Loading
Pakar | Islam dan Sains-Edy

ISLAM telah MENGATUR hidup MANUSIA mulai TIDUR, bangun TIDUR, makan, minum, sampai TIDUR lagi ….. hidup, mengatur pola HIDUP dengan ITTIBA’ / mencontoh RASUL —————————- Setidaknya ada 10 cara menjaga kesehatan ala Rasulullah yang sudah dikenal di masyarakat, tak hanya umat Islam bahkan orang yang beragama lain. Banyak dari mereka telah mempraktikkan pola-pola gaya hidup sehat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Apa saja, ya? Dilansir dari berbagai sumber, berikut uraiannya untuk kamu.———— 1. Di pagi hari, Rasulullah biasa menggunakan siwak. Siwak telah diteliti sangat bermanfaat menjaga kesehatan mulut dan gigi.————- 2. Nabi Muhammad SAW biasa sarapan dengan segelas air dan dicampur madu. Ternyata dengan rutin meminumnya bisa melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit.———- 3. Jelang dhuha (sekitar pukul 08.00 WIB), Rasul memakan 7 butir kurma yang sudah matang. Kurma bermanfaat untuk menetralisir racun dalam tubuh (detoksifikasi).———– 4. Di sore hari, Nabi Muhammad SAW suka ngemil roti yang diolesi cuka campur minyak zaitun. Dua bahan ini ternyata mencegah kanker dan menghancurkan kolesterol.———– 5. Malam hari, Rasulullah menyantap sayur mayur. Wah, kalau sayur sudah tidak usah disebutkan lagi khasiatnya, ya. Banyak banget.——— 6. Setelah makan malam, Nabi Muhammad SAW tidak langsung tidur. Beliau beraktifitas, entah membaca Alquran atau bercengkrama dengan keluarga dan sahabat. Ini supaya makan malamnya tercerna dengan baik.————- 7. Makanan lain yang sering disantap Rasul yakni roti dengan kuah daging, sayur-sayuran dingin seperti labu air atau mentimun, buah anggur, dan susu. ————- 8. Olahraga dan banyak gerak. Cara beliau olahraga juga gak ngotot banget seperti joging, angkat beban, dan lain-lain. Cukup bermain bersama anak serta cucunya. Rasulullah juga sering mengadakan lomba lari dengan mereka. Pada suatu riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah mengajak istrinya, Aisyah, lomba lari supaya badan tidak lemas dan tetap sehat.———— 9. Jika tidak ada kepentingan Rasulullah tidak akan begadang. Namun jika diharuskan begadang untuk kepentingan umat Islam, beliau banyak minum air putih.————– 10. Pola hidup sehat Rasulullah ini ternyata serupa dengan irama biologi (circadian rhytme) yakni siklus pencernaan manusia yang kerap dianjurkan oleh pakar kesehatan dunia. Keren, kan? Yuk ah kita coba hidup sehat ala Nabi Muhammad SAW ini.————- ===========================- Tidak diragukan, Islam adalah agama yang mengajarkan hidup sehat. Jika selama ini ada slogan yang terkenal “pencegahan lebih baik dari pengobatan,” ternyata sejak empat belas abad yang lalu aplikasi dari slogan itu telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanamkan kepada para shahabatnya. Mari perhatikan hal-hal berikut:——— a) Menjaga kebersihan dan kesucian:———- { وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4] “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Mudatstsir: 4).————– Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata: { وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ } أي: اغسلها بالماء. “Maksud “Dan pakaianmu bersihkanlah” adalah basuhlah dengan air.”———— Ibnu Zaid rahimahullah berkata: كان المشركون لا يتطهرون، فأمره الله أن يتطهر، وأن يطهر ثيابه. “Dahulu orang-orang musyrik kebiasaan mereka tidak bersuci, maka Allah memerintahkan agar bersuci dan membersihkan pakaiannya.” (Lihat tafsir Al Quran Al Azhim).———– Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ayat ini mencakup seluruh perkara itu bersamaan dengan kesucian hati.” Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim di dalam ayat ini.———- عَنْ أبي مالِكٍ الأشْعَريِّ – رضي الله عنه – قالَ :قالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( الطُّهورُ شَطْرُ الإيمانِ ،)). رواه مسلم “Abu Malik Al Asy‘ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersuci adalah setengah dari keimanan” HR. Muslim————– Ibnu Al Atsir rahimahullah berkata, لأنَّ الإيمانَ يُطهِّر نجاسةَ الباطن والطَّهورَ يُطهِّر نجاسة الظاهر “Karena keimanan membersihkan kotorannya batin dan bersuci dengan air membersihkan kotoran lahir.” (Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib Al Hadits).————– عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا. “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatau malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 3936).————– b) Mandi عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال « حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِى كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ» “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim untuk mandi di setiap tujuh hari, sehari dia membasuh kepada dan badannya di dalamnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Bukhari).——- Maksud hadits adalah: suatu kelaziman dan keharusan bagi setiap muslim minimal dalam seminggu dia harus mandi membersihkan kotoran di tubuhnya dan kepalanya, dan yang dimaksud sehari disini adalah hari Jumat sebagaimana dalam beberapa riwayat seperti riwayat Imam Ahmad dan Ath Thahawy.— c) Menghilangkan kotoran, bakteri dan kuman dengan memotong kuku, menghabiskan bulu ketiak, bulu kemaluan, berkhitan, menipiskan kumis———— عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ» “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.” (HR. Bukhari dan Muslim).— Makna fitrah di dalam hadits adalah: asli penciptaan, agama, dan sunnah (syariat Islam).——- Imam An Nawawi rahimahullah berkata, . قَالَ النَّوَوِيّ وَتَفْسِير الْفِطْرَة هَاهُنَا بِالسُّنَّةِ هُوَ الصَّوَاب؛ لأنَّهُ وَرَدَ فِي رِوَايَة مِنْ السُّنَّة قَصُّ الشَّارِب وَنَتْف الإبِط وَتَقْلِيم الأظْفَار، وَأَصَحُّ مَا فُسِّرَ بِهِ غَرِيب الْحَدِيث تَفْسِيره بِمَا جَاءَ فِي رِوَايَة أُخْرَى اِنْتَهَى. “Tafsiran Al Fithrah dengan makna As Sunnah adalah pendapat yang benar, karena diriwayatkan dari sunnah bahwa menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak atau memotong kuku-kuku, dan tafsiran yang paling benar di dalam menfsirkan kata-kata yang sing di dalam hadits adalah dengan riwayat lain.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.—————— Maksudnya adalah siapa yang mengerjakan 5 hal ini maka dia dia atas keaslian yang Allah ciptakan atasnya dan perintahkan kepadanya, berkata As Suyuthi rahimahullah: وَقَالَ أَبُو شَامَة أَصْل الْفِطْرَة الْخِلْقَة الْمُبْتَدَأَة ، وَالْمُرَاد بِهَا هُنَا أَنَّ هَذِهِ الأشْيَاء إِذَا فُعِلَتْ اِتَّصَفَ فَاعِلُهَا بِالْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ الله الْعِبَاد عَلَيْهَا وَحَثَّهُمْ عَلَيْهَا وَاسْتَحَبَّهَا لَهُمْ لِيَكُونُوا عَلَى أَكْمَل الصِّفَات وَأَشْرَفهَا صُورَة “Berkata Abu Syamah: asal kata fithrah adalah ciptaan yang asal, dan maksudnya di dalam hadits ini adalah bahwa perkara ini jika dilakukan maka pelakunya telah bersifat fitrah yang Allah fithrahkan kepada hamba-hamba-Nya, dan perintahkan serta anjurkan untuk itu kepada mereka agar mereka berada dalam sifat yang sempurna dan rupa yang paling mulia.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.————— dst

September 24, 2016 Edy Methek 1

ISLAM telah MENGATUR hidup MANUSIA mulai TIDUR, bangun TIDUR, makan, […]

siapa dan mengapa? …. penDAKWAH dengan berDIALOG berbagai PEMUKA AGAMA seluruh dunia AHMED DEEDAT ————————— Sosok yang dikenal sangat pakar dalam ilmu Kristologi ini lahir di Bombay, India 1 Juli 1918. Sejak kecil Ahmed Deedat kecil tinggal dan besar bersama sang ayah, Hussein Kazim Deedat, sepeninggal ibunya, Fatma Deedat. —————- Sang Ayah merupakan seorang penjahit yang kemudian berhijrah ke Afrika Selatan, Ahmed Deedat kecil pun ikut serta. Di wilayah koloni Inggris inilah, Ahmed Deedat kecil mengasah kemampuannya beradaptasi. Sejak Kecil, ia dikenal dengan ketekunannya dalam belajar secara otodidak dengan membaca berbagai buku. ———————- Namun, karena keterbatasan biaya, pada usia 16 tahun Ahmed Deedat harus terpaksa meninggalkan bangku sekolah dan membantu orang tua bekerja mencari nafkah. Pada 1936, merupakan titik awal pengenalannya terhadap ilmu perbandingan agama. ———————– Ketika ia bekerja di sebuah toko dekat sebuah sekolah Kristen di Natal South Coast. Saat itu, ia melihat gencarnya siswa misionaris Kristen mengunjungi komunitas Muslim di wilayahnya dengan menghina Islam dan membanding-bandingkan ajaran Islam. ——————– Awal mula ketertarikannya mempelajari perbandingan agama ini ketika ia membaca sebuah buku berjudul Idzhar al-Haq yang berarti menampakkan kebenaran. Buku tersebut berisi keberhasilan beberapa umat Islam di India mematahkan argumen para misionaris Kristen di wilayah itu. Ketertarikannya ini pun membawanya membeli Injil pertamanya untuk ia pelajari sebagai bahan debat dan diskusi dengan para siswa misionaris Kristen. ————————— Dari setiap perdebatan tersebut, Ahmed Deedat berhasil mematahkan semua argumen siswa misionaris Kristen dan membuat mereka mundur. Sejak saat itu, lawan perdebatan Ahmed Deedat muda pun jauh lebih tinggi, ketika ia meladeni perdebatan guru- guru teologi dan para pendeta di wilayah tersebut. ———————— Kesuksesan Deedat mematahkan setiap argumen teologi Kristen ini membuatnya terkenal, bukan hanya di kawasannya bahkan hingga ke luar wilayah. ——————– Dari situlah ia memantapkan untuk berdakwah dan berdebat mengenai keislaman dan membongkar kesalahan kekristenan. Kemampuannya mematahkan teologi Kristen ini membuatnya terkenal hingga ke dunia internasional. Ia menjadi primadona dalam setiap acara dialog dan perdebatan terkait keislaman dan kekristenan di berbagai negara di Eropa dan Amerika. ———————————- Ia pun menjadi Presiden Islamic Propagation Centre International (IPCI), organisasi nirlaba yang memfokuskan pada dakwah Islam Internasional dan melawan propaganda Kristenisasi. Salah satu per debatan yang fenomenal adalah pertemuan debatnya dengan Anis Shorrosh, seorang Pastur Evangelist keturunan Arab Palestina. Perdebatan itu pun diabadikan dalam video rekaman debat Ahmed Deedat. —————————- Keandalan Ahmed Deedat dalam berdebat terkait Kristologi di beberapa forum internasional Eropa dan Amerika ini telah menjadi benih pertumbuhan Islam di dua benua itu pada abad 21. Maka, pantaslah Ahmed Deedat menyandang gelar Kristolog Muslim yang disegani dunia barat.

August 27, 2016 Edy Methek 0

siapa dan mengapa? …. penDAKWAH dengan berDIALOG berbagai PEMUKA AGAMA […]

Tingkatan Surga, Surga dan Kenikmatannya ———————————– Dahsyatnya SIKSAN Neraka………….. Bahan Bakar Neraka ———– “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 24). Batu yang dimaksud dalam ayat ini ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan sebagian besar pakar tafsir dengan belerang, dikarenakan sifatnya yang mudah menyala lagi busuk baunya. Sebagian pakar tafsir juga berpendapat bahwa yang dimaksud batu di sini, ialah berhala-berhala yang disembah, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS. Al Anbiya : 98) ——————————- Mengimani keberadaan Surga (Al Jannah) dan Neraka (An Naar). ——————————– Salah satunya berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya..”(QS. Al-Baqarah : 24-25). ————————– Mengimani surga dan neraka berarti membenarkan dengan pasti akan keberadaan keduanya, dan meyakini bahwa keduanya merupakan makhluk yang dikekalkan oleh Allah, tidak akan punah dan tidak akan binasa, dimasukkan ke dalam surga segala bentuk kenikmatan dan ke dalam neraka segala bentuk siksa. Juga mengimani bahwa surga dan neraka telah tercipta dan keduanya saat ini telah disiapkan oleh Allah ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala mengenai surga (yang artinya), “..yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133), dan mengenai neraka (yang artinya), “..yang telah disediakan untuk orang-orang yang kafir.”(QS. Ali Imran : 131).[1] Oleh karena itulah, Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (wafat 321 H) menyimpulkan dalam Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, “Surga dan neraka adalah dua makhluq yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluq lain”

August 9, 2016 Edy Methek 0

Tingkatan Surga, Surga dan Kenikmatannya ———————————– Dahsyatnya SIKSAN Neraka………….. Bahan […]

KALIMAT SYAHADAT ….. harus DIPAHAMI .. lalu .. diAMALkan ——- MengUCAPkan Kalimat SYAHADAT dengan MULUTnya SAJA = BUKAN Jaminan MASUK SURGA ————————– “Wah, ngawur ente!!”……… (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? ————————– Allah berfirman, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145) ———————————– Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?). ——————————- Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته “Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.” ————————- Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya? =================================== ORANG-ORANG MUSYRIK LEBIH PAHAM MAKNA LAA ILAHA ILLALLAH —————————- Setelah kita melihat tafsiran yang tepat dari kalimat laa ilaha illallah.. Kita dapat melihat bahwasanya orang-orang musyrik dahulu sebenarnya lebih paham tentang laa ilaha illallah daripada umat Islam saat ini khusunya para da’inya. ————– Pernyataan ini dapat dilihat dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhat. Beliau rahimahullah berkata,”Orang kafir jahiliyyah mengetahui bahwa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan dengan kalimat (laa ilaha illallah, pen) adalah mengesakan Allah dengan menyandarkan hati kepada-Nya dan kufur (mengingkari) serta berlepas diri dari sesembahan selain-Nya.” ——————————– Apa yang membuktikan bahwa orang-orang kafir memahami kalimat laa ilaha illallah? —————————– Beliau rahimahullah melanjutkan perkataan di atas, “Yaitu ketika dikatakan kepada mereka, ‘Katakanlah laa ilaha illallah.’ Mereka menjawab, أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi ilah (sesembahan) yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad [38]: 5)” ——————– Lihatlah orang-orang musyrik sudah memahami bahwa laa ilaha illallah adalah laa ma’buda bihaqqin illallah [tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah] dan mereka mengingkari yang demikian, namun mereka sama sekali tidak mengingkari bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi rizki. ————— Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan lagi, “Jika kamu sudah mengetahui bahwa orang musyrik mengetahui yang demikian (bahwa laa ilaha illallah bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, pen); maka sungguh sangat mengherankan di mana para da’i yang mendakwahkan islam tidak mengetahui tafsiran kalimat laa ilaha illallah sebagaimana yang diketahui oleh orang kafir jahiliyyah. Bahkan orang-orang tersebut mengira bahwa laa ilaha illallah cukup diucapkan saja tanpa meyakini maknanya. Dan pakar ahli (orang-orang pintar dari ahli kalam dan ahli bid’ah, pen) di antara mereka pun menyangka bahwa makna laa ilaha illallah adalah tidak ada pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta kecuali Allah. Maka tidak ada satu pun kebaikan pada seseorang di mana orang kafir jahiliyyah lebih mengetahui dari dirinya mengenai makna laa ilaha illallah.” (Lihat Syarh Kasyfi Syubuhaat Al ‘Utsaimin, hal. 27-28 dan Ad Dalail wal Isyarot, hal. 48-51). ——————————— Demikianlah sangat disayangkan sekali, para cendekiawan muslim dan para da’i yang mengajari umat tentang islam banyak yang tidak memahami laa ilaha illallah sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang musyrik. Dan kebanyakan pakar Islam sendiri -yang kebanyakan adalah ahli kalam serta tertular virus Asya’iroh dan Mathuridiyyah- hanya memaknai kalimat laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada pencipta selain Allah’, atau ‘tidak ada pengatur alam semesta selain Allah’, atau ‘tidak ada pemberi rizki selain Allah’ di mana tafsiran tersebut hanya terbatas pada sifat rububiyyah Allah saja. Lalu apa kelebihan mereka dari orang-orang musyrik dahulu?! Renungkanlah hal ini!! =============================== apakah KAMU/aku … “menyembah ULAMA/ustadz/Imam/penguasa/umara ” ??? … menyembah ARBAB {tuhan-tuhan pengatur) ??? ————————–————————–——— “Mereka menjadikan orang-orang alim {=ULAMA/USTADZ/IMAM} dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31} ————————–————————–—- MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI = MEMPERTUHANKAN MEREKA,…. —————- apakah ini ucapan aliran sesat khawarij untuk menghasung pada anti ketaatan pd ulama atau berseberangan dengan umara?….kita harus hati-hati dengan faham dan hasungan dari aliran sesat khawarij dan sejenisnya,…tapi ini bukan dari mereka, ini adl terjemahan judul dari bab ( bab ke 38) yg ada di kitab tauhid Syaikh Muhammad bin abd wahhab,.. ——————– Dan yg menarik lagi untuk dipelajari adalah bahwa para ulama menyandarkan pd QS At taubah ayat 31 disertai hadits (hadits ady bin hatim) sebagai bagian dari penjelasannya untuk pendalil-an sekitar masalah “mempertuhankan/menyembah pada ulama/umara” coba perhatikan kesimpulan para ulama salaf terhadap at taubah 31 tsb dibawah ini Syaikh Muhammad Bin abdul wahhab KITABUT TAUHID BAB 38 “MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI MEMPERTUHANKAN MEREKA” Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31) Maka saya berkata kepada beliau : “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda : “Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya ?”, Aku menjawab : ya, maka beliau bersabda : “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan ) ————————– Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhabrahimahullah berkata setelah menuturkan hadits Addiy Ibnu Hatim, yaitu hadits hasan: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwa mentaati para ahli ilmu dan para rahib dalam maksiat kepada Allah adalah ibadah kepada mereka selain Allah dan tergolong syirik akbar yang tidak mungkin AllahSubhanahu Wa Ta’ala ampuni berdasarkan firman-Nya: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka (orang-orang Nasrani) telah menjadikan para ahli ilmu dan para rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan juga Al Masih Ibnu Maryam, padahal mereka itu tidak diperintahkan kecuali supaya mereka beribadah kepada ilah yang Esa, tidak ada ilah (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (At Taubah: 31) ————————— Dan ini dijelaskan lebih gamlang oleh firman-NyaSubhanahu Wa Ta’ala: وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.” (Al An’am: 121)” (Fathul Majid 367) ————————— apakah KAMU/aku … “menyembah ULAMA/ustadz/Imam/penguasa/umara ” ??? … menyembah ARBAB {tuhan-tuhan pengatur) ….. menyembah THAGHUT??? ————————–————————–——— “Mereka menjadikan orang-orang alim {=ULAMA/USTADZ/IMAM} dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31} ————————–————————–—- MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI = MEMPERTUHANKAN MEREKA,…. —————- apakah ini ucapan aliran sesat khawarij untuk menghasung pada anti ketaatan pd ulama atau berseberangan dengan umara?….kita harus hati-hati dengan faham dan hasungan dari aliran sesat khawarij dan sejenisnya,…tapi ini bukan dari mereka, ini adl terjemahan judul dari bab ( bab ke 38) yg ada di kitab tauhid Syaikh Muhammad bin abd wahhab,.. ——————– Dan yg menarik lagi untuk dipelajari adalah bahwa para ulama menyandarkan pd QS At taubah ayat 31 disertai hadits (hadits ady bin hatim) sebagai bagian dari penjelasannya untuk pendalil-an sekitar masalah “mempertuhankan/menyembah pada ulama/umara” coba perhatikan kesimpulan para ulama salaf terhadap at taubah 31 tsb dibawah ini Syaikh Muhammad Bin abdul wahhab KITABUT TAUHID BAB 38 “MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI MEMPERTUHANKAN MEREKA” Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah membaca firman Allah : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. At taubah, 31) Maka saya berkata kepada beliau : “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda : “Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya ?”, Aku menjawab : ya, maka beliau bersabda : “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan ) ————————– Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhabrahimahullah berkata setelah menuturkan hadits Addiy Ibnu Hatim, yaitu hadits hasan: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwa mentaati para ahli ilmu dan para rahib dalam maksiat kepada Allah adalah ibadah kepada mereka selain Allah dan tergolong syirik akbar yang tidak mungkin AllahSubhanahu Wa Ta’ala ampuni berdasarkan firman-Nya: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ “Mereka (orang-orang Nasrani) telah menjadikan para ahli ilmu dan para rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan juga Al Masih Ibnu Maryam, padahal mereka itu tidak diperintahkan kecuali supaya mereka beribadah kepada ilah yang Esa, tidak ada ilah (yang haq) kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (At Taubah: 31) ————————— Dan ini dijelaskan lebih gamlang oleh firman-NyaSubhanahu Wa Ta’ala: وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada wali-walinya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu mentaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.” (Al An’am: 121)” (Fathul Majid 367) ————————— << {diULANG lagi …. agar lebih PAHAM !!}

July 10, 2016 Edy Methek 2

MengUCAPkan Kalimat SYAHADAT = BUKAN Jaminan MASUK SURGA ————- KALIMAT […]