Loading
Tulisan | Islam dan Sains-Edy ...>> SURGA tidak semudah aku/kamu kira … menjadi seorang MUKMIN sangat berat, … ujian dari Allah juga makin berat jika IMAN bertambah !!... tidak ada UJIAN ISTIDRAJ BAGI MUKMIN !! ..wallahua’lam <<

SAINS membuktikan AL QUR’AN itu BENAR, QALBU atau JANTUNG itu yang MEMAHAMI {‘berPIKIR’} …. “The Brain in the Heart” ————————————– Para ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut “akal” yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami. —————- Firman-Nya: (أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ) [الحج: 46] “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” —— Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. Mahasuci Allah. ———————————– Kitab suci berasal dari Tuhan, oleh sebab itu selayaknyalah tidak ada satu kata, bahkan satu huruf pun yang ditempatkan di dalamnya dengan sia-sia dan tidak berarti. Allah melalui Al-Qur’an sebagai kitab suci, banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan akal mereka untuk berpikir, menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan juga di dalam diri manusia itu sendiri. Memahami dan berpikir, tidak hanya di perintahkan untuk dilakukan dengan akal atau otak, akan tetapi dengan hati. Karena perpaduan akal dan hati, bagi seorang manusia, akan menuntunnya kepada kebenaran. ————– Hal ini tertuang di dalam surah Al-Hajj (22) ayat 46 di bawah ini : *[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati {QALBU/jantung} yang di dalam dada.* ———————- Perhatikan surah Al-Hajj ayat 46 di atas. “/fatakuuna lahum qulubun ya’qiluuna biha/” yang diartikan “…lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…”, memiliki arti kata per kata “maka bagi mereka hati (/qulubun/) yang memahami (/ya’qiluuna/) dengannya”. ————- Dalam bahasa Arab, /qulubun/ berasal dari akar kata /qalb/ yang artinya hati atau jantung. Harap dibedakan antara hati disini dengan hati (/liver/) yang merupakan salah satu anatomi dalam sistem pencernaan. Sebagaimana halnya beberapa bahasa di dunia, seperti misalnya bahasa Inggris, yang mana /heart/ dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung, dalam bahasa Arab /qalb/ dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung. —————- Sedangkan /ya’qiluuna/ berasal dari akar kata /a’qal/ yang berarti berpikir atau memahami, dan dalam kaitannya dengan anatomi berarti otak. —————— Deangan demikian “/qulubun ya’qiluuna/” secara tersurat juga berarti “jantung untuk memahami/berpikir”. Hal ini dipertegas pada kelanjutan ayat tersebut di ayat yang sama, mengenai kemampuan jantung ini : “/fa-innahaa laa ta’maa l-abshaaru walaakin ta’ma l-qulubu allatii fiil-shuduuri/” — “karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah /qalbu/ yang ada di dalam dada (/l-qulubu allatii fiil-shuduuri/)”. Frasa ini menegaskan frasa sebelum-nya. ————— Dimanakah letak/qalb/ yang dimaksud ? /Qulubu allatii fii l-shuduuri/, qalbu tersebut terletak di dalam dada. /Qalb/ apakah yang ada di dalam dada ? ———– Secara anatomi, /qalbu/ yang berada di dalam dada adalah jantung. Al-Qur’an dalam hal ini mengatakan /qalb/ orang-orang yang kafir itu buta, sebagaimana di Allah mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki “/qalb/yang tidak dapat memahami”, di Q.S 6:25, 9:87, 63:3. —————— Pemilihan kata /a’qal/ yang disandingkan dengan /qalb/ disini patut digarisbawahi, karena “memahami” dalam bahasa arab, yang digunakan kurang lebih 19 kali dalam Al-Qur’an, adalah /faqaha/, bukan /a’qal/. /A’qal/ yang berarti “memahami” atau “berakal” sendiri digunakan lebih dari 40 kali dalam Al-Qur’an, akan tetapi kaitannya dengan memikirkan dengan otak, bukan dengan hati. ———————– Jika “memahami” dengan /qalb /menggunakan kata /faqaha/ (dan turunannya), sedangkan “memahami” dengan otak” Al-Qur’an menggunakan kata /a’qal/ (dan turunannya), maka di surah Al-Hajj ayat 46 secara khusus dikaitkan kemampuan /qalb/ dengan /a’qal/ — /qulubun ya’qiluun/, yang berbeda dari penggunaannya di ayat-ayat yang lain. —————– Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa jantung manusia (/qalb/) ternyata mampu bersifat seperti otak (/a’qal/), mampu belajar, mengingat, bahkan merasakan, sebagaimana yang tertuang dalam artikel “/Neurocardiology : The Brain in the Heart/” (http://www.heartmath.org/research/science-of-the-heart/introduction.html) : ——————- /After extensive research, one of the early pioneers in neurocardiology, Dr. J. Andrew Armour, introduced the concept of a functional “heart brain” in 1991. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophisticated to qualify as a “little brain” in its own right. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons, neurotransmitters, proteins and support cells like those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The recent book Neurocardiology, edited by Dr. Armour and Dr. Jeffrey Ardell, provides a comprehensive overview of the function of the heart’s intrinsic nervous system and the role of central and peripheral autonomic neurons in the regulation of cardiac function. ——————– Selanjutnya masih dalam artikel yang sama dijelaskan bagaimana pentingnya peranan dan konstribusi jantung dalam mengintegrasikan tubuh, pikiran, jiwa dan emosi seseorang : /In our internal environment many different organs and systems contribute to the patterns that ultimately determine our emotional experience. However, research has illuminated that the heart plays a particularly important role. The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body. As we saw earlier, it functions as sophisticated information encoding and processing center, and possesses a far more developed communication system with the brain than do most of the body’s major organs. With every beat, the heart not only pumps blood, but also transmits complex patterns of neurological, hormonal, pressure and electromagnetic information to the brain and through-out the body. As a critical nodal point in many of the body’s interacting systems, the heart is uniquely positioned as a powerful entry point into the communication network that connects body, mind, emotions and spirit. —————– Al-Qur’an pun menyatakan bahwa sistem otak di dalam jantung, pun berkomunikasi dengan otak manusia, sehingga bagi orang-orang yang kafir, maka Allah memfilter penyampaian sinyal-sinyal syaraf yang dikirim “otak dalam jantung” ke otak manusia, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Israa(17) ayat 46 : *[17:46] dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya … * —————— “/waja’alnaa ‘alaa quluubihim akinnatan an yafqahuuhu wa fii adzaanihim waqran/” — “dan Kami tempatkan di atas /qalb/ mereka penutup sehingga mereka tidak dapat memahaminya, dan sumbatan di telinga mereka”.————– Lihat bagaimana ketika membicarakan “filter” di telinga, Allah menggunakan kata /fii/ (di dalam), sedangkan ketika membicarakan /qalb/, Allahmenggunakan kata /a’laa/ (diatas). Hal ini dikarenakan /qalb/ (jantung) yang memiliki sistem otak sendiri, berkomunikasi dengan otak manusia, dimana otak manusia dalam hal ini berada di atas jantung, sehingga Allah mengatakan bahwa “filter” tersebut di letakkan “di atas” /qalb/, yaitu di antara /qalb/ dan otak manusia. —————————— Hal ini di jelaskan, masih di dalam artikel yang sama, sebagai berikut : “As their research evolved, they found that the heart seemed to have its own peculiar logic that frequently diverged from the direction of the autonomic nervous system. The heart appeared to be sending meaningful messages to the brain that it not only understood, but obeyed. ———— Dalam artikel yang lain mengenai kemampuan otak di dalam jantung ini pundi dijelaskan, bahwa jantung pun memiliki sytem syaraf yang dijuluki dengan “the brain in the heart” : ————— These scientists have found that the heart has its own independent nervous system – a complex system referred to as “the brain in the heart.” There are at least forty thousand neurons (nerve cells) in the heart – as many as are found in various subcortical centers of the brain. (http://www.therealessentials.com/followyourheart.html)/ ———————– Pam Montgomery dalam bukunya “/Plant Spirit Healing: A Guide to Working with Plant Consciousness/” menuliskan kaitan jantung dalam pengendalian emosi seseorang sebagai berikut : There are 40,000 nerve cells in the heart as well as neurotransmitters such as noradrenaline and dopamine (known emotional mediators), that the heart synthesizes and releases. “With every beat of the heart, a burst of neural activity is relayed to the brain,” Martin explains. “The heart senses hormonal, [heart] rate and pressure information, translates it into neurological impulses and processes this information. ————————- Bahkan, jantung manusia, sebagaimana otak manusia, pun memiliki kemampuan untuk mengingat. Dalam artikelhttp://www.lostartsofthemind.com/2006/11/can-your-heart-think-and-feel.html dinyatakan : Amazingly, Dr Andrew Armour, a neurologist from Montreal, Canada, discovered a small but complex network of neurons in the heart, which he has dubbed ‘the little brain in the heart’. These neurons seem to be capable of both short and long term memory. Why should the heart even have neurons and the ability to remember? Well, for one thing, there is a lot of muscle co-ordination that goes on in the heart in order to allow it to function properly.———– The fact that hearts can even be transplanted shows that there is a long-term memory stored in the heart for its rhythms. When a heart is removed, it is cooled and can stay alive for up to four hours. Once the heart is connected into its new recipient, as blood enters it, it begins to beat again. It is almost certainly the ‘little brain in the heart’ that is enabling the heart to remember how to beat. —————— Di lain artikel, Professor Mohammad Omar Salem dalam tulisannya “The heart, mind and spirit” (http://www.rcpsych.ac.uk/pdf/Heart,%20Mind%20and%20Spirit%20%20Mohamed%20Salem.pdf) pun membahas mengenai brain in the heart ini. Mengutip dari tulisan tersebut : After extensive research, Armour (Armour J A (1994), Neurocardiology: A natomical and Functional Principles, New York, NY, Oxford University Press: 3-19.)_ introduced the concept of functional ‘heart brain’_. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophistic ated to qualify as a ‘little brain’ in its own right_. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons, neurotransmitters, proteins and support cells similar to those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The heart’s nervous system contains around 40,000 neurons, called sensory neurites (Armour J A (1991), Anatomy and function of the intrathor acic neurons regulating the mammalian heart. In: Zucker I H and Gilmore J P, eds. Reflex Control of the Circulation. Boca Raton, FL, CRC Press: 1-37. ). Information from the heart – including feeling sensations – is sent to the brain through several afferents. These afferent nerve pathways enter the brain at the area of the medulla, and cascade up into the higher centres of the brain, where they may influence perception, decision making and other cognitive processes (Armour J. A. (2004), Cardiac neuronal hierarchy in health and disease, American 4 journal of physiology, regulatory, integrative and comparative physiology. Aug;287(2):R262-71.). / —————- Thus, it was revealed that the heart has its own intrinsic nervous system that operates and processes information independently of the brain or nervous system_. This is what allows a heart transplant to work. Normally, the heart communicates with the brain via nerve fibres running through the vagus nerve and the spinal column. In a heart transplant, these nerve connections do not reconnect for an extended period of time; in the meantime, the transplanted heart is able to function in its new host only through the capacity of its intact, intrinsic nervous system (Murphy D A, Thompson G W, et al (2000), The heart reinnervates after transplantation. Annals of Thor acic Surgery;69(6): 1769-1781. ) / ———————— Keterkaitan dengan emosi manusia, Al-Qur’an sangat menganjurkan keselarasan berpikir dengan akal dan berpikir dengan hati, mengisyaratkan keterhubungan yang erat antara /a’qal/ dan /qalb/ ini. Emosi dan tindakan manusia adalah hasil keselarasan antara keduanya, meskipun pusat emosi dan pengambilan tindakan tetap dipegang oleh otak atau /a’qal/ (klik disini untuk baca postingan “Struktur Otak Manusia. —————– Dalam Al-Qur’an” ). Oleh sebab itu juga, salah satu metode pendeteksi kebohongan yang banyak dilakukan adalah dengan metode polygraph, dalam kaitannya dengan mendeteksi qalb atau jantung, sebagaimana yang diulas dalam postingan “Metode Pendeteksi Kebohongan Menurut Al-Qur’an (klik disini untuk baca) “. ———————— Hal senada mengenai peranan /qalb/ dalam kaitannya dengan emosi manusia di ungkapkan di dalam artikel “http://www.today.com/id/11023208/ns/today-today_health/t/does-your-heart-sense-your-emotional-state/#.UjnU4X9TC50”: Psychologists once maintained that emotions were purely mental expressions generated by the brain alone. We now know that this is not true — emotions have as much to do with the heart and body as they do with the brain. Of the bodily organs, the heart plays a particularly important role in our emotional experience. The experience of an emotion results from the brain, heart and body acting in concert. ——————- Dan juga dikatakan www.sciencedaily.com dalam artikelnya “http://www.sciencedaily.com/releases/2013/04/130407211558.htm” menjelaskan bagaimana jantung, dalam fungsinya yang independen (sebagaimana di atas dikatakan sebagai “/little brain in the heart/”), berperan dalam mempengaruhi persepsi manusia dalam melihat sesuatu : “From previous research, we know that if we present images very fast then we have trouble detecting them, but if an image is particularly emotional then it can ‘pop’ out and be seen. In a second experiment, we exploited our cardiac effect on emotion to show that our conscious experience is affected by our heart. We demonstrated that fearful faces are better detected at systole (when they are perceived as more fearful), relative to diastole. Thus our hearts can also affect what we see and what we don’t see — and can guide whether we see fear. ———————- “Lastly, we have demonstrated that the degree to which our hearts can change the way we see and process fear is influenced by how anxious we are. The anxiety level of our individual subjects altered the extent their hearts could change the way they perceived emotional faces and also altered neural circuitry underlying heart modulation of emotion.” ———————- Sebelum Al-Qur’an di turunkan, pernyataan “/qalb/ (hati) yang memahami”,”bepikir dengan hati nurani”, “memahami dengan hati” mungkin sudah ada, akan tetapi sekali lagi, pemilihan kata selalu menjadi keajaiban Al-Qur’an, yang mampu mengubah suatu istilah yang pada masa diturunkannya mampu dipahami secara biasa, akan tetapi ternyata menyimpan makna yang mengungkapkan sesuatu yang baru akan diketahui berabad-abad kemudian, seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan. ———— Qulubun ya’qiluuna/ adalah salah satunya, /qalb/ (jantung) yang bersifat /a’qal/ (otak), jantung yang memiliki system otak yang mandiri, yang berkomunikasi dengan otak manusia, sebagaimana Allah melalui Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya keselarasan berpikir dengan /a’qal/ dan berpikir dengan /qalb/. Hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab yang menyatakan hal ini dengan pemilihan kata-nya yang sangat selektif. ———– *[41:53] Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? * ============ Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan …. heart-jantung-mtf-online.comPara ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut “akal” yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami. —– Firman-Nya: (أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ) [الحج: 46] “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” ——— Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. —— Mahasuci Allah. ———————————-

September 27, 2016 Edy Methek 1

SAINS membuktikan AL QUR’AN itu BENAR, QALBU atau  JANTUNG itu […]

menganggap ENTENG I’DAD adalah ciri orang MUNAFIK —— I’dad = perSIAPan Kekuatan Melawan Musuh untuk berPERANG HUKUMnya WAJIB bagi MUSLIM dan MUSLIMAT —————- “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214 ————— “Penopang-Penopang Jihad yang Bersifat Materi” ———————- A. Kelayakan Fisik الليا قة البدنية Ini biasa di dapat dengan: · Kekuatan otot (با لقوة العضلية) · Kecekatan dan kegesitan tubuh (والرشاقة الجسمية) · Kesigapan dan semangat (والنشاط والهمة) ———————- Mengingat kata “jihad” merupakan pecahan dari kata “mujahadah” (bersungguh-sungguh) dan “mukaabadah” (menahan sesuatu), lantaran keras dan beratnya beban, kesulitan, kesengsaraan, kepayahan, penderitaan, ketakutan dan bahaya yang ada di dalamnya… seperti membawa senjata dan perlengkapan, mengamankan amunisi dan logistic, berjalan jauh, berlari dan melompat; melakuakan operasi penyerangan, bertahan dari gempuran musuh, melakukan taktik hit and run dalam serangan; mengadakan latihan perang-perangan… dan aktivitas-aktivitas keras lainnya dalam suasana medan yang diwarnai dengan kepulan debu, kobaran api dan gumpalan asap; dalam bara api peperangan yang dahsyat yang berseliweran di sana-sini, pecahan bom dan roket; dan di antara gelimpangan mayat, serpihan daging dan genangan daerah… atau juga menderita kepayahan, kesulitan, sedikit tidur dan kekurangan makan. —————- Keadaan jihad yang sedemikian itu membutuhkan tubuh-tubuh yang lentur, gesit dan kuat; lengan dan otot yang sekeras baja, serta tekad dan semangat yang tinggi lagi kokoh seperti gunung, mampu mengemban segala bentuk tugas dilapangan, dan tidak pernah merasa letih ataupun jemu sampai akhir peperangan yang bisa singkat maupun lama, yang kadang menidingin dan kadang memanas pula. —————— Jika demikian halnya, maka haruslah dipilih fisik-fisik yang tepat dan pantas untuk jihad, kemudian dilatih secara kontinyu dan teratur agar menjadi kuat dan bermental baja, gesit dan cekatan, serta mampu hidup dalam kondisi kasar dan keras…. Dan supaya mereka berlatih menghadapi kesulitan dan membiasakan diri terhadap kondisi yang tidak menyenangkan sehingga nantinya tidak shock (terkejut) bila menghadapi hal-hal yang di luar perhitungan, lalu menjadi lamban dan berat serta kembali dengan membawa kegagalan dan kerugian. ————————- Ketika Bani Isra’il meminta Nabi mereka untuk mengangkat seorang raja bagi mereka supaya merka bisa berperang di jalan Alloh swt di bawah pimpinannya, maka kemudian Alloh swt mengangkat Tholut sebagai raja dan panglima perang mereka; dan Alloh swrt mensifati Tholut sebagai seorang yang luas ilmunya dan kuat (perkasa) tubuhnya. Alloh berfirman: ———— “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Tholut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Tholut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak ?!’. Nabi (mereka) berkata , ‘Sesungguhnya Alloh telah memilih rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakin-Nya dan Alloh maha Luas pemberiaan-Nya lagi Maha Mengetahui.’.” (QS. Al Baqarah; 247). ——————– Ketika putri Nabi Syu’aib as memohon kepada bapaknya untuk menjadikan Musa sebagai pekerjanya, ia mensifatinya sebagai orang yang kuat lagi dapat dipercaya… dan sebaik-baik orang yang diupah sebagai pekerja adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan kuat tubuh mereka.—————- Alloh saw berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al Qashosh: 26).——————– Alloh saw berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal: 60).——————– Rosululloh saw bersabda: المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن “Seseorang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).———— B. Keahlian Perang (الخبرة القتالية)——- Yakni mengetahui: · Taktik-taktik perang (بأساليب القتال) · Macam-macam senjata (وأنواع السلاح) · Cara-cara penyediaan dan pengiriman bantuan(وطرق الإعداد والإمداد وغيرها) ——————- Sudah dimaklumi bahwa pedagang dan perniagaannya, perajin dengan karya tangannya, pegawai dengan tugasnya, petani dengan pertaniannya dan setiap pekerja dengan pekerjaannya membutuhkan keahlian terhadap bidang kerja yang dia geluti. Jika tidak berbekal keahlian maka akan berakhir dengan kegagalan. Sejauh mana tingkat keahlian, kecakapan dan kemahiran yang dimilikinya maka sejauh itu pula keberhasilan yang dapat diwujudkannya. ————– Perang itu akan menentukan hidup dan mati, mulia atau hina, haq atau batil yang akan berkuasa. Dan perang juga akan membuat persaingan dalam hal kemampuan, kecakapan, kekuatan dan keahlian. Telah berkembang teknik-teknik, cara-cara serta siasat perang dan telah masuk ke dalam bagiannya berbagai cabang ilmui pengetahuan, dan telah dipergunakan di dalamnya berbagai jenis industry senjata dan ciptaan-ciptaan baru (dalam bidang persenjataan); dan telah ditundukkan di dalamnya hampir seluruh kekuatan dan kemampuan. Sehingga jadilah dia sebagai suatu kegiatan yang saling berjalinan, saling terkait dan terkoordinasi dengan rapi. Jika demikian, dalam peprangan dibutuhkan suatu pengalaman dan keahlian khusus dalam hal strategi perang dan taktik-taktik tempur, baik taktik perang ofensif dan defensive, gerilya atau perang kota, operasi-operasi perang darat, perang laut, perang opini / propaganda / urat syaraf, atau perang politik ekonomi, pemikiran dan yang lainnya.—————- Juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap jenis-jenis senjata, cara mengoperasikannya, memperbaiki dan merawatnya. Dan dalam perang juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap cara-cara dan sasaran-sasaran penyediaan dan pengirimanan bantuan yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pasukan yang berperang. Sebagai tambahan, sekarang ini Dinas Keamanan dan staf-staf ahli yang bekerja di dalamnya dengan peralatan-peralatan canggih dan alat-alat komunikasi, spionase dan mata-mata yang mereka miliki mempunyai peran yang sangat efektif dalam menentukan keberhasilan suatu operasi militer dan mewujudkan kemenangan di dalamnya.——————- Semua itu dituntut dan sangat perlu dipersiapkan dan disediakan. Karena pentingnya sisi persoalan ini, maka didirikanlah akademi-akademi militer, pendidikan-pendidikan khusus dan diklat-diklat militer di sebagian besar Negara-negara di dunia. —————— Maka dari itu sudah seyogyanya bagi umat islam untuk mempersiapkan seluruh kekuatan yang mereka miliki dan seluruh kemampuan yang mereka sanggupi supaya mereka punya kesiapan dan sudah siap ketika ada seruan yang memerintahkkan mereka untuk berperang.——————- Alloh swt berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakanb langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram.; itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya dirirmu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya danketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).———- Rosululloh bersabda: من علم الرمي ثم تركه فليس منا “Barangsiapa yang telah diajari melempar, kemudian meninggalkannya maka ia bukan golongan kami. (HR. Muslim).————— Rosululloh bersabda; من تعلم الرمي ثم تركه فقد عصانى “Barangsiapa yang belajar melempar (panah atau yang sejenisnya) kemudian dia meninggalkannya, maka sesungguhnya ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Ibnu Majah).—————– Dari Salman bin Akwa, dia berkata, Nabi pernah melewati sebuah kaum yang sedang memanah, lalu beliau berkata dengan lantang, “Melemparlah kalian wahai anak-anak Ismail, karena sesungguhnya Bapak kalian adalah seorang pemanah. Saya akan bersama Bani Fulan.” Tetapi kemudian salah satu kelompok itu tidak ikut memanah. Rosuluulloh bertanya, ‘Kenapa kalian tidak ikut memanah?’Bagaimana kami (berani) melempar jika tuan bersama mereka?!’ jawab mereka. Lalu beliau berkata, “melemparlah kalian, saya bersama kalian semua.” (HR. Bukhori).——————– Rosululloh bersabda: “Melemparlah dan menunggang (kuda)lah, tetapi aku lebih suka kalian melempar daripada menunggang. Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah batil (sia-sia/tidak berguna), kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya atau seseorang yang melatih kudanya atau seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya. Sesungguhnya ketiga hal itu termasuk perkara yang haq. Dan barangsiapa meninggalkan melempar setelah belajar, maka sesungguhnya ia telah mengkufuri (nikmat) sesuatu yang telah diajarkan kepadanya.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Al Baihaqi. Nabi saw sering bermusyawarah dengan para sahabatnya, khususnya mereka yang memiliki keahlian dan pengalaman, ketika beliau hendak memerangi musuh dan yang lain, maka beliau sendiri pandai dalam persoalan tersebut meski beliau mendapat wahyu.————- C. Strategi Perang (التخطيط القتالي)—————- Yakni dengan membuat langkah-langkah sebagai berikut. · Spesifikasi target (بتحديد الهدف). · Taktik yang matang (وإحكام الخطة). · Pelaksanaan yang tuntas (ودقةالتنفيذ). —————— Yang dimaksud dengan “strategi perang” adalah suatu planning (rencana) operasi yang lengkap, representative dan jelas dari medan peperangan, lebar dan panjang areanya; dapat diiliustrasikan dengan jelas melalui sketsa tersebut, posisi-posisi lawan serta lokasi-lokasi pertahanannya, peralatan pendukung, pasukan, senjata, logistic dan sebagainya.————— Sebagaimana dijelaskan pula di dalamnya tahap-tahap perang, taktik-taktik, kemungkinan-kemungkinannya, solusi serta antisipasi terhadap setiap terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang ada.————— Dengan cara tersebut akan meminimalkan penyimpangan dan hal-hal mendadak yang terjadi di luar perhitungan dan bias dihindari dengan melakukan antisipasi secara cepat dan dadakan. Kecuali pada momen keadaan atau kondisi tertentu yang mana komandan pasukan, melalui kejelian pandangan serta kecerdikannya, merasa perlu melakukan perubahan strategi lain yang lebih tepat, dan mengganti taktik kepada taktik yang lain yang lebih pas untuk keuntungan pasukan dalam pertempuran.————– Dalam penyusunan strategi ini perluu sekali melibatkan seluruh pakar dan ahli (militer yang kompeten) dengan tetap menjaga kerahasiaannya, agar jangan sampai ada informasi apapun yang bocor kepihak lawan, yang mana kebocoran tersebut bias mengakibatkan kegagalan dan kekalahan bahkan kehancuran. Adalah Rosululloh saw biasa merancang strategi bagi setiap peperangan yang diterjuninya.———– Dalam perang Uhud, beliau saw menerangkan medan pertempuran dan menentukan lokasi-lokasi bagi pasukan pemanah dan pasukan tempur. Serta membagi-bagi tugas, memberikan pesan-pesan peringatan agar supaya tidak terjadi kegagalan strategi dan menderita kerugian. Al Qur’an telah menjelaskan hal tersebut melalui ayat:——– “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Al Imron: 121-122).——————— Dalam peperangan Khoibar, adalah orang Yahudi telah bersekutu dengan Bani Ghatafan untuk membantu melawan kaum Muslimin, apabila kaum Muslimin menyerang mereka di negeri mereka, Khaibar. Nabi saw diberitahu persekutuan tersebut. Maka beliau saw menggerakkan pasukan ke perkampungan Bani Ghatafan. Hal ini untuk memberikan kesan seolah-olah ia bermaksud untuk menyerang mereka. Kemudian, beliau berbalik menuju Khaibar, setelah mengirim sekelompok pasukan dari para sahabatnya untuk menyerbu perkampungan Bani Ghatafan, yang sudah tidak mempunyai kekuatan dan penjagaan karena orang-orangnya pergi ke Khaibar membantu orang-orang Yahudi melawan kaum Muslimin. Berita penyerbuan yang dilakukan kaum Muslimin menimbulkan ketakutan di kalangan Bani Ghatafan. Dan maneuver tersebut memaksa menarik kekuatan yang berada di Khaibar dan membawanya balik ke negeri mrereka., untuk mempertahankan dan menjaga negeri mereka dari ancaman dan serbuan kaum Muslimin.——————– Demikianlah strategi dan siasat berhasil dalam mengelabuhi Yahudi Khaibar dan sekutunya Bani Ghatafan. Selanjutnya pasukan Islam meneyerbu mereka dan akhirnya berhasil menaklukan Khaibar.——————— Dalam perang Adzab, Nabi saw diberi saran untuk menggali parit pada arah satu-satunya yang memungkinkan musuh ke kota Madinah –oleh karena, kota Madinah terlindung kuat secara alami, dengan perbukitan di sisi timur dan baratnya, sedangkan di sisi selatan dengan kebun-kebunnya-, Beliau saw menerima saran tersebut, lalu memerintahkan kaum Muslimin menggali parit. Parit tersebut memaksa pasukan musuh menghentikan gerak majunya dan membuat perkemahan di belakangnya. Musuh tidak mampu melewatinya sampai akhirnya pasukan musuh menjadi kacau balau dan terpaksa harus mundur. Dan Alloh menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan.—————— Nu’aim bin Mas’ud ra mempunyai peranan besar dalam merusak persekutuan antara Yahudi Madinah dengan pasukan Ahzab. Yang demikian itu adalah berkat siasatnya yang jitu. Alloh berfirman mengisahkan kejadian dalam perang ini.———— “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan [1209]. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 25-27).———– Dari Ka’ab bin Malik ra, dia berkata “Adalah Nabi apabila bermaksud melakukan peperangan, maka beliau menyamarkan tujuan kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud). Dari Ka’ab bin Malik ra, dia juga berkata “ Belum pernah Rosululloh saw bermaksud melakukan Sahr, melainkan pasti beliau menyamarkan kepada tujuan yang lain.” (HR. Al Bukhri dan Muslim).—————— Rosululloh saw bersabda, الحرب خدعة “Peperangan adalah tipu daya.” (HR.Muslim).————— Rosululloh saw bersabda, “Setiap kebohongan akan dicatat (sebagai dosa) atas anak Adam, kecuali dalam tiga hal: 1) seorang dalam berbohong ketika berperang, karena perang adalah tipu daya. 2) seseorang yang berbohong kepada isterinya untuk menyenangkannya. 3) seseorang yang berbohong kepada dua orang yang bersengketa untuk mendamaikan mereka. (HR. At Thabrani dan Ibn Sina).——————— Dan diriwayatkan, “Amru bin Abdul Wadd Al Amiri melakukan perang tanding dengan Ali ra. Ketika keduanya telah berhadap-hadapan. Ali berujar, ‘Aku berperang tanding bukan untuk menghadapi dua orang’. Mendengar ucapan Ali ra, Amru menoleh ke samping. Dengan segera Ali melompat ke depan dan menghantam Amru dengan pedangnya. Maka berteriaklah Amru, ‘Engkau telah menipuku’. Ali menjawab dengan tenang, ‘perang adalah tipu daya’.”——————- Kaum Muslimingenerasi awal sangat mahir dan lihai dalam menentukkan target-target operasi militer mereka, mematangkan taktik –taktik peperangan mereka dan membagi-bagi kesatuan dan formasi tempur mereka, sehingga dapat mengungguli seluruh pasukan Persia dan pasukan Romawi yang merupakan dua kekuatan paling kuat pada zamannya, baik dalam soal kesepian, keteraturan dan persenjataan.————- ——- D. Persenjataan Perang (التسليح القتالي)———- Yang terdiri dari: · Persenjataan darat (بالتسليح البري). · Persenjataan laut (والتسليح البحري). · Persenjataan udara (والتسليح الجوي). ———————– Senjata adalah alat perang dan bekal yang harus dibawa seorang prajurit dalam perang. Tanpa senjata, tidak akan ada dan tidak akan terjadi peperangan. Pasukan yang tak bersenjata adalah seperti kawanan domba, dan umat yang tak bersenjata tidak akan bisa bertahan hidup (di muka bumi), kalaupun masih bertahan hidup, maka sudah pasti mereka lemah dan hina seperti domba betina yang tak bertanduk. Persejataan modern telah berkembang sedemikian pesat dan menjadi bermacam-macam dengan kekuatan yang sangat hebat dan menakutkan dan mengancam kehancuran dunia.—————— Perlombaan dalam pengembangan dan penemuan senjata-senjata perang akan terus berjalan terus dan menyedot anggaran dana yang paling besar. Seandainya perang dunia ketiga pecah dan senjata-senjata tersebut digunakan, pastilah ia akan menghancurkan dunia, melenyapkan peradabannya dan merubahnya menjadi puing-puing dan reruntuhan.——————— Oleh karenanya, sisi ini perlu diperhitungkan dan diberikan porsi perhatian yang sangat besar dan untuk menghadapi perang perlu dipersiapkan berbagai jenis senjata terbaru, terbagus dan kuat agar jangan sampai umat Islam menjadi mangsa empuk bagi senjata-senjata lawan. Sebab tidak logis dan tidak bisa diterima, menghadapi besi dan kayu atau menghadapi peluru dengan panah; atau menghadapi bom dengan batu.————- Untuk keberhasilan suatu perang, maka seharusnyalah memakai persenjataan dan mendekati kemampuan senjata lawan, meski tidak harus mengimbanginya. Inilah minimal yang memungkinkan perang berjalan terus. Jika tidak, maka perang tersebut adalah perang bunuh diri, yang pada ghalibnya berkesudahan dengan kekalahan dan kebinasaan.—————– Menyiapkan kekuatan senjata, masuk dalam makna firman Alloh swt “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60).———————- Dalam Tafsir Al Qurtubi diterangkan makna firman Alloh swt:———- Suatu perintah dari Alloh kepada orang-orang beriman agar mereka menyiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sesungguhnya Alloh jika mau, maka bisa saja Dia mengalahkan mereka dengan kalam (ucapan) dan menaburi wajah mereka dengan segenggam debu, seperti yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw, akan tetapi Alloh hendak menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ilmuNya yang mendahului segala sesuatu dan ketetapanNya yang pasti berjalan. Segala kebaikan yang kamu siapkan untuk musuhmu, maka iamasuk dalam bekal persiapanmu.———- Ibn Abbas ramengatakan bahwa kekuatan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah senjata dan kekerasan.———— Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh saw berkata di atas mimbar, setelah membaca ———— —————– Lalu berkata, “Ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.”——- Ini adalah nash hadits yang diriwayatkan dari Uqbah Abu AliTsumamah bin Syafi Al Hamdzani. Sedangkan Muslim tidak mempunyai periwayatan hadits yang shohih tentang persoalan ini selain daripadanya.———— ———— Dan hadits lain dalam masalah “melempar”, juga dari ‘Uqbah. Dia berkata, ‘Aku mendengar Rosululloh bersabda,——- “Kelak akan ditaklukan untuk kalian negeri-negeri dan Alloh mencukupkan atas kalian, maka janganlah seseorang di antara kalian merasa malas untuk mempermainkan panahnya.” (HR. Muslim). Rosululloh saw bersabda:– “Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil (sia-sia/tidak berguna) kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq.”———– Mempersiapkan bekal untuk perang memperkuat kaum Muslimin serta menggetarkan musuh-musuh Alloh. Yang terakhir ini adalah musuh-musuh yang tidak kelihatan yang dimaksudkan dalam firman Alloh swt———— “… dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60) {Tafsir Ath Thabrani}.———– Memberikan bekal persiapan seseorang untuk berperang di jalan Alloh serta berinfak di dalamnya adalah seperti berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang memberikan bekal persiapan / perlengkapan adalah seperti orang yang berperang. Rosululloh saw bersabda, من جهز غازيا حتى يستقل كان له مثل أجره حتى يموت أو يرجع “Siapa yangmempersiapkan perlengkapan orang yang akan berperang sampai ia bisa berangkat, maka orang tersebut akan memperoleh pahala sepertinya, sampai yang berperang mati atau kembali.” (HR. Ibn Majah).——————– Rosululloh saw bersabda, “Sesungguhnya Alloh akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah lantaran satu panah; pembuatnya yang memiliki niat kebaikan dalam membuatnya, orang yang membantu menyodorkan anak panahnya kepada orang yang membidikkannya damn orang yang membidikkannya. Melemparlah dan menungganglahkalian, tetapi aku lebih suka melempar daripada menunggang. Dan segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil, kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan isterinya. Sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq. Dan siapa saja yang telah diajari Alloh melempar kemudian ia meninggalkannya karena telah tidak menyukainya lagi, maka sesungguhnya itu adalah nikmat yang ia kufuri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’I dan Ibn Majah). Alloh berfirman:———————- “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. At Taubah: 41).———————– Perkembangan persenjataan perang merupakan reaksi positif dan kelanjutan dari apa yang telah dimiliki kaum Muslimin dahulu.————– Pada zaman Nabi saw, kaum Muslimin telah menggunakan senjata Manjanik, pelempar batu (lebih kecil dari Manjanik) dan kendaraan pendobrakuntuk mengepung serta mendobrak benteng-benteng dan gerbang-gerbang pertahanan lawan. Rosul saw pernah mengutus beberapa orang sahabat ke daerah Jarasy –di Negara Syam- untuk mempelajari pembuatan senjata. Kemudian kaum muslimin membuatnya sendiri dan Rosul saw memeprgunakannya dalam pengepungan kota Thoif serta negeri Khaibar. Jumlah pasukan berkuda berkembang secara kontinyu. Pada perang Badr, jumlah prajurit dalam pasukan Rosul ada 12 orang saja dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 314 orang. Sementara perkembangan jumlah prajurit berkuda pada perang Tabuk mencapai 12.000 orang dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 30.000 orang. — Kemudian pada periode selanjutnya persenjataan laut mulai dikembangkan oleh Kaum Muslimin. Mereka membuat rumah-rumah galangan untuk membuat kapal, yang diarsiteki oleh pakar-pakar yang mereka miliki. Di samping itu, telah dibuka pula akademi-akademi perang untuk melatih taktik-taktik perang di laut.———— Berkembanglah persenjataan laut yang dimiliki kaum Muslimin. Sehingga mereka menjadi armada laut yang terkuat di zamannya. Bahkan berhasil mengungguli armada laut bangsa Romawi, yang sebelumnya merupakan aramada laut paling kuat dan paling tangguh pada zamannya. Armada-armada laut ini (menurut penuturan Ibn Kaldun) melarikan diri ketika menghadapi armada laut Islam yang mengaum di hadapan mereka seperti auman singa yang melihat mangsanya.——————- Pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra, bangsa Romawi keluar dari Negara mereka untuk memerangi kaum Muslimin dengan armada laut mereka yang berkekuatan 500 buah kapal prang di bawah pimpinan Konstantin putra Heraklius, Raja Romawi. Armada mereka bergerak menuju negeri Maghrib (sekarang adalah wilayah Negara Maroko dan sekitarnya). Kemudian kaum Muslimin menyongsong kedatangan mereka dengan armada laut mereka yang berkekuatan 200 kapal perang di bawah pimpinan Abdulloh bin Sa’ad bin Abu As Sarh.——————— Maka bertemulah kedua pasukan itu dalam pertempuran yang sangat sengit, yang terkenal dengan sebutan “Mauqi’ah Dzatus Shawar” (lantaran banyaknya kapal-kapal perang yang dikerahkan dalam peperangan tersebut). Dalam peperangan tersebut, panglima pasukan Romawi, Constantin terluka parah, yang mengakibatkan kekalahan di pihak pasukannya. Maka kemudian mundurlah dia dengan tentaranya yang tersisa, meninggalkan medan pertempuran. Sehingga kemenangan diraih oleh kaum Muslimin. Dengan kemenangan ini, maka jadilah perairan Laut Tengah sebagai perairan islam yang di kuasai kaum Muslimin, yang mana kapal-kapal mereka bisa berlayar ke mana saja dengan bebas dan aman.———- —————- betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan dalam diri: —— ———————- Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya. ——————- I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————– ———— Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————- Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———– Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———– إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———- Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.——— Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———– Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———– Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————- Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.—— bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46) ——— Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan. * * *———- Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ——— Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad. * * *——- Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——- Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan? ————– Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ——— Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!——— Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———- Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————– وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————– Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.———— Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ———— Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا “Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)———— Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri. ————- Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”——— Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——– Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——- Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———- Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——— Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——- Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—– Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ “Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)———— ———————– I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ——–

September 24, 2016 Edy Methek 2

menganggap ENTENG I’DAD adalah ciri orang MUNAFIK —— I’dad = […]

Mengapa ISLAM ingin kita percaya dan mengAMALkan pada qadar / TAKDIR BAIK dan BURUK ? ———————- Percaya pada takdir adalah salah satu enam rukun iman ( iman ) dan wajib bagi setiap Muslim untuk percaya pada qadar ( takdir ) . Dengan demikian , orang yang mengingkari ” qadar ” telah keluar dari Islam dan iman . Lalu , apa hikmahnya dalam Islam menempatkan iman pada qadar di tempat yang sedemikian penting ? ———————– Umar Ibn Al – Khattab ( ra ) meriwayatkan : ” Suatu hari ketika kami berada bersama Rasulullah ( saw ) , seorang pria dengan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam menghampiri kami . Tidak ada tanda-tanda pada dirinya yang menunjukkan bahwa dia telah melakukan perjalanan, dan tak satu pun dari kami mengenalinya . Saat dia duduk di samping Nabi ( SAW ) , menyandarkan lututnya terhadap lutut nabi dan meletakkan tangannya di atas barang miliknya, …———- Dia berkata: ” Sekarang ceritakan padaku tentang Iman . ” Dia menjawab : ” Iman artinya kamu harus percaya kepada Allah ( swt ) , malaikat-malaikat-Nya , kitab-kitab-Nya , rasul-rasul -Nya , dan hari kemudian , dan kamu harus beriman pada takdir baik dan buruk. ” …———– Orang itu kemudian pergi , dan setelah saya telah menunggu beberapa lama , [ Nabi ] berkata kepadaku : ” Apakah kamu tahu siapa penanya itu , Umar ? ” Saya menjawab : Allah dan Rasul -Nya lebih tahu ” Dia berkata: ” Dia adalah Jibril yang datang kepadamu untuk mengajarkan agamamu. ” ( HR Bukhari ) ——————– Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————– “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———- “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]——— Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————- —-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——– Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.—— Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———– Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————- Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————– Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]———— Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——- Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——- ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————- Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz——— Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]—————— Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.——— Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——– “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———- Allah Maha Berkehendak——————– Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———- ”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———– Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————- Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]————— Mendekat Kepada Allah————- Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.———— Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————- Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]——— Berserah diri Kepada Allah——————- Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———– Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——- “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]——— Menerima Ketetapan/Takdir Allah————– Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————- Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——– Jangan Putus Asa!————— Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——– Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————– Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————- Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]———— Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]——— Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.———— Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————- Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—– ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,— (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———- ”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———– Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——– sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———– ”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————- Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita——— Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——– ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———- ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]——— “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——- ———Berusaha Mencari Karunia Allah——- Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.———— ”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——- Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————– ========= Allah Maha Tahu =========== Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan———— Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)————— Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:— Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)—————— Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————– Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—- ====================

September 17, 2016 Edy Methek 1

Mengapa ISLAM ingin kita percaya dan mengAMALkan  pada qadar / […]

misteri NABI ISA …. dari LAHIR sampai kembali TURUN di akhir Zaman ——————————- Turunnya Nabi Isa ‘alaihis salaam menjadi salah satu tanda besar makin dekatnya Kiamat. Ada sekitar 33 hadits Shahih bahkan sebagian dari ahli hadits mengatakan jumlahnya sekitar 90 hadits tentang kedatangan Nabi Isa pada akhir zaman. Dalam sebuah hadits:—— “Isa ibn Maryam akan turun di ‘Menara Putih’ (Al-Mannaratul Baidha’) di Damsyik (Damaskus) bagian timur,” (HR. Thabrani dari Aus bin Aus)——— Dalam hadits lain disebutkan “Ia mengenakan 2 potong baju yang di celup ja’faran dan waros dan meletakan kedua telapak tangan diatas sayap-sayap 2 malaikat. Jika dia menundukan kepalanya maka akan menetes jika dia mengangkatnya turunlah air seperti mutiara. Maka tiada seorang kafir pun yang akan mencium aroma nafasnya kecuali dia mati dan nafasnya tercium dari jarak sejauh pandangannya.”——————– Saat turun Nabi Isa ikut mendirikan shalat bersama Imam Mahdi. Imam Mahdi kemudian berkata “Majulah wahai Rahullah jadilah imam.” Nabi Isa menjawab, “Tidak diantara kalian ada pemimpin yang telah dimuliakan oleh Allah dalam umat ini.” Nabi Isa turun kebumi tidak membawa syariat baru tapi melanjutkan syariat Nabi Muhammad untuk menegakan agama tauhid dan meluruskan kaumnya yang menyembahnya sebagai Tuhan.——— Nabi Isa bersama pasukan Al-Mahdi berhasil menaklukan Roma kemudian membunuh babi dan memecah salib. Sejak itulah umat Nasrani berbondong-bondong memeluk agama Islam kecuali kaum Yahudi. Pasukan Islam di dalam kepemimpinan Al-Mahdi dan Nabi Isa kemudian memerangi bangsa Yahudi. Inilah tanda-tanda kiamat yang paling besar sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan Yahudi. Maka kaum Muslimin membunuh mereka sampai Yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan Dan berkatalah batu dan pohon. Wahai muslim wahai hamba Allah ini Yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia kecuali pohon Gorqhod karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR. Muslim) ————- Bangsa Yahudi dipimpin Dajjal akan melakukan perlawanan. Inilah perang terbesar pada akhir Zaman. Dajjal bersama pasukan Yahudi akhirnya berhasil dikalahkan. Dalam sebuah riwayat, saat Dajjal melarikan diri dihadang oleh Nabi Isa ‘alaihis salaam, badannya mendadak meleleh seperti lilin terkena api. Maka musnahlah Dajjal yang hidup di muka bumi lebih dari 4000 tahun. Setelah itu bumi akan diliputi keamanan dan kedamaian. Nabi Isa akan hidup di bumi selama 24 tahun menegakan keadilan dan kedamaian. Dalam hadits lain disebut selama 40 tahun. Nabi Isa kemudian wafat dan dimakamkan disamping makam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saat ini makam untuk Nabi Isa yang berada di mesjid Nabawi sudah disiapkan untuk menyambut nabiyullah ini. —————– Dan merupakan bentuk keimanan kepadanya adalah beriman dengan para nabi dan rasul yang telah Ia utus ke dunia ini. Kita diperintahkan untuk meyakini mereka sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. —— Sepanjang sejarah manusia, telah banyak para nabi dan rasul yang Allah utus ke dunia ini yang bertugas menyampaikan dan mengajarkan agama-Nya serta mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Salah satu di antara mereka adalah Nabi Isa ‘alaihissalaam.——- Siapa itu Nabi Isa——— Beliau adalah seorang lelaki yang lahir dari perut seorang wanita perawan nan suci bernama Maryam. Ibunya merupakan anak perempuan dari seorang lelaki pilihan Allah bernama ‘Imran dari keturunan Bani Israil (anak-anak Nabi Ya’kub alaihissalam). Keluarga Imran ini merupakan salah satu keluarga yang dipilih Allah untuk mendapatkan keistimewaan dari-Nya berupa nikmat kenabian.——— Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Sebagiannya merupakan keturunan dari yang lainnya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Ali ‘Imran: 33-34)———– Bagaimana Kelahiran Beliau?———– Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan tanpa proses pernikahan ibunya Maryam dengan seorang lelaki. Artinya, beliau lahir tanpa ayah. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang mustahil bagi Allah ‘Azza wa Jalla.——– Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Ali ‘Imron: 59)———— Ketika Maryam bertanya dengan penuh rasa heran saat mendapat kabar gembira berupa seorang putra yang akan lahir dari perutnya tanpa ‘sentuhan’ seorang lelaki, Allah menjelaskan dan menegaskan kepadanya serta kepada kita semua,——– كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ “Demikianlah Allah, yang menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Ia sudah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Ia hanya cukup mengatakan kepadanya, “jadilah kamu”, lalu jadilah ia.” (Ali’Imran: 47)———- Proses penciptaan beliau adalah dengan ditiupkannya roh ke dalam rahim ibunya, Maryam. Kemudian Allah katakan kepadanya, “kun” (jadilah), sebagaimana yang Allah sebutkan pada ayat sebelumnya. Maka, seketika itu Maryam hamil sebagaimana wanita pada umumnya dan kemudian melahirkan Nabi Isa sebagai seorang anak manusia.————— Sungguh, penciptaan ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Alquran,- وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya sebagai tanda (kekuasaan kami), dan Kami lindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Al-Mu’minun: 50)———- Ayat-ayat yang menerangkan tentang proses kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam di atas merupakan bantahan tehadap tuduhan orang-orang Yahudi, yang menganggap Maryam ‘alaihassalam telah berzina. Padahal, Allah telah menegaskan tentang kesucian wanita ini dari perbuatan keji itu.—– Allah Ta’ala berfirman, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ “Dan (ingatlah) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kemaluannya (dari perbuatan keji). Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia itu termasuk orang-orang yang taat.” (At-Tahriim: 12)—- وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan juga mengistimewakan kamu atas segala wanita di seluruh dunia.” (Ali ‘Imran: 42)———– Mukjizat Yang Diberikan kepada Beliau Ketika Bayi—————– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ “Dan dia (Isa) berbicara kepada manusia dalam buaian (ketika ia bayi) dan juga ketika sudah dewasa. Dan dia itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Ali-‘Imran: 46)————- Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا تَكَلَّمَ مَوْلُود فِي صِغَرِهِ إلا عِيسَى وصَاحِبَ جُرَيْج “Tidak ada seorang anak yang berbicara ketika kecilnya kecuali Isa dan sahabat Juraij.”1—— Dalam riwayat lain disebutkan, لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى “tidak ada seorangpun yang berbicara sewaktu kecilnya kecuali tiga orang: (satu di antara mereka adalah) Isa …….” (HR. Bukhari dan Muslim)—————- Ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 46, Ibnu Katsir mengatakan, “Ia (Isa bin Maryam) mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa kesyirikan pada saat ia masih kecil sebagai mukjizat dan tanda (kenabian), serta saat beliau sudah dewasa ketika Allah wahyukan kepadanya untuk melaksanakan urusan itu (dakwah).”2——— Kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam Dalam Islam———- Di dalam Alquran, Allah telah menjelaskan kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam yang sesungguhnya, bahwa beliau adalah salah satu hamba terbaik pilihan Allah dan juga utusan-Nya yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi-Nya. Bukan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Yahudi yang mengatakan beliau adalah anak zina. Bukan pula orang-orang Nasrani bahwa beliau adalah Allah atau anak Allah.———– Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membantah keyakinan buruk mereka ini dalam firman-Nya, إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Az-Zukhruf: 59)—— إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ “Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang Ia kirimkan kepada Maryam, dan juga roh dari-Nya.” (An-Nisaa’: 171)———- Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan bahwa maksud dari Isa adalah kalimat Allah yaitu Allah menciptakan beliau dengan kalimat-Nya, “كن”. Sedangkan maksud dari Roh ialah Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu dari sekian banyak roh yang telah Allah ciptakan.3 Dan beliau bukanlah roh kudus, karena roh kudus itu ialah Jibril ‘alaihissalam sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir dari kalangan sahabat dan yang setelah mereka.4——- Dari ayat ini, kita dapati betapa mulia dan agungnya kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga Allah sebutkan beliau sebagai kalimat dan juga roh-Nya. Dan idhafah (penyandaran) pada ayat ini merupakan bentuk penghormatan kepada beliau.——- Dakwah Nabi Isa ‘alaihissalam—————- Dakwah beliau tidak berbeda dengan dakwahnya para Nabi dan Rasul yang lain, yaitu mengajak manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya saja, Nabi Isa ‘alaihissalam diutus khusus kepada Bani Israil. Berbeda dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diutus kepada semua makhluk, dari kalangan jin dan manusia.—– وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ “Dan (Allah jadikan Isa) sebagai Rasul (yang diutus) kepada Bani Israil (dan berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (mukjizat) dari Rabb-mu.” (Ali ‘Imran: 49)—————- Di antara yang beliau serukan kepada Bani Israil adalah apa yang Allah abadikan dalam kitab-Nya, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ “Dan (Isa) Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabb-ku dan juga Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah (dalam ibadahnya), maka Allah haramkan surga untuknya, dan tempat kembalinya ialah neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak memiliki seorang penolong pun (yang akan menolongnya dari siksa api neraka).” (Al-Maaidah: 72)—- إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ “Sesungguhnya Allah itu Rabb-ku dan juga Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus.” (Ali-‘Imran: 51)——— Walau Allah telah menganugerahi banyak mukjizat yang menunjukkan kenabian beliau, dan membenarkan kerasulan beliau, hanya sebagian saja yang menyambut dan menerima dakwah beliau. Mereka adalah al-hawariyyun yang menjadi pengikut dan penolong setia beliau.——– يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.” Maka (dengan begitu), segolongan dari Bani Israil beriman (al-hawariyyun) dan segolongan lain kafir.” (Ash-Shaff: 14)————- Siapa yang disalib???—————– Sejak zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, Bani Israil telah menunjukkan sikap-sikap melampaui batas. Mereka telah dikenal sebagai kaum yang sombong, berhati keras, pembangkang, suka berbohong dan ingkar janji, selalu mengingkari nikmat dan ayat-ayat Allah serta hobi mengakal-akali perintah dan larangan Allah. Karenanya, Allah selalu mengutus para Nabi kepada mereka untuk membimbing dan menuntun mereka ke jalan yang benar, serta menegakkan hukum Allah di tengah-tengah mereka.—- Akan tetapi, ketika ada Nabi yang diutus kepada mereka, selalu saja mendapat ancaman kejahatan tangan-tangan mereka. Dan mereka tidak segan-segan membunuh para Nabi yang diutus kepada mereka. Di antara Nabi yang Allah utus kepada mereka adalah Isa ‘alaihissalam.—— Tidak berbeda dengan nabi-nabi yang lain, Isa ‘alaihissalam juga mendapat perlakuan yang sama dari Bani Israil berupa pendustaan, pengingkaran, gangguan, dan permusuhan.———– Tatkala Allah mengutusnya kepada mereka dengan bukti-bukti dan juga petunjuk, mulailah mereka iri dan dengki terhadap beliau karena kenabian dan mukjizat-mukjizat luar biasa yang Allah berikan kepada beliau. Karena dasar kedengkian itulah mereka mengingkari kenabian Isa ‘alaihissalam dan kemudian memusuhi serta menyakiti beliau.——– Betapa besar permusuhan yang mereka sulutkan sehingga tidak membiarkan beliau ‘alaihissalam menetap di negeri bersama mereka. Bahkan beliau bersama ibunya selalu berkelana, berpindah-pindah tempat karena ulah orang-orang Yahudi tersebut.———— Tidak sampai di sini. Karena kedengkian telah tertancap dan mendarahdaging, mereka berusaha membuat konspirasi untuk membunuh beliau dengan menghasut Raja Damaskus saat itu yang beragama penyembah bintang-bintang. Mereka membuat fitnah-fitnah serta tuduhan dusta tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, sehingga Raja yang mendengar hal itu menjadi marah dan memerintahkan perwakilannya di al-Quds/Yerussalem untuk menyalibnya.———- Setelah menerima perintah dari raja, wakil raja yang berada di al-Quds itu langsung berangkat bersama sekelompok Yahudi menuju rumah yang sedang ditempati oleh Nabi Isa ‘alaihissalam dan kemudian mengepungnya.————- Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka telah merancang tipu muslihat, dan Allah juga membuat tipu muslihat (terhadap mereka). Sedangkan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu muslihat.” (Ali ‘Imran: 54)————— Dalam keadaan demikian, Nabi Isa ‘alaihissalam menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapa yang bersedia diserupakan wajahnya seperti wajah beliau. Dan beliau menjanjikan surga bagi siapa yang bersedia. Maka, salah seorang pemuda di antara mereka ada yang merespon beliau dengan jawaban, “Saya bersedia”. Kemudian Allah serupakan wajahnya dengan wajah Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah itu, Nabi Isa tertidur dan diangkat Allah ke langit dari rumah tersebut dalam keadaan demikian. Tatkala para murid beliau keluar dari rumah itu, orang-orang Yahudi yang telah mengepung sejak sore menangkap dan menyalib lelaki tersebut.5 Setelah itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam, yaitu utusan Allah” (An-Nisaa’: 157)——- Namun, Allah membantah perkataan mereka ini pada ayat yang sama, “Dan mereka sama sekali tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Akan tetapi, (orang yang mereka salib itu) adalah yang diserupakan (wajahnya dengan Isa) untuk mereka.”————- Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa sebelum menangkap lelaki tersebut, mereka menghitung jumlah orang-orang yang keluar dari rumah itu karena mendengar bahwa Isa telah diangkat ke langit. Setelah dihitung, ternyata mereka mendapatkan ada satu orang yang kurang. Sehingga mereka ragu apakah yang mereka tangkap itu benar-benar Isa atau bukan?6—— Inilah mengapa Allah sebutkan di akhir ayat, “Dan sungguh, orang-orang yang berselisih padanya (urusan pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan. Mereka itu tidak memiliki ilmu yang pasti tentangnya. Dan mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin (bahwa yang dibunuh itu benar-benar Isa).” (An-Nisaa’: 157)————— Keberadaan Beliau Saat Ini———– Para ulama telah sepakat tentang keberadaan beliau saat ini, yaitu di langit dalam keadaan masih hidup dan sama sekali belum mati. Dan hal ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya,———– وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin. Akan tetapi (sebenarnya), Allah telah mengangkatnya (Isa) kepada-Nya. Dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158)———- Pengangkatan Nabi Isa ‘alaihissalam terjadi ketika beliau dikepung oleh orang-orang Yahudi untuk ditangkap dan disalib, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Allah mengangkat beliau kepada-Nya, yaitu ke langit.————— Allah Ta’ala juga berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir tersebut.” (Ali-‘Imran: 55)———– Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud wafat pada ayat ini adalah tidur. Maksudnya, Allah menjadikan beliau tertidur sebelum diangkat ke langit.7———- Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari al-Hasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Yahudi, “Sesungguhnya Isa itu belum mati. Dan ia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat nanti.”8———– Dan sangat banyak hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau saat ini masih hidup dan berada di langit.——– Di antara hadis-hadis tersebut adalah kisah perjalanan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam kisah tersebut, beliau bertemu dengan Nabi Isa ‘alaihissalam di langit yang menyapa dan memberikan salam penghormatan kepada beliau.9————– Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di Akhir Zaman—————– Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam ke dunia pada akhir zaman nanti merupakan perkara yang pasti akan terjadi dan merupakan salah satu tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Tidak ada satu orang pun dari ulama kaum muslimin yang mengingkari kejadian ini. Bahkan mereka menganggap perkara tersebut termasuk perkara yang wajib diyakini oleh setiap muslim.————– Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkannya dalam Alquran. Begitu pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengabarkan akan terjadinya kejadian itu.——— Allah Ta’ala berfirman, وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa alaihissalam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisaa: 159)— Imam As-Saffarini menjelaskan bahwa mereka benar-benar akan beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam sebelum wafatnya. Dan hal itu terjadi ketika beliau turun dari langit pada akhir zaman nanti, sehingga hanya akan ada satu agama, yaitu agama Ibrahim yang lurus.10——— Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil.”11———— Bagaimana Beliau Turun??—————— Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun di dekat ‘menara putih’ yang berada di bagian timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelupkan wars12 dan za’faran.13 Saat turun, beliau meletakkan kedua telapak tangannya di sayap dua malaikat. Ketika beliau menundukkan kepala, maka akan menetes. Dan ketika beliau mengangkatnya, maka akan bercucuran air yang sangat bening seperti mutiara. Tidak ada seorang kafir pun yang mencium aroma nafas beliau kecuali ia akan mati. Sedangkan nafas beliau itu menjangkau jarak yang sangat panjang, sejauh matanya memandang.14————– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa ketika turun, Nabi Isa ‘alaihissalam akan disambut oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin, dan kemudian sholat bersama mereka.——- “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku ini yang selalu berperang menampakkan kebenaran sampai hari kiamat tiba. Maka turunlah Isa alaihissalam, dan pemimpin mereka (Imam Mahdi) akan berkata (kepadanya), ‘Kemarilah anda dan sholatlah bersama kami (maksudnya jadilah imam dalam sholat kami-red).’ Kemudian ia menjawab, ‘Tidak, sungguh sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah terhadap umat ini.’”15————- Apa Yang Beliau Bawa Ketika Diturunkan dan Untuk Apa Beliau Turun??————– Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menetapkan suatu hal melainkan ia mempunyai misi tersendiri untuk itu. Dan Dia juga telah menetapkan misi khusus diturunkannya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman nanti. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Maka ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah/upeti. Dan (saat itu) harta benda berhamburan sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya (harta pemberian).” (HR. Bukhari no. 2222, Muslim no. 155)—————- Misi lain dari turunnya Isa ‘alaihissalam adalah untuk membunuh Dajjal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, يخرج الدجال في أمتي فيمكث أربعين –لا أدري أربعين يوما أو أربعين شهرا أو أربعين عاما– فيبعث الله عيسى بن مريم كأنه عروة بن مسعود فيطلبه فيهلكه “Dajjal akan keluar di tengah-tengah umatku dan akan menetap selama 40 –salah seorang perawi berkata, aku tidak tahu apakah itu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun–. Maka Allah utus Isa putra Maryam. Kemudian beliau mencarinya dan akan berhasil membinasakannya.”16———– Satu hal yang perlu diperhatikan adalah beliau turun bukan sebagai Nabi yang membawa syariat baru setelah syariat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, sebagai imam kaum muslimin atau hakim yang adil sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.——————— Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam beribadah dengan syariat Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Bukan dengan syariat beliau yang dahulu. Sebab, syariat tersebut telah dihapus.————– Dengan demikian, beliau turun ke bumi sebagai khalifah bagi Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekaligus sebagai hakim bagi umatnya.17—————– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan Isa itu masih hidup di langit dan sama sekali belum mati. Dan ketika turun nanti, ia tidak akan menerapkan hukum kecuali dengan hukum kitab dan sunah, bukan dengan yang menyelisihi itu.”18—————- Inilah sedikit tentang hal-hal yang wajib kita yakini seputar Nabi Isa ‘alaihissalam. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi setiap orang yang ingin mengambil manfaat darinya.——– Wallaahu a’lam. Catatan Kaki 1 HR. Bukhori dalam al-adabul mufrod no. 33, dan juga Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya no. 3572. 2 Lihat tafsir ibnu katsir surah Ali-‘Imran ayat 46. 3 Lihat fathul majid 42-43. 4 Tafsir ibnu katsir 1/190. 5 Lihat tafsir ibnu katsir 1/293-294. 6 Tafsir ath-thobari 9/371, maktabah syamilah. 7 Lihat tafsir ibnu katsir pada ayat ini. 8 Lihat tafsir ath-thobari pada ayat 55 surah Ali ‘Imran. 9 Bukhori (349), Muslim (259) 10 Al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/215. 11 HR. Bukhori no. 2222, Muslim no. 155 12 Wars adalah salah satu jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah Arab, Habasyah, dan juga India. Buahnya dilapisi oleh kelenjar merah seperti ada bulu-bulu halus diatasnya. Ini biasa digunakan untuk mewarnai pakaian (lihat almu’jamul-waasith). 13 Za’faran adalah salah satu jenis wewangian. 14 Lihat hadits riwayat Muslim (2937). 15 HR. Muslim no. 156 16 HR. Muslim no. 2940 17 Lihat kitab al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/196, maktabah syamilah. 18Al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/215, maktabah syamilah.

September 3, 2016 Edy Methek 1

misteri NABI ISA  …. dari LAHIR sampai kembali TURUN di […]

turunnya FIRMAN ALLAH PERTAMA KALI ….. MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Urwah bin az-Zubair bahwa Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, telah mengabarkan kepadanya bahwa, dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu ketika beliau berada di gua Hira’. Wahyu tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku tidak pandai membaca.” Rasulullah bersabda: “Lalu malaikat memegang dan memelukku erat-erat, ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasku. Kemudian dia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: ‘Aku lalu menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Beliau melanjutkan: ‘Jibril kemudian memegang dan memelukku erat-erat lagi, hingga ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasnya kembali. Kemudian ia berkata, ‘Bacalah wahai Muhammad! ‘ Beliau bersabda: “Aku lalu menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Beliau melanjutkan: ‘Jibril kembali memegang dan memelukku erat-erat, sehingga ketika aku merasakan kepayahan, ia pun melepaskanku. Kemudian dia membaca firman Allah: ‘(Bacalah wahai Muhammad dengan nama Rabbmu yang menciptakan sekalian makhluk. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah yang mengajar manusia melalui pena. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui) ‘ (Qs. Al ‘Alaq: 1-5). Setelah kejadian itu beliau pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah, seraya beliau berkata: ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku.’ Lalu Khadijah memberi beliau selimut hingga hilang rasa gementar dari diri beliau. Beliau kemudian bersabda kepada Khadijah: ‘Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku? ‘ Beliau pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau bersabda lagi: ‘Aku benar-benar khawatir pada diriku.’ Khadijah terus menghibur beliau dengan berkata, ‘Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.’ Khadijah beranjak seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Dia pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ‘Paman! (Paman adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua) Dengarlah cerita anak saudaramu ini.’ Waraqah bin Naufal berkata, ‘Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi? ‘ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan semua peristiwa yang beliau telah alami. Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, ‘Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan: ‘Apakah mereka akan mengusirku? ‘ Waraqah menjawab, “Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu’.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dia berkata, az-Zuhri berkata, Dan telah mengabarkan kepada kami Urwah dari Aisyah bahwa dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah…lalu dia melansirkan hadits seperti hadits Yunus, hanya saja dia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya.” Dan dia berkata, “Khadijah berjakah, ‘Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu ini’.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Laits dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari kakekku dia berkata, telah menceritakan kepada kami Uqail bin Khalid berkata Ibnu Syihab saya mendengar Urwah bin az-Zubair berkata, Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Lalu beliau kembali pada Khadijah dalam keadaan hatinya ketakutan, ” lalu menceritakan hadits seperti hadits Yunus dan Ma’mar. Hanya saja dia tidak menyebutkan awal dari hadits keduanya, “Wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah mimpi yang benar.” Dan dia mengikuti perkataan Yunus, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” Lalu dia menyebutkan perkataan Khadijah, “Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu.” (HR MUSLIM N0.232) —————— Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. ——— Bagian-bagian Al-Qur’an ———— Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. ——————– Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).——— Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.——— Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——- ————– Sejarah Turunnya Al-Qur’an ———– Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.— 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ———— Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. ——– Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ———— Makkiyah Madaniyyah ———— Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—– Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—– Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ——- Kodifikasi Al-Qur’an ———— Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ———— Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. ————– Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an —————— Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ——————- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ———— Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) ————– Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———– Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.— Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———– Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:———- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ————- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. ————— Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. —————- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an ————— Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:—— Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?——— Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. ————– Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———– Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.——— Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.—— Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).——

September 3, 2016 Edy Methek 1

turunnya FIRMAN ALLAH  PERTAMA KALI …..  MUHAMMAD MENJADI RASULULLAH —————— […]

1 2