— Mendahulukan makan daripada shalat jika makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih) Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan. ——————— Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …” ——————– Jangan berlebih-lebihan dan boros.Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim) ———————– Mencuci tangan sebelum makan.Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan hal ini, namun para salaf (generasi terdahulu yang shalih) melakukan hal ini. Mencuci tangan berguna untuk menjaga kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad) Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud) Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim) Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-)” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)Di antara faedah membaca basmallah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i) Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim) Makan mulai dari makanan yang terdekat.Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini sekaligus sebagai penguat dari kedua adab makan sebelumnya dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan. Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat dipatuhi oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.“ Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)Sungguh betapa mulianya agama ini, sampai-sampai sesuap nasi yang jatuh pun sangat dianjurkan untuk dimakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk syukur atas makanan yang telah Allah Ta’ala berikan dan bentuk kepedulian kita terhadap fakir miskin. Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan.Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya. Cara duduk untuk makanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari) Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat makan duduk dengan menduduki salah satu kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dhaif (lemah). Yang benar adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam tradisi Jawa) saat makan. Apabila lalat terjatuh dalam minumanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari) Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makanTerdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.”(Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari) Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk.Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim) Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah (472))Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari) Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5957), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’(381))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah (499)) Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.’”

August 16, 2016 Edy Methek 1

di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam […]

Bukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?” —————- Jawaban kami: Hanya Rasulullah yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan. ————— Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Perkataan seluruh manusia bisa diterima atau ditolak, hanya perkataan penghuni kubur ini (yakni Rasulullah) yang wajib diterima (tidak boleh ditolak).” —————– Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: “Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen) ….. “ (Al imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, hal.306. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun) —————- Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Sallam. —————– Dan untuk para da’i hati-hatilah, sebab Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl (16): 116) ——————- Dari Abdullah bin Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari, lihat Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al lu’Lu’ wal Marjan, Kitabul ‘ilmi, hal. 457, hadits no. 1712. Darul Fikri, Beirut . 1423H/2002M) ————– “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari kalangan ashaghir.” (HR. Abdullah bin al Mubarak, dalam kitab Az Zuhd, dengan sanad hasan) —————— Siapakah Ashaghir? Berkata Abdullah bin al Mubarak Rahimahullah, yaitu orang yang Qillatul ‘ilmi (sedikit ilmunya). Ya, sedikit ilmunya tetapi banyak gayanya! Lidahnya menjulur melebihi pengetahuannya. ————- Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh dariku adalah yang banyak omongnya (ats tsartsarun), bermulut besar (al mutasyaddiqun), dan al mutafaihiqun.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami telah tahu ats tsartsarun dan al mutasyaddiqun, tetapi apakah al mutafaihiqun? Rasulullah menjawab: “Yaitu al Mutakabbirun (orang yang merasa besar, sok berilmu). (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata: hadits ini ‘hasan’. Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, Bab Husn al Khuluq, hal. 187, hadits no. 629. Maktabatul Iman, Al Manshurah) ————– Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. ! —————- ———————————– Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat”, Kami berkata: “Untuk Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda: Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fi An Nashihah, hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah,Tanpa tahun. lihat Juga Arbain an Nawawiyah, hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah. 1425H/2004M) ——————- Inilah nasihatku untuk diriku sendiri, dan saudaraku kaum muslimin, juga para da’i, atau imam mesjid, yang masih terbelenggu dengan candu rokok ….. untuk mereka yang mencari ketenangan dengan merokok, padahal seorang mu’min mencari ketenangan melalui dzikir dan shalat … untuk mereka yang tengah mencari kejelasan dan kebenaran …. Untuk merekalah risalah ini dipersembahkan … ———————- Tulisan ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para da’i hobi dengan rokok. Padahal para da’i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Musta’an! ——————– Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak paham fiqih, bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksud. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan, pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapan “tidak saya temukan …dst” itu bisa dimaklumi. Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam. Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama. ——————- Sejak zaman sahabat, umat telah ijma’ (sepakat) bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syari’ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini. —————- Dikhawatiri dari pandangan sebagian da’i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang ‘monopoli’, Joget ala ngebor Inul juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya Inul! Laa hawla wa laa quwwata illa billah. –

August 3, 2016 Edy Methek 2

HARAMNYA ROKOK …. berdasarkan HADITS dan AL QUR’AN … serta […]

KALIMAT SYAHADAT ….. harus DIPAHAMI .. lalu .. diAMALkan ——- MengUCAPkan Kalimat SYAHADAT dengan MULUTnya SAJA = BUKAN Jaminan MASUK SURGA ————————– “Wah, ngawur ente!!”……… (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? ————————– Allah berfirman, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145) ———————————– Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?). ——————————- Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته “Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.” ————————- Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya? =================================== ORANG-ORANG MUSYRIK LEBIH PAHAM MAKNA LAA ILAHA ILLALLAH —————————- Setelah kita melihat tafsiran yang tepat dari kalimat laa ilaha illallah.. Kita dapat melihat bahwasanya orang-orang musyrik dahulu sebenarnya lebih paham tentang laa ilaha illallah daripada umat Islam saat ini khusunya para da’inya. ————– Pernyataan ini dapat dilihat dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhat. Beliau rahimahullah berkata,”Orang kafir jahiliyyah mengetahui bahwa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan dengan kalimat (laa ilaha illallah, pen) adalah mengesakan Allah dengan menyandarkan hati kepada-Nya dan kufur (mengingkari) serta berlepas diri dari sesembahan selain-Nya.” ——————————– Apa yang membuktikan bahwa orang-orang kafir memahami kalimat laa ilaha illallah? —————————– Beliau rahimahullah melanjutkan perkataan di atas, “Yaitu ketika dikatakan kepada mereka, ‘Katakanlah laa ilaha illallah.’ Mereka menjawab, أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi ilah (sesembahan) yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad [38]: 5)” ——————– Lihatlah orang-orang musyrik sudah memahami bahwa laa ilaha illallah adalah laa ma’buda bihaqqin illallah [tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah] dan mereka mengingkari yang demikian, namun mereka sama sekali tidak mengingkari bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi rizki. ————— Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan lagi, “Jika kamu sudah mengetahui bahwa orang musyrik mengetahui yang demikian (bahwa laa ilaha illallah bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, pen); maka sungguh sangat mengherankan di mana para da’i yang mendakwahkan islam tidak mengetahui tafsiran kalimat laa ilaha illallah sebagaimana yang diketahui oleh orang kafir jahiliyyah. Bahkan orang-orang tersebut mengira bahwa laa ilaha illallah cukup diucapkan saja tanpa meyakini maknanya. Dan pakar ahli (orang-orang pintar dari ahli kalam dan ahli bid’ah, pen) di antara mereka pun menyangka bahwa makna laa ilaha illallah adalah tidak ada pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta kecuali Allah. Maka tidak ada satu pun kebaikan pada seseorang di mana orang kafir jahiliyyah lebih mengetahui dari dirinya mengenai makna laa ilaha illallah.” (Lihat Syarh Kasyfi Syubuhaat Al ‘Utsaimin, hal. 27-28 dan Ad Dalail wal Isyarot, hal. 48-51). ——————————— Demikianlah sangat disayangkan sekali, para cendekiawan muslim dan para da’i yang mengajari umat tentang islam banyak yang tidak memahami laa ilaha illallah sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang musyrik. Dan kebanyakan pakar Islam sendiri -yang kebanyakan adalah ahli kalam serta tertular virus Asya’iroh dan Mathuridiyyah- hanya memaknai kalimat laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada pencipta selain Allah’, atau ‘tidak ada pengatur alam semesta selain Allah’, atau ‘tidak ada pemberi rizki selain Allah’ di mana tafsiran tersebut hanya terbatas pada sifat rububiyyah Allah saja. Lalu apa kelebihan mereka dari orang-orang musyrik dahulu?! Renungkanlah hal ini!! =============================== apakah KAMU/aku … “menyembah ULAMA/ustadz/Imam/penguasa/umara ” ??? … menyembah ARBAB {tuhan-tuhan pengatur) ??? ————————–————————–——— “Mereka menjadikan orang-orang alim {=ULAMA/USTADZ/IMAM} dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31} ————————–————————–—- MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI = MEMPERTUHANKAN MEREKA,…. —————- apakah ini ucapan aliran sesat khawarij untuk menghasung pada anti ketaatan pd ulama atau berseberangan dengan umara?….kita harus hati-hati dengan faham dan hasungan dari aliran sesat khawarij dan sejenisnya,…tapi ini bukan dari mereka, ini adl terjemahan judul dari bab ( bab ke 38) yg ada di kitab tauhid Syaikh Muhammad bin abd wahhab,.. ——————– Dan yg menarik lagi untuk dipelajari adalah bahwa para ulama menyandarkan pd QS At taubah ayat 31 disertai hadits (hadits ady bin hatim) sebagai bagian dari penjelasannya untuk pendalil-an sekitar masalah “mempertuhankan/menyembah pada ulama/umara” coba perhatikan kesimpulan para ulama salaf terhadap at taubah 31 tsb dibawah ini Syaikh Muhammad Bin abdul wahhab KITABUT TAUHID BAB 38 “MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI MEMPERTUHANKAN MEREKA” Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31) Maka saya berkata kepada beliau : “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda : “Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya ?”, Aku menjawab : ya, maka beliau bersabda : “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan ) ————————– Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhabrahimahullah berkata setelah menuturkan hadits Addiy Ibnu Hatim, yaitu hadits hasan: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwa mentaati para ahli ilmu dan para rahib dalam maksiat kepada Allah adalah ibadah kepada mereka selain Allah dan tergolong syirik akbar yang tidak mungkin AllahSubhanahu Wa Ta’ala ampuni berdasarkan firman-Nya: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka (orang-orang Nasrani) telah menjadikan para ahli ilmu dan para rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan juga Al Masih Ibnu Maryam, padahal mereka itu tidak diperintahkan kecuali supaya mereka beribadah kepada ilah yang Esa, tidak ada ilah (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (At Taubah: 31) ————————— Dan ini dijelaskan lebih gamlang oleh firman-NyaSubhanahu Wa Ta’ala: وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.” (Al An’am: 121)” (Fathul Majid 367) ————————— apakah KAMU/aku … “menyembah ULAMA/ustadz/Imam/penguasa/umara ” ??? … menyembah ARBAB {tuhan-tuhan pengatur) ….. menyembah THAGHUT??? ————————–————————–——— “Mereka menjadikan orang-orang alim {=ULAMA/USTADZ/IMAM} dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31} ————————–————————–—- MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI = MEMPERTUHANKAN MEREKA,…. —————- apakah ini ucapan aliran sesat khawarij untuk menghasung pada anti ketaatan pd ulama atau berseberangan dengan umara?….kita harus hati-hati dengan faham dan hasungan dari aliran sesat khawarij dan sejenisnya,…tapi ini bukan dari mereka, ini adl terjemahan judul dari bab ( bab ke 38) yg ada di kitab tauhid Syaikh Muhammad bin abd wahhab,.. ——————– Dan yg menarik lagi untuk dipelajari adalah bahwa para ulama menyandarkan pd QS At taubah ayat 31 disertai hadits (hadits ady bin hatim) sebagai bagian dari penjelasannya untuk pendalil-an sekitar masalah “mempertuhankan/menyembah pada ulama/umara” coba perhatikan kesimpulan para ulama salaf terhadap at taubah 31 tsb dibawah ini Syaikh Muhammad Bin abdul wahhab KITABUT TAUHID BAB 38 “MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI MEMPERTUHANKAN MEREKA” Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31) Maka saya berkata kepada beliau : “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda : “Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya ?”, Aku menjawab : ya, maka beliau bersabda : “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan ) ————————– Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhabrahimahullah berkata setelah menuturkan hadits Addiy Ibnu Hatim, yaitu hadits hasan: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwa mentaati para ahli ilmu dan para rahib dalam maksiat kepada Allah adalah ibadah kepada mereka selain Allah dan tergolong syirik akbar yang tidak mungkin AllahSubhanahu Wa Ta’ala ampuni berdasarkan firman-Nya: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka (orang-orang Nasrani) telah menjadikan para ahli ilmu dan para rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan juga Al Masih Ibnu Maryam, padahal mereka itu tidak diperintahkan kecuali supaya mereka beribadah kepada ilah yang Esa, tidak ada ilah (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (At Taubah: 31) ————————— Dan ini dijelaskan lebih gamlang oleh firman-NyaSubhanahu Wa Ta’ala: وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.” (Al An’am: 121)” (Fathul Majid 367) ————————— << {diULANG lagi …. agar lebih PAHAM !!}

July 10, 2016 Edy Methek 2

MengUCAPkan Kalimat SYAHADAT = BUKAN Jaminan MASUK SURGA ————- KALIMAT […]

1 3 4 5 6